Saya dan Muhammadiyah


Mumpung sedang ada muktamar Muhammadiyah dan karena kadung janji pada teman untuk menulis tentang Muhammadiyah, saya sedikit terpanggil untuk menulis sejumlah catatan tentangnya.

Dalam sejarah hidup saya, Muhammadiyah pertamakali datang sebagai istilah peyoratif. Apa boleh buat, saya lahir dan dibesarkan dalam tradisi NU yang cukup kental. Sedari kecil saya hidup di lingkungan nahdliyin, saya mengaji di surau milik kyai nahdliyin, tetangga-tetangga saya menghidupi tradisi nahdliyin dengan sepenuh hati, mungkin sampai tulang sungsum. Keluarga saya, kendati bukan nahdliyin sejati—maksudnya bukan kalangan santri yang akan rela menyerahkan pendidikan anaknya pada pesantren salaf—tidak bisa lepas dari kungkungan kultural nahdliyin yang mendarah-daging-tulang itu. Maka dalam lingkungan pergaulan saya, Muhammadiyah lebih banyak datang sebagai kabar buruk: ancaman pada tradisi. Kita tahu, masa-masa itu, sekitar tahun 80-an pertentangan hal-hal sepele dalam beragama masih begitu keras. Sedikit saja orang menyimpang dari apa yang lazim dilakukan, tuduhan sebagai orang Muhammadiyah akan langsung disematkan, dan itu dilakukan dalam kasak-kusuk dengan sedikit bumbu kebencian. Orang tua saya juga pernah dianggap sebagai Muhammadiyah (atau barangkali dituduh sebagai “mirip Muhammadiyah”) karena mengganti berkat kenduri yang biasanya berupa nasi menjadi roti. Untuk urusan kecil-kecil pun tuduhan sebagai antek Muhammadiyah bisa datang. Misalnya, ketika kita tidak memakai kopiah saat ke masjid dan menghadiri kenduri, atau ketika lebih memilih celana panjang ketika mengaji. Saya sendiri lebih banyak memakai celana panjang dan bahkan tanpa tutup kepala ketika mengaji sehingga tuduhan sebagai mirip Muhammadiyah pada keluarga saya menjadi semakin kental.

Saya juga masuk ke TK Muhammadiyah (Bustanul Athfal) bukan TK milik NU (Raudhatul Atfhal), meski saya bisa pastikan bahwa pilihan itu lebih didasarkan karena Bu Dhe saya mengajar di TK BA, dan bukan karena alasan identitas apalagi ideologis. Bustanul Athfal dan Raudhatul Athfal itu sepertinya  sama-sama berarti “taman kanak-kanak”, saya tidak tahu persis kenapa  Muhammadiyah memilih Bustanul Athfal dan NU memilih memakai Raudhatul Athfal. Karena cuma TK, tentu tidak ada sentuhan Muhammadiyah yang cukup berarti bagi saya. Sentuhan yang lebih dari lembut baru saya rasakan ketika saya masuk SD (dan jenjang sekolah seterusnya hingga SMA) saat berjumpa dengan guru-guru agama berlatar belakang Muhammadiyah. Saat SD itu saya mulai bisa merasakan perbedaan soal doktrin kegamaan. Saya sekolah di SD negeri (juga SMP dan SMA negeri) tapi guru-guru agamanya selalu tidak datang dari kalangan nahdliyin. Saya selalu bisa membedakan ini karena saya juga mengaji di surau yang untuk beberapa detail ajaran kerapkali berbeda dengan yang diajarkan guru di sekolah. Jauh bertahun-tahun sesudahnya, setelah belajar politik dan sosiologi, saya baru mengerti kenapa guru agama di sekolah-sekolah negeri lebih banyak datang dari kalangan Islam modernis (Muhammadiyah) ketimbang dari kalangan tradisionalis. Karena pelajaran agama di sekolah negeri seperti hanya tampil sebagai selingan, maka internalisasi ajaran agama saya lebih banyak dirasuki oleh apa yang saya dapat di surau tempat saya mengaji dan oleh pergaulan sehari bersama teman-teman sebaya, misalnya ketika harus ikut berjanjen atau yasinan.

