Catatan Kecil Tentang Guru Sejarah SMA Saya


Saya memang sempat melupakan namanya, tapi tidak peristiwa-peristiwa disekeliling namanya. Dia adalah guru pelajaran sejarah ketika saya duduk di bangku SMA. Orangnya kecil tapi suaranya sangat lantang dan keras. Cukup keras untuk memenuhi ruangan kelas dan sukup lantang untuk membuat merah telinga orang. Inilah yang saya akan coba ceritakan pada Anda. Saya selalu antusias setiap kali ada jam pelajaran Sejarah. Karena guru sejarah ini punya sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat hari-hari membosankan di bangku sekolah menjadi terasa segar kembali. Setiap mengajar ia selalu menyelipkan—ah, bukan menyelipkan, karena itulah sebagian besar yang ia sampaikan—hal-hal di luar mata pelajaran sejarah sebagaimana termaktub di buku-buku teks yang menyebalkan itu. Pak Priyo, demikian ia dikenal, lebih banyak bercerita tentang konteks peristiwa penulisan sejarah itu atau lebih tepatnya ia memberi “kritik” atas sejarah yang ditulis buku-buku teks itu.

Waktu itu tentu saya belum banyak baca tentang kritik sejarah, tapi saya sudah mulai merasakan ada yang tidak beres dengan sejarah yang ada di buku pelajaran sejarah sejak SD. Guru sejarah saya ini, dengan caranya sendiri, ternyata telah mengajarkan pada saya bahwa memang ada masalah pada historiografi negeri ini. Dengan cara itu, tentu saja ia banyak meyinggung hal-hal sangat sensitif secara politis pada masa itu. Ia banyak melontarkan gugatan pada ideologi nasionalisme yang sempit, militerisme, Orde Baru, dan panyelewengan konstitusi. Waktu itu, ia tidak menggunakan istilah-istilah itu, tapi ia menyodorkan fakta yang menunjukkan hal itu. Termasuk pula dengan pertanyaan-pertanyaan menggelitik. Salah satunya adalah yang —seperti yang ia ceritakan pada saya pada satu kesempatan— membuatnya terdepak dari barisan guru SMA Taruna Nusantara— sebuah sekolah proyek Orde Baru untuk mencetak “kader-kader” unggul bangsa yang —tentu saja— berwatak militeristik, yakni ketika ia, dengan merujuk epos Ramayana, melontarkan pertanyaan pada murid-muridnya: siapakah yang lebih anda pilih, Kumbakarna, adik Raja Rahwana yang tidak setuju pada tindakan Rahwana tapi tetap membelanya karena satu tanah air dan satu tumpah darah ataukah Wibisana yang tidak setuju tindakan Rahwana kemudian menyeberang ke pihak lawan untuk menggulingkannya? Guru saya ini memberikan penalaran kenapa Wibisana yang mestinya dipilih. Singkatnya, ia memilih kemanusiaan ketimbang nasionalisme. Kisah ini tentu terasa relevan ketika belakangan ini banyak gugatan pada para jendral, anggota BIN, dan lain-lain yang terlibat kasus pelanggaran HAM, sementara di sisi lain segelintir orang menyorongkan ide nasionalisme untuk membela mereka sembari menuduh para penggugat adalah antek-antek asing (ingat kasus penculikan aktivis, Timor Leste, Munir,dll kan?).

Beberapa kali saya dan beberapa orang kawan menyambangi rumah pak Priyo di salah satu sudut kota Magelang. Kami ngobrol banyak hal. Ia mengajarkan hal lain lagi pada saya: kesadaran dokumentatif. Ia menunjukkan koleksi kliping berita yang sangat banyak dari berbagai majalah dan koran. Barangkali dari sumber-sumber itulah yang merangkum berbagai hal untuk ia sampaikan di kelas. Ia membangun cara belajar yang mengajak muridnya punya nalar kritis. Saya tidak tahu apakah ia pernah membaca Pedagogy of the Oppressed-nya Paulo Freire atau tidak, yang pasti ia tidak melihat kami sebagai gelas kosong yang harus dituangi pengetahuan hingga penuh. Baginya, sejarah yang tertulis di buku teks itu bukan hal yang harus dihapal tapi dinalar, termasuk dipertanyakan.

Nyaris dalam setiap kesempatan mengajar, hal-hal berbau kritisisme itu ia munculkan. Itulah yang, bagi saya, menyegarkan udara pengap kala itu. Tak ayal, apa yang dilakukannya memancing reaksi. Saat saya duduk di bangku SMA, tahun 1993-1996, Orde Baru sedang berada pada puncak kekuasaannya sekaligus menampakkan sifatnya yang paling represif. Negara Orde Baru sudah terbangun begitu kokoh dan sangat menggurita, ia masuk ke sekujur sendi kehidupan warga, bahkan hingga ke ranjang (ingat kan program KB yang menggebu itu?). Jika anda pernah membaca novel 1984-nya George Orwell, kondisi sosial-politik Orde Baru persis menampilkan apa yang ditulis Orwell itu: Big Brother dengan mata raksasanya mengawasi setiap detil gerak-gerik warganya. Kelas-kelas sekolah, mata pelajaran, buku pejaran, dan guru, tentu saja, tidak luput dari mata pengawasan itu. Pengawasan itu pasti akan lebih ketat pada pelajaran sejarah, sesuatu yang—saya ketahui belakangan hari—sangat serius digarap oleh Orde Baru untuk glorifikasi sekaligus legitimasi dirinya.

