Gempa dan Kutukan Tuhan


Setiap ada gempa atau bencana alam lainnya, banyak sekali diperdengarkan seruan untuk mengingat Tuhan. Termasuk ketika gempa mengguncang Jawa beberapa waktu lalu dan Sumatra baru-baru ini. Kita mendengar pula orang mengaitkan amukan alam itu sebagai hukuman, teguran, atau bahkan kutukan Tuhan.  Sejumlah ahli agama bahkan secara terbuka menuduh bencana sebagai akibat dari perilaku masyarakat itu sendiri (lihat di sini). Sebagai upaya untuk mawas diri barangkali itu baik-baik saja. Apalagi jika disertai refleksi tentang cara hidup yang memang sudah tidak selaras dengan alam. Atau jika diikuti dengan semangat nalar untuk mencari jalan agar bencana tidak mendatangkan banyak korban. Tapi kecendrungan untuk melibatkan Tuhan (dan hal-hal mistis lainnya) dalam urusan bencana ini, bagi saya, cukup merisaukan.

Mengatakan gempa—dan bencana alam lain—sebagai buah dari tindakan manusia yang bergelimang dosa menurut saya sungguh tidak bermoral. Logikanya sederhana saja: jika gempa dalah hukuman untuk perilaku maksiat, kenapa mereka yang harus digoyang gempa. Anda tentu bisa menemukan tempat “maksiat” dan “tak bermoral” lain yang aman-aman saja dari gempa dan bencana. Jika bencana dikatakan sebagai hukuman Tuhan, di situ ada nuansa “menyalahkan para korban”. Apakah tidak terpikir oleh mereka yang berseru-seru tentang moralitas itu, betapa para korban sudah cukup menderita akibat gempa lantas masih saja harus dihinggapi perasaan dihukum Tuhan? Pernyataan moralis itu juga seolah mengatakan para korban memang layak menjadi korban. Agama konon mengajarkan empati dan simpati, tapi dalam hal ini tiba-tiba lenyap menjadi setumpuk sikap pseudeo religius. Beberapa waktu lalu saya juga pernah mendengar celoteh tentang luapan lumpur Lapindo adalah karena buruknya moralitas warga di Sidoarjo. Hal-hal sedemikian ini sungguh-sungguh telah menciderai akal sehat.

Kedua, kecenderungan untuk berpikir mistis membuat kita lupa bahwa tugas menjadi manusia adalah berhadapan dengan alam dan manusia lain. Melemparkan urusan alam dan manusiaswi kepada sesuatu yang bersifat supranatural akan membuat kita tumpul pikir. Gempa di Sumatera adalah fenomena alam yang tidak ada hubungannya dengan moralitas. Jauh lebih bermartabat, apabila daya pikir kita dikerahkan untuk mengetahui dan mengatasi berbagai fenomena alam. Masyarakat yang belajar dari bencana ke bencana bisa hidup berdampingan dengan cincin maut di bawah kita. Fenomena alam seperti gempa itu bisa menyadarakan kita betapa kita hidup seperti di atas krupuk yang terapung di atas bubur. Jika demikian halnya, bencana seperti gempa bisa diminimalkan korbannya jika kita mengetahui caranya. Masyarakat seperti Jepang, bisa dijadikan tempat belajar.

Pada dua hal itulah seruan tentang moralitas itu menjadi berbahaya, yakni membuat orang terlena dan menumpulkan nalar kritis. padahal, lebih dari itu, setelah bencana dan semua haru biru tanggap darurat, kita akan berhadapan dengan potensi bencana yang bisa jadi lebih besar: masuknya modal besar dan terkoyaknya jaring sosial masyarakat. Naomi Klein di buku The Shock Doctrine: The Rise of Disaster Capitalism telah memaparkan betapa masyarakat yang tertimpa bencana adalah sasaran empuk lain—di luar masyarakat pasca perang dan kekerasan kudeta—bagi kapitalisme global. Tsunami tahun 2004 silam misalnya, justru melapangkan jalan bagi pemerintah Maladewa dan pemodalnya untuk membangun tempat plesir mewah yang sebelumnya begitu susah didapatkan. Pulau-pulau yang terkena tsunami dinyatakan sebagai tempat yang tak layak ditinggali, namun tiba-tiba sejurus kemudian disulap menjadi tempat wisata mewah bagi para turis. Rekonstruksi pasca bencana—dan perang—juga selalu melibatkan perusahaan konstruktor besar yang pada gilirannya membuat warga kian tergantung pada kekuatan di luar dirinya.