Dalam soal organisasi, saya tiba-tiba juga diajak kawan-kawan untuk ikut kegiatan anak-anak NU (IPNU) yang saat itu mereka ikuti dengan penuh gairah, barangkali karena semangat menjadi modern yang menggebu dari kalangan nahdliyin ketika itu. Saya ingat, ketika anak-anak muda yang lebih tua dari saya sangat terlibat aktif mengikuti berbagai pengaderan dan kegiatan, termasuk baris-berbaris. Saya waktu itu tidak tahu persis apa hubungan antara ahlu sunnah wal jamaah dengan baris-berbaris dan baju seragam. Saya sendiri tidak pernah secara formal ikut pengkaderan IPNU, misalnya, karena saya memilih melarikan diri dan bermain dengan kawan ketika acara pengaderan baru akan dimulai. Lagipula orangtua saya tidak terlalu mendukung kegiatan semacam itu. Biasalah, mereka lebih mendorong saya lebih banyak belajar atau mengerjakan PR, kegiatan yang sejatinya agak menyebalkan itu.

Nah, bagi lingkungan saya yang semacam itulah, Muhammadiyah selalu menjadi cerita sebagai liyan yang mengancam. Saya masih ingat ketika pada akhir 80-an atau awal 90-an di kampung saya dan sekitarya muncul kyai pendakwah yang sangat digandrungi kalangan nahdliyin lebih karena suara kerasnya pada Muhammadiyah. Di hadapan ratusan orang kyai sau ini sering berpidato mengecam Muhammadiyah (yang ia sebut dengan istilah kamandiyah atau kamandanu) sekecam-kecamnya. Intinya, Muhammadiyah adalah buruk, dan NU adalah keselamatan. Orang-orang senang. Mereka bertepuk tangan. Tapi saya tidak suka, paling cuma ikut cengengesan. Bahkan ketika itu saya sudah merasa risih dengan kyai itu. Baru belakangan saya mulai mencoba memahami ihwal kecam-mengecam itu. Soalnya ia tidak datang dari satu arah. Pasti itu bukan datang dari ruang kosong. Dai-dai Muhammadiyah kala itu juga melakukan hal yang sama. Saat itu Muhammdiyah sedang sangat gigih menghapus apa yang disebut dengan penyakit TBC di tubuh umat Islam: tahayul, bid’ah, dan khurafat (ejaan lama, ditulis churafat), juga serangan pada cara berislam dengan menganut mazhab dengan kredo terkenal: “kembali kepada Qur’an dan Sunnah.” Anda pasti bisa merasakan kepedihan ketika tradisi yang anda geluti sejak masih dalam kandungan tiba-tiba menjadi begitu nista dan tak bermakna (lihatlah soal tuduhan syirik pada ziarah kubur atau kenduri. Anda tahu, syirik adalah perilaku tak terampuni dalam keyakinan Islam). Kyai yang saya sebut tadi bisa jadi hanya membuka katup yang tersumbat. Maka ketika ia menyuarakan itu, bersoraklah semua orang (nahdliyin) seperti mendapatkan pembenaran dan dukungan. Seperti ada katup yang tersumbat dan tersemprot keluar.  Tapi tentu saja perilaku kyai yang menebarlan kebencian semacam itu tidak patut dicontoh, bahkan oleh pemain sepakbola sekalipun.

