Tong Sinfu


Final Piala Thomas 2010 lalu masih menyisakan rasa geregetan. Kendati sudah diduga sebelumnya, kekalahan tim Piala Thomas di ajang perebutan supremasi badminton itu tetap menyisakan rasa kesal. Betapa tidak, bulutangkis adalah segelintir, kalau bukan satu-satunya, cabang olahraga yang bisa dibanggakan prestasinya. Kendati tak sepopuler sepakbola, bisa dibilang olehraga ini adalah yang paling menyumbang prestasi, termasuk perasaan tidak malu ketika menontonnya, bandingkan misalnya dnegan saat kita nonton timnas sepakbola berlaga. Tapi kini, atau tepatnya satu dekade tarakhir, bulutangis sepertinya bukan milik Indonesia lagi. Kekalahan Tim Thomas itu barangkali akan lebih terasa ringan jika disekitar kita tak ada korupsi dan berbagai tingkah konyol penyelenggra negara. Geregetan soal bulutangkis, dengan demikian, tidak menjelajar menjadi geregetan pada setiap aspek hidup negeri ini.

Sejak kecil saya suka sekali nonton bulutangkis. Terutama pertandingan piala Thomas. Sependek ingatan saya, perebutan Piala Thomas tahun 1988 adalah yang pertama kali saya tonton lewat televisi. Saat itu saya menonton di televisi milik tetangga bersama banyak orang di kampung saya. Saat itu Indonesia berlaga melawan Malaysia di semifinal. Dari apa yang dikatakan komentator TVRI, saya ingat, kita lebih diunggulkan ketimbang Malaysia. Tapi apa boleh buat, Malaysia berhasil mencuri satu poin di tunggal putra dan membabat habis partai ganda—sektor paling lemah Indonesia kala itu. Setelah semifinal itu, sampai tahun 1992 Indonesia tak pernah menang lawan malaysia dalam peratndingan beregu. Entah kenapa, kekalahan dari Malaysia terasa jauh lebih menyesakkan ketimbang kalah dari negara lain. Final tahun 1992 juga saya ingat sebagai final yang membuat penasaran. Kali itu kita kalah, lagi-lagi, oleh Malaysia.

Tapi awal tahun 90-an, kita tahu,  adalah era kebangkian bulutangkis Indonesia. Seperrti belajar dari sejarah, ganda Indonesia menjelma menjadi kekuatan tak tertandingi. Begitu pula di sektor tunggal. Berturut-turut sejak tahun 1994 hingga 2002 Piala Thomas berdada dalam genggaman. Piala Uber juga direbut tahun 1994 dan 1996—tenntu saja bersama legenda Susi Susanti. Itulah era generasi emas bulutangkis Indonesia.

Pada generasi itulah ada orang bernama Tong Sinfu, pelatih bulutangkis keturunan Tionghoa—ah, bukankah hampir semua pemain badminton hebat adalah keturunan Tionghoa. Dia lahir  di Teluk Betung, Lampung, 13 Maret 1942. Era kepelatihannya ditandai dengan lahirnya pemain hebatt seperti Heryanto Arbi, Ardi B Wiranata, Alan Budikusuma, dan seterusnya. Apakah perlu diperdebatkan lagi jasanya terhadap perbulutangkisan dan dunia olahraga Indonesia, ketika ia mengantar anak didiknya menjadi juara Olimpiadie—emas pertama bagi Indonesia sepanjang sejarah Olimpiade? Tentu tidak. Tapi para pengelola negeri ini barangkali memang bukan jenis orang yang bisa berterimakasih. Tahun 1998—tahun yang juga mengingatkan kita pada tahun rusuh dan kebencian pada etnis Tionghoa—Tong Sinfu atau Tang Hsien Hu  atau Tang Xianhu mengajukan permohonan kewarganegaraan. Ditolak (lihat sini). Entah siapa pejabat yang menolaknya. Barangkali bagus juga jika nama pejabat itu diumumkan di sela-sela laporan langsung kekalahan tim Thomas tempo hari. Tong Sinfu akhirnya pergi ke China. Di sana ia kembali melatih badminton dan dari tangan diinginnya itu lahirlah generasi Lin Dan, Chen Jin, dkk yang kemampuannya jauh melebihi pebulutangkis manapun di kolong langit ini.

Mulut anda terasa kelu? Akan lebih kelu lagi jika Anda sempat menyaksikan Andi Malarangeng berkoar bahwa kita mestinya bangga karena bisa mengekspor pelatih ke luar negeri ketika ditanya soal kasus Tong Sinfu ini. Malarangeng sepertinya tidak bisa membedakan antara mengusir dengan mengirimkan duta atau ia memang sengaja menutupi kenyataan diskriminatif di masa lalu yang barangkali juag akan terus bersemi di masa depan. Jika kesalahan masa lalu tak pernah diakui sebagai kesalahan, perubahan menuju perbaikan tidak akan pernah terjadi.

Saya juga ingat ketika Hendrawan, peraih perak Olimpiade, harus mengemis langsung pada Presiden Megawati untuk mendapatkan kewarganegaraan (beritanya lihat di sini)

Adakah kita bisa menjadi bangsa besar jika tak mau mengoreksi hal-hal “sepele” semacam ini?

null

Iklan

6 tanggapan untuk “Tong Sinfu

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Saya termasuk yang suka nonton olah raga teplok bulu ini lantaran sedikit banyak atlit kita mampu bersaing di dunia internasional. Jadi menang kalah ada yang bisa dijagoin

  2. Memang kalau dipikir-pikir ironis juga para olahragawan Tionghoa ini. Jelas-jelas mereka memberi prestasi atas nama Indonesia, tapi mendapatkan surat kewarganegaraan bangsa Indonesia saja susahnya bukan main.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s