Pep

Tidak semua orang bisa dibeli. Barangkali itu yang melintas di kepala kita (setidaknya saya)  ketika membaca berita tentang kontrak Pep Guardiola dan Bayern FC. Jika rumor yang beredar di tabloid itu benar (bahwa konon Chelsea sampai memberi blanko kosong untuk diisi sendiri oleh Pep seberapa besar uang yang harus dibayar), maka langkah Pep adalah pesan bahwa ia tidak melulu berpikir soal uang. Mungkin. Bisa jadi Guardiola memang sudah kesengsem pada Bayern Munich saat perempat final UCL 2008/2009. Tentu saja Bayern saat itu tidak ada apa-apanya dibanding Barca (ingat agregat 5-1?). Setelah tiga tahun, bisa jadi Pep secara romantis menginginkan Bayern dan mencampakkan Chelsea (juga karena ia sadar sepenuhnya dia bukan seorang sopir bis).

“ingat ya, saya bukan sopir bis…”

Di luar romantisme tabloid itu, pilihan Pep adalah cukup rasional. Bayern adalah klub dengan struktur yang kokoh. Klub yang bagus (kecuali julukannya, FC Hollywood. Julukan macam apa itu??). Klub dengan anak-anak muda berbakat. Dibanding klub-klub di Ingrris, Bayern jelas lebih baik untuk urusan pembinaan pemain muda. Dengan demikian, bisa jadi, mimpi Pep adalah menanam benih, menyemai, memetiknya, dan meninggalkan jejak di Jerman sebagaimana ia meninggalkan jejaknya di Spanyol.

Saya selalu menyukai Pep. Terutama dalam cara pandanganya terhadap sepakbola. Itu tidak hanya tercermin dalam permainan Barca (yang, tentu saja, adalah yang terbaik sejak zaman es), tapi juga dalam pernyataan-pernyataannya di sekitar laga. dalam 200an laga selalu ada 200 komentarnya yang unik dan berbeda (kadang cukup inspiratif untuk ukuran pelatih sepakbola). Ini di antaranya: Lanjutkan membaca “Pep”

Iklan

Busquets

Sergio Busquets. Banyak orang ketika berbicara tentang Barca sepertinya lupa ada pemain bernama Busquets. Orang akan lebih tertarik bicara tentang Xavi, Iniesta, atau (siapa lagi) Messi. Bahkan, terakhir, ia tidak masuk dalam FIFA XI. Pendeknya, ia tidak dianggap sebagai pemain yang luar biasa. Tapi itu tentu tidak di mata saya. Menurut saya, yang (hampir) selalu menonton semua laga Barca generasi ini, ia adalah salah satu kunci utama permainan Barca–juga Spanyol dalam tataran tertentu. Jika anda perhatikan (bukan memerhatikan laju bola) pengambilan posisi Busquets baik ketika menyerang maupun bertahan sungguh visioner. ia seperti tahu apa yang akan terjadi dua atau tiga detik ke depan.

..ada yang bisa baca tulisan di tangannya itu?

Peran Busquets yang sentral ini terbukti ketika tadi pagi Barca kelimpungan menghadapi tim banyak utang, Malaga.

Tentu saja, sepakbola bukan olahraga individu (untuk itulah olahraga semacam tenis atau golf , diciptakan di muka bumi ini) sehingga berbicara tentang satu pemain menjadi kurang relevan. Namun, kita masih bisa mentatat tentang individu-individu yang kualitas setingkat wali di dunia sepakbola. Busquets adalah salah satunya. Setidaknya menurut saya.

Timnas Indonesia vs Malaysia: Sisa Kotak Pandora

Saya sempat berjanji akan menulis tentang timnas di piala AFF 2012 ini. Tapi seteleh melihat pertandingan melawan Laos tempo hari, saya dirayapi perasaan malas. Semangat saya runtuh begitu melihat timnas bermain lebih buruk daripada buruk itu sendiri. Saat melawan Loas, para pemain timnas sudah melakukan segalanya kecuali satu hal: bermain sepakbola dengan benar. Anda yang sering menonton sepakbola Eropa tentu akan paham betapa pemain Indonesia tidak memainkan skema sepakbola. Gol kedua Laos menjelaskan hal itu. Lanjutkan membaca “Timnas Indonesia vs Malaysia: Sisa Kotak Pandora”

Spanyol-Italia: Moral Cerita dan Tauladan

Apakah perlu saya menuliskan lagi kesan saya tentang fina piala eropa lalu?saya semopat berpikir untuk tikda menulis apa-apa lagi. Saya sempat merasa semua orang akan punya kesan serupa bahwa hari ini sepakbola tiki taka adalah ilmmu tertinggi dalam dunia sepakbola seperti ajian serat jiwa di drama radi brama kumbara. Sya merasa pengen nulis lagi setelah mulai membaca sejumlah ulasan mengenai laga final itu. Banyak yang mulai meragukan tiki taka spanyol (meski tentu saja lebih banyak puja-puji), yang mulai membosankan.  Jika anda mengikuti blog saya,anda juga kan menjumapi saya punya kesan serupa itu. Tapi tentu saja, saya jelas lebih suka tiki taka spanyol ketimbang sepakbola menyerang khas ababil milik italia. Lanjutkan membaca “Spanyol-Italia: Moral Cerita dan Tauladan”

Jerman-Yunani: Karena Mereka Bukan Orang Jerman….

