Belanda-Jerman: Antara Tragedi dan Komedi


tidak cukup darah dan air mata

Hanya ada dua kemungkinan mengapa Joachim Loew menghajar sisi kiri kesebelasan Belanda malam tadi: pertama, entah bagaimana  ia membaca tulisan kawan saya (lihat di sini), kedua ia adalah pembaca Habermas yang budiman. Karena satu dan lain hal, Loew singgah di blog kawan saya tadi dan membaca ulasan panjang lebar soal kelemahan dan kekurangan Belanda. Lihatlah pernyataan dia usai pertandingan bahwa ia memang sudah mengerti kelemahan Belanda (lihat sini).  Kemungkinan kedua, kita tahu, Habermas paling getol mengritik penekanan berlebih pada rasionalitas instrumental manusia modern yang pada titik tertentu juga dianut sepakbola Jerman selama sekian dekade. Kita yang gemar membaca bualan tetang sepakbola tahu persis  betapa Jerman tim yang selalu mengandalkan sistem sepakbola yang kaku, instrumental, dan birokratis. Nalar birokrat pemain-pemain Jerman mewujud pada begitu lambatnya mereka panas di setiap turnamen hingga selama ini dijuluki sebagai tim diesel. Kendati cara semacam itu telah menghadirkan tiga tropi piala dunia, Loew, sebagai pembaca Habermas yang budiaman, tahu bahwa ada yang kurang pada cara semacam itu. Ia mulai menambahkan ramuan yang dilupakan kaum modernis: rasio komunikasi. Maka anda bisa saksikan bahwa ada pengertian bersama, ada ruang tempat terjadi dialog antar lini. Para pemain Jerman tidak lagi berlaku seperti birokrat yang kaku, mereka mendadak seperti habis membaca puisi Sapardi hingga bola mengalir seperti pesan yang tak sempat disampaikan hujan kepada awan yang menjadikannya tiada.

Sebelumnya, saya sebagai orang yang dibesarkan dalam budaya tahayul yang akut sekaligus memendam kebencian masa kanak terhadap Jerman (hanya dalam hal sepakbola, tetu saja) sudah mulai girang ketika sebuah sepakan dari Oezil (?) membentur tiang sebelah kiri. Ini pertanda bagus, pikir saya.  Sebuah tim  akan dikutuk  dan kalah jika ada satu peluang yang membentur gawang. Tapi ternyata tahayul itu hanya berlaku buat timnas Indonesia (kendati sebenarnya tidak membentur gawang pun timnas kita pada akhirnya akan tetap kalah siiih..).  Sesaat setelah itu, adegan Loew menjaili ballboy yang terekam kamera televisi membuat ciut hati saya.  Betapa tidak, kelakuan semacam itu hanya akan datang ketika orang sedang berada pada ketenangan mendalam sesaat setelah fase ketegangan luar biasa. Loew, batin saya, mulai memahami bahwa sistem yang ia terapkan sudah berjalan dengan benar. Kendati van Persie dua kali punya peluang yang lazimnya berbuah gol, Loew—sebagai modernis sejati—tahu pasti bahwa jika sebuah sistem sudah berjalan sebagaimana mestinya, tinggal menunggu waktu untuk melahirkan hasil. Benar saja, kemudian   bam!bam! dua kali gawang Belanda jebol  hanya dalam 30 menit pertama. Menjelang akhir babak kedua saya sudah mulai membayangkan kepedihan mendalam seperti ketika Argentina rontok di Piala Dunia  2010.

Ketika para pemain keluar lapangan untuk istirhat, saya sempat melihat Van Marwijk berbisik pada Huntelaar dan van der Vaart. Saya mulai berharap ada perubahan. Siapa tahu Van Marwijk juga membaca blog kawan saya tadi dan mulai berpikir membenahi sayap kanan yang di babak pertama sama jebloknya dengan saat laga pertama. “A loss will not condemn the Netherlands to an early exit but it will put them on the brink. Can they respond in this second half and get anything from the game? kata komentator tivi, dan itu semakin membuat saya deg-degan. Pada akhirnya Marwijk memang tidak mengganti Robben yang ada di kanan, tapi menggganti Ibi yang (duh!) kembali bermain canggung di sisi kiri namun membiarkan Robben dan Huntelaar bergantian pindah posisi dari kanan ke kiri, dan sebaliknya. Sneijder juga bermain sedikit ke depan mendekati van Persie. Hasilnya, satu gol cantik khas van Persie. Tapi itu tidak cukup. Belanda masih bermain dengan sayap-sayap patah seperti laki-laki putus cinta. Sayap mereka tak banyak berkepak (lihat saja seberapa banyak Robben berada di sideline?).

Saya yang pada menit 75 mulai berharap ada pertarungan heroik di sisa pertandingan justru disuguhi kaki-kaki gemetar dan wajah-wajah linglung pemain Belanda. 10 menit terakhir yang mestinya adalah pertaruhan hidup-mati hanya menjadi penegasan betapa Belanda dilanda kecemasan tak berujung. Mereka sangat tampak takut kalah, tapi itu malah membuat mereka tak berani berbuat apa-apa.

Dendam Belanda pada Jerman adalah cerita lama. Dendam dan kebencian yang paling bisa digambarkan oleh adegan semburan ludah Rijkaard ke wajah Voeller di Piala Dunia 1990. Jika mau dibadingkan, kebencian Belanda dan Jerman setara dengan kebncian kita pada Malaysia jika sedang berebut piala Thomas.  Barangkali itu yangmembuat 10 menit terakhir membuat hati mereka kalang kabut. Dendam dan dengki hanya akan merusak hatimu, kata para guru. Dan rusaklah 10 menit yang mestinya menggiurkan itu.   Begitulah tragedi terjadi. Tragedi yang terwakili oleh darah yang mengucur dari kepala Arjen Robben.

Kata orang, tragedi dan komedi hanya berbeda tipis setipis rambut dibelah tujuh. Dan inilah ironinya: Belanda hanya akan lolos ke babak selanjutnya dengan bantuan Jerman. Nasib Belanda bahkan tidak berada di tangan Tuhan lagi, tapi di tangan orang-orang Jerman! Jika Jerman berpikir culas, seperti Persebaya di tahun 80-an atau timnas Piala Tiger 98, dengan menyerahkan kemenangan pada Denmark,maka  habis sudah riwayat tim kanjeng ratu oranye itu. Tapi orang Belanda bukan orang yang gampang putus harapan. Nenek moyang van Persie yang menkoloni tanah Jawa pasti pernah dengar kawruh  “Sopo sing temen, bakal tinemu,” siapa bersungguh-sungguh maka ia akan menuai hasil. Dari sejarah tiga abad  kolonialisasi Belanda, kita semua tahu bahwa hanya ada dua kemungkinan yang akan dilakukan orang Belanda ketika terdesak: mengajak berunding atau meimnta bantuan orang lain –siapapun itu. Mengajak berunding UEFA jelas pilihan musykil, kecuali bagi orang yang percaya pada semacam teori konspirasi UEFA-UNICEF seperti Mou dan para pembebeknya. Maka pilihannya hanya satu, apa boleh buat: meminta Jerman mengalahkan Denmark sambil bekerja keras mengalahkan Portugal sebagaimana dulu moyang mereka mengusir orang-orang Portugis dari Ternate.

Demikianlah catatan saya. Saya sendiri berharap, bukan memprediksi, Belanda akan lolos ke putaran berikutnya. Amin ya robbal ‘alamin….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s