Arak, Mabuk, dan Perempuan di Dunia Persilatan


 (dimuat di Jurnal Srinthil edisi 23)


Pada fajar kehidupan manusia dalam sejarah, minuman (atau makanan) dari buah-buahan yang berubah menjadi sesuatu yang memabukkan dipandang sebagai sesuatu yang bersifat magis. Orang-orang yang mengonsumsinya tiba-tiba tubuhnya menjadi panas dan pada titik tertentu hilang kesadaran. Tentu saja hal itu membuat takjub mereka yang menemukannya, mengapa buah yang jika dikonsumsi langsung tidak mendatangkan reaksi aneh bisa berubah menjadi minuman yang menimbulkan reaksi berbeda pada tubuh? Proses dari buah menjadi minuman aneh ini lantas dipandang sebagai kerja sihir. Sama seperti anggapan pada ahli kimia di masa sebelum peradaban ilmu pengetahuan. Proses yang magis tersebut (mengubah bahan makanan menjadi sesuatu yang menghilangkan akal dan membuat tubuh seolah melayang) kemudian juga melekat pada minuman yang dihasilkannya.

Dalam pada itu, di berbagai budaya, minuman yang membawa pada kondisi mabuk itu juga mendapat tempat sebagai minuman magis. Dalam berbagai khazanah kebudayaan, minuman beralkohol tidak hanya menjadi sekadar minuman, namun juga dilekati dengan hal-hal yang bermakna simbolis. Bahkan oleh kebudayaan yang menentangnya, minuman hasil fermentasi tersebut mendapat tempat yang terhormat. Sebut saja agama Kristen yang menempatkan anggur sebagai simbolisasi darah Kristus. Dalam khasanah Islam, lebih lepatnya sufisme, sejumlah bait puisi para sufi juga menyebut anggur dan rasa mabuk sebagai ungkapan cinta pada Ilahi. Kendati lebih dianggap bersifat metaforis, sebagian orang bisa saja percaya bahwa anggur benar-benar dinikmati secara literal. Paling tidak, secara simbolis mabuk anggur dijadikan simbolisasi untuk urusan yang sepenuhnya tidak duniawi. Dalam peradaban Islam abad pertengahan, sejumlah filsuf, intelektual, dan penyair tanpa tedeng aling-aling mengakui peran anggur sebagai sumber inspirasi. Omar Khayyam bisa menjadi contoh.

Mengenai anggur sebagai sumber inspirasi, tak hanya ditemukan dalam khazanah sufisme dan penyair, namun juga dalam dunia cerita silat. Di dunia persilatan, demikian dituturkan dalam cerita silat, ada tokoh-tokoh yang mempunyai jurus aneh yang hanya bisa dimainkan dalam keadaan mabuk. Dalam cerita silat Cina, kita kerap mendengar “Jurus Delapan Dewa Mabuk” yang menggetarkan. Ini muncul dalam cerita karya Chin Yung, atau film Kung Fu, Drunken Master, yang memperkenalkan jurus mabuk melalui aksi aktor Jackie Chan. Wong Fei Hung, legenda silat Cina itu, juga memainkan jurus ini dalam sebuah babak di film Once Upon a Time in China. Jurus Dewa Mabuk adalah jurus yang sangat terkenal hingga bahkan mereka yang bukan penggemar cerita silat pun setidaknya pernah mendengarnya melalui sumber lain.[1]

Kendati pada mulanya dikenal pada kisah-kisah silat dari daratan Tiongkok, bukan berarti tak ada jurus serupa dalam khazanah cerita silat di negeri ini. Sejumlah tokoh silat yang mengandalkan arak dan tuak juga bisa ditemui dalam cerita-cerita silat berlatar nusantara karya anak negeri.

Kisah-kisah silat ini mempunyai penggemarnya tersendiri. Tidak sulit untuk menemukan penggemar cerita silat di kalangan tua maupun muda di negeri ini.  Buku cerita silat relatif mudah dijumpai di toko buku atau bahkan terutama di tempat-tempat persewaan buku—bersanding dengan komik-komik Jepang. Dalam khazanah sastra, cerita silat baik dalam bentuk novel maupun cerita bersambung di koran tidak dianggap sebagai bentuk sastra serius. Absennya cerita silat dalam perbincangan mengenai sastra di Indonesia ini seiring sejalan dengan tak banyaknya orang membicarakan novel-novel remaja dan  novel-novel cerita hantu.  Novel-novel dengan genre cerita silat kadang lebih ditempatkan dalam kategori roman picisan yang tidak layak masuk dalam bingkai sastra serius. Barangkali itu karena ceritanya yang cenderung sederhana, mudah dicerna, menggunakan bahasa populer, dan penokohan yang hitam putih (ingat, dalam cerita silat ada kategori pendekar golongan hitam dan golongan putih). Secara kategoris, oleh ahli sastra, sastra populer dicirikan dengan gayanya yang stereotip, lebih mementingkan kenyamanan pembaca (karena hanya memberi hiburan), dan cenderung menyodorkan makna-makna tunggal.[2] Hal-hal yang membebani pikiran cenderung dihindari dan menyodorkan hiburan yang membangkitkan kenikmatan pembaca.

