Saya baru saja pulang dari jalan-jalan ketika menyalakan TV, menyalakan komputer, dan mendengar kabar duka: Gus Dur meninggal. Sudah cukup lama saya mendengar kabar tentang kritisnya kondisi kesehatan Gus Dur. Tapi tetap saja,sebagaimana semua kabar kematian, berita itu tetap menerbitkan kaget. Tiba-tiba saya merasa ada yang kosong. Merasa sangat kehilangan. Saya tidak pernah bersedih ketika ada politisi meninggal, saya tidak pernah menitikkan air mata ketika ada mantan presiden wafat. Baru kali ini. Saya merasa ada yang tercerabut dari diri saya. Ada yang hilang.
Secara personal kami tidak saling mengenal. Saya bahkan cuma sekali bersalaman dengan beliau ketika ada acara keluarga besar istri saya di Jombang. Selain itu, paling banter saya hanya melihatnya dari kejauhan. Tapi rasa sedih dan kehilangan itu justru makin kuat karena saya merasa mengenal beliau melalui gagasan dan ide-idenya. Apa yang ia pikirkan dan katakan turut mengubah cara saya memandang dunia dan kehidupan.Saya merasa dekat dengannya karena itu. read more…
Saat naik bus dari Jombang ke Surabaya beberapa waktu lalu, bus yang saya tumpangi disinggahi sejumlah pengamen, dari yang serius hingga yang ala kadarnya—dari sisi suara maupun kesungguhan mereka mempersiapkan alat pertunjukan. Dari sekian pengamen yang naik, ada satu yang cukup menarik perhatian saya. Bukan orangnya, apalagi suaranya. Secara kurang ajar, pengamen ini hanya bermodal tepuk tangan. Suaranya sungguh tiada terperi buruknya. Dia memainkan sejumlah lagu.Lagu-lagu itu dulu pernah akrab di telinga saya, terutama pada masa-masa menjelang jatuhnya Soeharto. Lagu-lagu SPI yang sering dinyanyikan saat aksi demonstrasi di jalan-jalan (bisa diunduh di sini dan di sini). read more…
Hari-hari ini bapak-bapak polisi sedang menyosialisasikan aturan baru diperempatan jalan. Kalau dulu, menurut UU tahun 1994 (UU yang dulu saaat saya sekolah di SMP sempat bikin geger karena besaran denda yang gila-gilaan) diperempatan jalan Anda boleh berbelok ke kiri tanpa menghiraukan lampu merah, kini jika Anda hendak belok kiri harus menunggu lampau hijau. Ini menurut UU No 22 tahun 2009 yang disahkan Mei lalu. Aturannya sebenrnya cuma dibalik saja. Kalau dulu, belok kiri jalan terus kecuali ada larangan, sekarang belok kiri dilarang kecuali ada tanda yang memperbolehkan.Kono, aturan ini dibikin karena volume kendaraan yang sudah melampaui kemampuan ruas jalan. Kita lihat saja nanti apakah aturan ini tidak akan menambah macet jalanan dan menciptakan polisi-polisi yang senang bersembunyi di belokan kiri menunggu mangsa seperti di iklan rokok itu.
Ihwal belok kiri jalan terus ini dulu pernah menjadi permainan kata-kata teman-teman saya yang punya kecenderungan ideologi kiri. Kiri dalam khazanah politik kerap dikaitkan dengan ideologi sosialis, sebagai tanding dari ideologi liberal. Dalam pengertian yang lebih luas, kiri bisa berarti kritis terhadap sesuatu yang bersifat dominasi dan kejumudan. Nah, Kiri Jalan Terus itu pernah menjadi slogan yang hendak mengatakan bahwa ideologi kiri masih jalan meski selalu dilarang dan diberangus di mana-mana, meski tembok Berlin—misalnya—sudah roboh dan sosialisme tinggal menjadi cerita. Kiri Jalan Terus juga mengacu pada bangkitnya kembali sosialisme (yang ini konon berwajah baru) di Amerika Latin. read more…
Setiap ada gempa atau bencana alam lainnya, banyak sekali diperdengarkan seruan untuk mengingat Tuhan. Termasuk ketika gempa mengguncang Jawa beberapa waktu lalu dan Sumatra baru-baru ini. Kita mendengar pula orang mengaitkan amukan alam itu sebagai hukuman, teguran, atau bahkan kutukan Tuhan. Sejumlah ahli agama bahkan secara terbuka menuduh bencana sebagai akibat dari perilaku masyarakat itu sendiri (lihat di sini). Sebagai upaya untuk mawas diri barangkali itu baik-baik saja. Apalagi jika disertai refleksi tentang cara hidup yang memang sudah tidak selaras dengan alam. Atau jika diikuti dengan semangat nalar untuk mencari jalan agar bencana tidak mendatangkan banyak korban. Tapi kecendrungan untuk melibatkan Tuhan (dan hal-hal mistis lainnya) dalam urusan bencana ini, bagi saya, cukup merisaukan.
