<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Heruyaheru</title>
	<atom:link href="http://heruyaheru.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://heruyaheru.wordpress.com</link>
	<description>Catatan Ringan Heru</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Oct 2009 09:16:10 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='heruyaheru.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/2775150c871a8cdb12d740a3d55ba6eb?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Heruyaheru</title>
		<link>http://heruyaheru.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Sekte Para Pembunuh</title>
		<link>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/10/26/sekte-para-pembunuh/</link>
		<comments>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/10/26/sekte-para-pembunuh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 02:14:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>heruyaheru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://heruyaheru.wordpress.com/?p=177</guid>
		<description><![CDATA[The Assassins. Sebuah sekte pembunuh di Alamut selatan Persia abad pertengahan. Sekte ini sangat ditakuti pada jamannya. Mereka melakukan begitu banyak pembunuhan politik. Tanpa takut para anggota sekte bisa melakukan pembunuhan pada pejabat, ulama, atau orang biasa. Mereka bisa menyamar menjadi apa saja. Mengintai mangsa selama bertahun-tahun, kemudian mebunuhnya pada saat yang diinginkan. Menurut kamus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruyaheru.wordpress.com&blog=3982063&post=177&subd=heruyaheru&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">The Assassins. Sebuah sekte pembunuh di Alamut selatan Persia abad pertengahan. Sekte ini sangat ditakuti pada jamannya. Mereka melakukan begitu banyak pembunuhan politik. Tanpa takut para anggota sekte bisa melakukan pembunuhan pada pejabat, ulama, atau orang biasa. Mereka bisa menyamar menjadi apa saja. Mengintai mangsa selama bertahun-tahun, kemudian mebunuhnya pada saat yang diinginkan. Menurut kamus Oxford, dari nama sekte inilah kata <em>assassin </em>dan <em>assassination </em>berasal.</p>
<p style="text-align:justify;">Nama sekte ini, Al-Hasysyâsyîn. Para penulis Barat, termasuk Phillip K. Hitti yang menulis buku tebal, <em>History of the Arabs</em>,  menyebut mereka sebagai kaum penghisap <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hashish" target="_blank">hashish</a>, ramuan sejenis opium.  Karena  pengaruh hashish inilah mereka menjadi lupa akan rasa takut. Adakah mereka benar-benar menghisap hashish atau sekadar mengembangkannya demi uang, tidak jelas benar. Bagi Hasan al-Shabbah, pendirinya,  Al-Hasysyâsyîn sebenarnya adalah Assassiyun, kaum yang taat asas—ini yang ditulis oleh Amin Maalouf dalam novel berjudul <em>Samarkand</em>. Taat asas, maksudnya adalah hanya mereka yang setia pada asas Islam, yang lain tidak, dan demi asas ini pula mereka sanggup membunuh siapa saja. Hasan al-Shabbah adalah seorang pendakwah sekaligus panglima perang  yang ditakuti, ia seorang yang sangat taat dan ketat dalam beragama. Dikabarkan dia menghukum mati anaknya sendiri karena kepergok sedang minum anggur dan mengusir orang dari Alamut karena meniup seruling.<span id="more-177"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Hasan al-Shabbah adalah satu dari tiga serangkai tokoh terkemuka Persia selain Omar Khayyam dan Nizamul Mulk. Omar Khayyam, adalah seniman dan ahli metematika (juga pemabuk hebat) sedangkan Nizamul Mulk (Abu Ali al-Hasan al-Tusi Nizam al-Mulk) adalah wazir agung Kesultanan Seljuk yang saat itu menguasai dunia Islam dan menjaga (atau mengangkangi?) kekuasaan Khalifah di Baghdad. Nizam adalah penggagas berdirinya universitas pertama di dunia Islam,  Universitas Nizamiyah, yang suatu ketika nanti jabatan rektornya dipegang oleh filosof terkemuka, Al-Ghazali, sebelum ia kecewa, meragukan iman, dan menjadi seorang sufi-asketis. Tiga sahabat karib ini adalah tokoh-tokoh legendaris bangsa Persia, meski banyak ahli sejarah meragukan bahwa mereka hidup pada waktu yang sama. Tapi legenda adalah soal makna, bukan soal benar dan salah. Tiga tokoh ini mewakili citra diri bangsa, atau idealitas dan mimpi. Satu orang mewakili kegagahan panglima perang dan penganut agama yang tak kenal rasa takut, satu orang mewakili intelektualitas dan kelembutan hati (serta kegilaan?), sedangkan satunya lagi mewakili kecerdasan pikir, sekaligus kelicikan, seorang politikus (ingat, Nizam adalah penulis buku <em>Siyasat Nama</em>, sebuah buku yang hanya bisa dibandingkan dengan <em>Il Principle</em> yang dituis Machiavelli di dunia barat lima abad setelahnya).</p>