Mulai dikenalnya Cultural studies di negeri ini, membuka jalan bagi masuknya hal-hal yang sebelumnya dianggap sepele atau bersifat hiburan belaka ke dalam wacana akademis. Terutama pada gugatan terhadap dikotomi antara seni tinggi dan rendah, sastra populer dan kanon.[3] Hiburan atau sesuatu yang membangkitkan kenyamanan dan pleasure tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang lebih inferior dibanding sesuatu (misalnya seni atau sastra) yang menawarkan spiritualitas (ingat istilah memperkaya batin dan hati yang sering dipakai oleh para kritikus sastra dan seni?) dan daya intelektualitas. Di luar itu, pendekatan ini mengatakan bahwa pada hal-hal yang tampak sepele bisa saja dibaca hal-hal yang kadang tidak kalah penting dengan apa yang dibicarakan dalam narasi-narasi besar. Membaca cerita silat –termasuk mempertimbangkan para pembacanya—, dengan demikian, tidak hanya tentang membaca pertarungan kekuatan baik melawan kekuatan jahat yang tertera di cerita itu namun juga megungkap sejumlah pokok yang tergambar di dalamnya, yang pada titik tertentu menggambarkan lanskap yang jauh lebih luas dari kisah-kisah silat itu sendiri.

Tulisan ini disiapkan untuk secara sederhana memaparkan mabuk dan tuak-arak yang dikandung dalam cerita-cerita silat yang seru itu. Pada bagian akhir, akan diulas tentang bagaimana perempuan didudukkan dalam kaitannya dengan mabuk arak pada kisah-kisah silat tersebut.

Minuman Memabukkan Dalam Sejarah

Dalam sejarah manusia, minuman atau makanan fermentasi adalah temuan yang sangat berharga. Selain memudahkan dalam hal mengawetkan pangan, teknologi ini menolong umat manusia atau membantu menjumpai makanan atau minuman yang enak sekaligus sehat. Bisa dikatakan bahwa fermentasi merupakan salah satu tonggak penemuan bersejarah umat manusia. Antropolog terkemuka, Levi Strauss, bahkan menyebut bahwa pembuatan mead (minuman beralkohol dari madu) adalah penanda bagi proses perjalanan manusia dari nature ke culture.[4] Jika sebelumnya manusia menggantungkan pangan dari alam, maka ketika manusia mampu mengolah makanan dari tumbuhan dan tanaman maka dimulailah era penciptaan dan rekayasa manusia yang secara umum disebut culture (kebudayaan). Mead atau  honey wine adalah kenikmatan fermentasi paling purba yang dikenal manusia. Bahkan sebagian ahli percaya bahwa budaya manusia mengumpulkan madu terjadi sebelum manusia mengolah tanah. Lukisan-lukisan gua pada masa Paleolithic di India, Spanyol, dan Afrika Selatan menggambarkan manusia-manusia yang mengumpulkan madu.[5] Pada galibnya  masyarakat pertanian akan melahirkan kultur proses penciptaan berbagai jenis makanan dan minuman. Kultur masyarakat yang mengolah tanah juga menerbitkan cara-cara tertentu untuk membuat makanan atau minuman awet tanpa kehilangan rasa nikmatnya. Penemuan fermentasi adalah buah dari kultur semacam itu.

Ada anggapan umum bahwa minuman fermentasi dari buah-buahan mulai dikenal di kawasan Eurasia pada 5500 SM, kemudian menjadi terkenal dan menjadi  minuman kaum bangsawan pada 3000 SM bersejajar dengan penemuan pot-pot atau guci bermulut botol yang membuat minuman itu bisa diangkut kapal ke mana-mana. [6]  Bisa dikatakan, sejarah perkembangan minuman memabukkan ini juga bersejajar dengan perkembangan ilmu dan teknologi, dari ilmu kimia hingga penemuan guci dan gentong. Setidaknya, minuman jenis ini mulai banyak dijumpai ketika bejana mulai banyak digunakan manusia. Tentu saja minuman-minuman prasejarah itu jauh berbeda dengan minuman fermentasi masa kini terlebih ketika para ahli kimia Arab menemukan teknologi penyulingan yang kemudian memperkenalkan istilah alkohol untuk zat yang dikandung minuman itu.[7]

