Pencarian Al-Ma’mun

 

 

Al Ma’mun, atau lengkapnya Abū Jaʿfar Abdullāh al-Ma’mūn ibn Hārūn al-Rashīd, khalifah ketujuh dari Dinasti Abasyiah itu berdiri di balkon Bait al-Hikmah yang megah, yang dibangun berdasar saran para ahli nujum dan arsitek terbaik zaman itu. Dinasti Abasyiah tengah berada di puncak kejayaannya setelah  sekitar seabad lalu  berhasil menggulung kekuasaan para keturunan Abu Sufyan. Di hadapannya membentang kota Baghdad yang sentosa. Orang-orang meriuh lalu lalang. Menara-menara menjulang. Suara azan berkumandang dari kejauhan menandai maghrib yang datang bersama semburat lembayung yang muncul di langit sebelah barat.

Pandangan Al-Ma’mun menatap lurus ke arah gurun besar yang terhampar di sebelah kota Bagdad. Ke sanalah ia mengutus tim ekspedisi khusus yang dibentuknya demi memenuhi ambisi  dan keingintahuannnya yang paling dalam sejak masa kanak: berapa besar sebenarnya ukuran bumi ini?

Lanjutkan membaca “Pencarian Al-Ma’mun”

Iklan

Panggung Dangdut Indramayu: Hibrida Masyarakat Pantura

Tulisan ini pernah diposting di situs Jurnal Srinthil (lihat di sini). Saya menyiapkan tulisan ini sebagai pengiring film dokumenter berjudul Kerudung Shanty yang dibuat teman saya.Data-data dalam tulisan ini saya dapat ketika melakukan penelitian demi pembuatan film ini.

 

 

Panggung Dangdut Indramayu: Hibrida Masyarakat Pantura

Oleh: Heru Prasetia

Penyanyi dengan dandanan seronok, goyang heboh, penonton yang riuh bergoyang, dan panggung dangdut. Tontonan semacam itu bisa kita saksikan di hampir semua kota- kecil-menengah sepanjang jalur jalan raya Dandels di pantai utara jawa. Indramayu adalah salah satunya. Wilayah kabutapen yang hanya berjarak empat jam dari ibu kota ini dikenal sebagai salah satu wilayah dengan penuh pertunjukan panggung musik. Pada masa panen tiba, panggung pertunjukan bisa muncul setiap malam berganti-ganti dari satu desa ke desa lainnya. Sekilas, tak ada yang membedakan pertunjukan di sudut-sudut Indramayu ini dengan segala tontonan panggung yang tersebar di sekujur kota-kota pantai utara jawa: musik dangdut cita rasa lokal yang dipadu dengan aksi panggung khas pertunjukan rakyat. Namun jika ditelisik lebih jauh, kita akan sampai pada pertanyaan-pertanyaan yang tidak hanya menyoal mengapa pertunjukan semacam ini bisa begitu hidup di kawasan ini tetapi juga tentang kehidupan kebudayaan Indramayu itu sendiri secara lebih luas. Lanjutkan membaca “Panggung Dangdut Indramayu: Hibrida Masyarakat Pantura”

Editorial Buku “Bencana Industri: Kekalahan Negara dan Masyarakat Sipil dalam Penanganan Lumpur Lapindo”

Beberapa waktu lalu saya bersama sejumlah penulis dan peneliti menyiapkan sebuah buku tentang Lumpur Lapindo. Buku ini adalah semacam sekuel dari buku tentang bencana yang telah terbit sebelumnya yang diterbitkan oleh penerbit yang sama. Ketika tulisan ini saya posting di sini, buku yang kami siapkan ini belum akan bisa anda jumpai di toko buku. Buku ini baru akan muncul   beberapa saat lagi—mungkin jika musim hujan sudah usai. Sebagai teaser, saya posting catatan editorial berikut ini, sejumlah review singkat tentang tulisan-tulisan di dalam buku ini semoga bisa menemani sampeyan menunggu musim hujan selesai.

     Ada semacam kesepakatan umum di kalangan ahli sosiologi bencana bahwa di masa depan situasi luar biasa yang dipicu oleh kegagalan teknologi akan semakin sering terjadi, jumlah bencana yang melibatkan antara alam dan teknologi akan semakin meningkat. Selain itu ulah manusia juga akan semakin dikenali sebagai penyebab atas apa yang secara tradisional  dianggap akibat fenomena alam.[1] Masa depan itu kini sudah tiba di negeri kita.  Danau yang kini tiap hari bisa disaksikan di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur adalah bukti kehadiran masa depan yang datang lebih cepat itu.