Mengatakan gempa—dan bencana alam lain—sebagai buah dari tindakan manusia yang bergelimang dosa menurut saya sungguh tidak bermoral. Logikanya sederhana saja: jika gempa dalah hukuman untuk perilaku maksiat, kenapa mereka yang harus digoyang gempa. Anda tentu bisa menemukan tempat “maksiat” dan “tak bermoral” lain yang aman-aman saja dari gempa dan bencana. Jika bencana dikatakan sebagai hukuman Tuhan, di situ ada nuansa “menyalahkan para korban”. Apakah tidak terpikir oleh mereka yang berseru-seru tentang moralitas itu, betapa para korban sudah cukup menderita akibat gempa lantas masih saja harus dihinggapi perasaan dihukum Tuhan? Pernyataan moralis itu juga seolah mengatakan para korban memang layak menjadi korban. Agama konon mengajarkan empati dan simpati, tapi dalam hal ini tiba-tiba lenyap menjadi setumpuk sikap pseudeo religius. Beberapa waktu lalu saya juga pernah mendengar celoteh tentang luapan lumpur Lapindo adalah karena buruknya moralitas warga di Sidoarjo. Hal-hal sedemikian ini sungguh-sungguh telah menciderai akal sehat. read more…
Suatu ketika, saya ditelpon teman lama saya. Teman saya ini meminta saya menulis review sebuah buku. Bukunya berjudul “Negara Pancasila, Jalan Kemaslahatan Berbangsa,” ditulis oleh As’ad Said Ali, diterbitkan LP3ES. Setelah saya baca, saya bolak-balik terus, saya tidak menemukan hal yang istimewa dari isinya. Keistimewaan buku ini justru terletak pada momen ia diterbitkan. Ya sekarang ini. Ketika banyak orang mulai lupa pancasila. Pancasila dilupakan justru bukan karena ia tak pernah diderdengarkan, ia dilupakan malah karena ia terlalu sering disuarakan. Anda yang diberi berkah menghirup udara pengap orde baru pasti tidak lupa dengan penataran P4 dan bualan tentang pancasila itu. Waktu itu, hampir tiada hari tanpa pidato pejabat mengenai Pancasila. Tafsir tunggal tentang Pancasila yang bernama P4 (Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila) diajarkan di setiap jenjang sekolah melalui berbagai penataran. Bahkan, kita ingat, orang yang hendak menikah pun harus mengikuti penataran P4. Dikatakan dengan kalimat yang berbeda, Pancasila telah menjadi ideologi yang tertutup. Dengan cara seperti ini, Panacasila menjadi begitu lekat dengan rezim Orde Baru. Orang yang mengritik atau menentang kebijakan pemerintah akan tertuduh sebagai penentang Pancasila. Maka begitu Soeharto kehilangan kekuasaan, orang dengan mudah melupakannya. Pancasila juga seperti lenyap ditelan jaman. Tiba-tiba Pancasila menjadi sesuatu yang ganjil. read more…
Tikus, bagi saya, adalah binatang paling menjijikkan yang pernah dihadirkan proses evolusi—atau, kalau mau sedikit relijius, yang pernah diciptakan Tuhan. Sialnya, makhluk kecil ini justru yang konon paling mudah beranak-pinak dan paling senang hidup bersama manusia.
Mulanya, tak ada tikus di rumah saya. Tapi beberapa waktu setelah saya mendiami rumah ini, tikus-tikus itu mulai berdatangan. Lama-lama makin banyak dan makin menyebalkan.Barangkali mereka mulai punya anak dan cucu. Malam atau siang mereka selalu menciptakan acara pesta di atap rumah. Suaranya gedebukan tidak karuan. Suara-suara itu tidak terlalu menganggu, yang mengganggu justru ketika salah satu atau salah dua di antara mereka menampakkan diri di ruang tamu, di dapur, atau di ruang makan. Saya kadang berpikir, tikus-tikus itu tidak hanya mengandalkan naluri tapi juga mulai mengembangkan otaknya. Sebab mereka mulai pintar membuka pintu, mengangkat tudung makan, dan semacamnya. read more…
Mumpung lagi jaman puasa saya mau cerita soal yang sedikit banyak ada kaitannya dengan puasa. Dua tahun lalu, ketika saya baru menempati rumah saya, saya adalah orang baru di lingkungan ini. Entah karena kesan apa, orang-orang (atau sebagian) di sekitar tempat tinggal saya mengira bahwa saya adalah orang yang pintar ilmu agama. Ini dibuktikan ketika ada undangan dari masjid untuk meminta saya menjadi penceramah. Saya tentu kaget bukan alang kepalang. Bukan apa-apa. Saya jelas bukan seorang ustadz apalagi kyai. Bahkan saya bukan santri. Tentu kalau dalam kategori Geertzian saya masih merasa cukup pede untuk menyebut diri sebagai kaum yang disebut santri itu. Minimal, saya pernah ngaji kitab kuning. Meski cuma sedikit dan tidak terlalu kuning sebenarya. Saya tidak kuasa menolak permintaan itu. Soal materi ceramah, bisa dicari. Toh, di mana-mana, yang namanya ceramah kan intinya soal mengajak orang berbuat baik dan tidak melakukan hal buruk. Tapi karena saya bukan penceramah profesional, ya akhirnya performance saya tidak memuaskan. Buktinya, tidak ada undangan ceramah lagi sesudah itu. lagipula, waktu itu, saya memang tidak berceramah. Lebih tepatnya, tidak mau. Ketika di podium, saya merasa aneh. Merasa salah tempat. Untunglah, begini-begini waktu di sekolah di SMA saya sekali dua kali menceramahi teman-teman saya saat ada sesi kultum pagi. Sampai kini saya juga tak sepenuhnya mengerti kenapa kawan-kawan saya itu mau saja saya ceramahi. Jadi, malam itu saya masih bisa menyampaikan satu atau dua hal yang pasti bisa diterima akal sehat, sambil mengutip satu atau dua ayat atau hadis—yang juga sama masuk akalnya.
