Menonton Film Buruk


Kemarin malam, setelah sebalumnya membaca ini dan terprovokasi olehnya, saya memutuskan untuk mencoba menonton film “Maaf Saya Menghamili Istri Anda” yang dibikin Monty Tiwa. Mas Monty sebaiknya memang harus berucap begini: maaf saya telah membuat film seperti ini.

Saya sungguh menyesal telah menghabiskan sekitar 2 jam hidup saya untuk menonton film ini dan harus tidur malam sekaligus bangun kesiangan pagi harinya. Film ini sepertinya dikehendaki untuk menjadi film lucu. Dalam beberapa bagian, harus diakui, memang sempat membangkitkan rasa lucu itu, tapi secara kesuruhan sunguh mengharukan. Saya merasa pembuat filmnya tidak tahu kekuatan filmnya sendiri.

Film ini bercerita tentang seorang pemuda bernama Dibyo (Ringgo Agus ) yang pacaran dengan Mira(Mulan Kwok—sebaiknya anda fokus nyanyi aja deh mbak…) yang oleh film ini secara mati-matian hendak disampaikan bahwa mereka benar-benar saling mencintai sampai ke tulang sumsum. Sayang, tak ada tangga dramatik yang mengarah ke sana. Dibyo menghamili mira, yang ternyata istri seorang preman asal batak. Dari situlah cerita dimulai.

Adegan paling banal yang masih saya ingat adalah ketika butet (Shanty lumayanlah sampeyan mbak…) bertanya pada Mira semacam ini: anakmu besok mau jadi apa? batak atau jawa?” yang kemudian dijawab Mira”indonesia” jreeng!weeh, mau sok-sokan serius membangun nation building? Menyoal isu identitas? Atau isu serius lainnya? Ah, sebaiknya mas Monty bersungguh-sungguh bikin film komedi secara lebih serius saja…

Iklan

14 tanggapan untuk “Menonton Film Buruk

  1. saya digoda oleh teman utk nonton “kutunggu jandamu”, tapi saya keukeuh utk menolaknya. saya tidak usah perpikir siapa sutradaranya atau penulis naskahnya, melihat judulnya saja jengah.

    jangan sampai terperosok ke dalam comberan yang sama dua kali!

    monthy saya kira termasuk sutradara yang beraliran “bekerja” tok, tidak utk yg lain. kepada hanung yg sok idealis aja saya kecewa. filmnya yang berjudul “doa yang mengancam” membuat saya mengancam hanung via sms. mau-maunya dia suruh senamart utk menggarap naskah yg asal-asalan.

    dari situ, pertimbangan saya nonton film jadi beralih, dari siapa sutradaranya ke siapa penulis naskahnya.

    sekarang saya sedang ngamati salman aristo. beberapa garapannya, jomblo, brownies, aac, dan terakhir laskar pelangi, saya pandang cuku bagus. selain dia ada musfar yasin, dan jujur prananto…

    oh ya, terima kasih telah berkunjung ke gubugku..

    salam kenal, hamzah sahal

  2. Saya kira ada poin menarik dalam Monty itu: Bahwa identitas yang berlatar etnisitas masih penting di negeri ini. Lihatlah, hanya karena mengaku dari Samosir, Dibyo menempati status tertentu dalam dunia preman, sementara ketika ketahuan ia berbangsa Jawa, dendam kesumatlah yang ia terima.

  3. aQ smkn heran dgn flim Indonesia. DI satu sisi mmg sgt membanggakan karena smkn banyak karya2 yg fantastis dan membawa harum nama bangsa…tp disisi lain, semakin banyak filem yg g berkualitas dan rendahan, komedi dewasa yg lbh berkesan vulgar dan hanya mencari sensasi terlebih sensualitas -pun smkn marak. Entah sdh brp judul filem dlm setahun yg mengangkat tema ‘bobrok’ macam ini. Ck..ck..ck..
    Blm lg sinetron2…hhahh..mumet deh mikirnya..hehe..
    well, salam kenal y, makasih udah mampir ke blogQ jg 🙂

  4. Film indonesia sekarang lagi maraknya yg bertemakan seperti itu.
    Makanya saya sekarang ogah nonton film atau sinetron indonesia. Banyak kekecewaan yg muncul setelah menontonnya. Seperti yg mas alami dalam tulisan di atas.

    Salam kenal mas Heru…. Terima kasih sudah berkunjung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s