Penceramah dan Intelektual


Mumpung lagi jaman puasa saya mau cerita soal yang sedikit banyak ada kaitannya dengan puasa. Dua tahun lalu, ketika saya baru menempati rumah saya, saya adalah orang baru di lingkungan ini. Entah karena kesan apa, orang-orang (atau sebagian) di sekitar tempat tinggal saya mengira bahwa saya adalah orang yang pintar ilmu agama. Ini dibuktikan ketika ada undangan dari masjid untuk meminta saya menjadi penceramah. Saya tentu kaget bukan alang kepalang. Bukan apa-apa. Saya jelas bukan seorang ustadz apalagi kyai. Bahkan saya bukan santri. Tentu kalau dalam kategori Geertzian saya masih merasa cukup pede untuk menyebut diri sebagai kaum yang disebut santri itu. Minimal, saya pernah ngaji kitab kuning. Meski cuma sedikit dan tidak terlalu kuning sebenarya. Saya tidak kuasa menolak permintaan itu. Soal materi ceramah, bisa dicari. Toh, di mana-mana, yang namanya ceramah kan intinya soal mengajak orang berbuat baik dan tidak melakukan hal buruk. Tapi karena saya bukan penceramah profesional, ya akhirnya performance saya tidak memuaskan. Buktinya, tidak ada undangan ceramah lagi sesudah itu. lagipula, waktu itu, saya memang tidak berceramah. Lebih tepatnya, tidak mau. Ketika di podium, saya merasa aneh. Merasa salah tempat. Untunglah, begini-begini waktu di sekolah di SMA saya sekali dua kali menceramahi teman-teman saya saat ada sesi kultum pagi. Sampai kini saya juga tak sepenuhnya mengerti kenapa kawan-kawan saya itu mau saja saya ceramahi. Jadi, malam itu saya masih bisa menyampaikan satu atau dua hal yang pasti bisa diterima akal sehat, sambil mengutip satu atau dua ayat atau hadis—yang juga sama masuk akalnya.

Terus terang saya kagum pada kemampuan sebagian penceramah. Tentu tidak semua penceramah. Kebanyakan penceramah agama malah lebih punya kemampuan menciptakaan rasa kantuk, kalau bukan sakit hati, daripada memberi pencerahan. Saya kagum juga bukan pada isi ceramahnya (hehe), tapi betapa mereka bisa dengan tenang bisa menyambungkan diri dengan khalayak. Semalam, misalnya, saya mendengarkan ceramah seorang anak muda yang dengan lancar menyambungkan diri dengan dunia pendengarnya. Saya kira tidak banyak yang mampu menyambungkan diri dengan khalayak serta memahami apa yang dirasakan masyarakat. Di negeri ini banyak intelektual, kaum cerdik pandai, yang seolah berada di  dunia sendiri. Saya hampir yakin, tak banyak yang bisa berkomunikasi dengan baik ketika berhadapan masyarakat bawah yang berpikiran sederhana. Bisa jadi ini karena kultur dunia intelektual kita yang sejak jaman Majapahit menempatkan elite intelektual di  menara gading, di dunia sendiri yang hampir tidak nyambung dengan masyarakat. Dulu, Gramsci pernah menyebut tentang intelektual organik. Sejenis intelektual yang hidup dan merasakan betul gerak hati masyarakat. Saya tentu tidak sedang menyebut para penceramah itu sebagai intelektual organik. Jelas bukan. Tapi saya hendak memaksudkan bahwa kemampuan yang dipunyai penceramah di desa-desa itu—yakni dalam hal memahami gerak hati dan problem masyarakat yang dihadapi—, adalah kemampuan yang semestinya dimiliki para intelektual –apalagi yangmenyebut dirinya intelektual organik.

Oya, bicara soal penceramah, belakangan ini  saya dengar ada kabar tentang polisi yang hendak mengawasi para penceramah agama. Sepertinya ada cara pikir pemerintah yang belum juga berubah sejak jaman Eyang Gubernur Jenderal Mur Jangkung: mengawasi dan mengawasi….

Iklan

2 tanggapan untuk “Penceramah dan Intelektual

  1. Syukur mas di undang untuk ceramah agama tapi belum mampu. Ini mungkin suatu petunjuk dari Allah swt bahwa mas layaknya jadi ustazd atau dai.
    Sekarang pemerintah mengawasi para penceramah karena takut kepada teroris, padahal ceramah agama ya pencerahan tentnag agama bukannya teroris. Memang kadang-kadang pemerintah terlalu curiga kepada Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s