<p style="text-align:justify;">Konon, masih menurut legenda, Nizamul Mulk, juga dibunuh atas perintah sahabatnya sendiri, Hasan al-Shabbah.</p>
<p style="text-align:justify;">Antara menghisap ganja dengan keyakinan total pada asas. Mana yang benar? Entahlah. Yang jelas, keduanya memang bisa membuat orang bertindak apa saja termasuk membunuh. Sekte kaum pembunuh ini bertahan lebih dari satu abad sebelum dibantai orang-orang Mongol. Namun pembunuhan atas nama asas, tidak berhenti di kaki kuda-kuda Mongol. Sampai kini banyak orang berteriak atas nama asas untuk membunuh.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/heruyaheru.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/heruyaheru.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/heruyaheru.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/heruyaheru.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/heruyaheru.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/heruyaheru.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/heruyaheru.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/heruyaheru.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/heruyaheru.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/heruyaheru.wordpress.com/177/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruyaheru.wordpress.com&blog=3982063&post=177&subd=heruyaheru&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/10/26/sekte-para-pembunuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d746fc92035e09e7697d22151cf596c9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">heruyaheru</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(Belok) Kiri (tidak boleh) Jalan Terus!</title>
		<link>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/10/24/belok-kiri-tidak-boleh-jalan-terus/</link>
		<comments>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/10/24/belok-kiri-tidak-boleh-jalan-terus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 03:55:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>heruyaheru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[belok kiri]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi kiri]]></category>
		<category><![CDATA[lalu lintas]]></category>
		<category><![CDATA[sosialisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://heruyaheru.wordpress.com/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[Hari-hari ini bapak-bapak polisi sedang menyosialisasikan aturan baru diperempatan jalan. Kalau dulu, menurut UU tahun 1994 (UU yang dulu saaat saya sekolah di SMP sempat bikin geger karena besaran denda yang gila-gilaan) diperempatan jalan Anda boleh berbelok ke kiri tanpa menghiraukan lampu merah, kini jika Anda hendak belok kiri harus menunggu lampau hijau. Ini menurut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruyaheru.wordpress.com&blog=3982063&post=173&subd=heruyaheru&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Hari-hari ini bapak-bapak polisi sedang menyosialisasikan aturan baru diperempatan jalan. Kalau dulu, menurut UU tahun 1994 (UU yang dulu saaat saya sekolah di SMP sempat bikin geger karena besaran denda yang gila-gilaan) diperempatan jalan Anda boleh berbelok ke kiri tanpa menghiraukan lampu merah, kini jika Anda hendak belok kiri harus menunggu lampau hijau. Ini menurut UU No 22 tahun 2009 yang  disahkan Mei lalu. Aturannya sebenrnya cuma dibalik saja. Kalau dulu, belok kiri jalan terus kecuali ada larangan, sekarang belok kiri dilarang kecuali ada tanda yang