Belajar Menulis Cerpen


Nah ini dia. Dulu saya pernah pengen banget jadi penulis cerpen. Maka menulis cerpenlah saya. Tidak banyak yang jadi. Kebanyakan berhenti di tengah-tengah kehabisan energi. Mungkin bisa saja saya pajang di sini trus di bawahnya ditulisi: “bagian dari tulisan yang lebih panjang” atau yang sejenisnya. Tapi itu kan menipu wong saya tidak punya dan tidak hendak menulis lebih pajjang. Cerpen di bawah ini termasuk sedikit (sekali) yang bisa dikatakan selesai. Selesai, maksudnya saya sudah merasa cukup dan berani mengirtimkan ke media. Sayang, ternyata media massa menganggap saya bukan penulis cerpen yang baik. Daripada percuma cuma tersimpan di komputer, lebih baik saya pajang di blog ini. siapa tahu ada yang baca, siapa tahu bermanfaat. Tapi jangan tanya apa pesan dari cerpen ini, sebab kalau mau kirim pesan kan saya bisa tulis sms, bukan cerpen…

Para Senopati

Setelah melewati hari-hari melelahkan pengeran tengah baya itu kembali ke tetirahannya tak jauh dari tepi hutan. Pikirannya masih disibukkan dengan bayangan kekalahan dan dendam. Tak lekang dari ingatannya ketika ia dengan mata kepala sendiri melihat ayahnya dibantai saat sedang sembahyang di tepi sungai. Namun ia mulai diliputi keraguan, benarkah tindakannya selama ini adalah tuntutan balas dan demi keadilan? Ataukah karena ia begitu menginginkan kedudukan Sultan? Kali ini ia tak bisa menjawabnya dengan pasti. Yang jelas, ia tidak akan pernah mengakui Hadiwijaya sebagai Sultan dan ia akan selalu siap menghadapi siapapun senopati yang dikirimkan untuk menyerangnya.

Huh, panglima ingusan itu! Ia tak bisa melupakan betapa anak kecil itu mengacung-acungkan tombak di seberang sungai menantang perang tanding “Hayo Aryo Penangsang!, jika kau laki-laki, majulah kemari. Kau bukan tandingan Kanjeng Sultan, lawanmu Aku!” Sudah berhari-hari kedua pasukan hanya saling berteriak saling memaki, saling mencaci. Tidak saling menyerang. Ia ingat betul pesan Kanjeng Sunan Kudus untuk tidak menyerang lebih dulu, untuk tetap sabar menunggu dipinggiran sungai. Sebab, begitu menyeberang, pasukannya akan mendapati banyak jebakan. Tapi hari ini ia tampak bimbang dengan strategi itu, ia bukan orang yang suka menunggu, ia ingin menyerang dan menang secepatnya. Segera ia ingin menekuk kepala Hadiwijaya, santri sesat itu, yang tidak pernah mengerti kitab-kitab Arab, yang hanya mengerti cara bertani dan cerita wayang.

Di pendopo ia dapati dirinya sedang menimbang-nimbang pada sesuatu yang ia pernah yakini sebelumnya. Ia hanya tidak ingin mengecewakan ayahandanya dan, tentu saja, gurunya, Sunan Kudus.

“Anakku, yang kamu lawan adalah kekuatan besar, ingatlah, mereka punya kekuatan luar biasa”

“Saya tidak takut, Romo Sunan, bahkan jika mereka dibantu balatentara Demak dan Tuban sekalipun”

“Kau jangan gegabah Anakku, Hadiwijaya, anak Ki Ageng Pengging itu, bukan orang sembarangan,ia tak kalah dari bapaknya.”

Sebenarnya ini dendam siapa? Dendamnya atau dendam gurunya? Barangkali dendam kedua-duanya. Tentu saja ia tahu bahwa gurunya pernah dipermalukan Ki Ageng Pengging, ayah Hadiwijaya. Karena itulah sedari dulu gurunya tidak pernah menghendaki Hadiwijaya menjadi Sultan.