Mengapa Jerman sekarang semakin enak dilihat dan tidak membosankan? Sebagian orang menjawab: karena Jerman sekarang bukan orang Jerman. Jawaban itu tidak semuanya akurat, tapi memantulkan sejumlah kebenaran. Lihat saja pemain-pemain Jerman di dekade ini. Anda tidak akan menemukan warna-warna semacam itu di kesebelasan Jerman 20 atau 30 tahun lalu. Kesebelasan Jerman adalah cermin dari Eropa—dan dunia– yang semakin berubah. Lalu apa hubungannya dengan keindahan. Sebenarnya tidak banyak, kecuali bahwa selera kaku khas Jerman masa silam mulai tertanggalkan. Tapi kekhasan Jerman tak sepenuhnya hilang. Lihatlah dua dari empat gol Jerman ke gawang Yunani yang dibuat Khedira dan Klose. Anda membenci Jerman pasti kenal betul dengan gol-gol semacam itu di masa silam. Gol-gol yang menyebalkan.

Ada yang lebih menyebalkan dari Jerman di pila Eropa kali ini, yakni mereka hanya harus berhadapan melawan kesebalasan dari sebuah negara yang nyaris bangkrut dan sudah lama ditinggalkan dewa-dewa. Sebelumha saya berharap Jerman akan melawan Ceko atau Rusia yang mungkin lebih bisa diharapkan. Tapi sepertinya seluruh alam raya bersekongkol untuk melapangkan jalan buat Jerman. Lanjutkan membaca “Jerman-Yunani: Karena Mereka Bukan Orang Jerman….”

Spanyol-Perancis: Spanyol yang Bosan Juara

null

del Bosque membaca tulisan saya di blog ini, tapi ia salah memahaminya.Ia memang mengubah line-up, tapi kembali menggunakan fabregas sebagai false 9. Gagasannya memang tidak jelek, tapi untuk menghadapai tim yang sudah gemetar kaki-kakinya seperti Pernacis, Spanyol harusnya lebih tajam dalam menyerang. Ketajaman itu tidak dimiliki Spanyol malam tadi. Mereka hanya menguasai bola, tapi tidak membuat banyak peliang gol. Ungkapan klasiknya: mereka lupa bahwa tugas utamanya adalah mencetak gol. Gol memang datang sebagai buah, tapi hanya satu di babak pertama. Dan itu tidak cukup menyenangkan. Satu yang bisa dicatat dari gol itu adalah Jordi Alba, bukan Xabi. Kita semua tahu, Jordi Alba adalah pemain belakang yang sejauh ini paling banyak berlari dalam turnamen ini. Kecepatan dan akurasi umpannya malam tadi mempertegas betapa menjanjikannya Barca musim depan jika ia jadi bergabung.

Ketika babak pertama menjelang berakhir, saya diserbu rasa bosan. Saya hanya bisa menahannya sampai peluit tanda istirahat berbunyi. Saya tertidur sampai menit 65 dan terbangun saat melihat Torres berlari-lari kebingungan. Torres bermain buruk, buruk sekali malam tadi.Untung dia sempat terperangkap offside, sehingga ia bisa kelihatan telah berusaha. Saya sudah mulai yakin bahwa era emas Torres sudah berakhir ketika ia pindah ke Chelsea seperti dulu Ronaldinho berakhir ketika pindah ke AC Milan. Om Bosque, jika sampeyan baca blog ini lagi, please jangan pasang Torres saat melawan Portugal nanti ya. Cobalah pasang Pedro sejak menit pertama. Lihatlah, semalam Pedro bermain cemerlang meski tidak main sejak awal. Satu dua kali ia menghunjam ke kotak pinalti Perancis. Satu peluang gol dipersembahkannya sebagai pinalti buat Xabi. Lanjutkan membaca “Spanyol-Perancis: Spanyol yang Bosan Juara”

Inggris-Ukraina: Laga Pengantar Bobo

Saya bangun terlambat dan hanya mendapati sisa babak pertama yang menjemukan. Ketika komentator tivi mulai ngomyang tidak jelas, saya tertidur dan baru bangun pada 20 menit terakhir. Mata saya masih tampak serupa panda ketika babak kedua usai. Jadi, terus terang, tak banyak yang bisa saya ceritakan pada apa tentang apa yang saya alami ketika menonton pertandigan itu. Saya hanya bisa bilang bahwa dari beberapa menit yang saya tonton itu, Inggris tampak menjemukan dan bermain seburuk Chelsea di liga Champions. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa ada batalnya gol yang kontroversial, penampilan Inggris sudah pasti tidak mencerminkan diri sebagai mbah-nya sepakbola. Jika penampilannya akan seperti ini terus, kalaupun mereka bisa sampai final dan menang maka sejatinya mereka bukan juara tapi cuma sekadar penerima Piala. Demikian.