Omar Khayyam dalam Nostalgia Masa SMA


Semalam seorang kawan lama saya menelpon dan mengajak bertemu bersama kawan-kawan SMA lainnya di sebuah warung makan. Tentu bukan karena akan ada makanan—yang bisa jadi gratis itu—saya pergi menembus malam menemui mereka. Sudah lama saya tidak bertemu mereka sehingga ada keinginan untuk memenuhi rasa kangen. Ketika akhirnya saya menjumpai mereka dan berbicara tentang berbagai hal—yang topiknya tidak pernahkeluar dari kenangan masa sekolah—saya mendapati bahwa yang menyatukan kami tadi malam adalah kenangan. Yakni kenangan pada masa-masa sekolah yang oleh lagu Obbie Messah menjadi begitu syahdu itu (meski bagi saya tidak, karena lebih banyak berisi kenangan konyol hehe).

Kami mengenang kelakuan guru-guru kami yang semalam terasa menjadi begitu lucu dan ajaib. Tentang guru Kimia kami yang menjadikan pelajaran Kimia yang sudah sulit itu menjadi terkesan lebih rumit lagi, tentang guru Matematika yang membuat Matematika menjadi semakin mencemaskan, tentang guru olah raga yang secara kurang ajar kami juluki Osella karena kerap berdiri di pinggir lapangan basket sambil membawa payung, atau tentang guru Bahasa Indonesia kami yang justru membuat kesan bahwa berbahasa Indonesia itu kering kerontang. Sebagian tentu bukan salah guru-guru kami, tapi karena memang mereka harus mengajarkan hal-hal ajaib yang dibuat tidak menggairahkan itu.

Saya akan beri ilustrasi begini. Ketika kita sekolah di SMA, atau bahkan di jenjang sebelumnya, kita sudah dikenalkan dengan dunia Sastra. Tapi benarkan pelajaran Bahasa Indonesia mengajarkan Sastra? Seingat saya tidak. melalui ingatan saya yang pendek ini, pelajaran Sastra yang saya ingat hanyalah menghapalkan nama pengarang buku dan kapan buku itu diterbitkan tanpa pernah benar-benar memahami apa isi karya itu. Paling banter, kami hanya diminta membaca sinopsis dan menghapal jalan utama cerita. Tidak lebih. Kalaupun ada buku Sastra yang saya baca ketika SMA—yang juga tidak banyak—itu karena saya mendapatkan sendiri di tempat lain. Tidak pernah ada tugas membaca novel untuk direview seperti yang saya lihat di film-film remaja dari negeri seberang. Tentu ini sebagian bukan salah guru kami. Betapa tidak, kami—yang masih remaja dan baru mengerti hidup itu—harus dijejali dengan tuntutan kurikulum yang sangat mengancam. Apalagi ketika duduk di kelas tiga. Saat ini konon kondisinya lebih menyeramkan karena ada yang namanya Ujian Negara.

Begitulah, setiap mata pelajaran menjadi kehilangan daya magisnya. Pelajaran Bahasa Indonesia, misalnya, bagi kami—atau setidaknya saya saat itu—hanya menjadi lubang penting untuk meningkatkan nilai kumulatif karena saya lemah pada pelajaran Matematika. Sewaktu SMA saya tidak pernah mengerti bahwa ilmu Kimia bisa sedemikian mengasyikkan ketika dibaca melalui cerita tokoh-tokoh penemunya yang pada awalnya dianggap sebagai penyihir dan kaum bidaah itu—yang artinya kita sebenarnya juga sedang belajar sejarah peradaban dan Teologi. Matematika juga bisa sedemikian menggetarkan ketika misalnya kita diberitahu bahwa angka nol pernah begitu ditakuti karena dianggap sebagai angka iblis—dan, sekali lagi, ini artinya juga belajar sejarah Teologi—atau ketika Matematika dipelajari sambil membaca kisah Omar Khayyam yang pemabuk itu menemukan lambang X untuk bilangan atau unsur yang tidak diketahui dalam aljabar. Dan masih banyak lagi kisah-kisah menggetarkan yang bisa dijumpai dalam Sastra, Sejarah, dan Teologi yang bersaling sengkarut dengan Matematika, Kimia, Biologi, dan Fisika. Sayang sekali, saya—atau kebanyakan dari kita—melewatkannya karena diburu dan diteror oleh tuntutan kurikulum pendidikan yang selalu membawa rasa cemas itu.

Semalam saya tidak membicarakan ini semua pada kawan-kawan saya itu, tapi pertemuan dengan mereka membangkitkan ingatan saya tentang semua ini.

Iklan

3 pemikiran pada “Omar Khayyam dalam Nostalgia Masa SMA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s