Pribumisasi Islam dan Islam Nusantara

 

 

Sebagai bagian dari proses kebudayaan, masuknya agama Islam ke suatu wilayah akan selalu menjalani proses perjumpaan dengan kebudayaan-kebudayaan lokal. Tidak terkecuali di nusantara. Berbagai ekpresi kebudayaan dan keislaman di nusantara adalah buah dari perjumpaan antara islam dan budaya lokal setempat.

Abdurrahman Wahid pernah menelurkan konsepsi “pribumisasi islam” untuk menjelaskan proses tak terelakkan ketika agama bertemu dengan budaya lokal tersebut.  Pribumisasi ini dilakukan agar kita tidak tercerabut dari akar budaya.Islam, dalam proses pribumisasi ini, mengakomodasi perjumpaan agama dan budaya yang bersifat alami ini. Akomodasi ini yang pada giliran berikutnya melahirkan pribumisasi. Contoh kasusnya di antaranya adalah  adat pamantangan di Banjar, gono gini di Jawa, dan berbagai ekspresi kebududayan islam lokal di sekujur nusantara.

Menurut Gus Dur, metodologi pribumisasi islam sesungguhnya sederhana, yakni dengan menggunakan  ushul fiqh dan qaidah fiqhiyah seperti al-‘adah muhakkamah (adat istiadat bisa menjadi hukum) dan al-muhafazatu bi qadimis ash-shalih wal-ahdzu bil jadid al-ashlah (memelihara hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik).

Baca lebih lanjut

Konsumsi Para Santri: Dari Kerudung Sampai Jilbab

Eh, ternyata di zaman dahulu kala, saya pernah menulis dan meliput tentang pergeseran cara berbusana perempuan di pesantren. Kita tahu, di masa lalu para santri perempuan berbusana secara lebih longgar jika dibanding sekarang. Mengapa ya itu terjadi? Pertanyaan itulah yang kemudian membawa saya menulis di sini —> http://srinthil.org/523/konsumsi-para-santri-dari-kerudung-sampai-jilbab/

Panggung Dangdut Indramayu: Hibrida Masyarakat Pantura

Tulisan ini pernah diposting di situs Jurnal Srinthil (lihat di sini). Saya menyiapkan tulisan ini sebagai pengiring film dokumenter berjudul Kerudung Shanty yang dibuat teman saya.Data-data dalam tulisan ini saya dapat ketika melakukan penelitian demi pembuatan film ini.

 

 

Panggung Dangdut Indramayu: Hibrida Masyarakat Pantura

Oleh: Heru Prasetia

Penyanyi dengan dandanan seronok, goyang heboh, penonton yang riuh bergoyang, dan panggung dangdut. Tontonan semacam itu bisa kita saksikan di hampir semua kota- kecil-menengah sepanjang jalur jalan raya Dandels di pantai utara jawa. Indramayu adalah salah satunya. Wilayah kabutapen yang hanya berjarak empat jam dari ibu kota ini dikenal sebagai salah satu wilayah dengan penuh pertunjukan panggung musik. Pada masa panen tiba, panggung pertunjukan bisa muncul setiap malam berganti-ganti dari satu desa ke desa lainnya. Sekilas, tak ada yang membedakan pertunjukan di sudut-sudut Indramayu ini dengan segala tontonan panggung yang tersebar di sekujur kota-kota pantai utara jawa: musik dangdut cita rasa lokal yang dipadu dengan aksi panggung khas pertunjukan rakyat. Namun jika ditelisik lebih jauh, kita akan sampai pada pertanyaan-pertanyaan yang tidak hanya menyoal mengapa pertunjukan semacam ini bisa begitu hidup di kawasan ini tetapi juga tentang kehidupan kebudayaan Indramayu itu sendiri secara lebih luas. Baca lebih lanjut

Buku Bencana Industri #2

Akhirnya terbit juga buku ini. Coba anda klik ini–> http://tokobuku.desantara.or.id/400/bencana-industri-kekalahan-negara-dan-masyarakat-sipil-dalam-penanganan-lumpur-lapindo/

Buku ini disiapkan cukup lama, terbit terlambat karena hambatan teknis dan non-teknis (seperitnya sih..). Saya pernah unggah editorialnya di sini. Silakan anda baca buku ini, isinya bagus. Ditulis oleh peneliti-peneliti muda yang gilang gemilang. Semangat mereka jauh melebihi peneliti senior di lembaga-lembaga mapan yang mabuk kepayang oleh proyek penelitian ala kadarnya. Satu hal yang membuat anak-anak muda perlu mendapat apresiasi adalah: mereka berani mempublikasikan hasil risetnya–dan dengan demikian bisa diakses, dibaca, dikomentari, dikritik dan dicaci-maki. Baca lebih lanjut