Sketsa Nilai dan Pemikiran Gus Dur

 

 

Tidak semua, atau bahkan sangat sedikit, orang yang gagasan dan pemikirannya terus dikaji, dipikirkan kembali, sekaligus diikuti setelah ia tiada. K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah salah satu dari segelintir itu. Hingga kini, lama setelah wafatnya,  gagasan dan pemikirannya tetap diperbincangkan dan dipikirkan.

 

Mengapa Gus Dur menjadi sedemikian kuat pengaruhnya? Jawabannya bisa sangat kompleks dan beragam. Salah satunya adalah karena dia tidak hanya orang yang bicara dan menuangkan gagasan dalam tulisan, namun juga bekerja memperjuangakan apa yang ia pikirkan. Sejarah atau biografinya dengan terang benderang menerangkan perjalanan hidupnya yang penuh dengan pelaksanaan kata-kata. Mulai dari mengajar di pesantren, mengurus dan merawat organisasi NU, hingga menjadi politikus dan presiden. Semua itu tidak bisa dipisahkan dari pemirkiran dan gagasannya yang dituangkan dalam berbagai tulisan.

Lanjutkan membaca “Sketsa Nilai dan Pemikiran Gus Dur”

Iklan

Pencarian Al-Ma’mun

 

 

Al Ma’mun, atau lengkapnya Abū Jaʿfar Abdullāh al-Ma’mūn ibn Hārūn al-Rashīd, khalifah ketujuh dari Dinasti Abasyiah itu berdiri di balkon Bait al-Hikmah yang megah, yang dibangun berdasar saran para ahli nujum dan arsitek terbaik zaman itu. Dinasti Abasyiah tengah berada di puncak kejayaannya setelah  sekitar seabad lalu  berhasil menggulung kekuasaan para keturunan Abu Sufyan. Di hadapannya membentang kota Baghdad yang sentosa. Orang-orang meriuh lalu lalang. Menara-menara menjulang. Suara azan berkumandang dari kejauhan menandai maghrib yang datang bersama semburat lembayung yang muncul di langit sebelah barat.

Pandangan Al-Ma’mun menatap lurus ke arah gurun besar yang terhampar di sebelah kota Bagdad. Ke sanalah ia mengutus tim ekspedisi khusus yang dibentuknya demi memenuhi ambisi  dan keingintahuannnya yang paling dalam sejak masa kanak: berapa besar sebenarnya ukuran bumi ini?

Lanjutkan membaca “Pencarian Al-Ma’mun”

Panggung Dangdut Indramayu: Hibrida Masyarakat Pantura

Tulisan ini pernah diposting di situs Jurnal Srinthil (lihat di sini). Saya menyiapkan tulisan ini sebagai pengiring film dokumenter berjudul Kerudung Shanty yang dibuat teman saya.Data-data dalam tulisan ini saya dapat ketika melakukan penelitian demi pembuatan film ini.

 

 

Panggung Dangdut Indramayu: Hibrida Masyarakat Pantura

Oleh: Heru Prasetia

Penyanyi dengan dandanan seronok, goyang heboh, penonton yang riuh bergoyang, dan panggung dangdut. Tontonan semacam itu bisa kita saksikan di hampir semua kota- kecil-menengah sepanjang jalur jalan raya Dandels di pantai utara jawa. Indramayu adalah salah satunya. Wilayah kabutapen yang hanya berjarak empat jam dari ibu kota ini dikenal sebagai salah satu wilayah dengan penuh pertunjukan panggung musik. Pada masa panen tiba, panggung pertunjukan bisa muncul setiap malam berganti-ganti dari satu desa ke desa lainnya. Sekilas, tak ada yang membedakan pertunjukan di sudut-sudut Indramayu ini dengan segala tontonan panggung yang tersebar di sekujur kota-kota pantai utara jawa: musik dangdut cita rasa lokal yang dipadu dengan aksi panggung khas pertunjukan rakyat. Namun jika ditelisik lebih jauh, kita akan sampai pada pertanyaan-pertanyaan yang tidak hanya menyoal mengapa pertunjukan semacam ini bisa begitu hidup di kawasan ini tetapi juga tentang kehidupan kebudayaan Indramayu itu sendiri secara lebih luas. Lanjutkan membaca “Panggung Dangdut Indramayu: Hibrida Masyarakat Pantura”

Perempuan-Perempuan di Makam Gus Dur

(dimuat di Jurnal Srinthil edisi 22)

 