Pendeknya, saat itu saya merasakan ancaman bagi kaum sarungan itu bukan datang dari orang di luar Islam (misalnya isu kristenisasi), tapi lebih dari kalangan Islam modernis (Muhammadiyah). Saya menduga ini karena persentuhan orang nahdliyin pada kelompok kristen, misalnya, tidak sekeras kalangan Islam di perkotaan yang menjadi basis Muhammadiyah. Mereka tak perlu berebut orang untuk diobati di Rumah Sakit yang mereka miliki atau berebut siswa supaya sekolah di tempat yang dikelolanya. Sejauh yang saya tahu, di desa-desa nahldliyin kehidupannya relatif homogen. Barangkali inilah kenapa isu kristenisasi, meskipun ada, tidak sehangat yang tumbuh di tubuh Muhammadiyah.

Saya dan Muhammadiyah semakin tidak nyambung ketika saya mulai belajar dan membaca pemikiran sosial dan keagamanaan. Lebih-lebih ketika saya mulai memahami bahwa hasrat pada otentisitas akan menjebak kita pada anagan-anagan kosong. Muhammadiyah semakin tidak menarik minat saya. Saya mulai tahu bahwa hal-hal baru yang datang dari Muhammadiyah seperti menolak ziarah kubur, hari-hari peringatan kematian, penggunaan hisab alih-alih ru’yah, atau doktrin kembali pada qur’an dan Sunnah (yang sebelumnya sempat menggugah dan membuat saya agak turut mempertanyakan perilaku kaum sarungan tetangga-tetangga saya itu) adalah sesuatu yang tidak sepenuhnya baru. Apa yang dilakukan Muhammadiyah bukanlah pembaharuan dalam arti yang sesungguhnya tapi cuma menggeser ke mazhab yang sudah ada. Apa yang ditawarkan Muhammadiyah dengan aturan-aturan yang baru tadi pada kenayataannya sudah dipikirkan dan sudah sejak berabad-abad lampau. Menurut kawan yang mengerti sejarah pemikiran Islam, apa yang dilakukan Muhammadiyah dalam soal fiqh misalnya hanyalah kembali pada mazhab Imam ibn Hanbal. Tidak lebih. Doktrin kembali pada Qur’an dan Sunnah, misalnya, malah membuat saya semakin tidak tertarik karena tendensinya yang sangat tekstualis. Kecenderunan puritan ini konon semakin menguat belakangan ini. Saya sering mendengar keluhan dari kawan-kawan muda Muhammadiyah betapa di tubuh muhammadiyah konservatisme semakin akut. Pengaruh Wahabisme di kalangan Muhammadiyah kini, kabarnya, lebih kuat ketimbang pengaruh modernisme ala Muhammad Abduh dan Sayyid Ridha yang sebelumnya juga dijadikan rujukan oleh kalangan Muhammadiyah. Gairah pembaharuan yang digelorakan para pendiri Muhamamdiyah justru macet karena benteng-benteng konservatif-puritan semakin kokoh.Selain, tentu saja, kegelisahan banyak orang betapa ormas semacam Muhammadiyah dan NU lebih banyak dimanfaatkan oleh pengurusnya demi tujuan politis jangka pendek.

Menurut saya, apa yang positif dan mengagumkan dari Muhammadiyah bukan datang dari soal pemikiran keagaamaan tapi dari praktik sosialnya yang luar biasa, termasuk kesalehan sosial sejumlah pegiatnya. Barangkali karena memang pada dasarnya Muhammadiyah, sebagaimana digelorakan oleh pendirinya KH Ahmad Dahlan, adalah untuk beramal sholeh seperti tafsirnya atas surat al-Maun: iman tanpa keberpihakan pada kaum miskin dan teraniaya adalah dusta pada agama.