Masih adakah akal sehat dalam hal luapan lumpur  Lapindo? Horor dan kecemasan yang terbit pagi hari 29 mei 2006 silam itu masih menjadi teror bagi warga Porong sampai buku ini disiapkan. Betapa tidak, setidaknya 100.00 meter kubik lumpur masih menyembur dari perut bumi setiap harinya,  menenggelamkan, tanah, sawah, rumah, dan kehidupan warga porong sekitarnya. Adakah semua yang tenggelam itu bisa tergantikan? Kehidupan sosial jelas sudah tenggelam bersama lumpur, hanya aset yang bisa diganti. Namun, bahkan untuk sesuatu yang bisa digantikan dengan uang itu—seperti bangunan dan tanah–, tidak semua korban lumpur bisa beruntung mendapat ganti.

Sebagian besar ahli geologi yakin bahwa semburan di sumur Banjar Panji-1 pada tanggal 26 Mei pagi itu adalah akibat dari kelalaian pengeboran yang tidak memasang selubung pengeboran sesuai dengan yanng direncanakan.[2] Sesaat setelah semburan itu, pihak Lapindo bergegas menyatakan bahwa mereka akan bertanggungjawab atas semua yang terjadi dan akibatnya. Hanya belakangan, ketika semburan ternyata tak mampu dikendalikan dan dengan demikian korban mulai berjatuhan, Lapindo mulai berdalih dan menyangkal kesalahannya. Memang, kemudian sejumlah ahli berdebat soal apakah lumpur tersebut dipicu oleh kesalahan pengeboran—dengan demikian salah Lapindo—atau disebabkan oleh gempa yang berpusat di Yogyakarta.  Salah satu pendapat—yakni pendapat ahli yang mengatakan gempa bumi adalah pemicunya—jelas menguntungkan pihak Lapindo. Tidak aneh jika kemudian Lapindo sangat berminat untuk menyorongkan wacana gempa ini dalam ruang perdebatan itu.  Lanjutkan membaca “Editorial Buku “Bencana Industri: Kekalahan Negara dan Masyarakat Sipil dalam Penanganan Lumpur Lapindo””

Arak, Mabuk, dan Perempuan di Dunia Persilatan

 (dimuat di Jurnal Srinthil edisi 23)


Pada fajar kehidupan manusia dalam sejarah, minuman (atau makanan) dari buah-buahan yang berubah menjadi sesuatu yang memabukkan dipandang sebagai sesuatu yang bersifat magis. Orang-orang yang mengonsumsinya tiba-tiba tubuhnya menjadi panas dan pada titik tertentu hilang kesadaran. Tentu saja hal itu membuat takjub mereka yang menemukannya, mengapa buah yang jika dikonsumsi langsung tidak mendatangkan reaksi aneh bisa berubah menjadi minuman yang menimbulkan reaksi berbeda pada tubuh? Proses dari buah menjadi minuman aneh ini lantas dipandang sebagai kerja sihir. Sama seperti anggapan pada ahli kimia di masa sebelum peradaban ilmu pengetahuan. Proses yang magis tersebut (mengubah bahan makanan menjadi sesuatu yang menghilangkan akal dan membuat tubuh seolah melayang) kemudian juga melekat pada minuman yang dihasilkannya.

Dalam pada itu, di berbagai budaya, minuman yang membawa pada kondisi mabuk itu juga mendapat tempat sebagai minuman magis. Dalam berbagai khazanah kebudayaan, minuman beralkohol tidak hanya menjadi sekadar minuman, namun juga dilekati dengan hal-hal yang bermakna simbolis. Bahkan oleh kebudayaan yang menentangnya, minuman hasil fermentasi tersebut mendapat tempat yang terhormat. Sebut saja agama Kristen yang menempatkan anggur sebagai simbolisasi darah Kristus. Dalam khasanah Islam, lebih lepatnya sufisme, sejumlah bait puisi para sufi juga menyebut anggur dan rasa mabuk sebagai ungkapan cinta pada Ilahi. Kendati lebih dianggap bersifat metaforis, sebagian orang bisa saja percaya bahwa anggur benar-benar dinikmati secara literal. Paling tidak, secara simbolis mabuk anggur dijadikan simbolisasi untuk urusan yang sepenuhnya tidak duniawi. Dalam peradaban Islam abad pertengahan, sejumlah filsuf, intelektual, dan penyair tanpa tedeng aling-aling mengakui peran anggur sebagai sumber inspirasi. Omar Khayyam bisa menjadi contoh.

