Spanyol-Italia: Pada Mulanya Adalah Gaya Rambut


Dan gaya rambut itu adalah segalanya? Saya menyaksikan pertandingan Spanyol melawan Italia tadi malam dengan perasaan girang, berharap bisa melupakan Belanda yang membosankan. Harapan saya sedikit banyak terkabul karena gaya rambut tadi.  Pique dan Ramos sepertinya memang benar-benar jotakan  dan berselisih tentang gaya rambut siapa yang paling keren.  Sehingga kita mulai bisa memahami kenapa Pique bisa kalah berlari dan Ramos beberapa kali dikibuli Baloteli. Ramos yang biasanya gondrong dan garang itu tampil rapi dengan rambut pendek seperti pekerja kantoran. Pique, anda semua tahu, punya jambul istimewa yang membuat saya berpikir itu yang menyebabkannya enggan melakukan heading. Cesc juga membuat saya terkejut dan berpikir ia lebih lama mematut-matutkan rambutnya di depan cermin daripada merentangkan otot-otot kakinya. Spanyol memang mengejutkan banyak orang tadi malam—tentu saja selain soal gaya rambut.

Starting XI seperti berpola 4-6-0 yang sesungguhnya tidak terlampau mengejutkan bagi yang sudah akrab dengan cara Barca bermain.  Tapi bagi banyak orang tetap saja line-up itu mengejutkan. Salah satunya juga tentang Cesc yang dipasang sejak awal. Cesc sendiri juga tampak terkejut, bahkan keterkejutannya tidak hilang sampai ia diganti  Fernando Torres di menit 74. Karena dalam kondisi terkejut tadi, saya mafhum saja, jika selama pertandingan ia hanya bisa saya beri nilai 6, 5 dalam skala 10 meski sempat mencetak gol. Dengan pemain begitu banyak bertipe gelandang maka kita disuguhi passing ke sana ke mari selama 90 menit lebih sedikit. Kadang menyenangkan, kadang membosankan. Jika saja benar bahwa umpan-umpan Xavi-Iniesta-Cesc adalah kode rahasia untuk para penyelundup senjata di Timur Tengah, maka bisa anda bayangkan betapa para penyelundup yang sudah ada di perbatasan akan mati kebingungan ketika menyaksikan bola dioper lagi ke belakang begitu mendekati kotak pinalti.  Satu hal yang pasti adalah bahwa dari wajah Xavi terlihat betul betapa ia merindukan David Villa (atau mungkin Messi?). Bola di kakinya   tampak seperti bunga yang layu karena pemegangnya tidak tahu kepada siapa gerangan ia akan diserahkan. Sesaat setelah gol Di Natale di menit 60, saya membayangkan para pembenci Barca mulai berpikir untuk menyalahkan lapangan tengah yang dikomandani Xavi. Benar saja, sesaat stelah pertandingan suara nyinyir Mourinho keluar ketika diwawancarai al-Jazeera (baca di sini).

Kita tahu, del Bosque orang yang sangat rasional, dingin, dan tanpa emosi. Ia bahkan tak mau mengaitkan kemenangan sepakbola dengan hal-hal semacam kebangkitan dari krisis ekonomi. Tapi penampilan tim Spanyol justru menunjukkan sisi yang sentimentil, atau mungkin lebih tepatnya: feminin. Para pemain Spanyol selalu ingin tampil cantik.  Bukan melulu soal gaya rambut, tapi juga tentang bagaimana  sepakbola harus dimainkan. Mereka seperti membelai bola dan bukan menendangnya. Mereka lebih suka foreplay ketimbang penetrasi. Bandingkan dengan Italia yang macho—sayang sudah tak ada brewok Gattuso. Tubuh-tubuh gempal yang berlari ke sana ke mari seperti para lelaki mengejar beruang di era berburu dan meramu. Demi kecantikan itulah kadang efektivitas seperti diabaikan.

Mengenai Italia sendiri, sedari kecil saya tidak pernah menyukai tim Italia. Entah kenapa, mungkin ini dendam masa kanak. Yang selalu saya kenang dari Italia adalah permainan curang. Betapapun mereka tampil bagus—seperti semalam misalnya—tetap saja kesan curang itu mengganggu pikiran saya. Terlebih Italia tidak pernah tampil mengesankan bahkan ketia mereka menjadi juara dunia. Pada tim Italia saya hanya memperhatikan Thiago Motta. Jika  Sandro Rosell  sudah menyiapkan duit untuk membawanya ke Cam Nou,  rasanya penampilannya tadi malam malah bisa mencegah itu semua. Jika ada hal baik yang bisa dicatat dari penampilan Italia tadi malam adalah: italia bukan lagi tim yang  hanya bisa bertahan tapi juga adalah tim  yang penuh kesegaran.  Belum menjanjikan, tapi mencuri perhatian.

Kedua tim sudah bertarung. Keduanya adalah dua dari lima negara eropa yang nyaris bangkrut. Setelah hasil seri yang menyebalkan, para pendukung  di kampung halaman mereka kembali harus menghadapi kenyataan pahit lain: menganggur dan biaya hidup yang tak tertanggung.Dan itu tak bisa diselesaikan dengan mengubah gaya rambut.

Iklan

2 tanggapan untuk “Spanyol-Italia: Pada Mulanya Adalah Gaya Rambut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s