Yang Kaya Makin Kaya…


Yang kaya makin kaya..yang miskin makin miskin… Lagu ini pertama kali saya dengar ketika saya masih kanak. Barangkali sebelum saya masuk bangku sekolah taman kanak-kanan. Saya lupa persisnya. Masih kecil pokoknya. Setelah saya lacak via google, lagu ini ternyata dibuat Bang Haji sekitar tahun 1980, ada pada album berjudul Volume XI (Indonesia – Yukawi). Lagu berjudul Indonesia itu isunya soal korupsi. Kritik pada korupsi dan kesenjangan sosial, pokoknya begitulah.

Konon lagu itu yang menyebabkan Rhoma Irama dilarang tampil di televisi. TVRI, tentu saja, karena saat itu hanya ada TVRI. Itu kata ibu saya ketika saya tanya kenapa Rhoma Irama jarang muncul di tv. Memangnya kenapa kalau yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin, tanya saya pada ibu. Ibu saya hanya menjawab karena seharusnya tidak boleh seperti itu— bahwa yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Jawaban ibu tidak memuaskan saya. Bahkan saat itu saya berpikir kalau memang seharusnya tidak boleh orang kaya semakin kaya dan yang miskin tak boleh semakin miskin, mengapa orang dihardik ketika menyanyikan itu. Sampai akhirnya saya mengerti bahwa sepanjang liriknya adalah kritik pada perilaku pejabat yang korup. Bahwa kue pembangunan tidak terbagi rata tapi menumpuk pada orang-orang tertentu, bahwa para pejabat negara dan pengusaha bisa kongkalikong menumpuk harta, dan seterusnya.

Kita tahu saaat itu pembangunan memang lagi gencar-gencarnya. Pertumbuhan ekonomi melonjak tinggi. Tinggi sekali. Menurut para perancangnya, memang mulanya hanya akan ada pertumbuhan—bukan pemertaan, pada saatnya nanti akan menetes ke bawah yang artinya orang akan mengalami kesejahteraan. Namun janji itu tak terpenuhi. Yang tejadi justru seperti kata Bang Haji itu: yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Dan itu 20 tahunan yang lalu. Sekarang? Sepertinya sama saja. Mungkin lebih buruk. Dulu setidaknya ada rencana—meski rencananya buruk. Sekarang malah kita tidak tahu mau kemana. Lihatlah betapa orang begitu bingung begitu menghadapai kenyataan gelontoran barang murah cina.

Sekali lagi,usia lagu itu sudah lebih dari 30-an tahun silam. Sudah sangat tua. Tapi terntata kondisi yang digambarkannya ternyata juga tak banyak berubah. Kini orang kaya juga tetap semakin kaya, anaknya bisa sekolah tinggi, mendapat pekerjaan yang berlimpah rejeki, dan kadang kawin pula dengan sesama kaum dari kelas tinggi. Sementara orang miskin semakin miskin karena sekolah kian mahal, berobat juga mahal, anak-anaknya tak mampu naik ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan seterusnya. Korupsi? Jangan ditanya. Itu sudah seperti denyut nadi negeri ini.

Bedanya, kini orang bisa teriak-teriak semaunya soal korupsi. Soal didengar dan diperhatikan atau tidak, itu urusan lain. Kini, orang dengan tenang bisa mendendangkan lagu itu, di kamar mandi atau di panggung-panggung, sembari mengafirmasi kenyataan di depan matanya…

Iklan

2 tanggapan untuk “Yang Kaya Makin Kaya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s