memperbolehkan.Kono, aturan ini dibikin karena volume kendaraan yang sudah melampaui kemampuan ruas jalan. Kita lihat saja nanti apakah aturan ini tidak akan menambah macet jalanan dan menciptakan polisi-polisi yang senang bersembunyi di belokan kiri menunggu mangsa seperti di iklan rokok itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Ihwal belok kiri jalan terus ini dulu pernah menjadi permainan kata-kata teman-teman saya yang punya kecenderungan ideologi kiri. Kiri dalam khazanah politik kerap dikaitkan dengan ideologi sosialis, sebagai tanding dari ideologi liberal. Dalam pengertian yang lebih luas, kiri bisa berarti kritis terhadap sesuatu yang bersifat dominasi dan kejumudan. Nah, Kiri Jalan Terus itu pernah menjadi slogan yang hendak mengatakan bahwa ideologi kiri masih jalan meski selalu dilarang dan diberangus di mana-mana, meski tembok Berlin—misalnya—sudah roboh dan sosialisme tinggal menjadi cerita. Kiri Jalan Terus juga mengacu pada bangkitnya kembali sosialisme (yang ini konon berwajah baru) di Amerika Latin.<span id="more-173"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sewaktu kuliah dulu, teman-teman saya di <a href="http://sintesafisipol.wordpress.com/" target="_blank">Sintesa </a>pernah memainkan kata Kiri sebagai tulisan di kaos oblong: “Left is Right, Right is Wrong”. Kaos menjadi sesuatu yang sangat mencolok di penghujung kekuasaan Soeharto yang dikenal sangat anti ideologi Kiri. Kawan-kawan saya di <a href="http://pingsoet.com/v2/home.html" target="_blank">Pingsoet </a>juga memainkan kata Kiri ini pada sebuah design kaos oblongnya: “My Heart is on the Left.” Jika kaos itu dipakai, kata “Left” akan berada persis di dada sebelah kiri, letak jantung kita bersemayam.</p>
<p style="text-align:justify;">Di jalanan saat ini belok kiri tidak boleh jalan terus. Saya tidak tahu apakah ini lantas menjadi penanda tentang kekuatan kelompok Kanan yang makin menggurita dan betapa negeri ini sudah kaffah berada di haribaan kaum Kanan. Wallahu a’lam.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/heruyaheru.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/heruyaheru.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/heruyaheru.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/heruyaheru.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/heruyaheru.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/heruyaheru.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/heruyaheru.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/heruyaheru.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/heruyaheru.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/heruyaheru.wordpress.com/173/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruyaheru.wordpress.com&blog=3982063&post=173&subd=heruyaheru&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/10/24/belok-kiri-tidak-boleh-jalan-terus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d746fc92035e09e7697d22151cf596c9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">heruyaheru</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gempa dan Kutukan Tuhan</title>
		<link>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/10/04/gempa-dan-kutukan-tuhan/</link>
		<comments>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/10/04/gempa-dan-kutukan-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 02:22:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>heruyaheru</dc:creator>
				<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[gempa sumatera]]></category>
		<category><![CDATA[naomi klein]]></category>
