angkringangeologi

Blog baru ini menarik. Topiknya sangat khusus dan fokus. Bahasa yang digunakan lumayan sederhana sehingga bisa dipahami oleh orang yang tidak mendalami perkara teknis geologi. Sayang isinya masih sedikit sekali. Mungkin karena masih bayi. Saya berharap pengelolanya tidak bosan menulis dan tidak menyerah. Jika diteruskan secara konsisten, blog ini akan sangat bermanfaat buat khalayak ramai…https://angkringangeologi.wordpress.com/

 

Visit the post for more.

Sumber: angkringangeologi

Saudi Arabia’s latest hajj disaster raises serious safety questions | World news | The Guardian

Kejadian seperti ini hampir selalu berulang. Banyak pertanyaan. Tidak pernah ada jawaban memuaskan.

—————–

Huge numbers of pilgrims alone do not explain recurrence of fatal accidents – state must take blame for poor planning and incompetence

Sumber: Saudi Arabia’s latest hajj disaster raises serious safety questions | World news | The Guardian

Pribumisasi Islam dan Islam Nusantara

 

 

Sebagai bagian dari proses kebudayaan, masuknya agama Islam ke suatu wilayah akan selalu menjalani proses perjumpaan dengan kebudayaan-kebudayaan lokal. Tidak terkecuali di nusantara. Berbagai ekpresi kebudayaan dan keislaman di nusantara adalah buah dari perjumpaan antara islam dan budaya lokal setempat.

Abdurrahman Wahid pernah menelurkan konsepsi “pribumisasi islam” untuk menjelaskan proses tak terelakkan ketika agama bertemu dengan budaya lokal tersebut.  Pribumisasi ini dilakukan agar kita tidak tercerabut dari akar budaya.Islam, dalam proses pribumisasi ini, mengakomodasi perjumpaan agama dan budaya yang bersifat alami ini. Akomodasi ini yang pada giliran berikutnya melahirkan pribumisasi. Contoh kasusnya di antaranya adalah  adat pamantangan di Banjar, gono gini di Jawa, dan berbagai ekspresi kebududayan islam lokal di sekujur nusantara.

Menurut Gus Dur, metodologi pribumisasi islam sesungguhnya sederhana, yakni dengan menggunakan  ushul fiqh dan qaidah fiqhiyah seperti al-‘adah muhakkamah (adat istiadat bisa menjadi hukum) dan al-muhafazatu bi qadimis ash-shalih wal-ahdzu bil jadid al-ashlah (memelihara hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik).

Lanjutkan membaca “Pribumisasi Islam dan Islam Nusantara”

Konsumsi Para Santri: Dari Kerudung Sampai Jilbab

Eh, ternyata di zaman dahulu kala, saya pernah menulis dan meliput tentang pergeseran cara berbusana perempuan di pesantren. Kita tahu, di masa lalu para santri perempuan berbusana secara lebih longgar jika dibanding sekarang. Mengapa ya itu terjadi? Pertanyaan itulah yang kemudian membawa saya menulis di sini —> http://srinthil.org/523/konsumsi-para-santri-dari-kerudung-sampai-jilbab/