“Ayo!Ayo! Aryo Penangsang, mana kejantananmu! majulah pengkhianat Sultan!” Teriakan-teriakan itu masih hinggap dikepalanya. Ia sungguh tak mengerti, setidaknya sampai saat ini, mengapa ia dianggap pengkhianat oleh orang-orang itu. Bukankah ia yang justru membela tanah negerinya, Demak, dengan segenap jiwa-raga. Bukankah ia sedang menuntut keadilan atas kematian tak wajar ayahandanya, bukankah ia sedang menentang kebangitan kembali keturunan Kebo Kenongo yang sesat itu?

Apakah orang-orang itu tidak pernah lagi belajar agama dan tidak lagi patuh pada para Sunan?

***

Di hadapanmnya kini adalah aliran sungai yang sepi, tak beriak, tak bergelombang. Strateginya untuk memancing Penangsang keluar sarang belum berhasil. Pasukan Jipangpanolan masih kukuh di seberang sungai, hanya sesekali maju dengan melempar tombak dan memanah yang, tentu saja, tidak ada bahayanya sama sekali bagi pasukannya. Ia sudah mewanti-wanti pada Sutawijaya untuk tidak menyerang terlebih dulu. “Tunggulah sampai tepi air sungai di dekat kaki kudamu beriak kuat” pesannya suatu ketika pada Sutawijaya. Ia tahu betul anaknya tidak pernah membantah.

Ia sudah lama menunggu saat ini, saat di mana ia akan segera melihat wahyu itu mengejawantah pada anak kandungnya. Sudah sejak lama pula ia mencoba meyakini kebenaran ramalan itu. Karena itulah ia selalu berupaya agar ramalan itu menjadi mungkin.

(“Kau beruntung Pemanahan, kau telah meminum air kelapa muda ini, aku yang bertapa dan kau yang mememetik hasilnya, perlu kau ketahui bahwa siapapun yang minum air kelapa muda ini ia akan meurunkan raja-diraja tanah Jawa” Ki Ageng Giring mengucapkan kata-kata ini dengan nada getir, sebab seharusnya dirinya sendiri lah yang meminum air kelapa itu. Tapi Ki Ageng Giring percaya bahwa wahyu tidak datang tiba-tiba, ada rencana-rencana gaib yang sedang dijalankan. Ia tahu betul itu, karena itulah ia tidak terlalu menuntut ketika ternyata justru sahabat karibnya, Pemanahan, yang secara tak sengaja meminum air kelapa muda itu)

Wujud ramalan itu sekarang berada di depan mata, kali ini ia sadar betul bahwa ramalan-ramalan itu sedang menjalankan rencananya. Karena itulah ia tidak terlalu peduli pada kekuatan prajurit Jipang yang terlatih. Ribuan prajurit berkuda itu memang bukan tandingan pasukannya yang cuma sekumpulan petani-petani muda ditambah sedikit kekuatan Kasultanan Pajang.

Ia tak punya dendam pribadi pada pangeran Jipang itu, ia juga tak punya ikatan emosional apapun pada Hadiwijaya. Barangkali cuma bahwa masing-masing adalah santri para wali, tapi toh Arya Penangsang juga murid para wali. Ia sadar bahwa sebagai bawahan Sultan ia diperintahkan membasmi Penangsang yang dianggap sebagai pemberontak. Namun, pada akhirnya harus ada sesuatu yang lebih dari sekedar membasmi pemberontak. Tanah Jawa ini tak pernah lepas dari perang sejak ratusan tahun silam dan selalu saja pembasmi pemberontak akan naik menjadi Raja, bahkan Sultan Hadiwijaya sendiri. Bukankah Jaka Tingkir,Si Karebet, Si Hadiwijaya muda, dengan licik membuat keonaran di kota raja Demak, lantas memadamkan kerusuhan itu dengan tangannya sendiri hingga mendapat simpati Sultan Trenggono, memperistri putrinya, kemudian naik tahta jadi raja? Maka tidak salah pula jika ia juga bersiap dengan rencana semacam itu. “Sebegitu jauhkah? menjadikan Sutawijaya jadi Raja? mendirikan kerajaan baru?” Benarkah semua ini ia lakukan demi kejayaan Tanah Jawa? Pikiran ini lama mengganggunya, sebab ia memang sedang mengincar kedudukan raja. Bukan untuk dirinya tapi untuk untuk anak cucunya. Namun, apa bedanya?