Dengan judul di atas saya tidak sedang membangun asosisasi tentang betapa perempuan adalah sesuatu yang khas dan mencolok mata di seputar makam Gus Dur. Juga bukan sedang mengarahkan persepsi bahwa ziarah makam Gus Dur lebih banyak diminati perempuan ketimbang laki-laki. Judul itu hanya saya maksudkan bahwa tulisan sederhana ini akan bercerita tentang sejumlah hal yang dilakukan oleh para perempuan di sekitar makam Gus Dur Apakah cerita itu bisa memberitahu kita tentang kekhasan perempuan dalam konteks ziarah wali? Sebelum sampai ke situ, mari kita lihat dulu makam Gus Dur dalam konteks ziarah wali di nusantara.

Ziarah ke makam Gus Dur tidak bisa lepas dari tradisi besar ziarah ke makam-makam para wali atau orang-orang yang dianggap suci. Popularitas Gus Dur, sebagai mantan ketua NU dan mantan presiden, tentu memberi sumbangan pada besarnya minat orang pada makam dirinya. Bahkan mereka yang bukan dari kalangan nahdliyin juga tidak segan untuk menziarahi makamnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak orang meyakini Gus Dur adalah seorang wali yang keberkahannya meluber hingga wafatnya. Sehingga tidak sedikit yang menjadikan kunjungan  ke makam Gus Dur menjadi satu bagian dari rangkaian ziarah ke makam-makam wali lainnya.

Ziarah ke makam para wali adalah salah satu tradisi penting yang bisa dijumpai di banyak tempat di dunia. Ziarah, terutama ziarah ke makam orang-orang suci, termasuk salah satu persoalan yang diperdebatkan oleh ahli-ahli teologi Islam hampir sepanjang sejarah Islam itu sendiri. Sebagian menganggap ziarah ke makam wali adalah perbuatan bid’ah  yang menyimpang dari pokok ajaran Islam, sebagian lain menganggapnya sah sebagaai bagian dari ibadah yang diajarkan Nabi. Bagi kelompok yang terakhir disebut, ziarah adalah bagian integral dari tradisi Islam. Dalam tradisi Islam, ziarah ke makam wali bersifat pelengkap dari ziarah utama yang memang dititahkan kanon islam, yakni ziarah haji ke Mekah setiap satu tahun. Bagaimanapun, seperti lepas begitu saja dari perdebatan-perdebatan teologis itu, ziarah ke makam wali tetap mendapat tempat di kalangan umat islam di seluruh penjuru dunia Islam. Makam-makam nabi  pra-Muhammad, sahabat-sahabat Nabi Muhammad, wali-wali abad pertengahan, hingga makam-makam para penyebar agama Islam di suatu tempat, selalu ramai diziarahi umat. Di negara-negara mayoritas berpenduduk muslim, hampir selalu bisa dijumpai makam orang suci yang menjadi tujuaan diziarahi banyak orang.

Asal-usul ziarah dalam Islam sendiri belum terungkap secara jelas, namun yang jelas praktik ini menyerupai tradisi pra-Islam seperti Yahudi dan Kristen. Ziarah Haji sendiri merupakan praktik yang terjadi sebelum Muhammad. Ziarah ke tempat-tempat suci pra-Islam bisa begitu mudah diterima karena tokoh-tokoh sucinya juga diakui dalam kitab suci orang Islam. Peta relijius ini berkembang seiring dengan menyebarnya agama Islam ke wilayaah-wilayah baru.

Di tempat-tempat baru ini, ada kebutuhuhan untuk menciptakan situs suci sebagai ajang supaya ajaran baru ini terasa membumi karena jaraknya yang jauh dari tempat suci utama yang terasa semakin mistis. Karena ziarah haji ke Mekah menjadi semakin jauh dan sulit dilaksanakan, ada kebutuhan untuk menghubungkan situs suci utama itu ke situs-situs lokal yang lebih mudah terjangkau. Makam-makam wali atau guru tarekat kemudian menjadi tempat untuk  menjangkau tempat suci utama yang tak terjangkau itu. Maka menjadi penting bahwa sang wali yang dimakamkan bisa dihubungkan dengan kutub tersebut melalui silsilah yang menghubungkannya dengan Nabi Muhammad di Mekah. Dengan semakin membentangnya pengaruh Islam maka semakin lebar pula peta relijius  yang saling terhubung dengan Mekah sebagai pusatnya itu. Dalam peta relijius yang disambungkan oleh cerita kesucian wali, tarekat sufi, dan silsilah menuju nabi tersusunlah satu tradisi ziarah lokal yang sangat beragam.[1]

