Sketsa Nilai dan Pemikiran Gus Dur

 

 

Tidak semua, atau bahkan sangat sedikit, orang yang gagasan dan pemikirannya terus dikaji, dipikirkan kembali, sekaligus diikuti setelah ia tiada. K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah salah satu dari segelintir itu. Hingga kini, lama setelah wafatnya,  gagasan dan pemikirannya tetap diperbincangkan dan dipikirkan.

 

Mengapa Gus Dur menjadi sedemikian kuat pengaruhnya? Jawabannya bisa sangat kompleks dan beragam. Salah satunya adalah karena dia tidak hanya orang yang bicara dan menuangkan gagasan dalam tulisan, namun juga bekerja memperjuangakan apa yang ia pikirkan. Sejarah atau biografinya dengan terang benderang menerangkan perjalanan hidupnya yang penuh dengan pelaksanaan kata-kata. Mulai dari mengajar di pesantren, mengurus dan merawat organisasi NU, hingga menjadi politikus dan presiden. Semua itu tidak bisa dipisahkan dari pemirkiran dan gagasannya yang dituangkan dalam berbagai tulisan.

Lanjutkan membaca “Sketsa Nilai dan Pemikiran Gus Dur”

Iklan

Perempuan-Perempuan di Makam Gus Dur

(dimuat di Jurnal Srinthil edisi 22)

 

Dengan judul di atas saya tidak sedang membangun asosisasi tentang betapa perempuan adalah sesuatu yang khas dan mencolok mata di seputar makam Gus Dur. Juga bukan sedang mengarahkan persepsi bahwa ziarah makam Gus Dur lebih banyak diminati perempuan ketimbang laki-laki. Judul itu hanya saya maksudkan bahwa tulisan sederhana ini akan bercerita tentang sejumlah hal yang dilakukan oleh para perempuan di sekitar makam Gus Dur Apakah cerita itu bisa memberitahu kita tentang kekhasan perempuan dalam konteks ziarah wali? Sebelum sampai ke situ, mari kita lihat dulu makam Gus Dur dalam konteks ziarah wali di nusantara.

Ziarah ke makam Gus Dur tidak bisa lepas dari tradisi besar ziarah ke makam-makam para wali atau orang-orang yang dianggap suci. Popularitas Gus Dur, sebagai mantan ketua NU dan mantan presiden, tentu memberi sumbangan pada besarnya minat orang pada makam dirinya. Bahkan mereka yang bukan dari kalangan nahdliyin juga tidak segan untuk menziarahi makamnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak orang meyakini Gus Dur adalah seorang wali yang keberkahannya meluber hingga wafatnya. Sehingga tidak sedikit yang menjadikan kunjungan  ke makam Gus Dur menjadi satu bagian dari rangkaian ziarah ke makam-makam wali lainnya.

Ziarah ke makam para wali adalah salah satu tradisi penting yang bisa dijumpai di banyak tempat di dunia. Ziarah, terutama ziarah ke makam orang-orang suci, termasuk salah satu persoalan yang diperdebatkan oleh ahli-ahli teologi Islam hampir sepanjang sejarah Islam itu sendiri. Sebagian menganggap ziarah ke makam wali adalah perbuatan bid’ah  yang menyimpang dari pokok ajaran Islam, sebagian lain menganggapnya sah sebagaai bagian dari ibadah yang diajarkan Nabi. Bagi kelompok yang terakhir disebut, ziarah adalah bagian integral dari tradisi Islam. Dalam tradisi Islam, ziarah ke makam wali bersifat pelengkap dari ziarah utama yang memang dititahkan kanon islam, yakni ziarah haji ke Mekah setiap satu tahun. Bagaimanapun, seperti lepas begitu saja dari perdebatan-perdebatan teologis itu, ziarah ke makam wali tetap mendapat tempat di kalangan umat islam di seluruh penjuru dunia Islam. Makam-makam nabi  pra-Muhammad, sahabat-sahabat Nabi Muhammad, wali-wali abad pertengahan, hingga makam-makam para penyebar agama Islam di suatu tempat, selalu ramai diziarahi umat. Di negara-negara mayoritas berpenduduk muslim, hampir selalu bisa dijumpai makam orang suci yang menjadi tujuaan diziarahi banyak orang.

Asal-usul ziarah dalam Islam sendiri belum terungkap secara jelas, namun yang jelas praktik ini menyerupai tradisi pra-Islam seperti Yahudi dan Kristen. Ziarah Haji sendiri merupakan praktik yang terjadi sebelum Muhammad. Ziarah ke tempat-tempat suci pra-Islam bisa begitu mudah diterima karena tokoh-tokoh sucinya juga diakui dalam kitab suci orang Islam. Peta relijius ini berkembang seiring dengan menyebarnya agama Islam ke wilayaah-wilayah baru.

