Saya dan Piala Dunia


Musim sepakbola telah tiba. Pada bulan ini para penikmat sepakbola di sekujur bumi akan bersuka-ria menyaksikan apa yang pernah diklaim sebagai permainan paling indah yang pernah diciptakan Tuhan bagi manusia, sepakbola. Bagi yang tidak suka sepakbola, bersiaplah untuk memberi toleransi yang nyaris tanpa batas. Apa boleh buat. Sejatinya, bagai penggemar sepakbola sejati, menikmatai sepakbola tidak harus ketika putaran final Piala Dunia berlangsung. Sepakbola bisa dinikmati sepanjang tahun,dari tontonan paling segar seperti Liga Champions Eropa dan Liga Inggris hingga liga yang aroma busuknya bosa menembus kaca televisi seperti liga sepakbola di negeri kita tercinta ini. Itu terjadi sepanjang tahun. Piala Dunia hanya menjadi semacam puncak dari serangkaian ritual panjang itu. Karena itulah, bahkan mereka yang bukan penggemar sepakbola sejati juga turut merayakan bulan penuh kegembiraan ini. Saya akan bercerita tentang pengalaman menonton Piala Dunia di kehidupan saya yang sekarang berikut ini.

Perkenalan saya pada Piala Dunia dimulai ketika saya berumur sekitar 10 tahun. Saat itu Piala Dunia diselenggarakan di Meksiko. Pertandingan dimainkan di siang bolong demi memanjakan prime time publik Eropa. Saya menonton melalui tekevisi hitam-putih milik paman saya. Saya menjadi saksi kegagalan platini menendang penalti dan gol Maradona yang hingga kini tak henti-hentinya diratapi dan dikutuk publik Inggris.  Dari Piala Dunia inilah saya tahu soal perang Malvinas karen koran-koran ramai menulis soal itu menjelang pertandingan Argentina-Inggris. Dalam dunia persepakbolaan modern, cerita di luar lapangan kadang malah lebih seru ketimbang pertandingan di lapamghan itu sendiri. Kapan-kapan saya cerita lebih panjang lagi soal ini. Kembali ke Piala Dunia 1986, saya sangat suka pada Maradona. Kalau saya tak salah ingat, final Piala Dunia disiarkan malam hari. Jerman Barat (waktu itu tembok Berlin belum roboh,) versus Argentina. Karena saya memuja Maradona, saya menjagokan Argentina. Pertandingan berlangsung seru. Susul menyusul gol, tapi saya tidak pernah cemas karena yakin Maradona pasti menang. Saya benar, akhirnya Argentina juara.

Piala Dunia 1990 juga saya lewati dengan gegap gempita. Sudah ada televisi berwarna di rumah paman, jadi Piala Dunia kala itu lebih terasa berwarna. Kostum para peserta tampak warna-warninya. Saya masih mengidolakan Maradona. Di final, saya yakin Maradona akan menang, termasuk ketika ketinggalan 1-0 di menit-menit akhir. Tapi kali itu keyakinan saya salah. Argentina kalah dari Jerman (tembok Berlin sudah roboh waktu itu). Jerman juara. Maradona menangis. Sejak saat itu, saya bersumpah tidak akan mengunggulkan Jerman pada kejuaraan apapun di dunia ini maupun di akhirat nanti. Kalau perlu saya tidak akan makan gorengan selama pertandingan supaya Jerman (juga Italia) kalah. Sumpah ini juga berlaku untuk klub-klub Jerman. Pada akhirnya sumpah ini sering mendudukkan saya pada posisi yang dilematis, yakni ketika Jerman bertemu dengan Italia (sebagaimana final liga Chmapion 2010 tempo hari) sebab saya juga bersumpah tidak akan mendoakan Italia jika mereka berlaga. Ihwal Italia, musababnya berbeda. Bukan karena telah mengalahkan favorit saya dan membuat Maradona menangis, tapi karena mereka, menurut saya, menciderai permainan sepakbola dengan gemar menumpuk pemain di garis belakang kemudian menang dengan sejenis keberuntungan. Saya benci tim yang bermain buruk tapi menang.

Pada Piala Dunia 1994 saya masih menjagokan Maradona, tapi dia sudah terlalu tua untuk dijagokan. Italia bolehlah sampai final, dan karena itulan saya makin tak menyukai mereka. Saya turut bersyukur ketika Roberto Baggio mengantarkan Brasil menjadi juara dunia dengan menendang bola jauh ke atas mistar ketika adu pinalti.

Piala 1998 bukan lagi jaman Maradona, tapi jaman Zidane (ada yang bilang, jamane jaman Zidane, nek ora Zidane ora keduman). Jadi orang-orang Perancis memang berhak menjadi gila semalam suntuk merayakan Piala Dunia mereka yang pertama.

Piala Dunia 2002 bagi saya terasa lebih syahdu. Bukan karena digelar di Asia dan dikejutkan oleh Korea Selatan yang bermain kedanan, tapi karena saya bisa nonton bareng pacar di Boulevard UGM yang pasang lancar tancap untuk semifinal dan final. Brasil jadi juara, dan saya bisa pulang dari boulevard dengan bahagia.

Saya tak perlu mengulang cerita Piala Dunia 2006 yang hanya menyisakan dendam pada tim penuh muslihat seperti Italia. Diving Grosso dan makian Materazzi cukup menjadi bukti betapa mereka sesungguhnya tidak hendak bermain sepakbola.

Belakangan, setidaknya sejak Piala Dunia 1998, saya punya kegemaaran lain: mendukung tim underdog. Asyik saja rasanya melihat tim-tim besar yang dielu-elukan  banyak orang tiba-tiba keok oleh tim anak bawang (ingat Italia yang dilibas Korea pada 2002?hoho..betapa indahnya…). Karena itu pula saya lantas menanggung konsekuensi logisnya:lebih sering kalah ketimbang menang jika bertaruh. Kejutan memang tidak akan terjadi berulang-ulang (karena itu pula ia disebut kejutan bukan?), tim-tim underdog tak selalu bisa bikin kejutan. Tim besar (istilah ini biasanya merujuk pada tim dari negara dengan tradisi dan prestasi sepakbola yang kuat) biasanya memang akan menang.

Selain mendamba kejutan, saya juga cenderung senang jika yang menang adalah  negara-negara miskin, seperti negara Afrika atau Amerika latin, ketimbang negara-negara kaya di Eropa Barat. Saya senang membayangkan penduduk negeri-negeri miskin itu (yang barangkali sama dengan Indonesia) bersuka cita sejenak untuk merayakan kemenangan. Kendati miskin dan kekayaan negerinya disedot negeri-negeri maju, secuil kebahagiaan karena menang sepakbola barangkali bisa menjadi penghiburan.

Maka, demikianlah, untuk 2010 ini saya masih sayang pada Argentina. Bagaimana dengan Anda?

Iklan

3 pemikiran pada “Saya dan Piala Dunia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s