Istriku dan Jilbabnya


Istri saya dulu mengenakan jilbab jika sedang keluar rumah. Ia sudah mengenakan pakaian model itu sejak remaja. Beberapa saat setelah menikah, ia memutuskan untuk tidak memakai jilbab. Sejumlah orag mengira itu karena pengaruh saya. Tentu itu karena mereka tidak mengenal istri saya. Istri saya ini ya, sodara-sodara, bukan tipe perempuan manut suami yang bisa disuruh ini dan itu. Terlebih, bagaimana mungkin dia terpengaruh saya. Dalam ihwal ilmu kegamaan, pengetahuan istri saya jauh di atas apa yang saya ketahui.

Kalau saya sih, terserah dia, mau pakai jilbab monggo, mau nggak ya monggo. Daripada saya dituduh yang engak-enggak, mending saya pasang curahan hati istri saya yang duluuuuu sekali pernah ia tulis itu di sini. Monggo….

Terjebak

“Aku terjebak dalam tubuh yang salah”

Ini adalah pengakuan yang lazim keluar dari mulut seorang transeksual. Merasa terjebak dalam tubuh yang salah. Merasa sebagai laki-laki yang terkunci di tubuh perempuan, perempuan yang terkurung dalam raga laki-laki.

Persoalanku sedikit lebih ringan dari itu.

Aku merasa terjebak dalam kostum yang salah.

Sebelum kuliah, aku sangat jarang memakai celana panjang. Ibuku tidak menyukainya. Sekolahku tak mengizinkannya. Jins? Tak pernah masuk pertimbangan. Lalu aku diterima di fakultas psikologi yang waktu itu anehnya melarang mahasiswinya mengenakan celana jins, sehingga banyak temanku terlanda ‘mendadak rok.’ Jadi, rok adalah semacam norma untuk perempuan di lingkunganku, bahkan sampai kuliah.

Selain rok, aku juga berjilbab. Mulanya, segala sesuatu baik-baik saja karena aku toh memegang prinsip: apa artinya penampilan luar. Sampai perlahan aku merasa orang-orang punya persepsi yang salah tentangku.  Baik laki-laki maupun perempuan. Semua orang sepertinya mengira aku ini: alim-pendiam-lurus-lurus saja-baik hati [yang ini tentu saja benar]-feminin-pandai memasak. Yah, aku agak berlebihan soal pandai memasak, tetapi seorang mantan pacarku mengaku pernah mengasumsikanku sebagai wanita rumahan [dalam hal ini dia benar, aku suka di rumah, bermalas-malasan di rumah maksudnya] yang sudah terbiasa mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga [oh, dia belum lihat kamar kosku yang berantakan itu]. Dan betapa mereka keheranan setelah mengetahui bahwa itu semua [kecuali baik hati, pastinya] tidaklah benar.

Itulah awalnya. Awal aku merasa terjebak dalam kostum yang salah.

Soal rok, tentu mudah saja pemecahannya. Aku pun mulai memakai celana panjang, lalu jins. Ini memang memunculkan kerutan di kening ibuku, tapi yah, itu cuma kerutan kening, harga yang tak mahal untuk sebuah pemulihan identitas sejati (istilah yang gagah ya?).

Yang agak rumit adalah jilbab.

Tak seperti sebagian perempuan berjilbab, tak pernah ada pilihan berjilbab atau tidak berjilbab bagiku. Sejak lahir, sejak pertama kali berkenalan dengan dunia, lingkunganku sudah menetapkan ketentuan ini: setiap perempuan yang akil balig harus berjilbab.

Dan begitu memasuki masa akil balig aku pun berjilbab.

Jilbab tak pernah menjadi pertanyaan bagiku karena semua perempuan di tempatku berjilbab, atau berkerudung bagi wanita-wanita yang lebih tua—dan lebih kuno tentu saja. Oh, tentu saja aku juga pernah bertemu perempuan-perempuan yang tak berjilbab, tetapi saat itu mereka terasa sebagai sebentuk penyimpangan dari standar, semacam abnormalitas, orang-orang yang ‘belum tercerahkan,’ kelas yang inferior.

Aku baru keluar dari ‘tempurungku’ ketika memasuki bangku kuliah. Dan betapa dunia yang kutemui di sana sama sekali berbeda. Memang masih ada jilbab seperti yang kukenal. Tapi juga ada jilbab yang tak kukenal: Jilbab panjang, dan jilbab bercadar. Ada pula dunia non jilbab. (Waktu itu, jilbab gaul atau jilbab praktis dengan berbagai dekorasi dan gaya belum banyak ditemui). Jilbab ternyata adalah pilihan. Pilihan yang beragam. Ada orang-orang yang berjilbab bukan karena sekolah mengharuskan, bukan karena orangtua mewajibkan, bukan karena lingkungan menuntut. Di lain pihak ada pula orang-orang yang tak berjilbab meski mereka dituntut berjilbab. Dan kali ini mereka yang memilih tak berjilbab terasa setara denganku, karena pemahaman keagamaanku juga mulai berubah.

