Belanda-Portugal: Kepastian Jalan Pulang


Tidak banyak yang bisa saya katakan tentang pertandingan ini. Termasuk tentang jagoan saya: Belanda. Hampir semua media yang menganalisis pertandingan ini punya komentar seragam:  Bert van Marwijk’s side looked like a group of individuals rather than a team. Orang kemudian akan dengan mudah mengaitkan semua itu dnegan kekompakan tim sejak sebelum Piala Eropa dimulai. Komentar Sneijder sesaat setelah pertandingan pertama mereka bisa menjadi #kode paling gamblang tentang ringkihnya soliditas tim. Jika gading gajah saja tak ada yang tak retak, apalagi sebuah tim sepakbola yang memang sudah rapuh sejak awal. Waktu kecil saya menduga bahwa rumah Peterpan adalah di negeri Belanda. Saya gagal memahami bahwa Netherland dan Neverland itu berbeda sebagaimana Van Merwijk gagal mamahami kelemahan dan kekuatan timnya sendiri (lihatlah komentarnya sesaat setelah laga ini).

Saya sebenarnya sudah tak banyak berharap, tapi sepuluh sampai lima belas menit pertama memang cukup menjanjikan. Terlebih dengan gol van der Vaart di menit 11. Masuknya van der Vaart dan Huntelaar bisa membuat kejutan di awal pertandingan seiring dengan posisi van der Vaart yang lebih sering berada di dekat kotak pinalti lawan ketimbang yang biasanya dilakukan van Bommel. Saya pun mulai menabung harapan. Tapi memasuki menit 15 segala tabungan itu harus saya gadaikan. Masuknya van der Vaart membewa berkah sekaligus kutukan: lebih agresif tapi kehilangan kedalaman. Malam tadi, kutukan lebih banyak bicara ketimbang berkah.

Saya mulai frustasi setelah gol Ronaldo di menit 27. Gol itu membuat rtugal berada di atas angin. Belanda boleh saja sesekali mengancam gawang, tapi Portugal mengancam lebih banyak. Setelah gol itu, Belanda menjadi tim yang berbeda. Saya, sebagaimana anda, kemudian hanya melihat sekumpulan orang yang seperti sedang mencari glorifikasi diri dalam sebuah tim yang timpang. Memasuki babak kedua, tak banyak hal yang berubah. Satu keputusan pahit Merwijk –ia tak punya pilihan lain kecuali menyerang bukan?—untuk memasukkan Ibi demi mendorong lini ke tengah lebih ke depan berakibat bolongnya sisi kiri yang ditinggalkan Jetro Willems. Gol kedua membuat tabungan harapan saya tadi tak pernah kembali dari pegadaian.

Mengenai Portugal sendiri sebenarnya tidak terlampau istimewa. Ronaldo yang menjadi man of the match sesungguhnya juga tidak bagus-bagus amat.  Saya lebih banyak mendapati momen ketika ia kebingungan membaca permainan ketimbang secara cemerlang mengubah jalannya pertandingan. Jika Belanda sedikit bermain lebih baik, dua gol itu mungkin tak perlu terjadi. Tapi yang terjadi terjadilah. Portugal  memang berada satu level di atas Belanda dalam hal koordinasi dan kemampuan memaksimalkan peluang, dan itu cukup untuk membuat Belanda harus segara menghubungi agen perjalanan lebih cepat dari tim lain. Jalan pulang Belanda sesungguhnya sudah ditunjukkan oleh Jerman, Portugal hanya memastikan mereka benar-benar berangkat pulang dengan poin hampa.

Itu saja. Tak ada lagi yang bisa dikatakan. Selesai.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s