		<category><![CDATA[tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://heruyaheru.wordpress.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Setiap ada gempa atau bencana alam lainnya, banyak sekali diperdengarkan seruan untuk mengingat Tuhan. Termasuk ketika gempa mengguncang Jawa beberapa waktu lalu dan Sumatra baru-baru ini. Kita mendengar pula orang mengaitkan amukan alam itu sebagai hukuman, teguran, atau bahkan kutukan Tuhan.  Sejumlah ahli agama bahkan secara terbuka menuduh bencana sebagai akibat dari perilaku masyarakat itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruyaheru.wordpress.com&blog=3982063&post=168&subd=heruyaheru&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Setiap ada gempa atau bencana alam lainnya, banyak sekali diperdengarkan seruan untuk mengingat Tuhan. Termasuk ketika gempa mengguncang Jawa beberapa waktu lalu dan Sumatra baru-baru ini. Kita mendengar pula orang mengaitkan amukan alam itu sebagai hukuman, teguran, atau bahkan kutukan Tuhan.  Sejumlah ahli agama bahkan secara terbuka menuduh bencana sebagai akibat dari perilaku masyarakat itu sendiri (lihat di <a href="http://regional.kompas.com/read/xml/2009/10/01/22021053/mui.gempa.sumbar.cobaan.dan.peringatan" target="_blank">sini</a>). Sebagai upaya untuk mawas diri barangkali itu baik-baik saja. Apalagi jika disertai refleksi tentang cara hidup yang memang sudah tidak selaras dengan alam. Atau jika diikuti dengan semangat nalar untuk mencari jalan agar bencana tidak mendatangkan banyak korban. Tapi kecendrungan untuk melibatkan Tuhan (dan hal-hal mistis lainnya) dalam urusan bencana ini, bagi saya, cukup merisaukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengatakan gempa—dan bencana alam lain—sebagai buah dari tindakan manusia yang bergelimang dosa menurut saya sungguh tidak bermoral. Logikanya sederhana saja: jika gempa dalah hukuman untuk perilaku maksiat, kenapa mereka yang harus digoyang gempa. Anda tentu bisa menemukan tempat “maksiat” dan “tak bermoral” lain yang aman-aman saja dari gempa dan bencana. Jika bencana dikatakan sebagai hukuman Tuhan, di situ ada nuansa “menyalahkan para korban”. Apakah tidak terpikir oleh mereka yang berseru-seru tentang moralitas itu, betapa para korban sudah cukup menderita akibat gempa lantas masih saja harus dihinggapi perasaan dihukum Tuhan? Pernyataan moralis itu juga seolah mengatakan para korban memang layak menjadi korban. Agama konon mengajarkan empati dan simpati, tapi dalam hal ini tiba-tiba lenyap menjadi setumpuk sikap pseudeo religius. Beberapa waktu lalu saya juga pernah mendengar celoteh tentang luapan lumpur Lapindo adalah karena buruknya moralitas warga di Sidoarjo. Hal-hal sedemikian ini sungguh-sungguh telah menciderai akal sehat.<span id="more-168"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Kedua, kecenderungan untuk berpikir mistis membuat kita lupa bahwa tugas menjadi manusia adalah berhadapan dengan alam dan manusia lain. Melemparkan urusan alam dan manusiaswi kepada sesuatu yang bersifat supranatural akan membuat kita tumpul pikir. Gempa di Sumatera adalah fenomena alam yang tidak ada hubungannya dengan moralitas. Jauh lebih bermartabat, apabila daya pikir kita dikerahkan untuk mengetahui dan mengatasi berbagai fenomena alam. Masyarakat yang belajar dari bencana ke bencana bisa hidup berdampingan dengan cincin maut di bawah kita. Fenomena alam seperti gempa itu bisa menyadarakan kita betapa kita hidup seperti di atas krupuk yang terapung di atas bubur. Jika demikian halnya, bencana seperti gempa bisa diminimalkan korbannya jika kita mengetahui caranya. Masyarakat seperti Jepang, bisa dijadikan tempat belajar.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada dua hal itulah seruan tentang moralitas itu menjadi berbahaya, yakni membuat orang terlena dan menumpulkan nalar kritis. padahal, lebih dari itu, setelah bencana dan semua haru biru tanggap darurat, kita akan berhadapan dengan potensi bencana yang bisa jadi lebih besar: masuknya modal besar dan terkoyaknya jaring sosial masyarakat. Naomi Klein di buku <em>The Shock Doctrine: The Rise of Disaster Capitalism </em>telah memaparkan betapa masyarakat yang tertimpa bencana adalah sasaran empuk lain—di luar masyarakat pasca perang dan kekerasan kudeta—bagi kapitalisme global. Tsunami tahun 2004 silam misalnya, justru melapangkan jalan bagi pemerintah Maladewa dan pemodalnya untuk membangun tempat plesir mewah yang sebelumnya begitu susah didapatkan. Pulau-pulau yang terkena tsunami dinyatakan sebagai tempat yang tak layak ditinggali, namun