Tikus


Tikus, bagi saya, adalah binatang paling menjijikkan yang pernah dihadirkan proses evolusi—atau, kalau mau sedikit relijius, yang pernah diciptakan Tuhan. Sialnya, makhluk kecil ini justru yang konon paling mudah beranak-pinak dan paling senang hidup bersama manusia.

Mulanya, tak ada tikus di rumah saya. Tapi beberapa waktu setelah saya mendiami rumah ini, tikus-tikus itu mulai berdatangan. Lama-lama makin banyak dan makin menyebalkan.Barangkali mereka mulai punya anak dan cucu. Malam atau siang mereka selalu menciptakan acara pesta di atap rumah. Suaranya gedebukan tidak karuan. Suara-suara itu tidak terlalu menganggu, yang mengganggu justru ketika salah satu atau salah dua di antara mereka menampakkan diri di ruang tamu, di dapur, atau di ruang makan. Saya kadang berpikir, tikus-tikus itu tidak hanya mengandalkan naluri tapi juga mulai mengembangkan otaknya. Sebab mereka mulai pintar membuka pintu, mengangkat tudung makan, dan semacamnya.

Beberapa hal sudah saya lakukan untuk mengusir tikus-tikus ini, misalnya dengan menabur kopi. Cara ini tidak menyenangkan, disamping bekasnya jadi kotor, kopinya juga terlalu sayang dibuang-buang begitu saja. Efeknya? Tidak cukup ampuh. Barangkali kafeinnya malah menambah gairah sang tikus. Cara lainnya adalah dengan menabur kapur barus. Anak saya sering menyebutnya “permen untuk tikus,” tapi juga tak banyak membantu. Saya malas memasang jebakan atau racun, karena esoknya harus berhadapan face to face dengan tikus—padahal ini yang selalu saya hindari dalam hidup ini, selain berbuat dosa dan maksiat tentu saja (hehe). Saya mencoba mencari alat elektronik pengusir tikus seperti yang pernah saya lihat di rumah teman. Konon alat itu mengeluarkan bunyi (yang frekwensinya tidak bisa ditangkap telinga manusia) yang tidak disukai tikus. Mungkin bunyinya berupa lagu atau suara yang membuat tikus bersedih, terharu, lemas, hingga tidak lagi mempunyai optimisme untuk melanjutkan kehidupannya. Atau mungkin alat itu mengeluarkan suara-suara seperti pidato politik atau ceramah yang menjemukan. Saya belum menemukan alat itu. Saya cari cara lain. Akhirnya bertemu dengan petunjuk tentang penggunaan jangkrik. Konon, suara jangkrik juga tidak disukai tikus. Barangkali tikus dibuat geli dengan suara krak-krik-krak-krik itu. Atau mungkin suara jangkrik terdengar seperti suara ular (waktu kecil saya suka menangkap jangkrik di sawah dan harus pandai memilah suara jangkrik dan suara ular). Entahlah, yang jelas beberapa hari ini tikus-tikus itu mulai jarang menampakkan diri. Paling banter, terdengar grudak-gruduk di atap. Sayangnya, usia jangkrik saya tidak terlalu lama. Ada yang mati, ada juga yang lari dari kotak kecil bekas kue dan mainan yang saya pakai untuk mengandangkannya. Saya melobangi kotak-kotak itu terlalu besar. Untunglah di dekat rumah ada pasar yang setiap pon (ini nama pasaran jawa selain wage, kliwon, paing, dan legi) ada orang jualan jangkrik. Jadi, kalaupun mati atau hilang, saya segera bisa dapat gantinya. Sejauh ini upaya jangkrik berhasil, saya tidak tahu apakah dalam beberapa hari ke depan tikus-tikus itu akan mulai bisa beradaptasi dan mulai menginvasi rumah saya lagi.

Tikus juga termasuk hama dan musuh petani yang susah dibasmi. Konon, tikus-tikus itu adalah jelmaan tentara kanjeng ratu kidul, sehingga banyak petani yang rela saja padinya dilahap tikus. Mungkin itulah sebabnya tikus sering dipanggil dengan sebutan “den baguse..” atau bisa juga sebutan itu terbit karena sifat tikus yang dengan enak saja mengambil makanan kita tanpa permisi (mirip tuan-tuan dan den bagus itu…)

Di beberapa tempat di jawa, kata jangkrik populer menjadi makian (juangkkrik!!!), tapi saya jarang orang memaki dengan kata-kata “tuikuss!!!”. Meski begitu, kata tikus sudah bersemayam dengan sifat menjijikkan manusia: ia menjadi lambang untuk para koruptor dan maling. Barangkali karena tikus begitu pintar mencuri, barangkali pula karena menjijikkan. Sayangnya, kendati sudah dilekati kata dan sifat tikus, tetap saja tidak banyak yang jijik dengan koruptor. Mereka tetap bisa melenggang hidup terhormat di tengah masyarakat. Bahkan ada yang menjadi ketua umum organisasi olahraga, ada yang mau mencalonkan diri jadi ketua partai, dan seterusnya. Untuk jenis tikus yang satu ini, tidak mungkin diusir dengan suara jangkrik…

Iklan

7 tanggapan untuk “Tikus

  1. Itu masih di Jogja yang notabene kota pelajar dan masih berhati nyam-nyam. Coba kalau harus hidup di daerah padat di Jakarta. Bukan hanya tikus, tapi tikus besar, kucing, sampah, dan sanitasi yang buruk.

    di komplek DPR tempat para wakil rakyat terhormat juga banyak tikus. tidak tahu apakah mereka merasa nyaman dekat dengan teman atau apa.

    Jakarta kayaknya sudah jadi kerajaan tikus dan meong. anehnya, si meong akan tetap tidur walaupun tikus mencari makan didekatnya. apakah ini menyindir juga?

  2. Aku pun merasa jijik dengan tikus. Tapi kalau mau sedikit relijius, sesungguhnya tak ada ciptaan-Nya yang sia-sia. Paling tidak hewan ini selalu jadi bahan percobaan di lab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s