***

Dadanya Sesak. Rasa sakit itu menikam hatinya yang paling dalam. Ngilu dan perih. Ia seperti sedang kehilangan sesuatu yang teramat berharga. Ada sesuatu yang tidak lagi pada tempatnya. Luput entah kemana. Ia pernah berada dalam suasana yang sama, ia tahu rasa sakit memang berulang-ulang tanpa henti. Lampu damar di kamarnya mulai redup. Cahaya wajahnya juga meredup. Mantan senopati gagah dari Demak itu sudah terlihat tua, lebih tua dari umur sesungguhnya. Matanya seperti menatap ke kejauhan, ke kejauhan hatinya sendiri. Ingatannya menerawang jauh pada percakapan di pendopo rumah Ki Ageng Pengging puluhan tahun silam. Waktu itu Hadiwijaya masih bayi.

“Ki Ageng, atas nama Sultan Demak, Anda diharapkan sowan ke Kasultanan”

“Tidak Ananda Sunan, sebab Saya tidak sedang mengabdi pada Sultan, Saya ini petani biasa hanya bercocok tanam dan lagi pula Saya bukan Adipati atau Demang, jadi tak perlulah Saya menghadap Sultan, tidak semua kawula harus menghadap Sultan”

“Memang tidak semua kawula harus menghadap Sultan, tapi Ki Ageng tentu tahu siapa Ki Ageng ini, jika Ki Ageng tidak sowan maka hal itu akan menjadi pembicaraan banyak orang dan memunculkan dugaan bahwa putra raja Majapahit hendak membangkang pada Sultan Demak”

“Saya tidak membangkang, dan ingatlah, Saya hanya mengabdi pada kanjeng Pangeran Sejati, bukan pada manusia!”

“Bicara Ki Ageng sudah seperti Syekh Lemah Abang”

“Kanjeng Syekh Lemah Abang adalah guru Saya”

“Ajaran Syekh lemah Abang itu sesat dan menyesatkan”

“Hanya para Wali dan Sultan demak yang bilang begitu”

“Jadi Ki Ageng menentang para Wali dan Sultan dan tetap mengikuti ajaran sesat itu?”

“Saya sudah tahu bagaimana mengabdi pada sang Pangeran Sejati, para Sunan tak perlu repot mengajari Saya”

Ia masih ingat percakapan itu begitu panjang, sedemikian rumit dan melelahkan. Ia malah banyak belajar dari percakapan itu, bahkan lebih dari sebelumnya, ia jadi tahu bagaimana sesungguhnya ajaran Syekh Lemah Abang itu. Ia memang pernah mengenal ajaran semacam itu dari kisah-kisah tentang Ibnu Arabi dan al Hallaj. Namun, ia datang tidak untuk belajar agama, tidak pula untuk berbantah. Ia datang sebagai Senopati Demak dengan tugas menuntaskan persoalan yang telah mengganggu kewibawaan Sultan. Maka percakapan itu harus segera diakhiri demi menjaga keamanan negeri dan ketentraman ajaran.

“Ki Ageng, sebenarnya tawaran Kasultanan dan para Wali hanya dua, Ki Ageng mau berada di dalam atau di luar?”

“Saya tidak di dalam atau di luar dari apapun, luar dan dalam justru ada dalam diri Saya”

Seketika itu juga, ia hunus keris kecil pusakanya dan ditusukkannya ke siku Ki Ageng Pengging di tempat itu juga, diiringi teriak dan jerit tangis Nyi Ageng Pengging. Ia akhiri tugasnya dengan mantap, meski pedih.

