Mengapa (Masih) Membangun Masjid?


Beberapa waktu lalu, saya dan keluarga, melakukan perjalanan ke timur, maksudnya ke jawa bagian timur. Ke jember, menunjungi sanak yang tinggal di sana. Saya termasuk jarang mengunjungi kawasan jawa timur bagian timur atau yang banyak dikenal orang dengan sebutan kawasan “tapal kuda” itu. Kawasan yang—masih kata orang—dikenal sangat relijius, kental warna santrinya, dan punya budaya yang berbeda dnegan jawa timur bagian barat. Konon, ini ada soal yang lebih panjang:perlawanan terhadap jawa pusat atau mataram. Bahkan, di ujung paling timur, Banyuwangi, ada kultur yang disebut-sebut sebagai kultur tandingan budaya mataraman. Ini sejarahnya panjang, barangkali sejak mataram mulai senang menggempur wilayah-wilayah pedalaman jawa.

Nah, dalam perjalanan itu saya menyaksikan fenomena menggelitik. Sebenarnya fenomena ini tidak asing, tidak khas, tidak unik alias bisa ditemukan di mana saja: di sepanjang jalan menuju jember, kira-kira mulai pasuruan nyaris setiap satu kilometer atau kurang saya menjumpai deretan orang yang mengasung-asungkan kotak atau tabung kosong. Orang-orang itu tidak sedang iseng, tentu saja. Mereka sungguh terlihat serius. Orang-orang itu mengacungkan kotak agar diiisi dengan uang. Seperti pengemis? Bisa jadi. Tapi bukan pengemis—setidaknya, mereka tidak mau disebut pengemis. Mereka sedang meminta sumbangan, infak, sodakoh, atau apapun namanya, untuk membangun masjid! Sekali lagi, fenomena ini jamak ditemui di sekujur jawa, tapi yang begitu intens ya baru saya temui di jawa timur bagian timur ini. Di tempat lain, modus serupa tidak dnegan meminta pada pengguna jalan tapi pada para pejalan kaki: sambil membawa mobil para peminta sumbangan berkeliling di pasar-pasar.

Saya tidak tahu persis jumlah uang yang mereka dapat. Sepertinya banyak, saya lihat masjid-masjid yang ada pinggir jalan bagus-bagus. Lebih bagus daripada rumah-rumah penduduknya. Mungkin menarik pula jika diteliti seberapa banyak uang yang berputar dalam urusan ini. Konon, para peminta sumbangan itu adalah pekerja profesional yang mendapat bagian dari hasil yang didapat, mereka bukan layaknya para peminta sumbangan di masa lalu yang bekerja lillahi ta’ala. Dengan begini, apakah meraka menjual atau memanfaatkan agama demi kepentingan memperkaya diri? Bisa saja. Tapi rasanya tidak fair jika kata-kata semacam itu begitu saja ditimpukkan pada mereka semata. Para penjual agama yang lebih canggih hari ini ada di mana-mana. Anda tahu sendiri berapa banya orang yang mematut-matutkan diri sebagai pembela agama demi meraih kursi DPR. Kita bisa saksikan sendiri para politisi dari partai islam menjadi koruptor alias maling. Belum lagi para preman yang bersolek dan berteriak-teriak allahu akbar di jalanan. Atau lihat pula dunia selebritas. Anda bisa hitung sendiri orang yang bisa disebut menjual agama. Tapi soal ini memang pelik.tidak sesederhana yang dibayangkan. Dulu orang begitu ribut tentang kyai yang menerima amplop usai berceramah. Banyak yang menyebut itu sebagai “menjual ayat”. Tapi apa anda ya tega, berceramah dan mengajarkan agama adalah satu-satunya yang dia bisa. Hidupnya 24 jam diabdikan untuk itu, tiba-tiba ia menjadi musuh agama hanya karena menerima amplop? Ah, rasanya tidak adil….