Mengenai amal soleh, terutama kesehatan dan pendidikan (dengan memperkenalkan pengetahuan sekuler di sekolah) pembaharuan Muhammadiyah memang luar biasa berhasil. Saya tidak punya data tentang itu, tapi kalau dicari saya bisa menduga dengan sangat kuat bahwa Muhammadiyah adalah satu-satunya organisasi massa Islam yang berhasil membangun institusi pendidikan dan kesehatan modern paling rapi dan kuat. Tidak heran jika kemudian banyak ormas Islam yang hendak meniru apa yang dilakukan Muhammadiyah ini, diantaranya NU dengan tertatih-tatih. Hasrat orang NU untuk “menjadi modern” dan ingin seperti Muhammadiyah (atau setidaknya mirip Muhammadiyah) ini misalnya datang ketika orang NU mulai berpikir menyelenggarakan pengelolaan pesantren secara modern atau mencoba membangun universitas dan lembaga pendidikan secara lebih rapi, yang ternyata hasilnya jauh sekali dari Muhammadiyah, bahkan mirip pun tidak. Mengenai ini, ada seorang kawan yang secara guyon mengatakan bahwa kini ada kecenderungan orang NU ingin mengeola pesantrennya seperti muhammadiyah sepementara orang muhammadiyah ingin mengelola lembaga pendidikannya sperti orang NU (misalnya ketika kini banyak lembaga pendidikan bukan milik Muhammadiyah tapi dimiliki orang/tokoh besar Muhammadiyah yang sangat berpusat pengelolaannya pada nama besar sang tokoh) dan hasilnya: keduanya malah sama-sama menumbuhkan hal buruk dari masing-masing yang ingin ditiru.

Kendati begitu, sukses Muhammadiyah pada pembentukan institusi pendidikan dan kesehatan itu bukannya tanpa jebakan. Apa yang menjadi kecenderungan saat ini adalah, baik di tubuh Muhammadiyah, NU, atau ormas Islam lainnya, adalah hasrat utuk membangun sekolah atau rumah sakit sebanyak-banyaknya, sebagus-bagusnya, sehebat-hebatnya, tapi kemudian lupa bahwa yang dibutuhkan umat NU maupun Muhammadiyah adalah: bisa mendapatkan pendidilan yang baik, bisa berobat ketika sakit. Sekolah dan Rumah Sakit sudah sangat banyak dibangun di negeri ini, bahkan negara juga banyak membangun Rumah Sakit dan sekolah hingga pelosok negeri. Banyaknya sekolah dan rumah sakit didirikan, tidak bisa menjawab persoalan akses pada pendidikan dan layanan kesehatan, apalagi jika sekolah dan rumah sakit yang didirikan adalah sekolah-sekolah eksklusif yang mahal serta rumah sakit-rumah sakit mahal yang ditujukan sepenuhnya untuk kepentingan “usaha” (meskipun bahkan demi “tujuan baik” untuk menghidupi organsisasi).

Barangkali akan lebih bermanfaat jika ormas seperti Muhamamdiyah (atau NU) lebih memikirkan bagaimana agar umatnya bisa mendapatkan pendidikan sekolah dan bisa berobat ketika sakit (di manapun sekolah atau rumah sakitnya) ketimbang memikirkan bagaimana membangun lembaga pendidikan atau membangun rumah sakit yang tak terjangkau. Bukankah melayani orang miskin adalah teologi sosial yang digagas KH Ahmad Dahlan? Negeri ini sudah begitu banyak sekolah, sudah begitu banyak klinik dan rumah sakit, yang absen adalah: akses orang miskin pada pendidikan dan layanan kesehatan…

Karena ini tulisan tentang ormas Islam, maka tulisan ini akan saya akhiri dengan Wallahu A’lam Bishawab…

Iklan

32 tanggapan untuk “Saya dan Muhammadiyah

  1. *tepuk tangan*

    Saya muslim, tapi saya tidak tahu bedanya NU dan Muhammadiyah. Tulisan ini memberi saya gambaran tentang perbedaan kedua ormas itu.

    Bagi saya sendiri, mereka hanya ormas. Tetapi saya tidak melihat kontribusi nyata mereka untuk pembangunan manusia Islam di Indonesia. Saya hanya melihat mereka sibuk memopulerkan nama ormas mereka sendiri, alih-alih mendidik umat Islam untuk melakukan amanat hablum minannaas untuk mengimbangi aktivitas yang lebih condong ke hablum minallah.

