Orang-orang Melarat di Paris dan London

Ini adalah buku pertama George Orwell. Sebuah buku cerita yang bersifat sangat otobiografis, lebih mendekati catatan harian ketimbang sebuah novel kendati banyak pula fiksi di dalamnya. Karya pertama Orwell ini ditolak oleh sejumlah penerbit, termasuk editor—sekaligus penulis—ternama, TS Elliot dari penerbit Faber&Faber. Barangkali karena gambaran mengenai kehidupan jalanan yang diceritakannya terlalu tidak nyaman untuk dibaca. Karena alasan komersial, buku yang tidak membuat nyaman pembacanya memang selalu dihindari oleh banyak penerbit. Realitas kemiskinan yang terlalu pedih tentu tidak akan membuat nyaman pembaca yang kebanyakan adalah kalangan kelas menengah ke atas. Naskah Orwell ini berdasar pada pengalamannya hidup sebagai seniman bohemian di Paris dan London. Kehidupan gelandangan yang dijalaninya menginspirasinya untuk menulis naskah yang berjudul “Down and Out in Paris and London” ini. Akhirnya, setelah ditolak di mana-mana, naskahnya ini diterima dengan tidak antusias oleh Victor Gallanz yang lantas menerbitkannya. Pada buku pertamanya inilah nama pena George Orwell diperkenalkan ke publik. Pada mulanya nama pena ini ia gunakan agar orang tuanya tidak shock jika tahu kehidupannya di Paris dan London. Namun sejak itu pula nama pena ini selalu dipakainya meski ia tak pernah mengubah namanya secara resmi.

Orwell sendiri terlahir bernama Eric Arthur Blair di Montihari Bengal India pada 25 Juni 1903. Orang tuanya adalah pegawai negeri sipil Inggris dan termasuk bagian dari apa yang ia sebut “kelas menengah atas yang paling bawah”. Pada 1905 ia pulang ke Inggris bersama ibunya lalu masuk ke sekolah dasar yang mewah, St Cyprian. Di sini ia mulai menyadari pembedaan kelas. Ia selalu dihina dan dipandang sebelah mata karena tidak datang dari keluarga kaya. Setelah itu ia melanjutkan studi ke sekolah Eton yang sangat ternama itu. Namun ia menolak untuk melanjutkan studinya ke Oxford atau Cambridge tapi malah masuk ke Kepolisian Imperial India di Burma, sebuah sikap yang oleh banyak pengamat disebut sebagai sikap pemberontak Orwell yang akan menjiwai karya-karyanya nanti. Di dinas kepolisian, sebagai seorang polisi yang dibenci masyarakat, kesadaran kelasnya semakin menguat. Muak pada perannya sebagai bagian dari sekrup imperialis, ia memutuskan untuk keluar dari dinas kepolisian. Setelah keluar dari dinas, ia pulang ke Inggris tahun 1927 dan menyatakan ingin menjadi penulis pada orang tuanya. Ia kemudian hidup sebagai seniman bohemian di Paris selama beberapa bulan hingga melahirkan karya pertamanya ini. Baca lebih lanjut

Suara Lain Dalam Keheningan yang Ganjil

null
On The Subject Of ”Java”

null
Abangan, Santri, Priyayi

null

null

Tidak perlu menjadi seorang jenius untuk mengetahui bahwa review tentang buku-buku ini sudah sangat banyak. Nyaris tak terhitung tulisan berbentuk artikel, resensi, maupun buku yang mengulas tentang karya-karya monumental tentang jawa ini. Karena itu, mereview lagi isi buku-buku tersebut seolah hanya akan seperti pekerjaan mengulang yang sia-sia atau bahkan hasilnya bisa jadi hanya akan menjadi sampah yang tak berguna. Tulisan ini, dengan demikian, tidak dimaksudkan untuk itu. Namun akan lebih mengaitkannya dengan soal atau topik tertentu. Dengan kata lain: memberi konteks pembacaan, yakni tentang kesenian rakyat. Kesenian rakyat yang dimaksud tulisan ini adalah seni (bisa seni pertunjukan bisa seni ritual) yang spontan dilakukan oleh kalangan masyarakat sebagai ekspresi perasaaan mereka dalam menghadapi soal-soal kehidupan.

Buku Pemberton yang berjudul On The Subject Of ”Java” ini menandaskan bahwa pengetahuan tentang jawa adalah hasil dari produksi melalui proses sosial yang bekerja dalam sejarah, bukan dari kenyataan alamiah. Dari pengetahuan tentang Jawa inilah kemudian berlangsung pembicaraan rutin soal ”nilai-nilai tradisional”, ”warisan kebudayaan”, dan ”jatidiri”. Nilai-nilai tersebut sedemikian luhur dan agung sehingga harus terus dilestarikan. Keagungan dan keluhuran tersebut dicerminkan melalui serangkaian tata ada, upacara, dan kesenian yang dikategorikan sebagai ”Jawa”. Dalam bentang pengetahuan semacam ini, Orde Baru seturut dengan nalar kolonial. Jawa (dan juga Indonesia Orde Baru) adalah sebuah kebersamaan yang rapih, sebuah harmoni yang indah dengan berbagai tradisi yang harus lestari. Panggung budaya Orde Baru adalah tata tertib yang halus dan tanpa cela. Karena itu, setiap cela, setiap gelaran tanpa order akan segera diluruskan. Sebuah keadaan yang mencerminkan ”nothing happening” (”tidak ada apa-apa”). Orde Baru, demikian Pemberton, adalah tatanan ketertiban dan ketenangan, tanpa hiruk-pikuk tanpa gejolak, sebuah kondisi stabil yang penuh kemapapanan. Kondisi semacam ini hanya bisa dicapai melalui seperangkat kebijakan strategis atas kebudayaan. Baca lebih lanjut

