Perisaian di Lombok: Mencambuk Langit Demi Datangnya Hujan


Dua orang laki-laki, bertelanjang dada, menari-nari di tengah tanah lapang. Di sekeliling mereka penonton bersorak sambil berdesak-desakan. Dua orang itu memegang cambuk dari rotan dan tameng dari anyaman bambu.  Diiringi suara gamelan yang rancak bertalu-talu, mereka saling mencambuk bergelut seru. Suara cambuk yang mendesing-desing meningkahi sorak-sorai penonton dan suara gamelan. Sesekali cambuk mereka beradu atau membentur tubuh lawan yang telanjang hingga menerbitkan suasana mencekam. Yang terkena pukulan kadang malah tertawa seperti ingin menunjukkan pada lawan bahwa pukulan itu tak berarti apa-apa baginya. Pertarungan saling cambuk ini biasanya tidak berlangsung lama, terlebih jika lawan tak seimbang. Ketika salah satu terkena cambuk dan darah mengucur dari kepalanya maka permainan berhenti, dilanjutkan dengan petarung-petarung lain. Pertarungan juga akan berhenti jika salah satu pihak menyerah.

Tarung cambuk yang disebut dengan nama perisaian ini bisa dijumpai di berbagai tempat di Pulau Lombok. Tari dan musik adalah sesuatu yang sangat penting dalam kebudayaan masyarakat sasak di Lombok. Permainan tarung cambuk ini adalah salah satunya. Nama perisaian barangkali merujuk pada senjata berupa perisai yang dikenakan para petarungnya. Perisaian biasanya dilangsungkan dalam berbagai kesempatan perayaan hari istimewa. Selain dilakukan dalam perayaan, di sejumlah tempat permainan ini dijadikan  perlombaan dengan hadiah ternak seperti kambing kepada pemenangnya. Sementara di komunitas adat wetutelu di Bayan, Lombok Barat, perisaian tidak bisa dilepaskan dari acara ritual.

Sebagai sebuah ritual, permainan ini adalah bagian tak terpisahkan dari ritus tahunan komunitas wetutelu seperti maulid dan lebaran. Di hari-hari besar wetutelu ini perisaian dilakukan di halaman masjid adat wetutelu. Selain pada hari-hari besar itu perisaian juga dilakukan komunitas ini ketika terjadi kemarau panjang hingga sawah dan ladang mereka mengering. Dalam hal meminta hujan ini, perisaian tidak berdiri sendiri. Ia dilaksanakan ketika grantung (alat musik sejenis gong) diturunkan untuk ditabuh demi meminta hujan. Konon, menurut kepercayaan masyarakat setempat, hujan akan segera turun ketika sudah ada darah yang mengucur dari para petarung. Ritual ini diawali dengan menurunkan grantung dari tempatnya di rumah adat untuk dimainkan di tanah lapang. Musik mulai mengalun sejak dari tempat grantung itu disimpan. Para laki-laki penabuh gamelan berjalan beriring sambil menuju ke tanah lapang tempat perisaian akan dilakukan.  Di tempat tersebut orang-orang sudah berkumpul. Para pemuka adat juga berkumpul di tempat itu untuk mengawal dan menjadi saksi ritual meminta hujan tersebut.Begitu rombongan penabuh gamelan tiba, orang-orang mulai merangsek ke depan berdesak-desakan membentuk lingkaran.

Mula-mula diawali oleh orang dari kalangan penabuh gamelan. Dua orang berpakaian adat—telanjang dada, mengenakan sarung hinga lutut dan ikat kepala—maju ke tengah lapangan kemudian duduk saling berhadapan. Lantas bersalaman. Setelah mantra dan doa diucapkan, keduanya berdiri sambil masing-masing sudah bersiap dengan cambuk dan tameng. Gong dan gamelan lain mulai ditabuh. Orang mulai bersorak. Kedua petarung saling mencambuk dengan keras. Seolah mencambuk langit yang tak kunjung mencurahkan air hujan. Pertarungan dua laki-laki penabuh gamelan ini ternyata hanya menjadi pembuka saja. Pertarungan pun cuma sebentar, tak lebih dari lima menit. Kedua orang itu duduk kembali bersama para penabuh gamelan setelah menyerahkan senjata masing-masing pada seorang laki-laki yang menjadi semacam pengatur pertarungan. Setelah itu, ritual meminta hujan ini mulai mengundang partispasi penonton. Tameng dan rotan dibawa berkeliling lingkaran, ditawarkan pada siapa saja yang hendak menjajal kemampuan memainkan cambuk rotan. Saat seseorang menerima rotan dan tameng, sorak sorai membahana. Biasanya lantas disusul dengan orang lain yag hendak menantangnya. Namun kadang terjadi pula yang hingga beberapa lama tak juga ada yang kunjung mau tampil bermain cambuk-cambukan ini. Kadang orang harus ditarik-tarik ke tengah kalangan supaya mau bermain perisaian. Namun kendati awalnya tampak enggan, begitu bertarung dan merasakan pedihnya cambuk lawan orang biasanya akan beringas menerjang dan larut dalam pertandingan. Setelah dua orang menyelesaikan pertarungan, mereka lantas digantikan dengan dua orang lain yang siap bertanding lagi. Demikian seterusnya. Para penonton terlibat erat dengan permainan seru ini. Pada suatu ketika orang bisa menjadi penonton, beberapa saat kemudian ia akan menjadi tontonan. Pertarungan seru sering terjadi hingga beberapa lama tanpa ada yang mau menyerah. Namun kadang pertarungan bahkan harus diakhiri cuma dalam hitungan detik karena darah mengucur pada sabetan pertama.

Permainan tarung semacam ini tidak hanya terdapat di Lombok. Di sejumlah tempat di nusantara permainan serupa—dengan berbagai varian dan nama yang berbeda tentunya—juga bisa dijumpai. Sebut saja caci, sebuah tari pertarungan dengan menggunakan cambuk dan tameng di Manggarai Nusa Tenggara Timur, atau tinju tradisional di Sumbawa, atau adu sepak di komunitas Tolotang, Sulawesi Selatan. Permainan-permainan ini dilakukan biasanya dalam even-even besar komunitas bersangkutan.

Acara perisaian meminta hujan berlangsung hingga menjelang senja ketika matahari mulai meredup. Orang-orang kembali ke rumah mereka dan grantung kembali ke persemayamannya. Sementara rasa sakit di punggung para petarung barangkali mulai terasa seperih kerinduan tanah-tanah kering pada rintik hujan. Luka dan darah yang terkucur seolah memberi penegasan pada doa dan mantra yang mereka bubulkan demi datangnya hujan.

(Tulisan ini pernah dimuat di majalah GONG)

Iklan

Satu pemikiran pada “Perisaian di Lombok: Mencambuk Langit Demi Datangnya Hujan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s