Memuseumkan NU


Saat  jalan-jalan  di Surabaya beberapa waktu lalu, saya bersama teman-teman menginap di markas kawan-kawan FLA. Pagi hari, kami  mencari warung kopi, kami berjalan di jalanan sekitar mesjid akbar surabaya. Saya melihat gedung yang di atasnya berjudul museum NU. Mulanya saya tidak percaya jika itui benar-benar sebuah museum. Bagi nalar saya, ini berdasar kebiasaan, museum selalu diperuntukkan untuk sesuatu yang sudah tiada. Sesuatu yang tidak bisa lagi ditemukan dalam hidup sehari-hari. Misalnya, mueseum hewan purba, museum diponegoro, museum pusaka, dan lain-lain.  Tapi NU? Setiap hari kita masih bisa merasakan kehadirannya. Maka nama museum NU itu dengan sendirinya menjadi tidak lazim. Tapi tak apalah. Barangkali para pembuat museum ini sedang berpikir tentang pusat dokumentasi NU tapi tidak menemukan istilah lain kecuali museum.

Pagi itu, saya dan kawan-kawan, dengan antusias masuk ke dalam museum. Barangkali, bagi saya, ini adalah satu-satunya museum yang secara “sukarela” saya masuki. Selebihnya saya selalu masuk museum jikalau ada tugas sekolah.Setelah membubuhkan tanda tangan, kami mulai masuk ke ruangan demi ruangan. Sebelumnya, kami sempat menanyakan apakah boleh memotret di ruangan museum itu. Ternyata tidak boleh, tanpa petugas itu tahu alasannya ketika kami tanya. Ia hanya menjawab itu semacam perintah dari atasannya. Kami sempat berpikir jangan-jangan atasannya melarang orang memotret karena demikianlah yang lazimnya sebuah museum.ah, tapi pikiran itu seperti menyepelekan orang NU yang sudah membangun tempat megah seperti ini. Tentu mereka tahu alasan kenapa kamera haram masuk museum. Barangkali saja karena di dalam museum ini sudah banyak potret. Terlalu banyak malah. Jumlahnya melebihi bentuk-bentuk koleksi yang lain. hampir di semua lorong dan ruang selalu ada potret diri dan lukisan. Apalagi kalau bukan potret dan lukisan diri para kyai dan nyai tempo dulu.

Di antara foto-foto itu, yang paling sering menyergap mata kita adalah foto mbah Hasyim Asyari, kiai Wahid Hasyim, dan Gus Dur—tentu saja. Barangkali karena tiga orang inilah yang paling dikenal oleh orang di luar tentang kiai NU. Selain foto, ada jubah, sepeda, pakaian para kiai jaman dulu dan kitab-kitab kuning di fase awal islam di jawa. Ada pula kliping koran tentang sepak terjang NU di masa lampau. Selebihnya, ya itu tadi, kumpulan potret kiai dan peristiwa-peristiwa menyangkut NU di masa lalu. Kebanyakan tidak terlalu istimewa, hampir semua foto itu bahkan bisa dijumpai di tempat orang-orang yang berjualan foto saat mukatamar NU atau khaul kiai besar.

Kendati demikian, ada sejumlah foto yang relatif baru yang menurut saya memang layak dimuseumkan. Foto itu terpampang di lantai dua. Foto ketika para elite NU seperti Hasyim  Muzadi, Gus Dur, Alwi Sihab, Matori, dan lain-lain salinng mengangkat tangan saat momen istigotsah akbar di Surabaya. Atau foto Matori Abdul Jalil yang menangis di pangkuan Gus Dur saat kampanye PKB di awal tahun 2000an. Peristiwa-peristiwa beberapa tahun lalu itu barangkali saja memang sudah layak dimuseumkan karena memang sudah terasa sangat lama dan nyaris tak akan pernah terulang lagi.

Satu lagi yang menarik sekaligus mencekam adalah bekas pakaian banser bernama Riyanto yang teronggok di sudut ruangan. Di atasnya terpajang foto mengerikan saat kepalanya pecah terkena bom di Gereja Pantekosta ‘Eben Haezer’ Jalan Kartini, Mojokerto pada peristiwa bom natal tahun 2000 . Di semua benda di museum ini, barangkali seragam banser inilah yang paling bisa menjadi ikon museum NU ini.  Apalagi, kini banyak orang mulai melupakannya.

Foto lain yang menarik adalah foto para peremuan NU berlatih perang. Salah satu foto bahkan menunjukkan ada satu perempuan berkerudung yang tengah menyiapkan senjata apai dengan mata tertutup. Tidak ada kesan kaku pada foto-foto itu. semua tampak gagah dan sigap.

Di lantai dua ini pula terdapat satu meja yang diklaim sebagai meja yang digunakan saat kongres sarbumusi. Sebuah organisasi buruh underbouw NU. tidak pernah jelas benar nasib organisasi ini dan perhatian Nu di masa kini pada isu  buruh. Padahal sebagian besar buruh—apalagi buruh migran—adalah orang-orang NU. barangkali karena NU adalah organisasai milik para kiai, bukan milik buruh atau petani.

Selain keempat benda di atas—foto Matori yang menangis di pangkuan Gusdur, baju seragam banser Riyanto, foto muslimat NU yang berlatih perang, dan meja sarbumisi—tidak banyak benda di museum ini yang bisa membuat kita merenungkan NU di masa lalu, kini, dan masa depan….

Iklan

2 pemikiran pada “Memuseumkan NU

  1. Ha ha ha, menarik juga adanya museum itu. barangkali akan lebih baik jika museum itu dijadikan musem nasionalnya NU. akan sangat menarik jika mseum itu menampilkan NU di masa lalu ketika menjadi partai politik. kayaknya NU tidak akan pernah jadi parpol lagi. selain itu, kyai-kyai NU yang sudah bertobat tidak akan main dukung-mendukung parpol, pilgub, pilbup, dan pil-pil lain juga perlu di pampang. Bicara NU, menurut saya tak akan ada habisnya, mulai dari yang unik-unik hingga yang aneh-aneh ada di disana. he..he..he…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s