Di tempat-tempat baru ini, ada kebutuhuhan untuk menciptakan situs suci sebagai ajang supaya ajaran baru ini terasa membumi karena jaraknya yang jauh dari tempat suci utama yang terasa semakin mistis. Karena ziarah haji ke Mekah menjadi semakin jauh dan sulit dilaksanakan, ada kebutuhan untuk menghubungkan situs suci utama itu ke situs-situs lokal yang lebih mudah terjangkau. Makam-makam wali atau guru tarekat kemudian menjadi tempat untuk  menjangkau tempat suci utama yang tak terjangkau itu. Maka menjadi penting bahwa sang wali yang dimakamkan bisa dihubungkan dengan kutub tersebut melalui silsilah yang menghubungkannya dengan Nabi Muhammad di Mekah. Dengan semakin membentangnya pengaruh Islam maka semakin lebar pula peta relijius  yang saling terhubung dengan Mekah sebagai pusatnya itu. Dalam peta relijius yang disambungkan oleh cerita kesucian wali, tarekat sufi, dan silsilah menuju nabi tersusunlah satu tradisi ziarah lokal yang sangat beragam.[1]

Keragaman praktik ziarah ini diyakini oleh sejumlah kalangan sebagai manifestasi dari kebebasan. Jika praktik peribadatan di masjid mencerminkan keseragaman dan kesatuan, ibadah melalui makam wali bisa sangat beragam bergantung pada sang wali yang dimakamkan dan lokalitas tempat sang wali dimakamkan. Praktik ziarah di berbagai negeri selalu mempunyai kekhasan lokal yang tidak sama satu sama lain. Ketika berada pada makam wali, orang bisa melakukan sesuatu yang jauh dari ortodoksi dan bertingkkah di luar pakem ajaran agamanya, termasuk melakukan ritus kuno yang mengakar dalam tradisi lokal.  Di Makam Gus Dur, misalnya, kita bisa menyaksikan betapa orang bisa melakukan tindakan seperti mengambil tanah dari pusara atau melempar uang ke atas makam. Sesuatu yang secara meyakinkan tidak akan bisa ditemui dalam ortodoksi islam. Ziarah wali, dengan demikian, mencerminkan keragaman dalam tubuh umat islam sendiri.[2]

  Lanjutkan membaca “Perempuan-Perempuan di Makam Gus Dur”

Selamat Jalan Gus…

Saya baru saja pulang dari jalan-jalan ketika menyalakan TV, menyalakan komputer, dan mendengar kabar duka: Gus Dur meninggal. Sudah cukup lama saya mendengar kabar tentang kritisnya kondisi kesehatan Gus Dur. Tapi tetap saja,sebagaimana semua kabar kematian, berita itu tetap menerbitkan kaget. Tiba-tiba saya merasa ada yang kosong. Merasa sangat kehilangan. Saya tidak pernah bersedih ketika ada politisi meninggal, saya tidak pernah menitikkan air  mata ketika ada mantan presiden wafat. Baru kali ini. Saya merasa ada yang tercerabut dari diri saya. Ada yang hilang.

Secara personal kami tidak saling mengenal. Saya bahkan cuma sekali bersalaman dengan beliau ketika ada acara keluarga besar istri saya di Jombang. Selain itu, paling banter saya hanya melihatnya dari kejauhan. Tapi rasa sedih dan kehilangan itu justru makin kuat karena saya merasa mengenal beliau melalui gagasan dan ide-idenya. Apa yang ia pikirkan dan katakan turut mengubah cara saya memandang dunia dan kehidupan.Saya merasa dekat dengannya karena itu. Lanjutkan membaca “Selamat Jalan Gus…”

Memuseumkan NU

Saat  jalan-jalan  di Surabaya beberapa waktu lalu, saya bersama teman-teman menginap di markas kawan-kawan FLA. Pagi hari, kami  mencari warung kopi, kami berjalan di jalanan sekitar mesjid akbar surabaya. Saya melihat gedung yang di atasnya berjudul museum NU. Mulanya saya tidak percaya jika itui benar-benar sebuah museum. Bagi nalar saya, ini berdasar kebiasaan, museum selalu diperuntukkan untuk sesuatu yang sudah tiada. Sesuatu yang tidak bisa lagi ditemukan dalam hidup sehari-hari. Misalnya, mueseum hewan purba, museum diponegoro, museum pusaka, dan lain-lain.  Tapi NU? Setiap hari kita masih bisa merasakan kehadirannya. Maka nama museum NU itu dengan sendirinya menjadi tidak lazim. Tapi tak apalah. Barangkali para pembuat museum ini sedang berpikir tentang pusat dokumentasi NU tapi tidak menemukan istilah lain kecuali museum. Lanjutkan membaca “Memuseumkan NU”