Mekanisme pengawasan itu bekerja dengan sangat canggih. Tetangga mengawasi tetangga, murid mengawasi murid, guru mengawasi murid, guru mengawasi guru, murid mengawasi guru. Saat itu saya belum mengenal tentang surveilance yang dikatakan Michel Foucault itu, tapi saya merasakan apa itu surveillance. Tiba-tiba saja kepala sekolah masuk ke ruang kelas ketika pelajaran sejarah berlangsung. Dari mana kepala sekolah tahu tentang suara-suara keras guru sejarah saya itu? saya tidak tahu. Saya ingat, ketika kepala sekolah duduk di deret bangku belakang guru sejarah saya tak banyak melontarakan suara kerasnya. Sependek yang saya ingat, waktu itu memang sedang membahas sejarah dunia, jadi tak banyak ia bicara tentang politik di negeri ini. Barangkali kepala sekolah saya merasa berhasil menekan guru saya itu. Entahlah. Yang pasti, peristiwa-peristiwa berikutnya menunjukkan kuatnya teknologi pengawasan itu: pada akhirnya guru sejarah saya itu dibangkucadangkan.

Momen tak terlupakan yang menandai pergantiannya adalah ketika kepala sekolah kami mengumumkan hal itu saat waktu upacara bendera hari senin. Saya ingat betul ketika hampir dari kami semua—tentu tidak semua, sebagian kawan saya ada juga yang tidak menyukainya—berteriak “huuuuuuu…..” persis ketika kepala sekolah memberi pengumuman. Itulah barangkali yang disebut resistensi. Sebagai murid kami menunjukkan ketidaksetujuan kami pada kebijakan itu. Tentu saja kami tak berani melawan lebih jauh. Ingat, kami kan masih SMA… Kejadian serupa juga terjadi ketika guru pengganti masuk ke kelas kami. Saya dengar, di kelas lain ia juga mendapat perlakuan serupa. Kasihan juga sebenarnya guru pengganti itu, sebab barangkali ia atak mengerti duduk soalnya. Tapi teriakan “huuu..” itu sesungguhnya tidak ditujukan pada dirinya, itu ditujukan pada pergantian itu. Sejak itu, pak Priyo tak mengajar kami lagi. pelajaran sejarah berlangsung seperti lazimnya, sebagaimana ia berlangsung selama bertahun-tahun.

Kini, 10 tahun sudah Orde Baru dikatakan telah tumbang. Keadaan—terutama ekonomi—memang tidak lebih baik. Namun ketika menngingat situasi sosial-politik yang sedemikian pengap hingga orang nyaris tak bisa bicara hal yang diinginkannya, maka gagasan yang mengatakan bahwa sepuluh tahun lalu kondisi negeri kita lebih baik, bagi saya, akan terdengar sangat bodoh…

Iklan

4 tanggapan untuk “Catatan Kecil Tentang Guru Sejarah SMA Saya

  1. guru sejarahku pas kelas 3 SMA juga sangat berkesan buatku dan selalu aku kenang… namanya pak radi. wah, kalo nulis tentang dia bisa puanjang. seumur hidup, pertama kali aku seneng pelajaran sejarah tu ya pas diajar pak radi. meski dia dikenal angker, killer, dan disiplin, tapi sebenarnya dia baik koq, pinter lagi. dia guru sejarah yang kritis, (lebih) banyak menyajikan sisi lain dari versi “resmi”, memperkenalkan kami terhadap cara berpikir yang “lain”, dll… bener2 membuka mata deh. tapi nasibnya beda dari pak priyo-nya mas heruyaheru …

    “Yang pasti, peristiwa-peristiwa berikutnya menunjukkan kuatnya teknologi pengawasan itu: pada akhirnya guru sejarah saya itu dibangkucadangkan.”

    pak radi malah jadi wakasek kesiswaan. pak radi salah satu pahlawan dalam hidupku 🙂

  2. Bicara guru sejarah saya punya saat di Pesantren. Sama kecilnya sama lantangnya. Pak Mazari yang orang Jawa ini semula jadi santri di Cirebon dan ngabdi menjadi guru. Kelenturan dan kelincahan menerangkan detil sejarah keluar dari kontek membuat saya masih teringat sosoknya.

    Sayang, kini beliau tidak lagi mengajar. Entahlah sebabnya apa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s