Seperti telah disinggung di atas, minuman hasil fermentasi itu tentu saja menerbitkan rasa takjub. Dari buah-buahan manis lantas berubah secara mengejutkan menjadi minuman yang membawa efek tertentu pada tubuh. Proses pembuatannya dianggap magis dan hasilnya pun bersifat magis. Tak ayal minuman ini lazim dilekati dengan makna-makna yang juga magis. Selain minumannya dianggap sakral, kondisi tubuh yang terpengaruh oleh minuman fermentasi oleh banyak budaya juga dianggap sebagai kondisi mistis.  Kendati ada banyak larangan dari sejumlah budaya dan agama, minuman itu tetap diurapi dengan simbol-simbol mistis bahkan ilahiah. Orang-orang Sumeria lima ribu tahun lalu, misalnya, memuja dewi bir, Ninkasi, yang secara harfiah berarti “engkau yang membuat mulut kami penuh.” Orang-orang Mesir menguburkan tong-tong keramik berisi wine dan bir bersama mummy para bangsawan. Upacara bangsa Maya kuno melibatkan fermentasi madu yang disebut balche, yang mereka gunakan dalam bentuk suntikan untuk memaksimalkan efek memabukkan. Dalam tradisi Yahudi, pembacaan doa-doa juga disertai dengan minum wine. Di dunia Kristen, minuman memabukkan memang dilarang, namun minuman anggur juga dijadikan simbolisasi darah Kristus.[8] Di masyarakat Batak Toba minuman tuak mendapat tempat penting di dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam upacara adat. Masyarakat Batak Toba juga percaya bahwa tuak bisa memperlancar air susu bagi kaum perempuan yang meminumnya. Minuman keras beralkohol di daerah Toba ini didapat dari nira atau sadapan enau atau aren yang mengalami proses peragian melalui sebuah bak kulit kayu yang disebut raru. [9]

Minuman dari hasil fermentasi buah-buahan tersebut memang berbeda-beda di setiap wilayah. Di daerah dingin seperti Eropa atau Asia Utara, tempat buah semacam anggur bisa mudah dikembangkan di kebun-kebun anggur, minuman jenis fermentasi dari buah anggur (wine) menjadi sangat populer dan banyak dibuat. Sementara pada daerah yang lebih banyak menghasilkan padi seperti di Asia Tenggara, wine  dari buah anggur tidak banyak berkembang. Kendati berada di tempat tropis yang mudah dijumpai buah-buahan manis, namun di Asia Tenggara tidak dijumpai minuman beralkohol yang dikembangkan dari buah-buahan selain padi dan palem.[10] Perlu dicatat bahwa kawasan Asia Tenggara adalah kawasan yang sangat produktif menghasilkan padi.

Pertanian yang banyak berkembang di Thailand, Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia adalah pertanian padi. Kebudayaan yang berkembang darinya—di antaranya adalah pembuatan minuman—adalah budaya padi. Lihat saja cerita dan mitos padi atau berbagai upacara dan tarian yang berkembang di daerah ini.[11] Minuman beralkohol yang dikembangkan masyarakat Asia Tenggara, dengan demikian, tentu berbasis pada buah yang mudah dihasilkan di tempat ini: padi. Oleh karena itu di Asia Tenggara, kita akan lebih banyak menemui minuman beralkohol dari fermentasi padi (rice wine) ketimbang minuman dari fermentasi buah anggur. Di Bali, Lombok, dan sejumlah tempat di Jawa, jenis minuman dari padi ini disebut dengan nama brem. Selain dari padi, minuman keras tradisional di kawasan Asia Tenggara juga didapat dari palem-paleman (palm wine). Setidaknya, minuman beralkohol di kawasan ini bisa dikategorikan sebagai berikut pertama, rice wine atau cereal wine, kedua, palm wine, dan ketiga, sulingan dari rice wine dan palm wine. [12]

Secara sederhana, metode pembuatan rice wine adalah dengan memberikan pemicu (ragi) pada padi yang telah dikukus, dan membiarkan terjadinya ferementasi. Setelah itu dipindah ke guci yang bermulut sempit untuk melahirkan proses penerbitan alkohol. Guci atau pot-pot bermulut sempit inilah yang menjadi tempat minum khas ini. Tentu saja metode pembuatannya berbeda-beda pada masing-masing tempat, misalnya saja ada yang menambahkan sekam pada proses peragian. Namun secara umum, prosesnya adalah fermentasi sederhana pada padi (beras) tersebut.

Seperti telah disebut, selain dari padi, minuman beralkohol di Asia Tenggara juga didapat dari pohon palem. Berbagai palem-paleman yang digunakan untuk pembuatan palm wine adalah aren (arenga pinnata), siwalan (borassus flabellifer), kelapa (cocos nucifera), dan nipah (nypa fruticans). Pada umumnya pembuatan minuman beralkohol dari palem-paleman ini dilakukan dengan mengambil getah dari palem yang ditampung di dalam tabung bambu. Ke dalam bumbung bambu tersebut lantas ditambahkan ragi dan bakteri lactic acid sehingga fermentasi sudah bisa berjalan ketika bumbung tadi digantung saat menadah nira. Sebagaimana rice wine, hasil sulingan getah palem juga bisa menjadi minuman beralkohol yang sangat kuat.[13]

Bumbung bambu—atau guci dalam hal rice wine— yang digunakan untuk menampung nira tersebut menjadi penanda atau simbolisasi minuman memabukkan itu. Secara asosiatif, orang akan dengan mudah mengaitkan bumbung bambu dengan tuak, sementara guci dengan arak. Kedua benda itu, bumbung bambu dan guci, mengacu pada minuman keras yang secara tradisional diproduksi di rumah-rumah petani di nusantara sejak jaman dulu. Bumbung dan guci inilah yang sering digunakan sebagai simbolisasi tokoh-tokoh dunia silat yang mengandalkan arak dan tuak dalam berbagai cerita silat nusantara.