Kembali ke soal sumbangan masjid tadi. Saya kira soalnya adalah bagaimana orang islam memandang masjid. Orang yang meminta sumbangan tadi tentu tahu bahwa orang lebih gampang dibujuk untuk menyumbangankan uangnya demi masjid. Kita tahu, masjid adalah simbol agama paling kentara. Di masa kini, ketika sentimen dan semangat islam begitu menggebu, gairah berislam juga menerbitkan arus kapital di mana-mana. Di dunia hiburan, ada film-film islami, di dunia fashion ada busana muslim, ada bank islam, ada buku-buku islam, ada novel islam, dan begitu seterusnya. Ini juga ada kaitannya dengan munculnya kelas menengah muslim saya kira. Kapan-kapan deh saya tulis lebih panjang yang soal ini. Yang jelas, gairah itu sangat tampak pada simbol-simbol, diantaranya masjid.

Dengan begitu banyaknya orang islam membangun, merehab, memperbaiki, membanguh lagi, mempercantik masjid, artinya masjid dianggap sangat penting. Kemegahan masjid adalah segalanya lebih dari manusia itu sendiri. Lihatlah di mana-mana, masjid berdiri megah sementara rumah reot orang miskin semakin bertambah. Kenapa orang islam lebih suka membangun masjid ketimbang menyantuni orang fakir? Mari kita cari jawabnya…

Iklan

10 pemikiran pada “Mengapa (Masih) Membangun Masjid?

  1. Sudah kita mahfum bersama, bahwa mereka minta2 sumbangan atau apa ajalah bukan utk Masjid, tapi ya dipakai diri sendiri aja. Silahkan cek langsung sama mereka yg minta2 itu. Bahkan yg lebih parah peminta2 tsb dikoordinir oleh sebuah lembaga…Kacau deh

  2. hello mas Heru, kok lama gak mampir ke “rumah”ku sihh.. oke dechh.. saatnya silaturahmi balasan aja ya..

    gue mo add comment apaan ya? oh ya, tentang “penjual agama”. orang maen sinetron relijius dikatakan menjual agama, orang berteriak Allahu Akbar dibilang menjual agama, seorang politikus yg kebetulan korupsi dikatakan menjual agama. jangan2 di blog saya ada nuansa relijiusnya entar dikatakan menjual agama dong, jadi takut nihhhh….

    tapi selain itu juga ada jenis penjual agama yang laen lhoo mas. Orang yang menjual agama mengatasnamakan memperbaharui agama demi mendapatkan donor dan penghormatan intelektual itu juga namanya menjual agama. dan Tidak hanya agama, rakyat miskin pun bisa dijual, rakyat miskin ditulis melalui buku, diperdebatkan entar paling ujung2nya mo dapet uang proyek atau dapat nama.. hehehee…

    kan juga ada Bank Perkreditan Rakyat atau judul buku yang membela rakyat, atau Buku Menyegarkan Pemikiran Agama… semua itu kan juga menjual agama atau rakyat kalo nurutin logikanya mas.

    oke, dechh… aku sebenarnya setuju ama pendapat loe sichhh… tapi ya perlu diketahui aja, bahwa peminta sumbangan yg mas sebutin itu kemungkinan besar (95%) banyak bo’ongnya. koz pembangunan masjid itu pencarian dananya lebih profesional dan lebih terhormat, misalnya dengan mencari donatur, dan tidak ada yang minta2 di jalanan.

    dan dalam mencari donatur sendiri, ada sebagian masjid yang menjatah uang transport ala kadarnya atau tidak sama sekali. dan betul bahwa dalam pembangunan masjid itu lebih baik dengan bangunan yang tidak mencolok karena Nabi sendiri pernah berpesan dlm haditsnya bahwa masjid itu dalam bentuk sederhana atau mempercantik masjid.

    oke itu dulu ya… mas.

