Dari Buku Bencana Industri

  Saat ini bersama sejumlah kawan saya sedang menyiapkan sebuah buku mengenai satu kasus bencana industri. Sebelumnya, bersama sejumlah kawan juga, satu buku mengenai topikitu telah terbit. Buku itu kami beri judul Bencana Industri: Relasi Negara, Perusahaan, dan Masyarakat Sipil, diterbitkan oleh Yayasan Desantara dan didukung oleh Lafadl Initiatives dan ISEE. Buku tersebut sudah pernah didiskusikan di Jakarta, Jogja, Jombang, dan Malang. Review mengenai buku itu bisa dilihat di sini, sini, sini, sini, dan sini. Pada buku kumpulan tulisan para peneliti-aktivis itu saya didapuk menjadi editor. Berikut ini adalah editorial yang saya tulis untuk buku tersebut:

Editorial

 

Sesaat setelah terjadi gempa bumi dahsyat yang menggoyang pulau Jawa tahun 2006 silam sebuah kenyataan terpampang dengan nyata: negeri ini hidup bagaikan kerupuk yang berada di atas bubur. Dengan kalimat yang lebih gamblang: pulau-pulau di nusantara berada di wilayah yang sangat rawan gempa. Kenyataan lain yang sudah sering dikemukakan adalah kita hidup di wilayah yang rawan gunung api meletus, banjir, atau longsor.

Orang menyebut itu semua sebagai bencana alam. Sesuatu yang tak terelakkan. Sesuatu yang datang sebagai campur tangan kekuatan di luar diri manusia atau, katakanlah, suatu tindakan yang dilakukan Tuhan atau para Dewa. Adakah itu semata kehendak Tuhan? Ada dua hal bisa menjawab itu. Pertama, dari sisi sebab, kita bisa berdebat adakah banjir atau tanah longsor dipicu semata oleh gerakan alam? Atau oleh kondisi yang menjadi musababnya semisal deforestasi. Kedua, dari sisi korban, sebuah gempa, misalnya, bisa jadi akan menerbitkan kerugian yang jauh lebih banyak ketimbang gempa yang sama di tempat yang berbeda. Mengapa? Karena di tempat pertama ada sistem manajerial menghadapi bencana yang lebih baik dibanding tempat kedua. Pada titik ini, ada campur tangan manusia dalam menyumbang dampak bencana. Read more

Saya dan Blog

Wah, sudah lama sekali saya  tidak menulis di blog ini. Seperti kata teman saya, blog ini terasa seperti kuburan.  Pernah ada teman yang tanya, mengapa saya tidak menulis blog lagi. Saya jawab: saya kehilangan pena. Tentu bukan dalam arti sesungguhnya, anda pasti tahu di antara kita tak ada lagi yang menulis dengan pena. Saya cuma mau memberi  ungkapan seperti “kehilangan pukulan” bagi mereka yang sulit menemukan permainan terbaiknya di bulu tangkis atau golf. Read more

Saints In The City: Menjadi Suci di Zona Konsumsi

(dipublikasikan di Jurnal Srinthil edisi 19/2011)

Dalam sejumlah perbincangan mengenai apa yang disebut tentang “kebangkitan Islam” di sejumlah negara muslim, sufisme jarang mendapat perhatian dibanding dengan politik Islam dan sejumlah praktik relijius Islam lainnya. Tak terkecuali di Indonesia. Padahal, melalui pengamatan yang lebih tajam, minat besar pada tasawuf juga turut mewarnai gemuruh maraknya orang kembali berislam tersebut. Bentuknya bisa bermacam-macam, namun yang paling tampak adalah semakin banyaknya orang yang gemar menghadiri acara zikir bersama serta besarnya minat orang pada pelatihan-pelatihan spiritual. Hal-hal berbau sufistik itu mengiringi besarnya minat orang untuk melakukan praktik-praktik relijius sepert naik haji, membangun masjid, hingga berjuang mengupayakan sejumlah aturan bernuansa Islam seperti aturan tentang makanan halal, perbankan Islam, sampai dengan perda syariah.

Bentuk-bentuk pelatihan spiritual yang lazim di perkotaan tersebut oleh Julia Day Howell disebut dengan istilah urban sufisme.[1] Jika mengacu pada konsepsi yang dikembangkan Howell itu, maka apa yang disebut dengan urban sufisme bisa mencakup sejumlah fenomena gerakan spiritual yang muncul di tengah masyarakat urban, diantaranya dalah ritual zikir dan do’a tanpa organisasi tarekat—sebagaimana yang dilakukan Ustaz Haryono, Ustaz Arifin Ilham, dan Aa Gym. Di samping itu ada pula kelompok yang bergabung dengan  gerakan tasawuf konvensional yang masih terikat organisasi tarekat, seperti yang ditampakkan oleh komunitas Tarekat Naqsybandiyyah, Sazilliyah, Qadariyah, dan lainnya. Memang, kendati gerakan sufisme tanpa tarekat telah menjadi fenomana umum di perkotaan, bukan berarti tarekat konvensional lantas kehilangan tempat di kalangan kaum urban papan atas. Justru hal itu menjadi momentum bagi tarekat konvensional untuk meraih hati kalangan menengah ke atas itu. Secara umum memang yang lebih populer di kalangan masyarakat urban adalah sejenis sufisme yang tak terlalu ketat dalam hierarki dan struktur kendati sejumlah hal dicomot dari tarekat tradisional. Modifikasi juga dilakukan di sana-sini agar sesuai dengan budaya urban.