Pusaka Arak-Tuak Dalam Jurus Mabuk  

Seorang lelaki tua berjanggut putih sampai ke dada membawa bumbung bambu. Panjangnya sekira satu meter. Satu bumbung  lagi tergantung di belakang punggungnya. Pada bumbung-bumbung itu terdapat tuak murni yang harum sekali. Meski dibawa melompat atau berlari bagaimanapun kencangnya satu tetes pun tidak tumpah dari bumbung berkat tingkat kesempurnaan tenaga dalamnya. Itulah narasi yang menggambarkan seorang tokoh tua di dunia persilatan: Dewa Tuak. Tokoh ini ada dalam cerita silat Wiro Sableng Pendekar Kapak Nagageni 212. Tokoh yang selalu mengandalkan tuak ini digambarkan sebagai jago silat golongan putih yang pilih tanding. Tuak pada bumbung bambu yang dibawanya ke sana ke mari bukan semata sebagai pajangan atau bekal, tapi lebih dari itu, ia adalah senjata utama sang tokoh.

Dalam cerita Wiro Sableng sesungguhnya tokoh utama dan garis besar cerita tidak pada tokoh atau senjata/pusaka yang berbasis pada minuman keras. Tokoh utamanya, Wiro Sableng, bukanlah jenis pendekar silat yang mengandalkan kondisi mabuk dalam jurus-jurus silatnya. Bahkan pada suatu episode digambarkan bahwa Wiro tidak cukup mengenal jenis minuman tuak. Pada episode Maut Bernyanyi Di Pajajaran, Wiro digambarkan baru pertama kali dalam hidupnya melihat dan merasakan minuman bernama tuak. Dia ditawari minum tuak oleh Dewa Tuak yang memang baru pertama kali muncul dalam serial silat Wiro Sableng pada episode ini. Sedikit menenggak tuak “Kahyangan” milik Dewa Tuak seluruh badannya menjadi hangat, pemandangannya menjadi jernih sedang pikirannya terasa tenang. Dewa Tuak memang menyebut tuaknya berasal dari “kahyangan” karena aromanya yang harum dan rasanya yang sukar dicari tandingannya. Demikian digambarkan Bastian Tito, penulis  cerita Wiro Sableng, saat menggambarkan Wiro meminum tuak untuk pertama kalinya.

Sekali lagi, Dewa Tuak bukan tokoh utama dalam alur cerita Wiro Sableng. Dia tidak muncul dalam setiap episode. Hanya sesekali saja ia muncul, dan memang ia digambarkan sebagai tokoh yang sudah mulai mundur dari dunia persilatan. Dewa Tuak mempunyai hubungan baik dengan Wiro, ia bahkan dianggap sebagai salah satu tokoh tua yang menjadi pembimbing Wiro.

Sebagai orang tua yang melindungi Wiro, Dewa Tuak adalah sahabat Sinto Gendeng, guru Wiro, ia pernah turut membela Wiro ketika pendekar  itu dimusuhi tokoh-tokoh golongan putih karena difitnah secara keji oleh pendekar muda lain pada episode Topeng Buat Wiro Sableng. Salah satu misi Dewa Tuak  bahkan adalah menjodohkan muridnya, Anggini, pada Wiro Sableng. Ia menyuruh Anggini mengejar cinta Wiro. Anggini sendiri, kendati berguru pada Dewa Tuak, justru tidak mengandalkan minuman tuak sebagai pusakanya melainkan selendang ungu yang melilit pinggangnya. Usaha Dewa Tuak menjodohkan murid tunggal kesayangannya, Anggini, dengan Wiro pada akhirnya gagal kendati Wiro dan Anggini pernah sekali bermesraan semalaman di balik batu besar hitam di sebuah hutan belantara (episode Maut Bernyanyi Di Pajajaran). Anggini sendiri kemudian diceritakan mengundurkan diri dari segala urusan duniawi, bertapa di Goa Dewi Kerudung Biru dan menjadi murid Dewi Kencana Wungu. Dewa Tuak menceritakan itu pada Wiro di episode Rahasia Lukisan Telanjang.