    Mungkin, jika Muhammadiyah mau berkonsentrasi mendidik umat Islam untuk mengamalkan imannya dalam perilakunya sehari-hari, bukan ikut-ikutan bermain kotor dalam politik (seperti korupsi, kolusi, nepotisme), Muhammadiyah akan memperoleh posisi yang lebih baik di mata masyarakat, tidak hanya sekedar “satu lagi ormas yang lain” saja.

    1. @vicky anda mungkin belum tahu bahwa sebenar nya ormas islam seperti muhammadiyah dan NU memiliki konstribusi besar dlm perjalanan kemerdekaan RI .
      kalau kedua ormas tsb tdk memiliki konstribusi besar mungkin berjuta2 org di indo ini tdk akan menaruh sympati atau pun tertarik utk masuk mengambil bagian dlm ke 2 organisasi tsb .
      dan bahkan mungkin ke dua ormas tsb tdk akan menjadi sebesar seperti sekarang atau pun mungkin bubar jika tdk memiliki kostribusi besar .

      saran saya jgn dlu berpendapat jika belum tahu benar apa yg anda komentari, memang sah2 saja anda berpendapat begitu tetapi itu tdk bertanggung jwb jika tdk di barengi data2/fakta2 yg ada .

    2. NU dan Muhammadiyah sebenarnya sama-sama berdasarkan Al-qur’an dan Hadist. Persoalan yang membedakan mereka adalah cara-nya mencapai Dasar hukum Al-qur’an dan Hadist itu. Semisal; Kalau Muhammadiyah mengambil dasar hukum didahului dengan melihat Al-qur’an dan Hadist dulu, apakah ada dalilnya.. kalau tidak ada barulah menkaji dan menganalogikan dengan dalil yang dekat dengan persoalan itu. Berbeda dengan NU, Kalau ada persoalan di kaji dulu masalah itu dan kemudian dicari dalil hukumnya dari berbagai tokoh ulama atau kyai, baru kemudian dilihat ke Al-qur’an atau Hadist, tetapi kalau di buku-buku karangan kyai atau Ulama sudah cukup kadang tidak terus mencari Al-qur’an dan Hadist.

  2. panjang tapi menyenangkan. hampir mirip kayak saya, formalnya dapet dari muhammadiyah, non formalnya dapet dari nahdliyin. hanya saja saya di denpasar. jadi bentrok dalam tanda kutipnya ga kerasa. mungkin gara2 sama2 di “perantauan”, yang ada malah solidaritas. jadi merasa “sekampung” semuanya :mrgreen:

  3. Belajar agama harus menyeluruh (kaffah). Bersandar pada hanya segolongan ulama tertentu atau madzab tertentu akan membuat picik, dan cenderung merasa paling benar. Saya setuju segala sesuatu dikembalikan kepada Qur’an dan Hadits, tidak hanya ke ulama atau kiai yang kita kebal atau madzab yang diikuti kiai itu saja. Pernyataan Anda bahwa Muhammadiyah hanya akan mengembalikan ke mazhab Imam ibn Hanbal dan Muhammadiyah kata Anda melarang ziarah kubur, membuat saya ragu Anda memiliki pengetahuan tentang Muhammadiyah yang memadai.Saya bukan orang Muhammadiyah atau orang NU, karena itu saya mau saja ikut taraweh 2 rakaat salam atau 4 rakaat salam, bukan karena tidak punyai prinsip, tetapi karena hadits shahih yang meriwayatkan keduanya. Ok?