Sekte Para Pembunuh

The Assassins. Sebuah sekte pembunuh di Alamut selatan Persia abad pertengahan. Sekte ini sangat ditakuti pada jamannya. Mereka melakukan begitu banyak pembunuhan politik. Tanpa takut para anggota sekte bisa melakukan pembunuhan pada pejabat, ulama, atau orang biasa. Mereka bisa menyamar menjadi apa saja. Mengintai mangsa selama bertahun-tahun, kemudian mebunuhnya pada saat yang diinginkan. Menurut kamus Oxford, dari nama sekte inilah kata assassin dan assassination berasal.

Nama sekte ini, Al-Hasysyâsyîn. Para penulis Barat, termasuk Phillip K. Hitti yang menulis buku tebal, History of the Arabs,  menyebut mereka sebagai kaum penghisap hashish, ramuan sejenis opium.  Karena  pengaruh hashish inilah mereka menjadi lupa akan rasa takut. Adakah mereka benar-benar menghisap hashish atau sekadar mengembangkannya demi uang, tidak jelas benar. Bagi Hasan al-Shabbah, pendirinya,  Al-Hasysyâsyîn sebenarnya adalah Assassiyun, kaum yang taat asas—ini yang ditulis oleh Amin Maalouf dalam novel berjudul Samarkand. Taat asas, maksudnya adalah hanya mereka yang setia pada asas Islam, yang lain tidak, dan demi asas ini pula mereka sanggup membunuh siapa saja. Hasan al-Shabbah adalah seorang pendakwah sekaligus panglima perang  yang ditakuti, ia seorang yang sangat taat dan ketat dalam beragama. Dikabarkan dia menghukum mati anaknya sendiri karena kepergok sedang minum anggur dan mengusir orang dari Alamut karena meniup seruling. Baca lebih lanjut

Metallica sampun sepuh…

Death Magnetic. Ini album baru metallica. Saya dulu penggenar metallica. Ketika masih smp saya suka berburu kaset metallica. Paling terkenal saat itu tentu album hitam berlabel “Metallica” itu. dari situ kemudian melacak ke belakang seperti ..And Justice For All, Kill ‘Em All, atau Master of Puppets. Senang sekali rasanya, waktu itu, jika saya bisa mendapatkan kaset-kaset itu. Saya memutarnya siang malam. Terutama sambil belajar setelah pulang mengaji. Padahal, dulu saya juga mengaji kitab Sulam Taufik, yang mengharamkan musik itu. Waktu itu saya tak terlalu peduli, kadang kepikiran juga, tapi doktrin semacam itu terasa aneh bagi saya. Apa yang salah dengan gitar dan seruling, coba? Apalagi Metallica keren dan membuat adrenalin saya terpacu -pacu. Saya tak pedulikan doktrin itu. Sampai sekarang,tentu saja. Baca lebih lanjut

Menonton Film Buruk

Kemarin malam, setelah sebalumnya membaca ini dan terprovokasi olehnya, saya memutuskan untuk mencoba menonton film “Maaf Saya Menghamili Istri Anda” yang dibikin Monty Tiwa. Mas Monty sebaiknya memang harus berucap begini: maaf saya telah membuat film seperti ini.

Saya sungguh menyesal telah menghabiskan sekitar 2 jam hidup saya untuk menonton film ini dan harus tidur malam sekaligus bangun kesiangan pagi harinya. Film ini sepertinya dikehendaki untuk menjadi film lucu. Dalam beberapa bagian, harus diakui, memang sempat membangkitkan rasa lucu itu, tapi secara kesuruhan sunguh mengharukan. Saya merasa pembuat filmnya tidak tahu kekuatan filmnya sendiri. Baca lebih lanjut

Riwayat Peradaban yang Komikal

Sekira 2 minggu lalu saya singgah di pondokan SPRT, suatu serikat pekerja rumah tangga yang mengorganisasi diri sembari memperjuangkan hak-haknya sebagai pekerja—bukan pembantu yang harus siap sedia selama 24 jam sehari di tempat kerja sebagaimana dimafhumi orang kebanyakan selama ini. Di tempat itu tanpa sengaja saya menjumpai buku Kartun Riwayat Peradaban yang ditulis Larry Gonnick jilid I. Saya sudah tahu tentang buku ini beberapa waktu lalu lewat review di media tapi belum sempat membacanya. Secara iseng pula saya baca sekilas dua kilas. Ah, ternyata buku ini menarik sekali. Penjelasannya tentang awal semesta dan dimulainya kehidupan di muka bumi memang bukan barang baru, ia hanya mengetengahkan teori-teori mapan yang sudah ada, tapi goresan komikalnya bisa memancing senyum sekaligus membangkitkan daya pikir.