Saat bertarung melawan musuhnya, Dewa Tuak tidak selalu menggunakan tuaknya terutama jika hanya menghadapi pendekar-pendekar kelas teri. Namun saat berhadapan dengan musuh yang cukup lihai, ia akan meneguk tuaknya yang bisa disemburkan hingga terdengar suara laksana air bah. Semburan tuak ini salah satunya diperlihatkan ketika bertanding melawan Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong pada episode Rumah Tanpa Dosa. Sebagaimana disinggung di atas, Dewa Tuak bukanlah tokoh utama dalam seri silat Wiro Sableng ini. Ia lebih sebagai tokoh bayangan yang –kendati berilmu tinggi—hanya muncul sesekali dalam cerita. Cerita silat yang menempatkan pendekar mabuk sebagai tokoh utama di antaranya adalah seri cerita Dewa Arak dan Pendekar Mabuk. Cerita silat Dewa Arak ditulis oleh Ajisaka sementara Pendekar Mabuk ditulis oleh Suryadi.

Serial Pendekar Mabuk berpusat pada petualangan seorang pendekar bernama Suto Sinting—yang dalam dunia persilatan dijuluki Pendekar Mabuk. Pendekar ini digambarkan terlahir tanpa pusar dan mempunyai paras rupawan yang bisa menawan hati perempuan.  Sama seperti Dewa Tuak dalam seri cerita Wiro Sableng, senjata andalan Suto adalah bumbung bambu berisi tuak. Bedanya, pada seri cerita ini Suto adalah tokoh utama. Selain itu, tuak dan mabuk juga menjadi salah satu pokok utama. Selain mendapat gemblengan dari tokoh silat berjuluk Bidadari Jalang. Suto juga diceritakan merupakan murid tokoh terkuat golongan putih di dunia persilatan bernama Gila Tuak— kata “Sinting” pada nama Suto Sinting adalah pemberian Gila Tuak—yang selalu mengandalkan tuak yang ia bawa kemana-mana bersama tongkat bambunya.. Tongkat bambu milik Gila Tuak merupakan tabung yang terbagi dua, yaitu tutup dan tabungnya. Tongkat itu bisa dilepas bagian atasnya, dicabut ke atas, dan tampaklah rongga tabung tersebut yang berisi tuak  (lihat pada episode Bocah Tanpa Pusar). Suto sendiri pada awalnya bukanlah orang yang menyukai tuak. Gurunyalah yang mengenalkan minuman keras ini padanya. Pertama kali Suto meneguk tuak dari gurunya ia segera menyeringai dan meringis-ringis karena rasanya yang getir dan kecut. Ia tidak menyukainya dan meludahkannya. Hanya kebiasaan yang ditanamkan guru silatnya yang membuatnya menikmati tuak dan menggunakannya sebagai senjata ketika bertarung.

Dalam serial silat Pendekar Mabuk ini, yang menjadi tema utama adalah tuak, tokoh yang hobi meminumnya, bumbung berisi tuak, hingga kekuatan magis dari tuak itu sendiri. Pada episode Misteri Tuak Dewata, misalnya, tuak diceritakan bisa menjadi sesuatu yang mempunyai daya penyembuh yang sangat hebat. Saat Gila Tuak menderita sakit misterius hanya Tuak Dewata yang bisa menyembuhkannya. Tuak milik Suto Sinting juga mempunyai daya penyembuh. Ia pernah mengobati luka yang diderita Dewi Murka dengan menyemburkan tuak yang telah ia teguk ke luka yang diderita pendekar perempuan itu.

Lebih dari itu, pada seri cerita Pendekar Mabuk juga dikisahkan tentang adanya sebuah pusaka sakti bernama Tuak Setan. Pusaka berbentuk guci yang berisi tuak berusia ribuan tahun ini sangat sakti sehingga  “apabila tuak tersebut diminum oleh seseorang, maka napas orang tersebut bisa berubah menjadi badai yang amat dahsyat jika dihentakkan dengan sedikit dorongan tenaga dalam. Badai itu dapat menyapu habis pohon-pohon besar di hutan, atau menggelindingkan batu sebesar rumah sekalipun. Karena itu, jika Tuak Setan diminum oleh orang yang punya sifat angkara murka; maka bumi ini akan hancur sebelum waktunya. Air laut bisa meluap dan menenggelamkan gunung setinggi apa pun” (lihat episode Pusaka Tuak Setan). Karena daya saktinya itu, para pendekar baik dari golongan putih maupun hitam saling berebut mendapatkannya. Gila Tuak yang punya pertalian jiwa dengan pusaka ini dikatakan berusaha menghancurkan pusaka itu agar tidak jatuh ke tangan pendekar berwatak jahat. Kehebatan pusaka tuak ini juga dirasakan tokoh utama serial ini. Seperti dikisahkan dalam episode Darah Asmara Gila, tubuh Suto menjadi seperti terbakar saat cairan dari Tuak Setan itu tertelan masuk ke dalam mulutnya, ia pun terkapar di atas bukit itu. Karena Suto telah menelan cairan itu maka “napasnya bisa menyemburkan badai yang sangat dahsyat.”