Singkat cerita (kusingkat saja karena pergulatan pemikiran ini sungguh terlalu panjang), pada suatu hari yang cerah (atau mungkin berhujan, karena aku selalu menganggap hujan menginspirasi), aku memutuskan bahwa jilbab sebagaimana yang kupahami selama ini bukanlah kewajiban agama.

Tetapi aku masih berjilbab. Karena alasanku berjilbab bukan semata keyakinan agama, tetapi juga karena lingkunganku, keluargaku menghendaki itu, dan alasan-alasan lain yang mungkin lebih remeh. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi ibu [dan ayahku, waktu beliau masih hidup] bila aku tidak lagi berjilbab. Bayangkan saja, mereka inilah yang selama ini menyebarluaskan doktrin tentang penggunaan jilbab, atau setidaknya mendukung institusi yang mendoktrinkan penggunaan jilbab, kami bisa dibilang hidup dari doktrin itu. You see, ibuku adalah guru agama di madrasah, dan ayahku adalah keturunan dan penerus dari seseorang yang mendirikan sebuah pondok pesantren serta madrasah di kota tempat kelahiranku, juga keturunan seseorang yang mendirikan sebuah ormas Islam yang cukup ternama di Indonesia.

Intinya, memutuskan tidak berjilbab hampir sama beratnya bagiku sebagaimana seorang transeksual memutuskan untuk operasi kelamin.

Karena itulah aku terus memakai selubung palsu itu [yah, palsu untukku, tentu saja], seperti seorang transeksual menyembunyikan diri sejatinya, dan entah bagaimana jilbab yang pada tahun delapan puluhan dalam konteks indonesia masih kurang lazim, semakin menjadi kenormalan yang diterima semua orang [aku dulu tentu akan berkata, Tuhan telah membuka mata mereka semua]. Sampai-sampai sekarang aku merasa, yang tidak berjilbab di kalangan perempuan Islam hanya minoritas. Lebih memusingkannya lagi, aku juga diterima bekerja di sebuah perusahaan yang ‘semi-mewajibkan’ karyawatinya berjilbab, sehingga memutuskan untuk tidak berjilbab terasa semakin berat saja.

Sejujurnya, kalau bisa aku ingin terus berjilbab saja. Secara logika, itu lebih menguntungkan. Everybody’s happy. Win-win solution. Namun aku tetap merasa ada sesuatu yang kurang, ada sesuatu yang hilang sejauh apapun, sebanyak apapun aku mencoba memodifikasi kostumku, mengubah gayaku—tomboy, kantoran, feminin, urakan. Aku merasa belum menjadi aku yang sebenarnya. Aku sungguh ingin terus mengenakan jilbab, tetapi desakan yang semakin kuat ini akhirnya menjebol juga segala pertahanan artifisialku. Jilbab is a good thing, I suppose. It’s just not MY thing. Aku mulai lebih terbuka mengutarakan pendapatku mengenai jilbab pada berbagai orang. Aku mulai berpergian tanpa jilbab sesekali. Dan oh, betapa rasanya natural sekali. Rasanya sudah sejak dulu aku tidak berjilbab. Rasanya membebaskan.

Lalu aku pun mulai secara permanen tidak berjilbab di lingkungan terdekatku. Para tetangga hanya melihatku berjilbab di acara-acara resmi sebagaimana para perempuan desa mengenakan jilbab di acara resmi semata karena mereka menganggap itu sebagai busana resmi [mirip seperti kopiah bagi kaum lelaki]. Lalu kalangan teman-temanku, teman-teman suamiku, mantan teman kerjaku [aku sudah keluar dari perusahaan itu tentu saja]. Tetapi aku belum berani memberitahukan hal ini pada ibuku. Aku tahu ini akan menyakitkan bagi ibu, atau setidaknya membuat sedih, atau membuatnya malu. Entahlah. Yang pasti tidak akan menyenangkan.

Lalu pada beberapa pagi lalu, aku menerima sms. Ibu sudah tahu [tentu saja dengan segala buntut tidak menyenangkan yang kusinggung tadi]

Dan yang pertama terlintas di benakku adalah: kurasa aku paham apa yang dirasakan seorang transeksual [atau mungkin, gay] ketika terpaksa memberitahukan keadaan dirinya yang sesungguhnya:

Bingung, sedih, kacau, sekaligus lega luar biasa karena tak lagi harus berdusta…

Beginilah adanya saya, ibu, dengan segala kekurangan saya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s