tiba-tiba sejurus kemudian disulap menjadi tempat wisata mewah bagi para turis. Rekonstruksi pasca bencana—dan perang—juga selalu melibatkan perusahaan konstruktor besar yang pada gilirannya membuat warga kian tergantung pada kekuatan di luar dirinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, mengingat Tuhan—atau kekuatan supranatural apapun yang anda percayai—di saat ada bencana itu bagus-bagus saja. Tak ada salahnya. Secara pribadi anda juga boleh-boleh saja mengaitkan gempa secara kebetulan sama dengan ayat tertentu dalam kitab suci yang anda percayai atau ramalan pujangga idola anda. Tapi menyerukan pada semua orang bahwa bencana adalah hukuman Tuhan karena maksiat dan perilaku amoral saya kira bukan sesuatu yang pada tempatnya…</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/heruyaheru.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/heruyaheru.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/heruyaheru.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/heruyaheru.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/heruyaheru.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/heruyaheru.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/heruyaheru.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/heruyaheru.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/heruyaheru.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/heruyaheru.wordpress.com/168/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruyaheru.wordpress.com&blog=3982063&post=168&subd=heruyaheru&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/10/04/gempa-dan-kutukan-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d746fc92035e09e7697d22151cf596c9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">heruyaheru</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pancasila</title>
		<link>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/09/10/pancasila/</link>
		<comments>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/09/10/pancasila/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 09:06:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>heruyaheru</dc:creator>
				<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[globalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[neoliberal]]></category>
		<category><![CDATA[pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://heruyaheru.wordpress.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[
Suatu ketika, saya ditelpon teman lama saya. Teman saya ini meminta saya menulis review sebuah buku. Bukunya berjudul “Negara Pancasila, Jalan Kemaslahatan Berbangsa,” ditulis oleh As’ad Said Ali, diterbitkan LP3ES. Setelah saya baca, saya bolak-balik terus, saya tidak menemukan hal yang istimewa dari isinya. Keistimewaan buku ini justru terletak pada momen ia diterbitkan. Ya sekarang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruyaheru.wordpress.com&blog=3982063&post=160&subd=heruyaheru&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Suatu ketika, saya ditelpon teman lama saya. Teman saya ini meminta saya menulis review sebuah buku. Bukunya berjudul “Negara Pancasila, Jalan Kemaslahatan Berbangsa,” ditulis oleh As’ad Said Ali, diterbitkan LP3ES. Setelah saya baca, saya bolak-balik terus, saya tidak menemukan hal yang istimewa dari isinya. Keistimewaan buku ini justru terletak pada momen ia diterbitkan. Ya sekarang ini. Ketika banyak orang mulai lupa pancasila. Pancasila dilupakan justru bukan karena ia tak pernah diderdengarkan, ia dilupakan malah karena ia terlalu sering disuarakan. Anda yang diberi berkah menghirup udara pengap orde baru pasti tidak lupa dengan penataran P4 dan bualan tentang pancasila itu. Waktu itu, hampir tiada hari tanpa pidato pejabat mengenai Pancasila. Tafsir tunggal tentang Pancasila yang bernama P4 (Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila) diajarkan di setiap jenjang sekolah melalui berbagai penataran. Bahkan, kita ingat, orang yang hendak menikah pun harus mengikuti penataran P4. Dikatakan dengan kalimat yang berbeda, Pancasila telah menjadi ideologi yang tertutup. Dengan cara seperti ini, Panacasila menjadi begitu lekat dengan rezim Orde Baru. Orang yang mengritik atau menentang kebijakan pemerintah akan tertuduh sebagai penentang Pancasila. Maka begitu Soeharto kehilangan kekuasaan, orang dengan mudah melupakannya. Pancasila juga seperti lenyap ditelan jaman. Tiba-tiba Pancasila menjadi sesuatu yang ganjil. <span id="more-160"></span>Sesuatu yang seolah tidak lagi pantas untuk dihayati karena telah kehilangan maknanya sebagai pemersatu atau titik pijak suatu bangsa.  Dalam konteks seperti itulah buku ini menjadi penting.<br />
