Pencarian Al-Ma’mun

 

 

Al Ma’mun, atau lengkapnya Abū Jaʿfar Abdullāh al-Ma’mūn ibn Hārūn al-Rashīd, khalifah ketujuh dari Dinasti Abasyiah itu berdiri di balkon Bait al-Hikmah yang megah, yang dibangun berdasar saran para ahli nujum dan arsitek terbaik zaman itu. Dinasti Abasyiah tengah berada di puncak kejayaannya setelah  sekitar seabad lalu  berhasil menggulung kekuasaan para keturunan Abu Sufyan. Di hadapannya membentang kota Baghdad yang sentosa. Orang-orang meriuh lalu lalang. Menara-menara menjulang. Suara azan berkumandang dari kejauhan menandai maghrib yang datang bersama semburat lembayung yang muncul di langit sebelah barat.

Pandangan Al-Ma’mun menatap lurus ke arah gurun besar yang terhampar di sebelah kota Bagdad. Ke sanalah ia mengutus tim ekspedisi khusus yang dibentuknya demi memenuhi ambisi  dan keingintahuannnya yang paling dalam sejak masa kanak: berapa besar sebenarnya ukuran bumi ini?

Lanjutkan membaca “Pencarian Al-Ma’mun”

Iklan

Tidak Semua Pahlawan Menjadi “Pahlawan”

Pagi tadi saya lihat di tivi ada berita tentang pemberian gelar pahlawan pada Bung Tomo. Beberapa waktu lalu saya memang sempat heran, ternyata Bung Tomo bukan “pahlawan”, maksudnya tidak mendapatkan gelar pahlasan dari pemerintah. Padahal sepanjang sekolah dari SD sampai SMA, buku-buku PSPB selalu memuat fotonya, apalagi bila sedang bercerita tentang pertempuran surabaya. Dulu, ketika sekolah, saya mengira bung tomo ini adalah pahlawan yang sejajar dengan jendral sudirman dan lain-lain. Ternyata tidak. Ternyata pahlawan tanpa tanda jasa bukan hanya bapak dan ibu guru. Saya tidak tahu persis tentang kenapa gelar itu baru tersemat pada dirinya hari ini. Padahal peran Bung Tomo ini tak sepele. Apalagi jika dilihat dalam konteks yang sedikit agak luas. Kala itu dialah salah satu operator dari resolusi jihad yang dikeluarkan kiai-kiai NU.

Saya juga tak menemukan soal resolusi jihad ini di lembar-lembar buku sejarah resmi di sekolah. Saya tahu tentang ini justru dari sumber tak resmi. Padahal resolusi ini punya makna penting—teramat sangat penting, malah—dalam konteks membangun negara-bangsa indonesia. Terlebih pada hari-hari seperti sekarang ini ketika makna jihad telah direbut demi kepentingan mereka yang berpikiran cekak, sempit, dan tak punya visi kebangsaan. Termasuk mereka yang sangat hobi menebar kekerasan. Resolusi yang dikeluarkan para kiai itu berisi seruan pada segenap kaum muslim untuk berperang melawan tentara sekutu, sebuah jihad yang dilancarkan untuk membela sebuah negara baru: republik Indonesia yang bukan sebuah negara islam. Bagi mbah Hasyim Asyari dan kawan-kawan, mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang berdasar Pancasila dan bersandar pada kemajemukan itu adalah bagian dari perjuangan di jalan Allah. Jihad, bagi mereka, tak harus ada kaitannya dengan bendera islam, jubah, jenggot, dan simbol-simbol keislaman. Tak perlu anda bandingkan pengertian jihad ini dengan doktrin dari mereka yang memimpikan ide usang yang sudah karatan seperi khilafah, bandingkan saja resolusi ini dengan gagasan jihad yang sezaman seperti gerakan Darul Islam Kahar Muzakkar dan Kartosuwiryo yang terbit di sulawesi dan jawa barat. Anda akan bisa lihat betapa penting resolusi jihad ini dalam konteks kebangsaaan Indonesia. Lanjutkan membaca “Tidak Semua Pahlawan Menjadi “Pahlawan””

Catatan Kecil Tentang Guru Sejarah SMA Saya

Saya memang sempat melupakan namanya, tapi tidak peristiwa-peristiwa disekeliling namanya. Dia adalah guru pelajaran sejarah ketika saya duduk di bangku SMA. Orangnya kecil tapi suaranya sangat lantang dan keras. Cukup keras untuk memenuhi ruangan kelas dan sukup lantang untuk membuat merah telinga orang. Inilah yang saya akan coba ceritakan pada Anda. Saya selalu antusias setiap kali ada jam pelajaran Sejarah. Karena guru sejarah ini punya sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat hari-hari membosankan di bangku sekolah menjadi terasa segar kembali. Setiap mengajar ia selalu menyelipkan—ah, bukan menyelipkan, karena itulah sebagian besar yang ia sampaikan—hal-hal di luar mata pelajaran sejarah sebagaimana termaktub di buku-buku teks yang menyebalkan itu. Pak Priyo, demikian ia dikenal, lebih banyak bercerita tentang konteks peristiwa penulisan sejarah itu atau lebih tepatnya ia memberi “kritik” atas sejarah yang ditulis buku-buku teks itu.

Waktu itu tentu saya belum banyak baca tentang kritik sejarah, tapi saya sudah mulai merasakan ada yang tidak beres dengan sejarah yang ada di buku pelajaran sejarah sejak SD. Guru sejarah saya ini, dengan caranya sendiri, ternyata telah mengajarkan pada saya bahwa memang ada masalah pada historiografi negeri ini. Dengan cara itu, tentu saja ia banyak meyinggung hal-hal sangat sensitif secara politis pada masa itu. Ia banyak melontarkan gugatan pada ideologi nasionalisme yang sempit, militerisme, Orde Baru, dan panyelewengan konstitusi. Waktu itu, ia tidak menggunakan istilah-istilah itu, tapi ia menyodorkan fakta yang menunjukkan hal itu. Termasuk pula dengan pertanyaan-pertanyaan menggelitik. Salah satunya adalah yang —seperti yang ia ceritakan pada saya pada satu kesempatan— membuatnya terdepak dari barisan guru SMA Taruna Nusantara— sebuah sekolah proyek Orde Baru untuk mencetak “kader-kader” unggul bangsa yang —tentu saja— berwatak militeristik, yakni ketika ia, dengan merujuk epos Ramayana, melontarkan pertanyaan pada murid-muridnya: siapakah yang lebih anda pilih, Kumbakarna, adik Raja Rahwana yang tidak setuju pada tindakan Rahwana tapi tetap membelanya karena satu tanah air dan satu tumpah darah ataukah Wibisana yang tidak setuju tindakan Rahwana kemudian menyeberang ke pihak lawan untuk menggulingkannya? Guru saya ini memberikan penalaran kenapa Wibisana yang mestinya dipilih. Singkatnya, ia memilih kemanusiaan ketimbang nasionalisme. Kisah ini tentu terasa relevan ketika belakangan ini banyak gugatan pada para jendral, anggota BIN, dan lain-lain yang terlibat kasus pelanggaran HAM, sementara di sisi lain segelintir orang menyorongkan ide nasionalisme untuk membela mereka sembari menuduh para penggugat adalah antek-antek asing (ingat kasus penculikan aktivis, Timor Leste, Munir,dll kan?). Lanjutkan membaca “Catatan Kecil Tentang Guru Sejarah SMA Saya”