Pak Blatter, Mohon Bekukan Saja PSSI…


Saya termasuk penggemar sepakbola. Kegemaran saya menonton sepak bola sudah tertanam sejak saya masih kecil. Saya masih ingat ketika dini hari saya bangun untuk nonton final piala dunia 1986, menyaksikan aksi maradona yang legendaries itu. Saat itu usia saya belum genap sepuluh tahun. Saya juga gemar menonton timnas Indonesia sejak kecil. Tentu dengan disertai perasaan yang meletup-letup. Didik darmadi, nomor punggung tiga adalah idola saya. Saya tak ingat kenapa saya suka pemain ini, yang saya ingat saya pernah menangis minta dibelikan kaos timnas bernomor 3. Saat itu usia saya juga belum genap sepuluh tahun. Sejak usia saya belum sepuluh tahun sampai sekarang timnas tak pernah bias masuk piala dunia. Sejak usia saya belum genap sepuluh tahun saya sudah tahu kalau organisasi yang mengurusi sepak bola di negeri ini adalah PSSI (persatuan sepakbola seluruh Indonesia). Di sekolah, saya diajari bahwa PSSI ini adalah termask organisasi perjuangan. Sejak usia saya belum sepuluh genap tahun, ada orang bernama Nugraa Besoes di kepengurusan PSSI. Sampai usia berlipat tiga sejak itu orang yang sama masih bercokol. Berapa nama lain barangkali juga begitu. Nasib sepakbola indonsia juga sama: Timnas kalah melulu. Sewaktu nonton timnas main, saya kerap diejek istri saya. Betapa tidak, kita semua tahu hasilnya akan seperti apa, kenapa masih ditonton?

Sudah sangat banyak yang bicara tentang kebrobrokan pssi. Yang paling gamblang adalah prestasi timnas yang tidak membaik. Kompetisi amburadul. Lihat saja, baru-baru ini, begitu ketua umum PSSI bebas dari penjara, hukuman komisi disiplin dianulir semua.

Sepakbola—ah, maksud saya pssi dan kompetisinya—sepertinya memang sudah membuat susah seluruh negeri. Lihatlah klub-klub sepakbola itu. Mereka semua masih menetek pada duit rakyat melalui APBD. Milyaran rupiah hanya digunakan untuk membayar pemain asing dan memperkaya pengurus klub saja.

Baru-baru ini, entah dapat wangsit dari mana, tiba-tiba pssi menyodorkan diri menjadi tuan rumah piala dunia. Ah, omong kosong apa pula ini. Kecuali petinggi FIFA sedang mabok dan teler, tidak mungkin Indonesia menjadi tuan rumah piala dunia.

Sungguh, jika memang sepakbola hendak diabdikan sebagai bagian dari membentuk karaker bangsa—fuih!—seperti didendangkan pelajaran sekolah itu, maka orang yang ngurus bola itu harus dijungkirkan kesadaran otaknya:bekukan dulu PSSI dan mulailah dari awal. Kerusakan sudah terlalu parah. Tambal sulam tak akan berpengaruh. Maka saya hanya bias berharap agar Pak Blatter sudi membekukan PSSI.

Iklan

4 pemikiran pada “Pak Blatter, Mohon Bekukan Saja PSSI…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s