Suara Lain Dalam Keheningan yang Ganjil


null
On The Subject Of ”Java”

null
Abangan, Santri, Priyayi

null

null

Tidak perlu menjadi seorang jenius untuk mengetahui bahwa review tentang buku-buku ini sudah sangat banyak. Nyaris tak terhitung tulisan berbentuk artikel, resensi, maupun buku yang mengulas tentang karya-karya monumental tentang jawa ini. Karena itu, mereview lagi isi buku-buku tersebut seolah hanya akan seperti pekerjaan mengulang yang sia-sia atau bahkan hasilnya bisa jadi hanya akan menjadi sampah yang tak berguna. Tulisan ini, dengan demikian, tidak dimaksudkan untuk itu. Namun akan lebih mengaitkannya dengan soal atau topik tertentu. Dengan kata lain: memberi konteks pembacaan, yakni tentang kesenian rakyat. Kesenian rakyat yang dimaksud tulisan ini adalah seni (bisa seni pertunjukan bisa seni ritual) yang spontan dilakukan oleh kalangan masyarakat sebagai ekspresi perasaaan mereka dalam menghadapi soal-soal kehidupan.

Buku Pemberton yang berjudul On The Subject Of ”Java” ini menandaskan bahwa pengetahuan tentang jawa adalah hasil dari produksi melalui proses sosial yang bekerja dalam sejarah, bukan dari kenyataan alamiah. Dari pengetahuan tentang Jawa inilah kemudian berlangsung pembicaraan rutin soal ”nilai-nilai tradisional”, ”warisan kebudayaan”, dan ”jatidiri”. Nilai-nilai tersebut sedemikian luhur dan agung sehingga harus terus dilestarikan. Keagungan dan keluhuran tersebut dicerminkan melalui serangkaian tata ada, upacara, dan kesenian yang dikategorikan sebagai ”Jawa”. Dalam bentang pengetahuan semacam ini, Orde Baru seturut dengan nalar kolonial. Jawa (dan juga Indonesia Orde Baru) adalah sebuah kebersamaan yang rapih, sebuah harmoni yang indah dengan berbagai tradisi yang harus lestari. Panggung budaya Orde Baru adalah tata tertib yang halus dan tanpa cela. Karena itu, setiap cela, setiap gelaran tanpa order akan segera diluruskan. Sebuah keadaan yang mencerminkan ”nothing happening” (”tidak ada apa-apa”). Orde Baru, demikian Pemberton, adalah tatanan ketertiban dan ketenangan, tanpa hiruk-pikuk tanpa gejolak, sebuah kondisi stabil yang penuh kemapapanan. Kondisi semacam ini hanya bisa dicapai melalui seperangkat kebijakan strategis atas kebudayaan.

Indonesia (atau jawa) Orde Baru hampir pas dilukiskan dengan kata-kata ”tidak ada apa-apa” (nothing happening). Sebuah kesunyian yang ganjil. Ganjil mengingat kondisi sosio-ekonomis yang begitu represif—yang biasanya memicu gerakan oposisi di negara-negara yang disebut sebagai negara berkembang lainnya— juga karena sejarah aktivisme politis Indonesia terutama pada tahun-tahun pasca kemerdekaaan. Di masa Orde Baru, gerak dan dinamika itu diharamkan, dicap sebagai biang kegagalan dan hambatan. Karena itu pula order harus dibangun, dikokohkan, demi kemajuan dan pembangunan. Segala sesuatu yang menjurus pada kericuhan dan keriuhan harus dikikis habis. Demikian pula dengan festival desa di pelosok-pelosok jawa. Di desa-desa jawa pada masa-masa sebelum atau awal Orde Baru selalu menandai upacara bersih desa dengan acara tayub yang ditandai dengan praktik rebutan tari diantara kaum lelaki. Praktik semacam ini tentu tak direstui oleh nalar Orde Baru, karena itu tayub lantas hadir tidak lebih dari tontonan: indah tapi tanpa ekspresi. Salah satu ciri aktivitas kultural pada masa Orde Baru adalah menjadikan khalayak pertunjukan pangggung lebih sebagai kumpulan individu yang menonton tapi tidak berpartisipasi di dalamnya. Kesenian juga harus tampil sebagai cermin ketentraman dan ketertiban itu sendiri, selain –tentu saja—mewakili tradisi masa lalu yang kokoh dan murni serta patut dilestarikan. Lantas yang tersisa adalah budaya yang murni tradisional yang bebas dari implikasi-implikasi politik dan historis, sebuah budaya yang ditujukan demi perayaan tradisi itu sendiri.