Jadi, mengingat Tuhan—atau kekuatan supranatural apapun yang anda percayai—di saat ada bencana itu bagus-bagus saja. Tak ada salahnya. Secara pribadi anda juga boleh-boleh saja mengaitkan gempa secara kebetulan sama dengan ayat tertentu dalam kitab suci yang anda percayai atau ramalan pujangga idola anda. Tapi menyerukan pada semua orang bahwa bencana adalah hukuman Tuhan karena maksiat dan perilaku amoral saya kira bukan sesuatu yang pada tempatnya…

Iklan

8 pemikiran pada “Gempa dan Kutukan Tuhan

  1. Bencana adalah sebuah cobaan tuhan kepada makhluknya. Alasannya apa? Wallohu a’lam hanya Alloh yang tahu apa alasan dan tujuan dibaliknya.
    Hanya sebagai manusia, kita, maaf sedikit mengutip syair lagu terkadang baru peduli dengan sesama setelah adanya musibah. Mungkin tuhan mengingatkan kita dengan caranya yang seperti ini agar kita bisa lebih peduli dengan sesama.

  2. Allah SWT bebas berkehendak atas sesuatu dan tidak berkehendak atas sesuatu. menurut saya bencana apapun itu bisa saja karena kehendak Allah dan bisa saja bukan karena kehendaknya.

    tulisan bang heru sangat menarik, reflektif.

    dalam urusan gempa, sebab musabbab manusia tidak siap menghadapinya, saya lebih sepakat karena persoalan sistem. saya kira jepang di promotori oleh pemerinat sehingga menjadi kesadaran masyarakat jepang akan negara mereka adalah rawan gempa. kebijakan pemabngunan infrastruktur umum, atau setidaknya pembangunan yang ada IMB nya sudah memprioritaskan antisipasi gempa di sana.

    Indonesia yang juga rawan gempa, kebijakan pembangunan infrastrukur jalan, fasilitas umum, gedung ber IMB, belum dipertimbangkan antisipasi gempa pada prioritas perfencanaan pembangunannya. Indonesia masih kelasnya rebutan kuwe, bagi-bagi proyek pembangunan fisik. ini masih nyata terjadi di daerah, juga di kota besar di Indonesia.

    yang jelas, korban yang banyak yang mati itu jelas hubungannya dengan nyawa, taqdir Tuhan. yang hidup atau kita semua, pemerintah hendaknya menajdi pelajaran yang berharga. harus ada langkah konkrit untuk menghadapinya. terlebih BMG sudah bisa mendeteksi akan terjadi gempa, lalu…apa gunanya….kalau tidak diimbangi dengan langkah menghadapinya, dll.

    salam,

  3. Mengesampingkan gempa karena takdir Tuhan, hukum Alam, kekuatan makhluk gaib, atau murni kejadian geologi. Masyarakat di Indonesia haruslah sadar bahwa gempa di Indonesia tidak terjadi 1 atau 2 kali tetapi sering kali sehingga haruslah disimpulkan bahwa Indonesia rawan gempa dan siap menerima gempa selanjutnya. Dari situ haruslah ada pembelajaran ke masyarakat untuk mengetahui kiat-kiat apa dalam menghadapi gempa agar kerugian materiil atau non materiil bisa dieliminir.

  4. iya saya juga ga setuju sama org2 yg apa2 dihubungin sama tuhan.. terkesan kyk lepas tangan aja pdhl sbnrnya andil manusia thdp banyaknya korban jg byk.. contoh: tmn saya yg kerjanya ngurus2in ginian bilang sbnrnya korban itu byk bgt di padang karena byk bangunan yg emang strukturnya lemah tapi tetep dibuka utk umum.. skrg kl mereka meninggal, apa ini kesalahan mereka? ga kan..

  5. walaupun masing2 dr kita punya keyakinan yg kuat terhadap kekuasaan Tuhan yg mampu melakukan segalanya,
    bukan berarti apa yg berupa bencana lantas dikaitkan dgn kutukan,
    Tuhan tdk seperti apa yg kita nilai, DIA maha penyayang dan Pengasih,
    tdk akan menzalimi hambaNYA, kalau bukan hambaNYA yg menzalimi diri sendiri.
    Ini, bisa dikaji dgn berbagai bencana yg menimpa negeri ini, krn ulah tangan manusia sendiri, dgn pembalakan hutan yg gila2an mengakibatkan banjir, dan gempa sendiri hendaknya kita bekali diri dgn segala pengetahuan ttg penanggulangan nya belajar dr negara yg terbiasa mengalami seperti jepang.
    salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s