  4. @yenni dan Si Muhs: Mengenai ziarah kubur, secara formal saya tidak tahu pasti apakah muhammadiyah melarang atau tidak. sependek yang saya tahu, muhammadiyah membolehkan ziarah dengan syarat tertentu, misalnya hanya untuk mendoakan yang mati dsb. namun ziarah kubur yang saya maksud di atas adalah praktik ziarah yang umumnya dilakukan masyarakat, yakni berziarah dan bertawasul ke makam-makam keramat para wali dan juga berziarah pada leluhur. prakti sedemikian itu, pada umumnya, tidak dianjurkan oleh muhammadiyah karena dianggap bidaah dan syirik.pada umumnya, mereka yang melakukan ziarah adalah bukan orang muhammdiyah. silahkan anda perhatikan sendiri praktik-praktik semacam itu…

    Mengenai mazhab, saya kira apa yang dilakukan muhammdiyah dalam persoalan praktik ritual agama memang berkredo kembali pada qur’an dan hadis tapi paradigma tekstualisnya hanya menggeser ccara beragama pada cara berpikir mazhab hanbali yang juga tekstualis. sebagai informasi, soal hadis sahih atau tidak, menurut hemat saya, itu juga soal paradigma dan metodologi. pilihan paradigma akan menentukan mana hadis yang dipercaya sahih dan mana yang tidak,mana praktik yang dianggap benar dan mana yang tidak.

  5. Kalau menurut saya Faham muhammadiyah tidak ubahnya dengan dzahabi.karena rujukan rujukan yang dipakai sama dengan ruzukan wahabi.Tapi pelaksanaan(Prakteknya)keras diakhir 3 th belakangan ini mulai kurang kerasnya lebih banyak bersifat toleransi.Maaf jika kurangberkenan.

  6. Tulisan ini memberi saya penjelasan tentang perbedaan NU dan Muhammadiyah. Kalau masih ada saja yang sering memperselisihkan antara keduanya. Alangkah baiknya kalau segala sesuatunya dikembalikan kepada Qur’an dan Hadits.

  7. Vicky Laurentina :
    *tepuk tangan*
    Saya muslim, tapi saya tidak tahu bedanya NU dan Muhammadiyah. Tulisan ini memberi saya gambaran tentang perbedaan kedua ormas itu.
    Bagi saya sendiri, mereka hanya ormas. Tetapi saya tidak melihat kontribusi nyata mereka untuk pembangunan manusia Islam di Indonesia. Saya hanya melihat mereka sibuk memopulerkan nama ormas mereka sendiri, alih-alih mendidik umat Islam untuk melakukan amanat hablum minannaas untuk mengimbangi aktivitas yang lebih condong ke hablum minallah.
    Mungkin, jika Muhammadiyah mau berkonsentrasi mendidik umat Islam untuk mengamalkan imannya dalam perilakunya sehari-hari, bukan ikut-ikutan bermain kotor dalam politik (seperti korupsi, kolusi, nepotisme), Muhammadiyah akan memperoleh posisi yang lebih baik di mata masyarakat, tidak hanya sekedar “satu lagi ormas yang lain” saja.

    ma’af sebelumnya mba karena saya org awan mungkin ini bisa dijadikan share.
    sebetulnya ormas muhammadiyah dari dulu sampai sekarang tidak ikut dalam politik praktis dalam hal ini bukan berarti orangnya nda boleh berpolitik.

    Muhammadiyah sudah jelas maksud dan tujuannya bukan untuk ke arah politik praktis akan tetapi mewujudkan masyarkat adil makmur dengan menjungjung tinggi ajaran islam.

    banyak jasa2 ormas Muhammadiyah pada NKRI yg kita cintai ini (bukan berarti kita harus meminta timbal balik dari negara itu sendiri) dengan menelurkan putra2 terbaiknya terjun pada pra dan pasca kemerdekan.

    untuk melihat kontribusi maka kita harus melihat langsung (bagaimana kita tahu jumlah ikan pada satu kolam klw nda kita keringkan kolam tersebut), ma’af jika kalimat saya kurang difahami harap ma’lum karena masih newbie

  8. Saya dari kecil hidup di kalangan Muhammadiyah, dan Wahabbi adalah nama yg biasa orang kenal di luar negeri, di Malaysia tempat sy tinggal sekarang juga orang yg berpahaman seperti Muhammadiyah di panggil Wahabbi. Apapun, yg paling penting, kita berpegang sama yaitu Alquran dan Assunah, jadi kita seislam dan sehaluan.. Saya suka sekali betapa akrabnya orang dikampung saya antara M dan NU. Walaupun kadang hari raya juga berselisih hari.. toh yg penting… fastbiqul khoirot.. semua berlumba dlm kebaikan, Semua punya dalil sendiri2.. bukan beramal yg asal2lan… atau taklid buta yg cuma sediko guru bahasa kampung saya.