Ada dua poin penting dalam buku ini yang relevan pada hari-hari sekarang ini. Pertama, mengenai hubungan antara agama dan negara. Pancasila, menurut penulis buku ini, adalah titik temu kalau bukan titik tengah dari pencarian panjang tentang bagaimana mendudukkan hubungan antara negara dan agama di negeri yang sangat beragam ini. Indonesia jelas dikehendaki oleh para pendirinya bukan sebagai negara agama tertentu. Namun Indonesia juga bukan negara sekuler yang sama sekali tidak berurusan dengan agama. Faktanya, demikian As’ad, negara punya peran sangat signifikan misalnya dengan adanya Departemen Agama, UU tentang zakat, haji, dan seterusnya. Secara sosiologis, agama juga menjadi kekuatan penyumbang yang sangat penting dalam pendirian negara ini. Sejumlah gerakan agama berjasa besar dan  menjadi kekuatan penentang kolonialisme. Karena itulah, As’ad lantas kembali pada konsepsi yang sangat sering diperdengarkan pada masa Orde Baru: Indonesia bukan negara sekuler tapi juga bukan negara agama.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Tentu saja konsepsi tersebut masih bisa diperdebatkan. Tapi poin pentingnya adalah bahwa Pancasila adalah sebuah kesepakatan bersama yang menjadi pijakan kehidupan bersama dari berbagai komunitas yang sangat beragam. Dengan demikian, tidak ada satu agama apapun yang lebih superior dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila adalah pijakan penting untuk membangun masyarakat multikultural. Semangat multikulturalisme harus dimuai dari kesadaran bahwa suatu komunitas tidak bisa hidup tanpa komunitas lainnya. Kesalingtergatungan ini mutlak dikembangkan agar tidak muncul sikap superior dari satu komunitas terhadap komunitas lain.<br />
Kedua, ihwal ekonomi. Secara tegas buku ini mengatakan bahwa sejatinya para pendiri bangsa menghendaki Indoensia sebagai negara kesejahteraan. Ini tampak pada naskah UUD 45 Pasal 33 yang secara tegas menyatakan bahwa negara menguasai cabang-cabang produksi yang penting serta menguasai bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Sementara, dewasa ini berkembang pikiran lain yang hendak menggiring negeri ini pada paham neoliberal yang menyerahkan urusan ekonomi semata kepada pasar. Proses amandemen Pasal 33 UUD 45 secara gamblang menunjukkan gejala ini. Sejumlah ekonom sempat menghendaki agar Pasal 33 ini dihapus. Pada kenyataannya, hari ini, Indonesia telah menganut sistem pasar bebas itu. Harga BBM, misalnya, diserahkan pada proses pasar. BUMN banyak yang dijual meski menyangkut hajat hidup orang banyak. Bahkan pelayanan pubik seperti Rumah Sakit juga turut diprivatisasi<br />
Dua  hal itulah yang menjadi tantangan kontemporer bagi Pancasila di dunia yang tengah tunggang langgang ini. Globalisasi dan terbukanya keran demokrasi meniscayakan masuknya berbagai ideologi, termasuk yang bertentangan dengan cita-cita awal didirikannya republik ini. Ideologi neoliberalisme dan totalitarianisme berbasis agama adalah contoh yang paling kasat mata. Pancasila berada pada percaturan ideologi-ideologi dunia ini. Jika tidak ingin negeri ini terombang-ambing di antara berbagai benturan ideologi itu, maka Indonesia harus kembali berpijak pada pondasi asalnya sebagai sebuah bangsa. Karena itulah Pancasila harus diletakkan kembali sebagai dasar negara—bukan jargon politik. Tidak boleh lagi ada kelompok politik yang memonopoli makna Pancasila dan memaksakannya pada semua orang. Semua kelompok kendati punya asas yang berbeda tetap berada dalam payung Pancasila. Inilah yang disebut dengan Pancasila sebagai ideologi terbuka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">***<br />
