Mo Salah dan Upaya Mengubah Cara Pandang Barat Terhadap Islam

Tangannya terentang dan wajahnya menatap lurus ke arah tribun suporter Liverpool. Sejurus kemudian rekan-rekan satu timnya memeluknya erat sambil berteriak sekencangnya. Ederson hanya bisa menatap nanar. Gol yang dilesakkan ke gawang Manchester City itu menghantarkan Liverpool maju ke semifinal Liga Champion Eropa untuk pertamakalinya sejak puluhan tahun silam. Sesaat kemudian ia bersujud. Mungkin sambil berbisik lirih: Maha Suci Engkau yang mengizinkanku mencetak gol demi gol. Sujud itu ditingkahi suara gemuruh dari tribun. Mereka bersorak-sorai kegirangan sambil meneriakkan namanya: Mo Salah.

Muhammad Sholah Ghali, demikian nama lengkapnya. Pemain Liverpool asal Mesir itu kini dipuja bukan hanya oleh penggemarnya tapi juga oleh penggemar sepakbola di seluruh dunia. Ia menjadi pemain Liga Inggris paling subur musim ini. Bahkan bisa jadi di seluruh Eropa. Bahkan Mo Salah menjadi pemain terbaik Afrika 2017 dan baru saja dinobatkan menjadi pemain terbaik musim ini di liga paling komersil di seluruh jagad itu. Di Liverpool ia disanjung setinggi langit lapis ketujuh karena menjadi pemain tercepat kedua dalam sejarah Liverpool untuk hal mencapai gol ke-30.

Lanjutkan membaca “Mo Salah dan Upaya Mengubah Cara Pandang Barat Terhadap Islam”

Iklan

Pep

Tidak semua orang bisa dibeli. Barangkali itu yang melintas di kepala kita (setidaknya saya)  ketika membaca berita tentang kontrak Pep Guardiola dan Bayern FC. Jika rumor yang beredar di tabloid itu benar (bahwa konon Chelsea sampai memberi blanko kosong untuk diisi sendiri oleh Pep seberapa besar uang yang harus dibayar), maka langkah Pep adalah pesan bahwa ia tidak melulu berpikir soal uang. Mungkin. Bisa jadi Guardiola memang sudah kesengsem pada Bayern Munich saat perempat final UCL 2008/2009. Tentu saja Bayern saat itu tidak ada apa-apanya dibanding Barca (ingat agregat 5-1?). Setelah tiga tahun, bisa jadi Pep secara romantis menginginkan Bayern dan mencampakkan Chelsea (juga karena ia sadar sepenuhnya dia bukan seorang sopir bis).

“ingat ya, saya bukan sopir bis…”

Di luar romantisme tabloid itu, pilihan Pep adalah cukup rasional. Bayern adalah klub dengan struktur yang kokoh. Klub yang bagus (kecuali julukannya, FC Hollywood. Julukan macam apa itu??). Klub dengan anak-anak muda berbakat. Dibanding klub-klub di Ingrris, Bayern jelas lebih baik untuk urusan pembinaan pemain muda. Dengan demikian, bisa jadi, mimpi Pep adalah menanam benih, menyemai, memetiknya, dan meninggalkan jejak di Jerman sebagaimana ia meninggalkan jejaknya di Spanyol.

Saya selalu menyukai Pep. Terutama dalam cara pandanganya terhadap sepakbola. Itu tidak hanya tercermin dalam permainan Barca (yang, tentu saja, adalah yang terbaik sejak zaman es), tapi juga dalam pernyataan-pernyataannya di sekitar laga. dalam 200an laga selalu ada 200 komentarnya yang unik dan berbeda (kadang cukup inspiratif untuk ukuran pelatih sepakbola). Ini di antaranya: Lanjutkan membaca “Pep”

Busquets

Sergio Busquets. Banyak orang ketika berbicara tentang Barca sepertinya lupa ada pemain bernama Busquets. Orang akan lebih tertarik bicara tentang Xavi, Iniesta, atau (siapa lagi) Messi. Bahkan, terakhir, ia tidak masuk dalam FIFA XI. Pendeknya, ia tidak dianggap sebagai pemain yang luar biasa. Tapi itu tentu tidak di mata saya. Menurut saya, yang (hampir) selalu menonton semua laga Barca generasi ini, ia adalah salah satu kunci utama permainan Barca–juga Spanyol dalam tataran tertentu. Jika anda perhatikan (bukan memerhatikan laju bola) pengambilan posisi Busquets baik ketika menyerang maupun bertahan sungguh visioner. ia seperti tahu apa yang akan terjadi dua atau tiga detik ke depan.

..ada yang bisa baca tulisan di tangannya itu?

Peran Busquets yang sentral ini terbukti ketika tadi pagi Barca kelimpungan menghadapi tim banyak utang, Malaga.

Tentu saja, sepakbola bukan olahraga individu (untuk itulah olahraga semacam tenis atau golf , diciptakan di muka bumi ini) sehingga berbicara tentang satu pemain menjadi kurang relevan. Namun, kita masih bisa mentatat tentang individu-individu yang kualitas setingkat wali di dunia sepakbola. Busquets adalah salah satunya. Setidaknya menurut saya.

Timnas Indonesia vs Malaysia: Sisa Kotak Pandora

Saya sempat berjanji akan menulis tentang timnas di piala AFF 2012 ini. Tapi seteleh melihat pertandingan melawan Laos tempo hari, saya dirayapi perasaan malas. Semangat saya runtuh begitu melihat timnas bermain lebih buruk daripada buruk itu sendiri. Saat melawan Loas, para pemain timnas sudah melakukan segalanya kecuali satu hal: bermain sepakbola dengan benar. Anda yang sering menonton sepakbola Eropa tentu akan paham betapa pemain Indonesia tidak memainkan skema sepakbola. Gol kedua Laos menjelaskan hal itu. Lanjutkan membaca “Timnas Indonesia vs Malaysia: Sisa Kotak Pandora”

Spanyol-Italia: Moral Cerita dan Tauladan

Apakah perlu saya menuliskan lagi kesan saya tentang fina piala eropa lalu?saya semopat berpikir untuk tikda menulis apa-apa lagi. Saya sempat merasa semua orang akan punya kesan serupa bahwa hari ini sepakbola tiki taka adalah ilmmu tertinggi dalam dunia sepakbola seperti ajian serat jiwa di drama radi brama kumbara. Sya merasa pengen nulis lagi setelah mulai membaca sejumlah ulasan mengenai laga final itu. Banyak yang mulai meragukan tiki taka spanyol (meski tentu saja lebih banyak puja-puji), yang mulai membosankan.  Jika anda mengikuti blog saya,anda juga kan menjumapi saya punya kesan serupa itu. Tapi tentu saja, saya jelas lebih suka tiki taka spanyol ketimbang sepakbola menyerang khas ababil milik italia. Lanjutkan membaca “Spanyol-Italia: Moral Cerita dan Tauladan”