Sekali lagi, tentang identitas yang terbelah


Beberapa hari silam saya nonton film “The mistress of spices”, sutradara Paul Mayeda Berges. Film ini diangkat dari novel yang ditulis Chitra Divakaruni dengan judul yang sama. Istri saya, waktu itu masih pacar, membeli novel ini di toko buku bekas di sosrowijayan, jogja. Saya tidak sempat pinjam atau membacanya. Dulu sih karena bahasa inggris saya masih terbata-bata. Setelah menikah, buku itu tergeletak di rak buku keluarga dnegan begitu rupa dan saya tak juga menyentuhnya. Baru kemaren ketika mampir di toko rental film, saya mendapati film dari novel itu.

Saya termasuk orang yang tidak terlalu rewel untuk menolak menonton film sebelum membaca novelnya. Kadang saya memilih membaca novelnya dulu–tanpa nonton filmnya, atau sebaliknya nonton filmnya dan baru baca atau bahkan tidak baca novelnya sama sekali. Film dan novel, masing-masing punya kelemahan dan kekuatannya sendiri. Menikmati film dan novel jelas berada pada ketegangan yang berbeda. Nah, kali itu saya lagi pengen menikmati film, bukan novel. Maka saya sewa dua film kala itu: kawin lontrak dan the mistress of spices. Kawin kontrak jelas bukan film yang akan memperkaya batin anda, tapi cukuplah kalau hanya untuk bisa membuat batin anda riang sepanjang durasi film. The mistress of spices, sebagaimana kebanyakan karya penulis India kontemporer seperti Inheritance of Lost (Kiran Desai), Wife (Bharati Mukerjee), God of Small Things (Arundhati Roy) dan lain-lain, yang anda bisa tambahkan sendiri deretnya, selalu berkisah tentang gegar identitas, terutama dari mereka yang menjadi kaum imigran atau setidaknya bersinggungan dengan orang asing. Sebuah soal tentang bagaimana hidup dengan situasi ketika harus terus menggenggam tradisi masa lalu sembari dihadapkan pada nilai-nilai baru yang begitu deras mengguyur tanpa interupsi. Ini tema klise khas isu poskolinialisme.

The mistress of spices memakai metafora spices, rempah-rempah, untuk melukiskan keterbelahan identitas itu. Rempah-rempah yang digunakan untuk merepresentasikan kekayaan tradisi India berhadapan dengan hidup di dunia modern di negeri orang dengan tata nilai yang tak sama dengan asal rempah-rempah bermula. Pesannya segamblang itu. Sayang di film ini pesan semacam itu terlampau jelas yang kemudian menjadi banal—dangkal. Menurut saya sih film ini kurang mampu mengangkat problem yang lebih dalam dari keterbelahan identitas itu. Yang muncul justru gambaran-gambaran klise tentang kakek tua india yang terkejut-kejut mendapati cucunya menganut nilai-nilai baru. Tidak lebih. Ending-nya juga sangat mudah ditebak.

Barangkali memfilmkan novel-novel india– yang lebih berkutat pada keseharian dan mengutamakan kekuatan kata dan bahasa itu, bukan pada plot atau cerita—adalah sesuatu yang teramat sangat sulit—terutama jika hendak menyamai capaian artistik maupun dramatik yang telah dicapai novel tersebut sebelumnya. Saya sulit membayangkan orang bisa bikin film yang sangat baik dari novel seperti Inheritance of Lost atau God of Small things. Berbeda misalnya dengan memfilmkan cerita superhero atau novel-novel John Grisham. Memang, film dan novel punya bahasa sendiri-sendiri yang nyaris tidak mungkin diperbandingkan. Cuma, yang ingin saya katakan adalah bahwa novel-novel sejenis itu akan lebih lezat ketika kita sabar untuk membacanya ketimbang menonton filmnya, bebeda dengan kisah superhero yang film maupun novel atau komiknya sama-sama seru.

Saya menduga, novel The mistress of spices bisa jadi lebih menarik dari filmnya. Maksud saya, idenya menarik dan cara mengangkat spices sebagai metafora sungguh cerdas. Saya bukan orang yang mengerti sastra, tapi saya bisa bilang bahwa ini bukan sejenis sastra realis. Barangkali lebih dekat dengan realisme magis.Tapi jelas ini dugaan, saya kan belum baca bukunya. Soalnya, novel dengan ide yang brillian dan awal yang menjanjikan bisa berujung menjadi kisah membosankan dan tidak menggetarkan. Satanic Verses karya Salman Rusdhie, adalah salah satu contohnya.

Iklan

3 tanggapan untuk “Sekali lagi, tentang identitas yang terbelah

  1. jadi intine filme elek yo ru ….???
    wah padahal dah mo pinjem niy. bis aku suka bangeds sama novelnya.
    tapi sebenernya aku dah kepikiran siy ….. bakalan bagus ngga ya filmnya. pertama, karena gwe nggak suka ma film india, lebih2 bollywood, n kedua terheran2 novel ala gituan bisa dibikin filmnya, hehhehehehehehe ……
    yowes nggak jadi pinjemlah kalo gitu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s