Di luar itu, masih ada lagi fenomena keagamaan yang juga berbau sufistik, yakni pelatihan-pelatihan spiritual seperti ESQ, training kepribadian, pelatihan sholat khusyuk, dan semacamnya yang tidak terkait dengan ordo tarekat konvensional. Pertanyaan umum yang langsung menyergap adalah mengapa orang kota tertarik untuk mengikuti kegiatan tasawuf dan bagaimana mengaitkan ini dengan budaya kelas menengah Islam di Indonesia? Read more

Saya dan Muhammadiyah

Mumpung sedang ada muktamar Muhammadiyah dan karena kadung janji pada teman untuk menulis tentang Muhammadiyah, saya sedikit terpanggil untuk menulis sejumlah catatan tentangnya.

Dalam sejarah hidup saya, Muhammadiyah pertamakali datang sebagai istilah peyoratif. Apa boleh buat, saya lahir dan dibesarkan dalam tradisi NU yang cukup kental. Sedari kecil saya hidup di lingkungan nahdliyin, saya mengaji di surau milik kyai nahdliyin, tetangga-tetangga saya menghidupi tradisi nahdliyin dengan sepenuh hati, mungkin sampai tulang sungsum. Keluarga saya, kendati bukan nahdliyin sejati—maksudnya bukan kalangan santri yang akan rela menyerahkan pendidikan anaknya pada pesantren salaf—tidak bisa lepas dari kungkungan kultural nahdliyin yang mendarah-daging-tulang itu. Maka dalam lingkungan pergaulan saya, Muhammadiyah lebih banyak datang sebagai kabar buruk: ancaman pada tradisi. Kita tahu, masa-masa itu, sekitar tahun 80-an pertentangan hal-hal sepele dalam beragama masih begitu keras. Sedikit saja orang menyimpang dari apa yang lazim dilakukan, tuduhan sebagai orang Muhammadiyah akan langsung disematkan, dan itu dilakukan dalam kasak-kusuk dengan sedikit bumbu kebencian. Orang tua saya juga pernah dianggap sebagai Muhammadiyah (atau barangkali dituduh sebagai “mirip Muhammadiyah”) karena mengganti berkat kenduri yang biasanya berupa nasi menjadi roti. Untuk urusan kecil-kecil pun tuduhan sebagai antek Muhammadiyah bisa datang. Misalnya, ketika kita tidak memakai kopiah saat ke masjid dan menghadiri kenduri, atau ketika lebih memilih celana panjang ketika mengaji. Saya sendiri lebih banyak memakai celana panjang dan bahkan tanpa tutup kepala ketika mengaji sehingga tuduhan sebagai mirip Muhammadiyah pada keluarga saya menjadi semakin kental.

Saya juga masuk ke TK Muhammadiyah (Bustanul Athfal) bukan TK milik NU (Raudhatul Atfhal), meski saya bisa pastikan bahwa pilihan itu lebih didasarkan karena Bu Dhe saya mengajar di TK BA, dan bukan karena alasan identitas apalagi ideologis. Bustanul Athfal dan Raudhatul Athfal itu sepertinya  sama-sama berarti “taman kanak-kanak”, saya tidak tahu persis kenapa  Muhammadiyah memilih Bustanul Athfal dan NU memilih memakai Raudhatul Athfal. Karena cuma TK, tentu tidak ada sentuhan Muhammadiyah yang cukup berarti bagi saya. Sentuhan yang lebih dari lembut baru saya rasakan ketika saya masuk SD (dan jenjang sekolah seterusnya hingga SMA) saat berjumpa dengan guru-guru agama berlatar belakang Muhammadiyah. Saat SD itu saya mulai bisa merasakan perbedaan soal doktrin kegamaan. Saya sekolah di SD negeri (juga SMP dan SMA negeri) tapi guru-guru agamanya selalu tidak datang dari kalangan nahdliyin. Saya selalu bisa membedakan ini karena saya juga mengaji di surau yang untuk beberapa detail ajaran kerapkali berbeda dengan yang diajarkan guru di sekolah. Jauh bertahun-tahun sesudahnya, setelah belajar politik dan sosiologi, saya baru mengerti kenapa guru agama di sekolah-sekolah negeri lebih banyak datang dari kalangan Islam modernis (Muhammadiyah) ketimbang dari kalangan tradisionalis. Karena pelajaran agama di sekolah negeri seperti hanya tampil sebagai selingan, maka internalisasi ajaran agama saya lebih banyak dirasuki oleh apa yang saya dapat di surau tempat saya mengaji dan oleh pergaulan sehari bersama teman-teman sebaya, misalnya ketika harus ikut berjanjen atau yasinan. Read more

Siapa Juara Piala Dunia 2010?

Untuk mengisi bulan penuh keceriaan dan kegembiraan ini, mari bermain tebak-tebakan. Menurut Anda, siapakah yang nanti akan menjadi juara Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Tentu tak ada hadiahnya di sini. Ini bukan kuis berhadiah apalagi judi. Judi itu haram, kata bang Haji Rhoma Irama…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.