Keragaman praktik ziarah ini diyakini oleh sejumlah kalangan sebagai manifestasi dari kebebasan. Jika praktik peribadatan di masjid mencerminkan keseragaman dan kesatuan, ibadah melalui makam wali bisa sangat beragam bergantung pada sang wali yang dimakamkan dan lokalitas tempat sang wali dimakamkan. Praktik ziarah di berbagai negeri selalu mempunyai kekhasan lokal yang tidak sama satu sama lain. Ketika berada pada makam wali, orang bisa melakukan sesuatu yang jauh dari ortodoksi dan bertingkkah di luar pakem ajaran agamanya, termasuk melakukan ritus kuno yang mengakar dalam tradisi lokal.  Di Makam Gus Dur, misalnya, kita bisa menyaksikan betapa orang bisa melakukan tindakan seperti mengambil tanah dari pusara atau melempar uang ke atas makam. Sesuatu yang secara meyakinkan tidak akan bisa ditemui dalam ortodoksi islam. Ziarah wali, dengan demikian, mencerminkan keragaman dalam tubuh umat islam sendiri.[2]

  Lanjutkan membaca “Perempuan-Perempuan di Makam Gus Dur”

Saints In The City: Menjadi Suci di Zona Konsumsi

(dipublikasikan di Jurnal Srinthil edisi 19/2011)

Dalam sejumlah perbincangan mengenai apa yang disebut tentang “kebangkitan Islam” di sejumlah negara muslim, sufisme jarang mendapat perhatian dibanding dengan politik Islam dan sejumlah praktik relijius Islam lainnya. Tak terkecuali di Indonesia. Padahal, melalui pengamatan yang lebih tajam, minat besar pada tasawuf juga turut mewarnai gemuruh maraknya orang kembali berislam tersebut. Bentuknya bisa bermacam-macam, namun yang paling tampak adalah semakin banyaknya orang yang gemar menghadiri acara zikir bersama serta besarnya minat orang pada pelatihan-pelatihan spiritual. Hal-hal berbau sufistik itu mengiringi besarnya minat orang untuk melakukan praktik-praktik relijius sepert naik haji, membangun masjid, hingga berjuang mengupayakan sejumlah aturan bernuansa Islam seperti aturan tentang makanan halal, perbankan Islam, sampai dengan perda syariah.

Bentuk-bentuk pelatihan spiritual yang lazim di perkotaan tersebut oleh Julia Day Howell disebut dengan istilah urban sufisme.[1] Jika mengacu pada konsepsi yang dikembangkan Howell itu, maka apa yang disebut dengan urban sufisme bisa mencakup sejumlah fenomena gerakan spiritual yang muncul di tengah masyarakat urban, diantaranya dalah ritual zikir dan do’a tanpa organisasi tarekat—sebagaimana yang dilakukan Ustaz Haryono, Ustaz Arifin Ilham, dan Aa Gym. Di samping itu ada pula kelompok yang bergabung dengan  gerakan tasawuf konvensional yang masih terikat organisasi tarekat, seperti yang ditampakkan oleh komunitas Tarekat Naqsybandiyyah, Sazilliyah, Qadariyah, dan lainnya. Memang, kendati gerakan sufisme tanpa tarekat telah menjadi fenomana umum di perkotaan, bukan berarti tarekat konvensional lantas kehilangan tempat di kalangan kaum urban papan atas. Justru hal itu menjadi momentum bagi tarekat konvensional untuk meraih hati kalangan menengah ke atas itu. Secara umum memang yang lebih populer di kalangan masyarakat urban adalah sejenis sufisme yang tak terlalu ketat dalam hierarki dan struktur kendati sejumlah hal dicomot dari tarekat tradisional. Modifikasi juga dilakukan di sana-sini agar sesuai dengan budaya urban.

Di luar itu, masih ada lagi fenomena keagamaan yang juga berbau sufistik, yakni pelatihan-pelatihan spiritual seperti ESQ, training kepribadian, pelatihan sholat khusyuk, dan semacamnya yang tidak terkait dengan ordo tarekat konvensional. Pertanyaan umum yang langsung menyergap adalah mengapa orang kota tertarik untuk mengikuti kegiatan tasawuf dan bagaimana mengaitkan ini dengan budaya kelas menengah Islam di Indonesia? Lanjutkan membaca “Saints In The City: Menjadi Suci di Zona Konsumsi”