Memilih Tidak Memilih


Seorang kawan saya pernah menulis “memilih tidak memilih” di statusnya di facebook. Saya tidak tahu persis apa maksudnya, tapi saya menduga itu berkaitan dengan pemilu. Di pemilu nanti saya juga sudah berketetapan hati untuk memilih tidak memilih. Biasanya, mereka yang masih percaya pada demokrasi prosedural, akan mengecam sikap ini sebagai apatis dan tidak memberi sumbangan pada perubahan. Tapi apa memilih lantas akan membuka jalan perubahan? Dengan pilihan yang ada sekarang, saya ragu.

Saya akan memberi sedikit penalaran atas sikap saya dengan cara begini: Memberikan suara pada pemilu besok bagi saya hanya akan melanggengkan apa yang sekarang sudah ada serta melenggangkan orang-orang yang duduk di kursi empuk parlemen. Saya tidak pernah diyakinkan—termasuk melalui kampanye-bahwa orang-orang ini akan berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat.

Oleh banyak kalangan golput dianggap sebagai perilaku apatis dan sia-sia. Benarkah golput adalah sikap apatis? Biasanya gejala golput ini muncul d kalangan orang yang melek informasi atau terdidik. Di kalangan pelosok dan pedesaan juga banyak golput, tapi biasanya lebih karena tidak terdaftar, sibuk bekerja sampai tidak sempat datang ke TPS, atau surat suaranya rusak. Sementara sebagai sikap politik, golput terjadi di kalangan kelas menengah terdidik. Mengapa? Barangkali salah satu penjelasannya adalah karena kalangan terdidik inilah yang banyak mendapat informasi tentang perlaku busuk anggota parlemen dan busuknya proses politik pemilu itu sendiri. Di kalangan ini, golput sejatinya adalah suara protes. Golput harus dilihat sebagai kritik terhadap sistem dan orang-orang yang berlaga berebut kekuasaan itu. Saya menduga, jika protes golput ini semakin besar orang akan mulai berpikir ulang tentang budaya politik yang ada. Minimal, ia akan mengubah bagaimana elit politik—misalnya—memandang massa. Besarnya suara golput akan memaksa para caleg untuk bekerja lebih keras meyakinkan masyarakat bahwa ia layak dipilih.

Sayangnya, gejala—saya kira golput belum menjadi gerakan—golput ini sekarang masih ditanggapi secara konyol oleh elit politik. Saya ingat beberapa waktu lalu tindakan dungu dilakukan oleh sebuah partai berbasis massa santri: mengumpulkan sejumlah kiai untuk mengeluarkan fatwa haram bagi golput. Alih-alih memperbaiki diri agar orang percaya dan mau memberi suara, mereka malah sibuk menakut-nakuti rakyat dengan ancaman dosa. Satu kotak dengan hal ini adalah fatwa haram golput oleh MUI. Sejak jaman Firaun, para pemuka agama yang dekat dengan kekuasaan memang selalu menakut-nakuti masyarakat agar kekuasaan tetap langgeng di tangan orang atau kelompok tertentu.

Jika memang para caleg itu merasa dirinya layak dipilih, tentu mereka tak perlu takut dengan golput. Untuk layak dipilih, mereka harus bekerja lebih keras, menunjukkan pada masyarakat bahwa ia memang bekerja untuk rakyat.

Golput adalah sikap rasional dari mereka yang melihat tidak ada pilihan layak. Pada pemilu 2004 silam saya pernah diceramahi habis-habisan oleh seorang kawan saya untuk memilih di pemilihan presiden. Sebab, katanya, dengan tidak memilih, saya telah “tidak berbuat apa-apa” untuk perubahan. Saya bergeming dengan sikap saya, karena memang saya tidak cocok dengan semua calon yang ada. Tidak ada “yang terbaik di antara yang buruk”. Namun di putaran kedua, kawan saya ini justru yang memilih golput karena calonnya sudah keok di putaran pertama. Entah lenyap kemana slogan “yang terbaik di antara yang buruk”, yang dulu dia hamburkan itu.

Sekali lagi, tidak memilih, jutsru menunjukkan sikap bertanggungjawab—di tengah tidak adanya pilihan yang pantas—untuk tidak menyerahkan kewenangan kepada mereka yang tidak layak. Golput harus ditempatkan sebagai perjuangan jangka panjang memperbaiki budaya demokrasi di negeri ini…

Iklan

2 pemikiran pada “Memilih Tidak Memilih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s