Tak pernah terlintas di kepalanya bahwa ia akan mengalami dan menemui hal yang sama di kemudian hari. Di hari ini. Ketika ia harus dan mengharuskan dirinya menuntaskan pelenyapan ajaran sesat itu. Ia yakin betul Hadiwijaya tak luput dari ajaran ayahnya. Tapi benarkah ia mendukung Penangsang demi tegaknya ajaran? Apakah bukan karena ia iri pada kuasa anak Pengging itu, dengan disertai pertanyaan tak terjawab sejak percakapannya dengan Ki Ageng Pengging? Ia tahu betul ia tidak menang dalam perdebatan dengan Ki ageng Pengging, ia sadar bahwa dirinya keteteran dan bahkan mulai tak yakin pada pengetahuannya sendiri. Jadi ini semua adalah dendam? Atau kehendak untuk berkuasa ”Ah, aku tak pernah menginginkan jadi raja”. Benar. Tapi bukankah ia tahu bahwa ia ingin agar sang Raja adalah orang yang tunduk dan patuh padanya?

Besok pagi, teriakan-teriakan Sutawijaya dan pasukannya pasti akan memerahkan telinga Penangsang. Besok pagi, ribuan prajurit itu akan kembali berhadapan. Rasa sakit itu kembali menusuk dada sebelah kirinya, kali ini ia ragu, apakah ini rasa sakit penyesalan atau ketakutan pada kekalahan…,ia amat ragu.

***

Matanya menyala-nyala, dunia dalamnya saat ini sedang bergemuruh. Tak terlihat letih diwajahnya, kendati mesti melalui hari-hari menegangkan sekaligus melelahkan. Ia seperti tak akan pernah kehilangan semangat yang menyala-nyala itu. Darah muda. Penuh gelora. Tak letih-letihnya ia berteriak-teriak di pinggiran sungai itu, seperti tak pernah mau kehabisan suara. Dadanya menggelegak tiap kali teriakannya hanya dibalas teriakan cemooh dari seberang sungai, kalau saja tidak diweling ayahandanya untuk menunggu serangan, tentu saja ia sudah tak akan membiarkan mulut prajurit Jipangpanolan buka suara.

Tombak bertuah ditangannya iti belum juga ia lepaskan sampai larut malam. Sebuah tombak yang dipercaya oleh dirinya dan juga oleh ribuan prajuritnya punya daya tuah melebihi keris Penangsang. Dan bukankah apes Penangsang sudah dihitung? Jadi tak perlu ragu dan takut. Saat ini yang diperlukan hanyalah kesabaran, laku yang justru paling berat. “Ingat Kamu ini bukan tandingan Penangsang, tapi jika kau sabar dan turuti petunjukku barangkali kamu masih bisa menang. Ikuti semua petunjukku. Dekat-dekatlah denganku dan jangan pernah melakukan tindakan sendirian” kata-kata dari ayahnya ini tak pernah ia lupakan sepatahpun. Tidak juga ia membantahnya. Ia harus menurut dan, ia tahu, itu akan membawanya pada kejayaan.

Ia pandangi tombak sakti itu. Ujungnya nampak berkilat terkena cahaya lampu damar yang menggantung di dinding, mengkilap tajam dan memancarkan aura haus darah. Ia paham betul bahwa yang ia lakukan juga hampir sama dengan yang dilakukan Hadiwijaya muda, membantu sang Raja membasmi kerusuhan. Dari cerita ayahnya ia tahu siapa Hadiwijaya. Ia tahu bahwa sultan yang satu ini adalah anak kandung dari musuh para pendiri kasultanan Demak. Musuh yang selalu dikejar-kejar dan dibasmi hingga ke akar-akarnya. Sutawijaya agaknya tidak terlalu peduli dengan percekcokan itu, juga pada persekongkolan yang coba dibangun pewaris Lemah Abang itu. Ayahnya juga tidak pernah mengajarinya untuk bersikap pada pertikaian tak berujung itu. Dalam hal ini, ia tahu siapa yang bisa dipercaya,. “Ujung dari semua pertikaian itu adalah kekuasaan, Anakku, siapa menguasai siapa. Kamu tak perlu risau di mana letak kebenaran berada. Keduanya, sungguh, tidak sedang bersoal dengan kebenaran.” Sekali lagi, kata-kata ayahnya ini tertanam tajam di pedalamannya. Dan ia tahu bagaimana belajar dari semua itu, dari semua pertikaian itu. Tapi ia, seperti juga ayahnya, sadar sepenuhnya bahwa ia tidak sedang melibatkan diri dalam pertikaian itu. Tombak tergenggam erat ditangannya yang kekar, ujung mata tombak berkilat-kilat seperti sedang mencari mangsa.

