Inggris Vs Perancis: Inspirasi dan Pencarian Harapan


Ada yang percaya  bahwa Roy Hodgson sudah terlalu sepuh untuk bisa memahami gairah anak muda jaman sekarang, dan itu bisa menjadi kabar buruk buat timnas Inggris. Pertandingan pertama mereka di Piala Eropa kemarin seperti  menandaskan dugaan itu.  Empat atau mungkin lima tahun terakhir sepakbola Eropa dikuasai pelatih muda yang bisa jadi lebih memahami semangat jaman. Sebut saja Pep, Mancini, atau Mou (huh!). Para pelatih sepuh sepertinya  mulai tidak lagi mempunyai kewaskitaan khas orang tua. Jaman sudah berubah. Tapi tentu saja, itu hanya dugaan yang disertai sedikit keinginan  untuk nyinyir. Banyak pelatih tua yang pada akhirnya membawa tim menjadi juara (ada yang ingat Aragones, del Bosque, Sir Alex?).

Pertandingan Inggris vs Perancis tempo hari bagi sebagian media  lebay mungkin akan dijabarkan sebagai pertarungan dua kekuatan imperialis paling agung di satu atau dua abad silam. Tapi tentu saja lapangan ya tetap  lapangan bola dan bukan soal pertarungan meriam di laut lepas. Hal-hal besar semacam pertarungan dua kekuatan besar itu nyatanya juga tidak tertuang di lapangan. Inggris terlalu lembek dan hampir pasti mengecewakan jutaan pendukungnya.  Bermaian (agak) bagus di babak pertama kemudian berubah menjadi  seperti sekumpulan orang berprinsip yang penting tidak kalah. Saya bahkan langsung diingatkan pada semifinal (dan final) Liga Champions lalu ketika Chelsea  meminta semua alat pengebor minyak milik bos mereka   diparkir di depan gawang. Bertahan terus menerus sambil berharap bisa menyerang balik jelas sah dalam sepakbola. Hal itu bisa kita lihat sesaat setelah pertandingan. Wajah-wajah pemain Inggris tampak sumringah atau datar tapi tak bisa menyembunyikan senyum yang sedikit menyungging, sementara para pemain Perancis tampak tidak bisa menyembunyikan kedongkolan.  Pernyataan kedua pelatih juga menunjukkan itu semua (lihat sini dan sini).

Tidak ada aturan yang melarang itu. Catenaccio, sistem grendel, atau apapun namanya bukanlah hal yang haram dalam sepakbola. Tapi cara bermain seperti itu jelas tidak enak ditonton dan menyebalkan bagi pendukung tim lawan atau bahkan (sedikit) memalukan bagi penggemar dan pemain mereka sendiri (ingat Capello di Madrid, atau pernyataan Mata dan Torres pasca semifinal Liga Champion di Nou Camp kan?).  Hodgson bisa jadi terinspirasi Chelsea. Tapi jika berdasar pada permainan kemarin, orang yang tidak pernah bertaruh pun akan berani bertaruh bahwa Inggris akan jeblok di pasar taruhan. Tim ini tidak akan jadi juara. Tidak perlu tanya pada gurita atau gajah. Inggris, sebagaimana Portugal, telah menyia-nyiakan generasi emas mereka untuk bisa didayagunakan demi sebuah tropi kejuaraan besar, dan kini mereka harus menanggung akibatnya: sebuah tim medioker yang hanya bisa berharap lawan mereka sedang bernasib buruk. Atau, paling jauh: jka  terus bermain seperti kemarin kemudian menjadi Juara, ia tidak akan dikenang telah mempersembahkan capaian tertentu dalam sepakbola.

Sebaliknya, Perancis sedikit lebih mengesankan.  Mereka masih merindukan Zidane, tentu saja, tapi gairah Nasri dan Mathieu Debuchy (yang disebut terakhir ini sungguh memikat perhatian saya) sudah memberi petunjuk bahwa mereka sedang bersiap mengubur aib 2010. Dalam laga itu, saya menangkap kesan yang sangat kuat bahwa para pemain Perancis memang sedang merasa lebih superior dan harus menang.  Cara bermain mereka (seperti Spanyol dan Belanda, sebelumnya) hanya mengabarkan bahwa para striker mereka sedang pemanasan dan ancaman sedang ditebar. Memang, dalam sebuah turnamen yang bisa dijuarai dengan 6-7 laga, tim yang tampil buruk bisa menjadi juara, namun apa yang disajikan Perancis memberi kita harapan akan menemukan kemungkinan-kemungkinan baru dalam menonton sepakbola. Bukankah itu yang membuat kita bersemangat menonton?

Saya kira itu saja, wahai para pembaca yang budiman. Saya kira tidak banyak yang bisa dikenang dari sebuah pertandingan yang sebelumnya bisa diharapkan akan melebihi kualitas laga Spanyol-Italia tapi pada akhirnya laga yang disebut belakangan masih menjadi laga terbaik (sejauh ini) di Piala Eropa kali ini.

Iklan

2 pemikiran pada “Inggris Vs Perancis: Inspirasi dan Pencarian Harapan

  1. I like it…ulasan yang sungguh mantap mas……Inggris mulai menimbun dalam-dalam gaya Kick N Rush yang menjadi ciri khasnya dalam beberapa dekade…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s