Caleg Jadi Dokar


Salah satu partai besar yang di selalu menjadi pemenang pemilu di masa lalu, menggunakan nada lagu “happy birthday” dalam iklannnya di TV untuk mengajak orang-orang mencontreng partainya. Anak saya, Kaka, karena perbendaharaan kosakatanya yang masih terbatas sering menirukannya dengan berteriak-teriak, “caleg jadi dokar…caleg jadi dokar…” Saya tentu cuma tertawa geli dan tidak lantas memberitahunya bahwa yang jadi dokar bukan caleg, tapi partai hehehe…

Partai jadi dokar? Barangkali demikian. Sebab kini partai hanya diperlakukan sebagai kendaraan agara para caleg untuk bisa meraih kursi. Dulu, ketika belajar ilmu politik, saya diberitahu bahwa partai politik adalah sebuah lembaga yang dibuat untuk menampung orag-orang dengan aspirasi serupa, dengan ideologi sama, agar kepentingannya bisa diwujudkan sebagai bagian dari kepentingan publik. Masing-masing partai politik, dengan demikian, punya ideologi dan karakter politik yang khas. Orang bisa memilih partai tertentu untuk mengekspresikan sikap politik tertentu pada isu tertentu, misalnya.

Kini, adakah yang berbeda dari sekian banyak partai yang berebut suara di pemilu 2009 ini? Sepertinya tidak. Kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana sikap partai pada isu tertentu. Partai-partai ini menawarkan caleg yang serupa. Caleg-caleg itu bisa masuk ke partai manapun. Persis seperti orang naik angkot. Angkot manapun yang lewat, bisa ia naiki untuk sampai ke tujuan. Sejumlah orang yang menjadi capres juga menunjukkan gejela serupa. Bahkan ada oang yang terang-terangan mengatakan bisa memakai partai apa saja dengan ideologi apa saja. Inilah calon mengambang dalam arti yang sebenarnya.

Di masa orde baru, kita pernah mendengar tentang massa mengambang. Kini, yang mengambang justru para caleg. Posisi mereka persis seperti foto-foto memuakkan yang tergantung di pohon-pohon di pinggir jalan itu (ah, betapa busuk mereka yang merusak pohon itu): tidak mengakar sekaligus juga bergantung pada sesuatu yang lebih besar, barangkali pada para pemodal yang menyokongnya. Lalu masihkan ada yang berani mengatakan bahwa caleg-caleg itu adalah tulang punggung demokrasi di negeri ini? Barangkali mereka memang tulang punggung yang sesungguhnya. Menjadi tulang punggung artinya tidak punya kepala—dengan demikian tidak punya otak—serta tak punya kaki untuk berpijak ke bumi….

Iklan

6 pemikiran pada “Caleg Jadi Dokar

  1. caleg sekarang emang keterlaluan ternyata hampir semuanya bukan berniat buat mewakili rakyat tapi hanay demi sebuah kursi alias kedudukan alias maraup uang yang melimpah

    semoga Allah melaknat mereka yang mempunyai niat seperti itu dan diberikan siksaan serta penyakit sehina mungkin didunia ini

  2. Caleg mengambang? Mungkin saja, tapi ada partai tertentu yang cukup baik, khususnya yang berbasis kader. Yang repot kalau capres yang mengambang…. Sekarang ada capres tertentu, mengancam, kalau partainya tidak mencalonkannya jadi capres maka ia akan mencari dukungan dari partai lain…. Mungkin ini yang anda maksud?

    terimakasih, salam kenal….

  3. begitulah, kebanyakan caleg tidak mengakar pada masyarakat. okelah,mungkin ada satu dua caleg yang berangkat dari bawah.
    calon presiden juga menunjukan gejala serupa, asal didukung partai, mereka akan maju. dan partai ini bisa partai apa saja, tanpa peduli basis idelogi dan massanya. lalu apa itu kalo bukan calon mengambang?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s