Lengger—dalam tataran ternetu juga mencerminkan hal serupa. René. T. A. Lysloff dalam artikel yang berjudul Rural Javanese ”Traditon” and Erotic Subversion:Female Dance Prformance in Banyumas (Central Java) menulis bahwa kesenian Lengger telah mengalami reinvensi demi memenuhi norma dan nilai Orde Baru. Di-reinvensi supaya ”tidak terjadi apa-apa”. Dulunya Lengger adalah ekspresi spontan masyarakat petani desa untuk merayakan kesuburan bumi. Perayaan tersebut selalu ditandai dengan tari erotis permpuan serta minum-minuman keras di tengah keramaian dan sorak-sorai. Sementara para laki-laki penonton berupaya berebut mendapat sampur untuk menari dengan penari lengger. Rebutan –dalam khasanah budaya Orde Baru—adalah sesuatu yang berusaha ditepikan, ditutupi, atau dihapus. Praktik rebutan merupakan peristiwa disruptif atau konflik yang harus dihindari demi stabilitas dan keamanan. Bagi Lysloff, yang terjadi di balik reformasi dan reinvensi lengger adalah benturan antara ”tradisi” keheningan Orde Baru dengan aksi-aksi rebutan tanpa order. Ketika negara berupaya mengontrol demi tradisi nasional, lengger terus mengolah diri dan kadang menyajikan sesuatu yang mengungkapkan bahwa yang terjadi bukannya ”tidak terjadi apa-apa.” Dengan kata lain, lengger tetap berpotensi menjadi—dalam bahasa Pemberton—situs rebutan yang subversif itu. Meski Lysloff memandang bahwa apa yang dilakukan Lenger lebih sebagai upaya untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman, namun di dalamnya tetap mengandung sejumlah aksi resistensi. Dalam hal ini lengger tentu tidak sendirian. Di sejumlah tempat, sebut saja tayub di pesisir uatara Jawa, dombret di Karawang, atau gandrung di Banyuwangi, juga mengalami hal serupa. Masing-masing punya cerita tentang cara mereka sendiri dalam mengelola daya hidup di tengah kepungan proses sosial di sekitarnya.

Keheningan dan ketentraman Jawa yang dikelola Orde Baru sebagaimana digambarkan Pemberton tersebut berdasarkan pada konsep slamet. Slamet dalam pengertian ini adalah situasi ketika segala sesuatu berjalan sesuai dengan tujuan-tujuan pembangunan. Tidak ada kericuhan, tidak ada sesuatupun yang ”menyimpang”. Satu hal yang hampir langsung terhubung dengan konsep slamet ini tentu saja adalah ritus slametan dalam masyarakat jawa. Slametan, pada titik ini, tidak ubahnya adalah perayaan atas keharmonisan dan keselarasan. Slametan dengan tatapan ini adalah ritus yang diandaikan penuh dengan keteraturan. Ia menjadi ruang bersama masyarakat untuk berkumpul dan merawat rasa kangen.

Kendati dipermukaan tampak seperti itu, Andrew Beatty dalam buku Variasi Agama Jawa, Suatu Pendekatan Antropologi memaparkan bahwa betapapun orang bisa berkumpul dan bersepakat dalam ritus slametan, namun di sana terkandung multivokalitas pandangan individu-individu peserta slametan. Orang-orang memang berangkat slametan ke tempat dan waktu yang sama, namun di kepala mereka dan orientasi dan pemahaman yang berbeda tentang slametan itu sendiri. Slametan memang mengandaikan sesuatu yang disepakati bersama namun masing-masing hal dalam slametan itu sendiri bisa dimaknai secara beragam. Orang yang teguh dengan islam, misalnya, akan merujukkan simbol-imbol dalam slametan kepada pengertian-pengertian dalam tradisi islam, sebaliknya kalangan lain bisa tanpa kesulitan mengacukan simbol yang sama pada danyang desa atau leluhur mereka. Di sisi lain, demikian Beatty, kendati hampir semua ahli antropologi jawa sependapat bahwa slametan berada pada jantung agama jawa, namun anehnya sangat sedikit sekali cerita detail tentang slametan ini. Kecuali Geertz—dan dalam tertentu Hefner—, hampir tidak bisa ditemukan paparan rinci menganai slametan ini. Paparan Geertz tentang slametan sendiri dimasukkan dalam bab tentang kehidupan spiritual masyarakat tani atau abangan sehingga menjadi agak kabur. Seperti jamak diketahui, Geertz memilah masyarkat Jawa menjadi tiga kelompok, yakni Abangan, Santri, dan Priyayi. Semantara Beatty menjumpai bahwa slametan dihadiri dengan penuh semangat oleh tiga kalangan dalam kategori Geertz itu, tidak hanya oleh kalangan abangan semata. Bagi Beatty sendiri slametan mengandaikan adanya akomodasi bersama, sebuah sikap untuk saling menerima berbagai perbedaan. Itulah yang terjadi ketika banyak orang—dengan pandangan beragam—berkumpul melakukan sesuatu yang simbolik bersama. Inilah yang disebut dengan rukun. Maka slametan tidak serta merta bisa diangap mewakili sebuah sistem pandangan keagamaan tertentu.