  3. terima kasih atas komentarnya…
    @abiehakim,saya tidak berani mengatakan demikian. barangkali bagus jika ada yang mau biin riset tentang itu…

    @Akhmad Arifin, itulah kenapa saya bilang bahwa term “menjual agama” itu pelik…tidak sederhana. orang yang bicara agama demi mendapat duit, memang ada di mana-mana…demi minta funding, dari dunia barat maupun dari kaum berjenggot di dunia arab. ya kan?:).
    soal peminta-minta sumbangan itu, saya tidak bisa mengatakan mereka bohong karena tak punya data. kalaupun mereka bohong, kenapa ya orang mau dibohongi?bagi saya, itu karena orang asih terjebak pada simbol-simbol agama itu tadi….

  4. term “menjual agama” itu pelik…tidak sederhana. orang yang bicara agama demi mendapat duit, memang ada di mana-mana
    Klo pelik kenapa mudah untuk diucapkan dan dituduhkan kepada pihak lain secara semena-mena? Buku “Islam Jangan dijual” karya Mas Eko Prasetyo juga banyak yg mengkritik “industri agama”. walaupun aneh, si Penulisnya pun juga tak luput dari apa yang dikritiknya.
    – soal peminta sumbangan; emang ga ada datanya “siapa yang mo meneliti mereka?” penelitinya kan seharusnya pihak kepolisian bukan dari kalangan kita2 mas. nah daripada mas mengkritik2 kaum muslimin karena masih terjebak pada simbol agama, mending lapor ama polisi kan lebih baik? yg salah peminta sumbangan kok yg disalahin malah kaum muslimin.

  5. Shalat bs di mana saja, tak harus di masjid. Buat apa masjid dibangun terus (dengan jalan minta-minta) pula ? Sementara masjid di waktu subuh kosong melompong. Masjid cuma berisi penuh saat shalat Ied dan tarawih di awal Ramadhan.

  6. ya agama memang komoditi yang layak jual banget. terutama di negeri ini. itu harus diakui.
    Masalahnya banyak yang muna dan menganggapnya sebagai sesuatu yang terlalu suci, hihi.

  7. Menjual agama? Laris lho..saya sudah membuktikannya di salah satu bisnis offline

    Tinggal pasang logo Islam, trus pasang cewek berjilbab di depan toko, lariiiiissssssssssssss…

    Ini menginspirasi saya untuk mengembankan bisnis dengan gaya ke islam2an di kemudian hari.. halal toh? 🙂

  8. Membangun Masjid termasuk perintah agama. Rasulullah SAW menganjurkan ummatnya untuk membangun Masjid dimana saja mereka berada. Sebagaimana pengakuan para sahabatnya : “Rasulullah SAW telah menyuruh kami membangun Masjid ditempat tinggal kami dan supaya kami menjaga kebersihannya.“ (HR. Ahmad dan Tarmidzi).

    Dari hadits ini dapat dipahami bahwa membangun Masjid itu bukan hanya sekedar memelihara dan melestarikan warisan, melainkan juga merupakan perintah baik dari Allah maupun dari Rasulnya. Dalam Al Qur`an diisyaratkan betapa pentingnya sebuah Masjid sebagai ajang berfastabiqul khairat (berlomba-omba dalam berbuat kebaikan). Firman Allah : “ Hanyalah orang-orang yang memakmurkan Masjid-Masjid Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, serta tetap mendirikan Shalat, mengeluarkan Zakat dan tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah. Mereka itulah orang-orang yang diharapkan untuk menjadi orang-orang yang mendapat petunjuk.“ (At Taubah : 18).

    positif thinking aj,,anggap aj mereka hny mengajak berpartisipasi dlm pembangunan masjid. klo ga ikhlas ato otak penuh prasangka ato curiga y ga usah ngasih jg gpp. bkn urusan mreka bohong ato ga, yang pnting niat awal ny y itu td ikut serta dlm pembangunan masjid, jd yg terpenting adlh urusan sm yang MAHA PEMILIK bkn sm mereka itu td.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s