“Karena Keadilan Adalah Nurani Kita…”


Saat naik bus dari Jombang ke Surabaya beberapa waktu lalu, bus yang saya tumpangi disinggahi sejumlah pengamen, dari yang serius hingga yang ala kadarnya—dari sisi suara maupun kesungguhan mereka mempersiapkan alat pertunjukan. Dari sekian pengamen yang naik, ada satu yang cukup menarik perhatian saya. Bukan orangnya, apalagi suaranya. Secara kurang ajar, pengamen ini hanya bermodal tepuk tangan. Suaranya sungguh tiada terperi buruknya. Dia memainkan sejumlah lagu.Lagu-lagu itu dulu pernah akrab di telinga saya, terutama pada masa-masa menjelang jatuhnya Soeharto.  Lagu-lagu  SPI  yang sering dinyanyikan saat aksi demonstrasi di jalan-jalan (bisa diunduh di sini dan di sini).

Anehnya, meski dengan suara dan penampilan jauh di bawah pas-pasan, banyak juga yang memberinya uang ketika pengamen itu  menyodorkan kantong plastiknya. Saya yakin itu bukan karena mereka terhibur, juga bukan karena terintimidasi dan takut (sebagaimana sering juga terjadi di bus antar kota)  karena tampang pengamen ini sama sekali tidak menakutkan. Saya  menduga—sekali lagi menduga—mereka suka dengan liriknya.  Saya bukan ahli politik, apalagi tukang polling yang bisa (atau merasa) mengetahui aspirasi masyarakat. Saya cuma bisa menduga bahwa barangkali orang mulai ingat orde Soeharto, ingat kalau situasi mereka sesungguhnya belum banyak berubah sejak jaman itu. Lirik lagu pengamen itu sepertinya mampu membangkitkan perasaan bahwa kita tidak sedang hidup di negeri yang adil dan sejahtera…

Turun dari bus, suara jelek pengamen itu terngiang di kepala saya “Karena kemerdekaan adalah jiwa kita,….Karena keadilan adalah nurani kita…”

Iklan

4 tanggapan untuk ““Karena Keadilan Adalah Nurani Kita…”

  1. Cocok sekali dengan kondisi bangsa kita saat ini, Mas. Banyak orang kita yang mulai tidak mengindahkan hati nuraninya sendiri, pura-pura tuli. Keadilan hanya ditegakkan buat si miskin, bukan bagi yang berduit.

  2. Mungkin mereka para penumpang berterima kasih mas, terhibur. soale di tengah dagelan politik para pejabat kita kadang lebih enak di selingi dengan mengingat masa lalu dulu era Soeharto. banyak peraturan yang justru membuat rakyat bingung. mereka bebas melakukan apa saja atas nama rakyat, padahal atas nama wudele dewek … 😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s