Selang beberapa waktu, saya ketemu Kelik—seorang kawan yang mengklaim sudah membaca khatam sampai jilid III. Apa yang dia ceritakan tentang jilid-jilid berikutnya membuat saya semakin tertarik saja dengan serial komik ini. Untuk membuktikan apakah Kelik hanyalah seorang pembual saya memutuskan untuk membeli komik itu. Saya memilih jilid III karena di jilid inilah cerita tentang peradaban yang lebih mutakhir, kisah-kisah yang sudah saya akrabi ketimbang jaman romawi atau manusia purba. Ternyata Kelik tidak membual. Komik jilid III ini beberapa kali membuat tawa saya pecah berserakan dan beberapa kali membuat dahi saya mengernyit sambil bergumam “hmmmm…hmmm….”.

Jilid III berisi cerita tentang kebangkitan dunia Arab, munculnya Islam dan munculnya renaisance di Eropa. Jujur saja, banyak hal (atau fakta) yang disodorkan buku bisa membuat semakin terang sejumlah hal yang selama ini tampak abu-abu atautak terjelaskan. Justru dengan sifat komikalnya kita bisa membayangakan tentang apa yang pernah terjadi dalam penggal-penggal sejarah itu. Tapi, nah ini dia, bagi Anda yang sangat mudah tersinggung hanya karena identitas agamanya diuraikan tidak dengan cara penuh puja-puji, anda mungkin tidak akan pernah bisa tersenyum sepanjang membaca buku ini. atau bisa jadi anda malah hanya akan marah-marah atau membakar buku ini. Jika anda beli sendiri buku itu, ya boleh saja anda bakar, lha kalau buku pinjaman? Maka sebaiknya sebelum membaca buku ini anda “melepaskan” diri dulu dari pikiran ideologis-emosional anda tentang agama atau tokoh favorit anda di masa lalu. Baru anda bisa membaca buku ini, belajar tentang sejarah dengan riang, menikmati kecerahannya dan keceriannya. Misalnya, ini di Jilid I, Gonnick memberi catatan khusus pada kisah tentang dihanyutkannya Musa oleh orang tuanya. Menurut catatannya, kisah tentang orang yang dilarung di sungai atau laut adalah khas kisah-kisah orang besar pada jaman itu. ia menunjuk tokoh-tokoh besar lain yang juga dikisahkan dibuang di sungai atau laut. Kisah-kisah semacam itu sesungguhnya ditulis oleh penulis resmi demi glorifikasi pada tokoh bersangkutan, artinya tidak berdasar pada fakta sesungguhnya. Demikian pula kisah tentang dihanyutkannya Musa. Baca lebih lanjut

Sekali lagi, tentang identitas yang terbelah

Beberapa hari silam saya nonton film “The mistress of spices”, sutradara Paul Mayeda Berges. Film ini diangkat dari novel yang ditulis Chitra Divakaruni dengan judul yang sama. Istri saya, waktu itu masih pacar, membeli novel ini di toko buku bekas di sosrowijayan, jogja. Saya tidak sempat pinjam atau membacanya. Dulu sih karena bahasa inggris saya masih terbata-bata. Setelah menikah, buku itu tergeletak di rak buku keluarga dnegan begitu rupa dan saya tak juga menyentuhnya. Baru kemaren ketika mampir di toko rental film, saya mendapati film dari novel itu.

Saya termasuk orang yang tidak terlalu rewel untuk menolak menonton film sebelum membaca novelnya. Kadang saya memilih membaca novelnya dulu–tanpa nonton filmnya, atau sebaliknya nonton filmnya dan baru baca atau bahkan tidak baca novelnya sama sekali. Film dan novel, masing-masing punya kelemahan dan kekuatannya sendiri. Menikmati film dan novel jelas berada pada ketegangan yang berbeda. Nah, kali itu saya lagi pengen menikmati film, bukan novel. Maka saya sewa dua film kala itu: kawin lontrak dan the mistress of spices. Kawin kontrak jelas bukan film yang akan memperkaya batin anda, tapi cukuplah kalau hanya untuk bisa membuat batin anda riang sepanjang durasi film. The mistress of spices, sebagaimana kebanyakan karya penulis India kontemporer seperti Inheritance of Lost (Kiran Desai), Wife (Bharati Mukerjee), God of Small Things (Arundhati Roy) dan lain-lain, yang anda bisa tambahkan sendiri deretnya, selalu berkisah tentang gegar identitas, terutama dari mereka yang menjadi kaum imigran atau setidaknya bersinggungan dengan orang asing. Sebuah soal tentang bagaimana hidup dengan situasi ketika harus terus menggenggam tradisi masa lalu sembari dihadapkan pada nilai-nilai baru yang begitu deras mengguyur tanpa interupsi. Ini tema klise khas isu poskolinialisme. Baca lebih lanjut