Kerja lapangan Beatty di Banyuwangi Jawa Timur ini menandaskan bahwa nyaris mustahil menemukan ”yang asli” atau kejawaan yang orisinil dalam kehidupan. Apa yang seolah tampak sebagai peristiwa agama jawa ternyata mengandung senyawa islam. Orang bisa berkirim doa kepada Nabi Muhammad sekaligus kepada danyang desa dalam sebuah upacara yang sama di tempat yang sama pula. Menjadi jawa, dalam konteks ini, bisa juga berarti menjadi islam sekaligus juga bisa bukan islam sama sekali. Woodward punya pendapat menarik dalam hal ini. Baginya, berbagai ritus upacara dan tradisi jawa punya akar yang cukup kokoh dalam pengetahuan islam yakni Sufisme. Maka dikotomi antara kejawen (atau abangan) dan islam adalah dikotomi di dalam Islam. Karena itu bisa dikatakan bahwa agama jawa adalah satu dan faktor pemersatunya adalah Islam. Pandangan Woodward ini adalah kritik terhadap tesis utama Geertz bahwa yang melingkupi seluruh sistem kepercayaan tadi adalah Jawa.

Kembali ke soal keheningan jawa, apapun yang dikatakan Woodward, Geertz, dan Beatty bisa dikatakan bahwa jawa dalam pandangan mereka adalah harmoni yang teratur. Sesuatu yang sedemikian halus telah bekerja sehingga keselarasan dan guyub rukun tersebut bisa direngkuh. Soalnya adalah, adakah suara lain selain harmoni? Jika keselaraasan itu memang ada, di atas apakah ia bersandar? Pemberton tidak menjawab soal ini secara lugas, namun ia memberi kita pemahaman bahwa keselarasan itu bisa diciptakan dan dikelola sedemikian rupa sehingga mengokohkan dan mengukuhkan sebuah langgam kekuasaan. Di masa lalu, proses itu dilakukan oleh kekuasaaan kolonial, kemudian dilanjutkan oleh Orde Baru dan terasa jejaknya hingga kini. Slamet —yang dalam tatanan masyarakat pedesaan jawa dikelola dengan ritus slametan tadi— diusung ulang oleh negara sebagai slamet dalam pengertian selamat: lepas dari insiden-insiden yang tak dikehendaki, sebuah keadaan yang tertib dan aman. Maka keamanan lantas menjadi mantra paling mujarab dari negara. Wacana tentang slamet lantas mengacu pada satuan-satuan pengamanan seperti polisi atau tentara yang dicitrakan sebagai para penjaga keamanan dan slamet itu sendiri. Jika masyarakat jawa dengan slametan mengimpikan slamet sebagai kondisi kesejahteraan, maka dalam wacana keamanan slamet lebih diartikan sebagai kondisi tanpa gangguan, tanpa ada sesuatu yang terjadi.

Soal mantra ajaib bernama ”keamanan” ini, terlalu banyak contoh untuk disebut. Bahkan hingga kini jejaknya masih terasa. Sekelompok seniman lngger di sudut Banyumas hingga kini harus bersiasat dengan perkara keamanan ini. Sekadar untuk pentas mereka harus membayar biaya keamanan yang ongkosnya lebih dari honor mereka sendiri. Bagi seni seperti lengger, keamanan memang menjadi sesuatu yang seperti menelikung mereka. Citra sebagai seni yang penuh minuman memabukkan dan rebutan perempuan membuatnya lekat dengan cerita-cerita tentang kekerasan, dan karena itu menjadi sesuatu yang tidak aman.

Apa yang ditunjukkan lengger di Banyumas, adalah sebuah tanda bahwa proses membentuk kepatuhan dan keselarasan tersebut berjalan sebegitu jauh. Di sisi lain, bertahannya Lengger dengan segala keriuhan dan degup seksualitasnya justru menunjukkan bahwa ia tak sepenuhnya bisa ditaklukkan. Pejelasan Pemberton tentang reinvensi tradisi jawa oleh kekuasaan Orde Baru memang melukiskan dengan sangat baik bagaimana berjalannya operasi wacana dalam mengkonstruksi Jawa –sekaligus Indonesia—di masa lalu dan kini. Namun tampaknya ia memang terlampau berlebihan dalam memandang kekuasaan pusat kuasa jawa: keraton, sehingga tidak banyak perhatian terhadap pengalaman-pengalaman yang jauh di luar benteng keraton. Apa yang menjadi kritik sejumlah orang bahwa Pemberton terlalu menggeneralisasi pengalaman masyarakat jawa bisa jadi terafirmasi oleh kasus lengger ini. Lengger—atau Banyumas secara umum—bisa dikatakan adalah jawa ”yang lain” yang berada di luar konstruksi tentang jawa sebagaimana diidamkan kraton. Suara sayup calung yang mengiri lengger barangkali adalah suara lain dari representasi jawa yang tidak tunggal itu. Sebuah suara yang meningkahi ketenangan yang ganjil itu tadi.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Desantara

Iklan

4 pemikiran pada “Suara Lain Dalam Keheningan yang Ganjil

  1. Kunjungan balasan di akhir pekan ke rumah sahabat tercinta, semoga sukses slalu.
    Ridla Allah semoga senantiasa bersama kita. swemoga persahabatan ini menjadi ladang amal buat kita semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s