Spanyol-Italia: Moral Cerita dan Tauladan


Apakah perlu saya menuliskan lagi kesan saya tentang fina piala eropa lalu?saya semopat berpikir untuk tikda menulis apa-apa lagi. Saya sempat merasa semua orang akan punya kesan serupa bahwa hari ini sepakbola tiki taka adalah ilmmu tertinggi dalam dunia sepakbola seperti ajian serat jiwa di drama radi brama kumbara. Sya merasa pengen nulis lagi setelah mulai membaca sejumlah ulasan mengenai laga final itu. Banyak yang mulai meragukan tiki taka spanyol (meski tentu saja lebih banyak puja-puji), yang mulai membosankan.  Jika anda mengikuti blog saya,anda juga kan menjumapi saya punya kesan serupa itu. Tapi tentu saja, saya jelas lebih suka tiki taka spanyol ketimbang sepakbola menyerang khas ababil milik italia.

Sebagaimana cerita silat, di atas langit masih ada langit. Bisa jadi tiki taka akan segera dilumpuhkan oleh ilmu lain. Dalam lima tahun terakhir  kita sering disuguhi cerita semacam itu. Masih ingat tahun 2009? Hampir semua orang memuji Barca dan menahbiskannya sebagai tim terhebat sepanjang sejarah. Tap baru satu tahun kemudian, orang mengetakan bahwa sepakbola menyeang sudah ta relevan dan lebih mengatakan kini saatnya sepakbola pragmatis ala Mourinho. Tahun 2011 tiki taka memberi serangan balasan dengan mengalahkan sepakbola bertahan yang buruk itu. Tahun 2012, sesaat sebelum Piala eropa orang erperangah dengan sepakbola asal menang dari chelsea. Sesungguhnya cara bermain bertahan total bukan tidak sah dalam sepakbola. Tapi hanya saja cara bermain seperti itu tidak enak dilihat dan jauh lebih menjemukan dari segala hal menjemukan di muka bumi.  Saya selalu mengatakan itu.

Lalu apakah laga final yang lalu menjemukan? Kecuali ada jemu melihat gol, tentu anda akan menikmati laga semacam itu. Sebenarnya level pertandingan itu tidak layak ada di final. Italia sepertinya sudah menghabiskan segalanya untuk menghabisi jerman, sementara spanyol yang bermain 130 menit melawan portugal hanya terkuras secara fisik tapi tidak dalam hal kesegaran rohani. Saya memulai menonton final itu dengan menyediakan cemilan. Biasanya kalo saya bawa cemilan, tim favorit saya akan kalah. Saya ambil resiko itu. Ketika lagu kebangsaan diperdengarkan, saya melirik socemd. Seorang kawan menulis di status facebook-nya bahwa pemain spanyol yang tidak membuka mulut untuk bernyanyi adalah pertanda kekalahan. Kawan saya ini mungkin tidak tahu bahwa lagu kebangsaan spanyol memang tak ada liriknya. Tapi kalaupun ada liriknya, saya yakin xavi, cesc, dan pique tak akan sudi menyanyikannya. Tapi itu soal lain. Susunan pemain Spanyol tidak begitu menggembirakan saya. Del Bosque tidak membaca blog ini. Tapi beberapa jurus dimainkan saya mulai merasa ini akan jadi laga yang asyik. Gol david silva belum bis amembuat saya yakin  spanyol akan menang. Sesaat setelah gol silva saya malah menuai kecemasan. Tapi rasa cemas itu hanya hinggap selama 15 menit seperti nyamuk yang malas, ia pergi begitu saja begitu gol jordi alba. Sepertinya anda akan melihat gol-gol semacam ini di musim depan. Ingat, jordi alba sudah bergabung dengan barca sesaat sebelum laga final.  Turun minum dalam situasi 2-0 jelas melegakan.  Anda mulai mengingat  final liga champions 2005? Saya tidak. Italia bukan liverpool dan spanyol jelas tidak seperti ac milan yang jumawa. Saya cukup tahu mental pemain spanyol setelah melihat mereka sepanjang musim.  Saya malah yakin bahwa babak kedua adalah babak pembantaian. Keyakinan itu semakin tertegaskan ketika saya melihat wajah-wajah pemain italia saat masuk lapangann di awal babak kedua, wajah mereka pucat kusut pasi seperti linglung tiada mengerti apa yang harus dilakukan. Tidak seperti pada saat babak pertama hendak dimulai wajah mereka sumringah dan berteriak bernyani begitu riang.  Saat Pradeli memaskan Thiago  Motta,  saya tak ambil pusing. Tapi itu makah jadi titik bunuh diri bagi italia. Tapi siapa yang tahu masa depan? Prandelli pasti tidak membayangkan ia harus bermain dengan 10 orang tanpa ada kartu merah. Setelah itu, semua dari kita tahu apa yang terjadi. Saya bahkan seperti tiada tega menyaksikan laga itu lagi. Ini terlalu kejam, pikir saya. Saya sempat berharap wasit segera mengakhiri semua ini saja. Tapi apa boleh buat, sisa pertandingan tetap diteruskan kendati pertandingan sudah seperti ayam jantan melawan cacing. camilan sudah hilang kutukannya. Jagoan saya menang.lalu apa yang tersisa?

Spanyol menegaskan diri lagi sebagai yang terhebat. Dari dulu spanyol hebat, dari dulu pula sepanyol bermain dengan tiki taka. Lalu kenapa hanya pada enam tahun terakhir ini orang dibuat kelimpungan? Satu yang bisa menjawab adalah gambar-gambar di bawah ini:

Semua orang tahu Spanyol penuh dengan talenta pemain sepakboal sejak jaman dahulu kala. Mereka juga bermain tiki taka sejak lama. Lalu kenapa sekarang mereka bisa juara sementara dulu tidak? Salah satu jawabannya ada di foto-fot o di atas. Selain pemain-pemain dari Catalunia dan Castillia bisa lebih mesra, ketegangan itu juga cari justru karena identitas semacam itu tak banyak dipersoalkan. Lihatlah Xavi yang mengibarkan bendera catalunia (juga Puyi di Afrika Selatan dua tahun lalu). Lalu apa moral dan tauladan dari kemenangan Spanyol ini? Jika itu ada, satu yang pasti adalah bahwa orang bisa mencapai tujuan bersama tanpa harus dipaksa menjadi seragam…wallahualam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s