  9. Efendi Mukhtar :
    Saya dari kecil hidup di kalangan Muhammadiyah, dan Wahabbi adalah nama yg biasa orang kenal di luar negeri, di Malaysia tempat sy tinggal sekarang juga orang yg berpahaman seperti Muhammadiyah di panggil Wahabbi. Apapun, yg paling penting, kita berpegang sama yaitu Alquran dan Assunah, jadi kita seislam dan sehaluan.. Saya suka sekali betapa akrabnya orang dikampung saya antara M dan NU. Walaupun kadang hari raya juga berselisih hari.. toh yg penting… fastbiqul khoirot.. semua berlumba dlm kebaikan, Semua punya dalil sendiri2.. bukan beramal yg asal2lan… atau taklid buta yg cuma sediko guru bahasa kampung saya.

  10. kita sbg orang awam akan mengetahui segalanya stlh kita mati. Maka dlm al quran Allah berfirman ‘bertanyalah kpd ahli dzikir jk kamu sekalian tdk tahu’ siapakah ahli dzikir itu? Tentu saja para wali2 Allah. Merekalah sbg ahli warisnya Rosulullah. Mereka dg izin Allah mengetahui makna2 yg terkandung dlm alquran. Atau bisa dikatakan mereka sbg penerjemah Allah didunia. Berdo’alah agar kalian bertemu dgn mereka . Mengikuti mrk adlh ni’mat dan rezki terbesar. Merekalah yg membuat islam menjadi indah, atau sesuai dari sonoNya.

  11. ya saya setuju,,,,, orang muhammadiyah cenerung ke wahabi,,, saya membaca sejarah yng dialaminya juga tdak masuk akal,,,,, gak tw gimana,,, aqnya tang bodoh apa penulisnya yang kurang stu sendok,,,,

  12. saya menyarankan kepada anda untuk mengambil satu diantara sekian banyak ormas islam yang cocok menurut anda dan bergabunglah, jalankan ajarannya dg sebaik-baiknya . kita tdk mungkin berjuang sendirian, beragama sendirian atau menyalahkan suatu ormas, bandingkan diri anda dg ormas-ormas islam, apa yang telah anda lakukan untuk umat dibanding dg yang ormas -ormas itu telah lakukan.

  13. ya sebaiknya kita kembalikan lagi kepada keyakinan masing – masing.. tidak perlu di persoalkan atau dianggap msalah besar,,, karena ini masalah keyakinan. menurut kita benar maka ikuti.. jika menurut kita salah maka tinggalkan. jadikan perbedaan itu suatu keindahan. bukan perpecahan.. cinta islam cinta damai…