Serial lain yang menempatkan minuman keras sebagai pusat cerita adalah serial Dewa Arak. Ditulis oleh Ajisaka serial ini bercerita tentang petualangan pendekar berambut putih bernama Arya Buana yang berjuluk Dewa Arak. Dia adalah pendekar sakti anak kandung Tribuana alias Pendekar Ruyung Maut dan murid kesayangan tokoh sakti mandraguna dari golongan putih, Ki Gering Langit. Julukan Dewa Arak didapatkannya karena jurusnya yang tidak seperti jurus silat biasa dan karena ia memiliki senjata berbentuk guci yang menggantung di punggung. Namanya mulai dikenal di rimba persilatan ketika dengan jurus-jurus anehnya ia mampu menumbangkan gerombolan Harimau Mata Satu dengan mudah pada episode Pedang Bintang. Pada episode ini pula ia membalaskan kematian ayahnya dengan membunuh saudara seperguruannya yang murtad, Bomantara alias Siluman Tengkorak Putih, dengan pertarungan yang berlangsung lebih dari seratus lima puluh jurus.

Berbeda dengan para pendekar dalam dua serial yang diceritakan di atas, senjata Arya Buana atau Dewa Arak berbentuk guci yang di dalamnya terdapat arak. Guci berisi arak itu bisa menjadi senjata sebagaimana bumbung milik Dewa Tuak dan Suto Sinting. Melalui arak itu, Arya mendapatkan kondisi mabuk yang membuatnya limbung dan melancarkan jurus-jurus andalannya seperti jurus ‘Membakar Matahari,” “Belalang Mabuk,” dan “Pukulan Belalang”. Kesaktian jurus ini biasa digunakan untuk melawan para pendekar jahat yang sangat lihai. Misalnya ketika ia harus berjibaku melawan Empu Pradaga di episode Perempuan Pembawa Maut. Selain memiliki jurus “aneh” yang hanya bisa dilakukan dalam kondisi mabuk arak, julukan Dewa Arak juga diperkuat oleh kemampuannya menenggak arak. Pada episode Pertarungan Raja-Raja Arak dikisahkan bahwa Dewa Arak mampu mengalahkan Setan Mabuk dalam  perlombaan meminum arak di Pulau Selaksa Setan hingga ia diakui oleh tokoh-tokoh dunia persilatan sebagai Jago Arak Nomor Satu.

Perempuan di Dunia Silat Mabuk

 

Dalam cerita-cerita silat di atas, tidak jelas benar tentang bagaimana dan siapa yang membuat serta menyiapkan tuak atau arak untuk para pendear tersebut. Adakah mereka membuat sendiri atau ada sekumpulan tenaga manusia lain yang menyiapkannya tidak diceritakan secara gamblang. Jika secara tradisional urusan memasak makan dan minun ada di tangan perempua, kita bisa menduga bahwa arak dan tuak juga lebih banyak berada di tangan perempuan pada tahap pembuatannya.

 

Dalam hal mabuk dan arak, jarang sekali (mungkin tidak ada?) pendekar perempuan yang digambarkan menguasai jurus andalan yang mengandalkan kemabukan. Dalam berbagai kisah silat, kita tahu, banyak sekali bertebaran perempuan-perempuan sakti yang bahkan lebih sakti dari kebanyakan laki-laki. Tidak sulit menemukan perempuan yang jauh lebih sakti dari laki-laki, yang  bisa dengan begitu ringan mengalahkan sepuluh atau dua puluh laki hanya dalam beberapa jurus. Satu contoh saja, lihat perempuan berjuluk Bidadari Jalang pada serial silat Pendekar Mabuk. Kesaktian bibi guru tokoh utama serial Pendekar Mabuk ini jauh melebihi para pendekar laki-laki baik dari golongan hitam maupun putih.

Kendati banyak perempuan sakti dalam cerita silat, hampir tidak ada pendekar perempuan baik dari golongan putih maupun hitam yang berasosiasi dengan mabuk dan minuman memabukkan. Tokoh-tokoh silat yang mengandalkan jurus mabuk atau arak sebagai senjata, umumnya adalah pendekar laki-laki. Lihat misalnya pada serial Dewa Arak. Pada episode Pertarungan Raja-Raja Arak, tokoh-tokoh silat yang dianggap sebagai “raja arak” dan bersepakat untuk bertarung di pulau Selaksa Setan guna berebut gelar raja arak sejati semuanya adalah laki-laki. Dalam kisah tersebut, mereka yang bertarung memperebutkan gelar raja arak adalah empat pendekar laki-laki: Dewa Arak, Setan Mabuk, Raja Minum Danau Sengon, dan Biang Guci Gunung Kari. Dari sekian banyak jago silat perempuan di serial ini, tak satu pun yang akrab dengan arak.