Mengenai anggur sebagai sumber inspirasi, tak hanya ditemukan dalam khazanah sufisme dan penyair, namun juga dalam dunia cerita silat. Di dunia persilatan, demikian dituturkan dalam cerita silat, ada tokoh-tokoh yang mempunyai jurus aneh yang hanya bisa dimainkan dalam keadaan mabuk. Dalam cerita silat Cina, kita kerap mendengar “Jurus Delapan Dewa Mabuk” yang menggetarkan. Ini muncul dalam cerita karya Chin Yung, atau film Kung Fu, Drunken Master, yang memperkenalkan jurus mabuk melalui aksi aktor Jackie Chan. Wong Fei Hung, legenda silat Cina itu, juga memainkan jurus ini dalam sebuah babak di film Once Upon a Time in China. Jurus Dewa Mabuk adalah jurus yang sangat terkenal hingga bahkan mereka yang bukan penggemar cerita silat pun setidaknya pernah mendengarnya melalui sumber lain.[1]

Kendati pada mulanya dikenal pada kisah-kisah silat dari daratan Tiongkok, bukan berarti tak ada jurus serupa dalam khazanah cerita silat di negeri ini. Sejumlah tokoh silat yang mengandalkan arak dan tuak juga bisa ditemui dalam cerita-cerita silat berlatar nusantara karya anak negeri.

Kisah-kisah silat ini mempunyai penggemarnya tersendiri. Tidak sulit untuk menemukan penggemar cerita silat di kalangan tua maupun muda di negeri ini.  Buku cerita silat relatif mudah dijumpai di toko buku atau bahkan terutama di tempat-tempat persewaan buku—bersanding dengan komik-komik Jepang. Dalam khazanah sastra, cerita silat baik dalam bentuk novel maupun cerita bersambung di koran tidak dianggap sebagai bentuk sastra serius. Absennya cerita silat dalam perbincangan mengenai sastra di Indonesia ini seiring sejalan dengan tak banyaknya orang membicarakan novel-novel remaja dan  novel-novel cerita hantu.  Novel-novel dengan genre cerita silat kadang lebih ditempatkan dalam kategori roman picisan yang tidak layak masuk dalam bingkai sastra serius. Barangkali itu karena ceritanya yang cenderung sederhana, mudah dicerna, menggunakan bahasa populer, dan penokohan yang hitam putih (ingat, dalam cerita silat ada kategori pendekar golongan hitam dan golongan putih). Secara kategoris, oleh ahli sastra, sastra populer dicirikan dengan gayanya yang stereotip, lebih mementingkan kenyamanan pembaca (karena hanya memberi hiburan), dan cenderung menyodorkan makna-makna tunggal.[2] Hal-hal yang membebani pikiran cenderung dihindari dan menyodorkan hiburan yang membangkitkan kenikmatan pembaca.

Mulai dikenalnya Cultural studies di negeri ini, membuka jalan bagi masuknya hal-hal yang sebelumnya dianggap sepele atau bersifat hiburan belaka ke dalam wacana akademis. Terutama pada gugatan terhadap dikotomi antara seni tinggi dan rendah, sastra populer dan kanon.[3] Hiburan atau sesuatu yang membangkitkan kenyamanan dan pleasure tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang lebih inferior dibanding sesuatu (misalnya seni atau sastra) yang menawarkan spiritualitas (ingat istilah memperkaya batin dan hati yang sering dipakai oleh para kritikus sastra dan seni?) dan daya intelektualitas. Di luar itu, pendekatan ini mengatakan bahwa pada hal-hal yang tampak sepele bisa saja dibaca hal-hal yang kadang tidak kalah penting dengan apa yang dibicarakan dalam narasi-narasi besar. Membaca cerita silat –termasuk mempertimbangkan para pembacanya—, dengan demikian, tidak hanya tentang membaca pertarungan kekuatan baik melawan kekuatan jahat yang tertera di cerita itu namun juga megungkap sejumlah pokok yang tergambar di dalamnya, yang pada titik tertentu menggambarkan lanskap yang jauh lebih luas dari kisah-kisah silat itu sendiri.