Sayangnya apa yang disampaikan dalam buku ini tidak cukup memadai untuk menawarkan gagasan segar tentang Pancasila sebagai ideologi terbuka. Tak banyak yang baru dalam buku ini. Perspektif yang dikembangakan pun masih merupakan pola lama. Yakni masih melihat Pancasila sebagai sesuatu yang konkret. As’ad juga semata melihat Pancasila semata sebagai sesuatu yang benar-benar lahir dari galian nilai-nilai yang sudah ada dalam kebudayaan bangsa. Sejurus dengan ini pula, As’ad memandang bahwa sejatinya komunitas bangsa Indonesia memang sudah ada sejak sebelum masa kolonial, yakni sebagai komunitas masyarakat nusantara yang mewujud pada kerajaan Sriwijaya atau Majapahit. Dengan demikian, Indonesia bukanlah sebuah komunitas yang dicitakan, tetapi sesuatu yang sudah jelas wujudnya. Dengan cara pandang seperti ini pula, Pancasila dilihat bukan sebagai cita-cita tapi sesuatu yang sudah konkret dan siap mengantarkan kita pada tujuan kebaikan bangsa. Cara pandang seperti ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang dibayangkan Orde Baru dan pada gilirannya hanya akan membuahkan patriotisme berlebihan.
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Jika hendak menempatkan Pancasila sebagai ideologi terbuka—seperti diklaim penulis buku ini—maka yang pertamakali harus disadari adalah bahwa Pancasila juga sudah terbuka sejak dirumuskan. Bagaimanapun, para pendiri bangsa juga sudah bergelimang dengan gagasan-gagasan global ketika merumuskan Pancasila. Tak bisa disangkal pula bahwa Pancasila mengandung nilai-nilai kemanusiaan universal yang menjadi kecendrungan umum pada saat itu. Dengan demikian, sebagai ideologi terbuka, Pancasila juga harus terbuka untuk berdiaog dengan ide-ide baru, sehingga Pancasila tidak gamang dalam “bertarung” dengan ide-ide baru dunia. Dengan cara demikian, Pancasila tidak akan hanya menjadi hafalan anak-anak sekolah. Begitu…</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/heruyaheru.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/heruyaheru.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/heruyaheru.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/heruyaheru.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/heruyaheru.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/heruyaheru.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/heruyaheru.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/heruyaheru.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/heruyaheru.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/heruyaheru.wordpress.com/160/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruyaheru.wordpress.com&blog=3982063&post=160&subd=heruyaheru&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/09/10/pancasila/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d746fc92035e09e7697d22151cf596c9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">heruyaheru</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tikus</title>
		<link>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/09/02/tikus/</link>
		<comments>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/09/02/tikus/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 04:04:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>heruyaheru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[cara mengusir tikus]]></category>
		<category><![CDATA[hama]]></category>
		<category><![CDATA[jangkrik]]></category>
		<category><![CDATA[koruptor]]></category>
		<category><![CDATA[ratu kidul]]></category>
		<category><![CDATA[tikus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://heruyaheru.wordpress.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[
Tikus, bagi saya, adalah binatang paling menjijikkan yang pernah dihadirkan proses evolusi—atau, kalau mau sedikit relijius, yang pernah diciptakan Tuhan. Sialnya, makhluk kecil ini justru yang konon paling mudah beranak-pinak dan paling senang hidup bersama manusia.