Sekali lagi, pada cerita-cerita silat mabuk yang diuraikan pada bagian sebelumnya, perempuan tidak menjadi pusat cerita. Kalaupun ada pendekar perempuan, mereka lebih kerap menjadi pendamping pusat cerita. Dari  sini, kesan utama yang terbit adalah bahwa arak dan mabuk merupakan dunia laki-laki. Kendati menguasai kemampuan silat yang mumpuni, para pendekar perempuan tetap digambarkan tidak akrab dengan kemabukan.

Jika bukan menjadi pendekar sakti, perempuan biasanya digambarkan sebagai pihak lemah yang menjadi bulan-bulanan para pendekar berwatak jahat dari golongan hitam. Kisah-kisah seperti nasib Sumini pada episode Perempuan Pembawa Maut dalam  serial Dewa Arak banyak dijumpai di beerbagai seri silat. Sumini adalah aanak seorang pendekar sakti yang juga meempunyai sedikit kelihaian silat. Namun kelihaian tidak bisa melindunginya dari tangan-tangann jahat. Untungnya, ayahnya telah merajahi tubuhnya dengan sejenis ilmu tingkat tinggi sehingga orang yang menjamahnya akan terkena racun. Tidak semua tokoh silat perempuan bisa seberuntung Sumini, sebagian lain takluk menjadi korban pendekar jahat.

Apalagi yang umum mengenai perempuan dalam cerita silat? Kita dengan mudah bisa menyadari bahwa  hampir semua pendekar perempuan digambarkan sebagai perempuan cantik. Pendekar perempuan hampir selalu mempunyai tubuh langsing, putih, berisi (montok), sekaligus sakti. Sangat jarang (atau tidak ada) tokoh perempuan sakti yang buruk rupa—termasuk pendekar perempuan dari golongan hitam yang para tokoh laki-lakinya hampir selalu tampil buruk rupa. Perempuan cantik-perkasa barangkali adalah sejenis impian tertentu yang menggoda penulis (atau pembaca?) laki-laki. Satu contoh mengenai ini adalah seri Roro Centil. Baca saja kutipan deskripsional tentangnya berikut ini: “Dia seorang gadis berwajah can-tik rupawan. Kecantikan alami yang telah dianugerahkan Tuhan padanya. Wajah ayunya menampilkan kesegaran setiap mata yang memandang. Dialah …. RORO CENTIL. Sang Pendekar Wanita Pantai Selatan…!

 

Tidak terlalu jelas mengapa semua pendekar mabuk adalah laki-laki. Kita hanya bisa menduga, bahwa kecantikan-kecantikan para pendekar perempuan itu tidak boleh dirusak oleh citra lain tentang kemabukan dan arak atau tuak. Dengan demikian arak atau mabuk tidak boleh disandingkan dengan kecantikan-perkasa para pendekar perempuan. Gambaran tentang permpuan cantik yang tengah mabuk, barangkali, tidak mewakili imajinasi yang menyenangkan tentang seorang permpuan—bahkan meskipun jurus silat mabuk dalam cerita silat tidak selalu berasosiasi pada keburukan.

 

Penutup

Arak pada serial Dewa Arak ini tidak jauh berbeda dengan Tuak pada serial Wiro Sableng dan Pendekar Mabuk. Keduanya menjadi pusat cerita. Kesaktian tokoh utama bersandar pada kekuatan dan kesaktian arak dan tuak. Pada cerita-cerita silat tersebut, arak dan tuak menempati posisi magis, baik karena kejanggalannya maupun kesaktiannya. Daya magis itu bisa karena ia menjadi sumber tenaga (dan mungkin inspirasi) maupun karena tuahnya yang sakti mandraguna. Jadi, kekuatan tuak adan arak dalam cerita silat adalah pada minuman itu sendiri maupun pada kondisi yang diciptakan setelah sang pendekar meminumnya.

Minuman memabukkan dalam kisah-kisah silat berada pada sesuatu yang di luar kebiasaan, baik karena kesaktian yang luar biasa dari tokoh-tokoh utama, maupun kejanggalannya yang menyalahi pakem-pakem dunia silat sebagaimana minuman memabukkan yang memang berada di luar batas-batas wajar dalam kehidupan sehari-hari dunia nyata. Kendati aneh, janggal, dan “menyimpang,” minuman memabukkan itu tetap mendapat tempat terhormat dalam cerita sebagaimana kadang ia juga secara simbolis mendapat tempat terhormat di sejumlah tempat dalam kehidupan nyata.

Minuman keras, kendati secara umum ditentang dan ditempatkan sebagai barang haram, pada beberapa hal –baik secara simbolis maupun tidak—ternyata tetap mendapat semacam penghargaan. Kalau bukan sebagai metafora akan kondisi luar biasa, ia juga secara literer menjadi sumber inspirasi atau bahkan kekuatan. Namun “kehormatan” tersebut masih terbatas pada laki-laki.