  14. setau saya wahabi itu sejenis ormas yang sama kayak nu dan muhamadiyah,orang bilang kita harus melihat acuan alquran dan sunah rasulullah rasulullah itu sangat mutlak dan tidak bisa dikatakan tidak,tapi apakah kita mempunyai kemampuan melihat mentelaah hadis seperti yang disusun oleh imam hambali dan imam safii dan imam lainya,jadi kira kira sekarang alquran yang kita baca ini siapa yang membukukan pertama dan siapa yang menyusun hadist itu dan pentafsiranya?,kita harus bisa memlihat dari sudut pandang dari suatu yang ahlinya janganlah kita hanya bermodal beli buku yang entah siapa pengarangnya apa itu hadiskah apa itu syair dari arab sono,kita langsung mengangap ini suata pengartian yang benar menurut kita,kalau msalah ibadah janganlah kita kotak katik lagi cukup lah kita ikuti sunnah rasulullah dan sesuai dari pentafsiran para ahli hadist dan alquran,ok kita ikut maulid dengan hidangan sekianrupa,untuk memperingati ok diterima tapi jangan berlebih lebihan pake makanan yang agak berlebihan,intinya kita mengingat kelahiran nabi,wirid dari rumah kerumah apakah tidak bagus diadakan di mushala apa dimesjid untuk membahas alquran denga yang ahlinya dan meramaikanya,apakah dana yang kita gunakan untuk perwiridan itu kita gunakan untuk anak yatim,saudara kita yang susah untuk membantu daripada untuk hidangan,semuanya kalau mengaharapkan pahala lebih afdol pahala untuk membantu sesama.sekian dari saya,jangan agama sebagai seremonial jadikan agama itu pegangan hidup dan alquran itu untuk orang berakal yang tidak berakal tidak usah membacanya.sekian dari say

  15. NU & Muhammadiyah sama2 berperan bsar dLm Kemerdekaan RI. Keduanya punya andil dLm mmbangun bangsa, bahkn dLm pmbntukan Pancasila.
    tetapi para ulama NU & MD tdak 5u memamerkan peran mereka.
    Seperti air panas d cmpur teh dan gula, dsbutnya “wedang teh” bukn wedang gula. Padhl gula pnyebab wedang teh jd Manis.

  16. Ass. Wr. Wb.
    Dengan mempertajam perbedaan, tak ubahnya seseorang yang suka menembak burung di dalam sangkar. Padahal terhadap Al-Qur’an sendiri memang terjadi perbedaan pendapat. Oleh sebab itu, apabila setiap perbedaan itu selalu dipertentangkan, yang diuntungkan tentu pihak ketiga. Atau mereka sengaja mengipasi ? Bukankah menjadi semboyan mereka, akan merayakan perbedaan ?
    Kalau perbedaan itu memang kesukaan Anda, salurkan saja ke pedalaman kepulauan nusantara. Disana masih banyak burung liar beterbangan. Jangan mereka yang telah memeluk Islam dicekoki khilafiyah furu’iyah. Bahkan kalau mungkin, mereka yang telah beragama tetapi di luar umat Muslimin, diyakinkan bahwa Islam adalah agama yang benar.
    Ingat, dari 87 % Islam di Indonesia, 37 % nya Islam KTP, 50 % penganut Islam sungguhan. Dari 50 % itu, 20 % tidak shalat, 20 % kadang-kadang shalat dan hanya 10 % pelaksana shalat. Apabila dari yang hanya 10 % yang shalat itu dihojat Anda dengan perbedaan, sehingga menyebabkan ragu-ragu dalam beragama yang mengakibatkan 9 % meninggalkan shalat, berarti ummat Islam Indonesia hanya tinggal 1 %. Terhadap angka itu Anda ikut berperan, dan harus dipertanggung jawabkan kepada Allah SWT. Astaghfirullah.
    Wass. Wr. Wb.
    hmjn wan@gmail.com

  17. Saya seorang yang lahir di keluarga campuran.. Ayah saya NU yang taat dan Ibu saya adalah anak dr tokoh Muhammadiyah yg taat pula, namun ibu saya sejak kecil diasuh adik dr nenek saya yang tinggal di lingkungan NU, smpai sekarang saya masih bingung harus memilih yang mana sebagai pegangan saya untuk beribadah, NU atau Muhammadiyah? Selama ini saya masih bnyak melakukan perbandingan dn pertimbangan.. Apa solusinya mnrut kalian sobat?

  18. Assalamu Alaikum,maaf bos sekedar ingin tahu..ini berdasarkan info dari temen…sbnrnya saya ragu sih apa yg dia sampaikan untuk itu saya mau tanya..apakah benar Muhammadiyah melarang ziarah kubur,siapakah tokoh yang memfatwakannya??apakah dasar dalilnya?tlg Pencerahannya y boz.tks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s