Belanda-Denmark: Piala Eropa yang Mencemaskan


Dua atau tiga helai rambut Wesley Sneijder bisa jadi rontok dan kian menambah botak kepalanya ketika ia pusing memikirkan bagaimana memberi bola yang paling mudah buat van Persie atau Huntelaar mencetak gol.  Dua atau tiga kali ia mempersembahkan passing yang aduhai menembus kaki-kaki pemain Denmark, namun gagal diubah menjadi gol oleh striker-striker di depannya. Kejengkelan (dan barangkali rasa sayangnya pada rambut yang rontok) itu mengemuka  ketika ia ditanya wartawan sesaat setelah pertandingan seperti dikutip Soccerway di sini.  Pertandingan antara Belanda melawan Denmark tadi malam memang tidak menggambarkan siapa yang akan menjadi pemenang di euro cup tahun ini, tapi setidaknya orang mulai mendapat kesan bahwa Belanda tidak setangguh dua tahun lalu. Dilihat dari permainan 90 menit, skor 1-0 buat Denmark sejatinya tidak terlalu mengejutkan. Belanda tampil seperti tidak punya nyali dan imajinasi. Mungkin sebagian di antara mereka perlu sering-sering membaca puisi.

Saya menikmati pertandingan semalam bersama anak saya yang sorenya merengek ingin melihat van Persie membuat pesta gol. Sayang, van Persie malah berperan sebagai kartu mati. Kami berdua seperti bosan—atau mungkin frustrasi—melihat kaki penyerang Belanda itu seperti gemetaran dan tidak menjejak bumi dengan sempurna.  Ibi Afelay yang saya harap bisa memberi  pesan kepada dunia tentang betapa berbahayanya Barca di musim depan malah seperti lebih banyak meringis ketimbang menendang bola. Arjen Robben juga sama saja. Ia pasti membuat para pendukung Belanda kesal karena terlalu bermain semirip Muhammad Ilham di timnas Indonesia.

Karena saking berharap pada tim Belanda, saya kurang memperhatikan apa yang dilakukan Denmark. Tapi saya mempunyai kesan bahwa tim ini masih berada satu atau bahkan dua tingkat di bawah timnas mereka di era Michael dan Brian Laudrup. Satu atau dua kali serangan Denmark bisa jadi memang membangkitkan letupan-letupan, tapi saya masih merasakannya sebagai letusan kembang api ketimbang dinamit.

Dengan penampilan serba tanggung tadi malam, kedua tim sebenarnya tidak sedang menampilkan sepakbola yang menyenangkan untuk ditonton. Selama 90 menit 22 orang itu hanya menghasilkan satu gol. Jumlah gol ini (dan pertandingan lain pada malam yang sama) tidak lebih banyak dari gol yang dibuat Messi tadi malam. Saya mulai mencemaskan Piala Eropa, seperti para pendukung Belanda yang mulai membayangkan sesuatu yang tidak mau mereka bayangkan sebelumnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s