Tulisan ini disiapkan untuk secara sederhana memaparkan mabuk dan tuak-arak yang dikandung dalam cerita-cerita silat yang seru itu. Pada bagian akhir, akan diulas tentang bagaimana perempuan didudukkan dalam kaitannya dengan mabuk arak pada kisah-kisah silat tersebut. Lanjutkan membaca “Arak, Mabuk, dan Perempuan di Dunia Persilatan”

Perempuan-Perempuan di Makam Gus Dur

(dimuat di Jurnal Srinthil edisi 22)

 

Dengan judul di atas saya tidak sedang membangun asosisasi tentang betapa perempuan adalah sesuatu yang khas dan mencolok mata di seputar makam Gus Dur. Juga bukan sedang mengarahkan persepsi bahwa ziarah makam Gus Dur lebih banyak diminati perempuan ketimbang laki-laki. Judul itu hanya saya maksudkan bahwa tulisan sederhana ini akan bercerita tentang sejumlah hal yang dilakukan oleh para perempuan di sekitar makam Gus Dur Apakah cerita itu bisa memberitahu kita tentang kekhasan perempuan dalam konteks ziarah wali? Sebelum sampai ke situ, mari kita lihat dulu makam Gus Dur dalam konteks ziarah wali di nusantara.

Ziarah ke makam Gus Dur tidak bisa lepas dari tradisi besar ziarah ke makam-makam para wali atau orang-orang yang dianggap suci. Popularitas Gus Dur, sebagai mantan ketua NU dan mantan presiden, tentu memberi sumbangan pada besarnya minat orang pada makam dirinya. Bahkan mereka yang bukan dari kalangan nahdliyin juga tidak segan untuk menziarahi makamnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak orang meyakini Gus Dur adalah seorang wali yang keberkahannya meluber hingga wafatnya. Sehingga tidak sedikit yang menjadikan kunjungan  ke makam Gus Dur menjadi satu bagian dari rangkaian ziarah ke makam-makam wali lainnya.

Ziarah ke makam para wali adalah salah satu tradisi penting yang bisa dijumpai di banyak tempat di dunia. Ziarah, terutama ziarah ke makam orang-orang suci, termasuk salah satu persoalan yang diperdebatkan oleh ahli-ahli teologi Islam hampir sepanjang sejarah Islam itu sendiri. Sebagian menganggap ziarah ke makam wali adalah perbuatan bid’ah  yang menyimpang dari pokok ajaran Islam, sebagian lain menganggapnya sah sebagaai bagian dari ibadah yang diajarkan Nabi. Bagi kelompok yang terakhir disebut, ziarah adalah bagian integral dari tradisi Islam. Dalam tradisi Islam, ziarah ke makam wali bersifat pelengkap dari ziarah utama yang memang dititahkan kanon islam, yakni ziarah haji ke Mekah setiap satu tahun. Bagaimanapun, seperti lepas begitu saja dari perdebatan-perdebatan teologis itu, ziarah ke makam wali tetap mendapat tempat di kalangan umat islam di seluruh penjuru dunia Islam. Makam-makam nabi  pra-Muhammad, sahabat-sahabat Nabi Muhammad, wali-wali abad pertengahan, hingga makam-makam para penyebar agama Islam di suatu tempat, selalu ramai diziarahi umat. Di negara-negara mayoritas berpenduduk muslim, hampir selalu bisa dijumpai makam orang suci yang menjadi tujuaan diziarahi banyak orang.

Asal-usul ziarah dalam Islam sendiri belum terungkap secara jelas, namun yang jelas praktik ini menyerupai tradisi pra-Islam seperti Yahudi dan Kristen. Ziarah Haji sendiri merupakan praktik yang terjadi sebelum Muhammad. Ziarah ke tempat-tempat suci pra-Islam bisa begitu mudah diterima karena tokoh-tokoh sucinya juga diakui dalam kitab suci orang Islam. Peta relijius ini berkembang seiring dengan menyebarnya agama Islam ke wilayaah-wilayah baru.

Di tempat-tempat baru ini, ada kebutuhuhan untuk menciptakan situs suci sebagai ajang supaya ajaran baru ini terasa membumi karena jaraknya yang jauh dari tempat suci utama yang terasa semakin mistis. Karena ziarah haji ke Mekah menjadi semakin jauh dan sulit dilaksanakan, ada kebutuhan untuk menghubungkan situs suci utama itu ke situs-situs lokal yang lebih mudah terjangkau. Makam-makam wali atau guru tarekat kemudian menjadi tempat untuk  menjangkau tempat suci utama yang tak terjangkau itu. Maka menjadi penting bahwa sang wali yang dimakamkan bisa dihubungkan dengan kutub tersebut melalui silsilah yang menghubungkannya dengan Nabi Muhammad di Mekah. Dengan semakin membentangnya pengaruh Islam maka semakin lebar pula peta relijius  yang saling terhubung dengan Mekah sebagai pusatnya itu. Dalam peta relijius yang disambungkan oleh cerita kesucian wali, tarekat sufi, dan silsilah menuju nabi tersusunlah satu tradisi ziarah lokal yang sangat beragam.[1]