Dalam cerita silat mabuk dan minuman memabukkan sebagai sumber kekuatan adalah monopoli kaum laki-laki. Hampir tidak dijumpai tokoh pendekar  perempuan sakti yang akrab dengan tuak dan kondisi mabuk. Cerita silat memang menyajikan perempuan-perempuan (seringkali adalah perempuan cantik) perkasa yang tidak saja kuat namun juga cantik dan bertubuh molek. Namun cerita silat, setidaknya yang judul-judulnya saya sebut di atas, seperti kurang memberi ruang imajinasi tentang persekutuan pendekar perempuan dengan arak dan kemabukan.

 

 

Referensi

Campbell, Gwyn., and Nathalie Guibert.  2007. Wine, Society, and Globalization: Multidisciplinary Perspectives on the Wine Industry, New York:P algrave Macmillan.

Charters, Steve M.A., M.W. 2006. Wine and Society The Social and Cultural Context of a Drink. Oxford: Elsevier.

Elix Katz, Sandor. 2003. Wild Fermentation, The Flavor, Nutrition, And Craft Of Live-Culture Foods, Vermont: Chelsea Green.

Ikegami, Shigehiro. 1997.  Tuak dalam Masyarakat Batak Toba: Laporan Singkat tentang Aspek Sosial-budaya Penggunaan Nira, Annual Report of the University of Shizuoka, Hamamatsu College No.11-3.

Kaplan, Abraham. 1966. The Aesthetics of the Popular Arts, The Journal of Aesthetics and Art Criticism. Vol. 24, No. 3.

Puspita Lisdiyanti dan Michio Kozaki, Rice Wine In Southeast Asia Countries : Thailand, Laos Vietnam And Myanmar. http://www.agriqua.doae.go.th/worldfermentedfood/I_3_Kozaki.pdf (Diakses pada 20 April 2011)

Richard E Lee, Cultural Studies, Complexity Studies and the Transformation of the Structures of Knowledge.  http://www.feast.org/workshops/creative2008/RichardLee.pdf (Diakses pada 3 Mei 2011).

Robert Wessing. 1990. Sri and Sedana and Sita and Rama : Myths of Fertility and Generation, Asian Folklore Studies, Volume 49,. Hlm 235-257. http://nirc.nanzan-u.ac.jp/publications/afs/pdf/a800.pdf .(diakses 22 April 2011)

Majalah

Tempo:http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2000/04/17/NAS/mbm.20000417.NAS112849.id.html

 


[1] Ketika Gus Dur menjadi presiden dan melakukan manuver politik yang sulit dipahami, sejumlah kalangan menyebut aksi Gus Dur ini sebagai aksi jurus Dewa Mabuk. Lihat Laporan Majalah Tempo : http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2000/04/17/NAS/mbm.20000417.NAS112849.id.html Diakses 6 Mei 2011

[2] Abraham Kaplan, The Aesthetics of the Popular Arts, The Journal of Aesthetics and Art Criticism

Vol. 24, No. 3 (1966), hlm. 351-364.

[3] Richard E Lee, Cultural Studies, Complexity Studies and the Transformation of the Structures of Knowledge , http://www.feast.org/workshops/creative2008/RichardLee.pdf . Diakses pada 3 Mei 2011.

 

 

[4] Elix Katz, Sandor Wild Fermentation, The Flavor, Nutrition, And Craft Of Live-Culture Foods, Vermont, 2003. Hlm 14

[5] Ibid

[6] Lihat Gwyn Campbell and Nathalie Guibert  (ed), Wine, Society, and Globalization: Multidisciplinary Perspectives on the Wine Industry, New York, 2007. Hlm. 2.

[7] Dr Steve Charters M.A., M.W, Wine and Society The Social and Cultural Context of a Drink. Oxford. 2006. Hlm 158

[8] Elix Katz,  Sandor, Op Cit. Hlm 15.

[9] Ikegami, Shigehiro,  Tuak dalam Masyarakat Batak Toba: Laporan Singkat tentang Aspek Sosial-budaya Penggunaan Nira, Annual Report of the University of Shizuoka, Hamamatsu College No.11-3, 1997, Part 5.

[10] Puspita Lisdiyanti dan Michio Kozaki, Rice Wine In Southeast Asia Countries : Thailand, Laos,

Vietnam And Myanmar. http://www.agriqua.doae.go.th/worldfermentedfood/I_3_Kozaki.pdf. Diakses pada 20 April 2011.

[11] Mitos Dewi Sri atau dewi padi sangat populer di kawasan ini. Hampir di setiap daerah terdapat versi tersendiri tentang dewi kesuburan yang terkait dengan padi.Lihat Robert Wessing, Sri and Sedana and Sita and Rama : Myths of Fertility and Generation, Asian Folklore Studies, Volume 49, 1990. Hlm 235-257. http://nirc.nanzan-u.ac.jp/publications/afs/pdf/a800.pdf . Diakses pada 6 Mei 2011.

[12] Puspita Lisdiyanti dan Michio Kozaki, Op. Cit.

[13] Ibid

3 pemikiran pada “Arak, Mabuk, dan Perempuan di Dunia Persilatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s