***

Di antara bukit-bukit yang belum sempat dinamai, sebuah lembah luas terbentang. Ribuan prajurit berhadapan di pisah oleh sebuah sungai besar yang sedang surut airnya. Tiba-tiba, ketika matahari belum benar-benar tinggi, tidak seperti hari-hari sebelumnya, orang-orang Jipangpanolan itu memburu, menyerang, dan menerjang ke seberang sungai. Penangsang mengacungkan keris. Melesat di antara prajurit-prajuritnya. Duduk di atas kuda hitam memburu mangsanya. Ki Ageng Pemanahan tercekat, tapi tak lama. Lantas hatinya diliputi semacam kegembiraan, Penangsang telah masuk perangkap. Apes Penangsang sudah datang, pikirnya. Di ujung bibirnya terlihat sekilas senyum yang diikuti teriakan garang sambil menyerbu ke depan. Sutawijaya sudah berada paling depan dengan tombak di tangan, ia berlari di antara ribuan prajuritnya yang menyambut air bah prajurit Jipang. Di pondokan sebelah barat kota Jipangpanolan, seseorang termangu. Telinganya masih sayup-sayup mendengar deru perang, kali ini dadanya perih lebih pedih dari semalam. Senopati tua itu seperti menahan sakit yang teramat dalam, dan hanya dia yang bisa mengerti di mana letak rasa sakit itu…

Iklan

5 tanggapan untuk “Belajar Menulis Cerpen

  1. salam kena pak! jago bgt bikin cerpen, saya cuma bikin cerpen kalo ada tugas 😛

    bener, sayang disimpen doang. kalo punya karya2 lagi, postingin di sini lagi ya 🙂

  2. Bagus cerpennya… tetapi saya ingin menambah.. orang-orang mataram itu sebenarnya sangat licik.. contoh Kudanya Aryo Penangsang itu laki-laki padahal yang dipakai Danang Sutiwijoyo kuda betina.. sungai sudah dipagari ghaib-apes barang siapa melintas ia akan menemui apes… logikanya kudanya Aryo penangsang melihat kudanya Danang Sutowijoyo yang betina menimbulkan birahi jadi mau nggak mau kuda jantan mengejar kuda betina yang berdampak pada penungganggnya yaitu Aryo penangsang… Aryo Penangsang itu sudah kena tombak pusaka aja masih bisa bertanding dan membuat tak berkutik lawan akhirnya tak sabar ingin membunuhnya dengan keris setan kober.. tetapi lupa ususnya yang terburai dikalungkan di kerisnya sesaat sebilah keris keluar dari warangkanya tak sengaja menggores ususnya sampat putus yang pada akhirnya menemui ajalnya.. dan sampai sekarang orang Mataram-Jogja-Solo bila ada pernikahan laki-laki jika pakai keris dikalungkan bunga melati konon menggambarkan betapa gagahnya Aryo Penangsang dengan usus terburai masih bisa perang tanding yang seharusnya menang tanpa lawan tetapi malah mati sendiri ( kalah WO )

    Joyo@mmugm.ac.id

  3. hehehe… namanya juga ‘nyabrang bengawan sore’, makin malam, lali banyu lupa daratan; seperti gendhing kutut manggung itu lho, sore-sore kutut manggung merak ati, …. wengi-wengi kutut manggung mepanas ati; apakah seks dan kekuasaan itu terbit dari sumber kompleks yang sama? entahlah, tapi banyak orang mengalami: raja, pengusaha, mahasiswa, buruh bangunan, artis …
    Ayolah, terus berkarya!!! Bravo!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s