Keragaman praktik ziarah ini diyakini oleh sejumlah kalangan sebagai manifestasi dari kebebasan. Jika praktik peribadatan di masjid mencerminkan keseragaman dan kesatuan, ibadah melalui makam wali bisa sangat beragam bergantung pada sang wali yang dimakamkan dan lokalitas tempat sang wali dimakamkan. Praktik ziarah di berbagai negeri selalu mempunyai kekhasan lokal yang tidak sama satu sama lain. Ketika berada pada makam wali, orang bisa melakukan sesuatu yang jauh dari ortodoksi dan bertingkkah di luar pakem ajaran agamanya, termasuk melakukan ritus kuno yang mengakar dalam tradisi lokal.  Di Makam Gus Dur, misalnya, kita bisa menyaksikan betapa orang bisa melakukan tindakan seperti mengambil tanah dari pusara atau melempar uang ke atas makam. Sesuatu yang secara meyakinkan tidak akan bisa ditemui dalam ortodoksi islam. Ziarah wali, dengan demikian, mencerminkan keragaman dalam tubuh umat islam sendiri.[2]

  Lanjutkan membaca “Perempuan-Perempuan di Makam Gus Dur”

Saints In The City: Menjadi Suci di Zona Konsumsi

(dipublikasikan di Jurnal Srinthil edisi 19/2011)

Dalam sejumlah perbincangan mengenai apa yang disebut tentang “kebangkitan Islam” di sejumlah negara muslim, sufisme jarang mendapat perhatian dibanding dengan politik Islam dan sejumlah praktik relijius Islam lainnya. Tak terkecuali di Indonesia. Padahal, melalui pengamatan yang lebih tajam, minat besar pada tasawuf juga turut mewarnai gemuruh maraknya orang kembali berislam tersebut. Bentuknya bisa bermacam-macam, namun yang paling tampak adalah semakin banyaknya orang yang gemar menghadiri acara zikir bersama serta besarnya minat orang pada pelatihan-pelatihan spiritual. Hal-hal berbau sufistik itu mengiringi besarnya minat orang untuk melakukan praktik-praktik relijius sepert naik haji, membangun masjid, hingga berjuang mengupayakan sejumlah aturan bernuansa Islam seperti aturan tentang makanan halal, perbankan Islam, sampai dengan perda syariah.

Bentuk-bentuk pelatihan spiritual yang lazim di perkotaan tersebut oleh Julia Day Howell disebut dengan istilah urban sufisme.[1] Jika mengacu pada konsepsi yang dikembangkan Howell itu, maka apa yang disebut dengan urban sufisme bisa mencakup sejumlah fenomena gerakan spiritual yang muncul di tengah masyarakat urban, diantaranya dalah ritual zikir dan do’a tanpa organisasi tarekat—sebagaimana yang dilakukan Ustaz Haryono, Ustaz Arifin Ilham, dan Aa Gym. Di samping itu ada pula kelompok yang bergabung dengan  gerakan tasawuf konvensional yang masih terikat organisasi tarekat, seperti yang ditampakkan oleh komunitas Tarekat Naqsybandiyyah, Sazilliyah, Qadariyah, dan lainnya. Memang, kendati gerakan sufisme tanpa tarekat telah menjadi fenomana umum di perkotaan, bukan berarti tarekat konvensional lantas kehilangan tempat di kalangan kaum urban papan atas. Justru hal itu menjadi momentum bagi tarekat konvensional untuk meraih hati kalangan menengah ke atas itu. Secara umum memang yang lebih populer di kalangan masyarakat urban adalah sejenis sufisme yang tak terlalu ketat dalam hierarki dan struktur kendati sejumlah hal dicomot dari tarekat tradisional. Modifikasi juga dilakukan di sana-sini agar sesuai dengan budaya urban.

Di luar itu, masih ada lagi fenomena keagamaan yang juga berbau sufistik, yakni pelatihan-pelatihan spiritual seperti ESQ, training kepribadian, pelatihan sholat khusyuk, dan semacamnya yang tidak terkait dengan ordo tarekat konvensional. Pertanyaan umum yang langsung menyergap adalah mengapa orang kota tertarik untuk mengikuti kegiatan tasawuf dan bagaimana mengaitkan ini dengan budaya kelas menengah Islam di Indonesia? Lanjutkan membaca “Saints In The City: Menjadi Suci di Zona Konsumsi”