Adakah yang bisa diharapkan dari Pemilu?


Beberapa waktu lalu saat saya pulang kampung, saya bertemu dengan kawan lama saya yang dulu sering kongkow di musholla, mengajar mengaji, dan sejenisnya. Dari banyak hal yang kami obrolkan, salah satunya adalah mengenai pemilu dan para caleg. Salah satu ceritanya adalah  apa yang ia sebut dengan “proposal partisipasi,” persis setelah saya menanyakan kabar tempat anak-anak kecil mengaji setiap sore di kampung kami. Rencananya, tempat itu akan dipugar, diperbaiki, dan oleh karena itu butuh biaya yang tidak sedikit. Apa yang ia sebut dengan “proposal aspirasi” tadi adalah meminta dana pada para caleg, atau satu caleg tertentu untuk memperbaki tempat mengaji. Bagi teman saya ini, permintaan dana itu sah dan memang seharusnya. Sebab mereka akan memberikan suaranya pada caleg itu di pemilu mendatang.

Di waktu lain dan di tempat lain, saat saya mengikuti pertemuan RW di tempat tinggal saya, saya mendengar, di antara pidato sosialisasi cara memilih pada pemilu nanti, pesan untuk memberikan suara pada caleg yang tidak hanya memberi uang atau beras, tetapi memberikan sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Namun yang disebut “berguna bagi masyarakat” itu ternyata adalah sumbangan untuk acara-acara desa seperti merti dusun dan sejenisnya.

Saya tidak tahu cerita di tempat lain, tapi kalau dicari saya yakin ada  kisah serupa dan  sudah menjadi kelaziman. Apa yang bisa disampaikan dari hal-hal semacam ini? Bagi saya yang bukan ahli politik ini, setidaknya ada dua hal. Pertama, praktik semacam itu akan melanggengkan apa yang secara normatif disebut dengan money politics. Nyaris semua partai peserta pemilu menyatakan anti money politics—mungkin karena takut partai lain lebih banyak duitnya—sembari terus melakukannya, baik terang-terangan maupun tidak. Ongkos untuk membiayai apa yang disebut  dana aspirasi itu pasti tidak sedikit. Itu pasti membuat para caleg harus menampung apa yang disebut investor politik—para penyandang dana yang tentu juga punya kepentingan. Kemana para caleg nantinya akan mengabdi?Pada para pemilihnya atau para penopang dananya? Tak perlu menjadi ahli politik untuk bisa memberi jawabannya. Praktik korup sepanjang lima tahun terakhir ini di parlemen sudah memberi jawaban

Kedua, hal di atas paling tidak menunjukkan betapa lemahnnya posisi pemilih dihadapan caleg dan betapa masyarakat belum bisa merumuskan kepentingannya sendiri secara lebih mendalam. Apa yang mereka sebut aspirasi ternyata baru sebatas menanggap wayang, membangun jalan desa, memperbaiki musolla, dan sejenisnya. Tidak lebih. Tidak, atau belum ada, yang mencoba merumuskan agenda-agenda programmatik berjangka panjang dngan para caleg. Sekali diberi sumbangan, suara diberikan, kemudian diam selama lima tahun ke depan. Apakah ini yang disebut dengan partisipasi? Saya kira tidak. Para calon pemilih ini telah menjual suara mereka dengan murah, sangat murah. Seorang kawan pernah membisiki saya: tapi inilah yang bisa dilakukan para pemilih untuk memaksa caleg melakukan sesuatu yang berguna bagi mereka. Jika tidak sekarang, kapan lagi para elite politik itu mau memberikan hal berguna bagi masyarakat? Dan berguna tadi, sekali lagi–dan sayang sekali–ternyata cuma memberi sumbangan untuk nanggap wayang, membangun musholla, jalan, dan sejenisnya…

Lalu, adakah perubahan yang bisa diharapkan dari proses politik semacam ini?

Iklan

Satu tanggapan untuk “Adakah yang bisa diharapkan dari Pemilu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s