Dongeng dan Tragedi


Gambar di bawah ini adalah foto yang mempertontonkan seuntai garis sempit yang menyambungkan daratan India ke sebuah pulau di sebelah selatannya, Sri Lanka, yang secara mitologis dipercaya sebagai Alengka, kerajaan milik Rahwana. Garis yang tampak dari ketinggian itu dipercaya sebagian orang sebagai bekas jembatan yang dibangun Rama dan para tentara kera ketika mennyerbu istana Rahwana demi menyelamatkan Sinta. Kini bentangan itu dikenal dengan nama Rama’s Brigde. Adapula yang menyebutnya sebagai Adam’s Brigde, merujuk pada legenda Nabi Adam yang melewati selat itu untuk mencari sebuah puncak gunung tempat ia menyesali dosanya sambil berdiri di atas satu kaki selama 1000 tahun. Mitos, legenda, cerita, hikayat kadang memang asyik diceritakan sambil menyebut situs-situs tertentu yang secara nyata dan kasat mata bisa kita saksikan. Di sekitar kita bertebaran tempat-tempat legendaris semacam itu.  Misalnya Suralaya yang dipegunungan menoreh, alas roban di utara pulau Jawa, dan masih banyak lagi. Banyak diantaranya yang dirujukkan pada kisah-kisah wayang purwa.

Akhir-akhir ini, anak saya , Kaka (4 tahun) tengah senang-senangnya mendengar cerita wayang. Saya tak banyak bercerita tentang nabi-nabi, itu bagian ibunya (haha). Sebelum ia berangkat tidur, ia selalu minta saya bercerita kisah-kisah wayang, baik Ramayana maupun Mahabarata. Sebenarnya saya lebih senang kisah Mahabatata dibanding Ramayana, tapi karena Mahabarata ceritanya tentang perang melulu maka saya pilih Ramayana sebagai dongeng pengantar tidur. Nah, bagian paling disukai Kaka adalah cerita tentang Hanuman. Hanuman obong. Mungkin karena tokoh-tokohnya berupa binatang seperti kisah fabel yang sebelumnya ia kenal seperti cerita kancil dan sejenisnya.

Kegiatan malam seperti itu membuat saya kembali berusaha mengingat epos besar yang sudah banyak saya lupakan detail-detailnya itu. Juga membuat saya mengenang kisah –yang menurut saya paling tragis dan memilukan—subali-sugriwa. Dulu saya kerap mendengar kisah ini berulang-ulang dari pemutaran kaset wayang kulit Ki Hadi Sugito ketika malam-malam saya mendekap radio transistor mungil kesayangan saya. Tragedi itu, sejauh yang saya tahu, lebih terasa tragis ketika direka cerita dalam pewayangan Jawa ketimbang ketika saya baca di versi India-nya. Subali, di versi India, sepertinya memang ditampilkan sebagai sosok antagonis yang layak untuk menjadi sekutu Rahwana dan pantas dilenyapkan dari cerita. Namun dalam versi pewayangan Jawa, Subali dikabarkan sebagai ksatria baik hati yang penuh welas asih. Dalam versi ini, pertikaian Subali-Sugriwa adalah karena sejenis kesalahpahaman yang diawali ketika Subali berhasil mengalahkan Mahesasura di Gua Kiskenda. Anugerah dari para Dewa—kerajaan Kiskenda dan bidadari cantik bernama Tara, justru jatuh ke tangan Sugriwa, yang menutup pintu gua karena mengira Subali juga turut tewas. Pertikaian dua saudara kembar ini pada akhirnya melibatakan Rama yang sedang dirundung malang karena istrinya diculik Rahwana. Rama membantu Sugriwa kembali menduduki singgasana Kiskenda dengan membunuh Subali. Sebagai seorang kakak yang sejatinya sangat mencintai adiknya, di detik akhir kematiannya, ia masih sempat hendak mewariskan Aji Pancasunya —yang membuat pemiliknya tak bisa mati itu—kepada adiknya, Sugriwa, yang, kita tahu, menolaknya hingga akhirnya ajian ampuh itu jatuh ke tangan Rahwana, penguasa Alengka.

Persis pada peristiwa inilah kita juga disuguhi sisi gelap Rama: ia secara culas membidik Subali dengan panahnya ketika tengah berjibaku baku hantam-cakar-gigit dengan Sugriwa.  Pada akhirnya kisah ini bukan lagi soal baik dan buruk, hitam dan putih, tapi tentang tragedi.  Ramayana, dan juga Mahabarat, penuh dengan kontradiksi dan tragedi. Tentu saya tak memberi bumbu yang berbau tragis pada kisah ini ketika mendongeng pada Kaka, saya cukup bercerita sebagaimana layaknya kisah itu diceritakan pada saya ketika kecil. Sisi-sisi lain itu, sisi-sisi buram dan abu-abu itu, sisi-sisi kontradikitif itu, biar ia temukan sendiri suatu ketika nanti. Kini ia sepertinya baru mengerti tentang penjahat dan pahlawan. Bahwa seorang pahlawan juga mengidap kedangkalan manusia, sepertinya belum bisa ia pahami.

Sependek yang saya ingat, Ramayana pada mulanya adalah sejenis cerita tentang yang baik melawan yang jahat, antara angkara murka dengan kabajikan. Setelah berulangkali membaca dan mendengar cerita itu, saya mulai mengerti jika epos besar itu juga memuat begitu banyak tragedi…

P S. Ibnu Rushd atau Averroes, kata Borges, konon tak mampu menemukan kata yang tepat untuk menerjemahkan kata tragedi dan komedi di buku Poetics karya Aristoteles ke dalam bahasa Arab.

Iklan

4 tanggapan untuk “Dongeng dan Tragedi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s