Saat jalan-jalan di Surabaya beberapa waktu lalu, saya bersama teman-teman menginap di markas kawan-kawan FLA. Pagi hari, kami mencari warung kopi, kami berjalan di jalanan sekitar mesjid akbar surabaya. Saya melihat gedung yang di atasnya berjudul museum NU. Mulanya saya tidak percaya jika itui benar-benar sebuah museum. Bagi nalar saya, ini berdasar kebiasaan, museum selalu diperuntukkan untuk sesuatu yang sudah tiada. Sesuatu yang tidak bisa lagi ditemukan dalam hidup sehari-hari. Misalnya, mueseum hewan purba, museum diponegoro, museum pusaka, dan lain-lain. Tapi NU? Setiap hari kita masih bisa merasakan kehadirannya. Maka nama museum NU itu dengan sendirinya menjadi tidak lazim. Tapi tak apalah. Barangkali para pembuat museum ini sedang berpikir tentang pusat dokumentasi NU tapi tidak menemukan istilah lain kecuali museum. read more…
Semalam seorang kawan lama saya menelpon dan mengajak bertemu bersama kawan-kawan SMA lainnya di sebuah warung makan. Tentu bukan karena akan ada makanan—yang bisa jadi gratis itu—saya pergi menembus malam menemui mereka. Sudah lama saya tidak bertemu mereka sehingga ada keinginan untuk memenuhi rasa kangen. Ketika akhirnya saya menjumpai mereka dan berbicara tentang berbagai hal—yang topiknya tidak pernahkeluar dari kenangan masa sekolah—saya mendapati bahwa yang menyatukan kami tadi malam adalah kenangan. Yakni kenangan pada masa-masa sekolah yang oleh lagu Obbie Messah menjadi begitu syahdu itu (meski bagi saya tidak, karena lebih banyak berisi kenangan konyol hehe).
Kami mengenang kelakuan guru-guru kami yang semalam terasa menjadi begitu lucu dan ajaib. Tentang guru Kimia kami yang menjadikan pelajaran Kimia yang sudah sulit itu menjadi terkesan lebih rumit lagi, tentang guru Matematika yang membuat Matematika menjadi semakin mencemaskan, tentang guru olah raga yang secara kurang ajar kami juluki Osella karena kerap berdiri di pinggir lapangan basket sambil membawa payung, atau tentang guru Bahasa Indonesia kami yang justru membuat kesan bahwa berbahasa Indonesia itu kering kerontang. Sebagian tentu bukan salah guru-guru kami, tapi karena memang mereka harus mengajarkan hal-hal ajaib yang dibuat tidak menggairahkan itu.
Saya akan beri ilustrasi begini. Ketika kita sekolah di SMA, atau bahkan di jenjang sebelumnya, kita sudah dikenalkan dengan dunia Sastra. Tapi benarkan pelajaran Bahasa Indonesia mengajarkan Sastra? Seingat saya tidak. melalui ingatan saya yang pendek ini, pelajaran Sastra yang saya ingat hanyalah menghapalkan nama pengarang buku dan kapan buku itu diterbitkan tanpa pernah benar-benar memahami apa isi karya itu. Paling banter, kami hanya diminta membaca sinopsis dan menghapal jalan utama cerita. Tidak lebih. Kalaupun ada buku Sastra yang saya baca ketika SMA—yang juga tidak banyak—itu karena saya mendapatkan sendiri di tempat lain. Tidak pernah ada tugas membaca novel untuk direview seperti yang saya lihat di film-film remaja dari negeri seberang. Tentu ini sebagian bukan salah guru kami. Betapa tidak, kami—yang masih remaja dan baru mengerti hidup itu—harus dijejali dengan tuntutan kurikulum yang sangat mengancam. Apalagi ketika duduk di kelas tiga. Saat ini konon kondisinya lebih menyeramkan karena ada yang namanya Ujian Negara. read more…