Mulanya, tak ada tikus di rumah saya. Tapi beberapa waktu setelah saya mendiami rumah ini, tikus-tikus itu mulai berdatangan. Lama-lama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruyaheru.wordpress.com&blog=3982063&post=152&subd=heruyaheru&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Tikus, bagi saya, adalah binatang paling menjijikkan yang pernah dihadirkan proses evolusi—atau, kalau mau sedikit relijius, yang pernah diciptakan Tuhan. Sialnya, makhluk kecil ini justru yang konon paling mudah beranak-pinak dan paling senang hidup bersama manusia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Mulanya, tak ada tikus di rumah saya. Tapi beberapa waktu setelah saya mendiami rumah ini, tikus-tikus itu mulai berdatangan. Lama-lama makin banyak dan makin menyebalkan.Barangkali mereka mulai punya anak dan cucu. Malam atau siang mereka selalu menciptakan acara pesta di atap rumah. Suaranya gedebukan tidak karuan. Suara-suara itu tidak terlalu menganggu, yang mengganggu justru ketika salah satu atau salah dua di antara mereka menampakkan diri di ruang tamu, di dapur, atau di ruang makan. Saya kadang berpikir, tikus-tikus itu tidak hanya mengandalkan naluri tapi juga mulai mengembangkan otaknya. Sebab mereka mulai pintar membuka pintu, mengangkat tudung makan, dan semacamnya.<span id="more-152"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Beberapa hal sudah saya lakukan untuk mengusir tikus-tikus ini, misalnya dengan menabur kopi. Cara ini tidak menyenangkan, disamping bekasnya jadi kotor, kopinya juga terlalu sayang dibuang-buang begitu saja. Efeknya? Tidak cukup ampuh. Barangkali kafeinnya malah menambah gairah sang tikus. Cara lainnya adalah dengan menabur kapur barus. Anak saya sering menyebutnya “permen untuk tikus,” tapi juga tak banyak membantu. Saya malas memasang jebakan atau racun, karena esoknya harus berhadapan <em>face to face </em>dengan tikus—padahal ini yang selalu saya hindari dalam hidup ini, selain berbuat dosa dan maksiat tentu saja (hehe). Saya mencoba mencari alat elektronik pengusir tikus seperti yang pernah saya lihat di rumah teman. Konon alat itu mengeluarkan bunyi (yang frekwensinya tidak bisa ditangkap telinga manusia) yang tidak disukai tikus. Mungkin bunyinya berupa lagu atau suara yang membuat tikus bersedih, terharu, lemas, hingga tidak lagi mempunyai optimisme untuk melanjutkan kehidupannya. Atau mungkin alat itu mengeluarkan suara-suara seperti pidato politik atau ceramah yang menjemukan. Saya belum menemukan alat itu. Saya cari cara lain. Akhirnya bertemu dengan petunjuk tentang penggunaan jangkrik. Konon, suara jangkrik juga tidak disukai tikus. Barangkali tikus dibuat geli dengan suara krak-krik-krak-krik itu. Atau mungkin suara jangkrik terdengar seperti suara ular (waktu kecil saya suka menangkap jangkrik di sawah dan harus pandai memilah suara jangkrik dan suara ular). Entahlah, yang jelas beberapa hari ini tikus-tikus itu mulai jarang menampakkan diri. Paling banter, terdengar grudak-gruduk di atap. Sayangnya, usia jangkrik saya tidak terlalu lama. Ada yang mati, ada juga yang lari dari kotak kecil bekas kue dan mainan yang saya pakai untuk mengandangkannya. Saya melobangi kotak-kotak itu terlalu besar. Untunglah di dekat rumah ada pasar yang setiap pon (ini nama pasaran jawa selain wage, kliwon, paing, dan legi) ada orang jualan jangkrik. Jadi, kalaupun mati atau hilang, saya segera bisa dapat gantinya. Sejauh ini upaya jangkrik berhasil, saya tidak tahu apakah dalam beberapa hari ke depan tikus-tikus itu akan mulai bisa beradaptasi dan mulai menginvasi rumah saya lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Tikus juga termasuk hama dan musuh petani yang susah dibasmi. Konon, tikus-tikus itu adalah jelmaan tentara kanjeng ratu kidul, sehingga banyak petani yang rela saja padinya dilahap tikus. Mungkin itulah sebabnya tikus sering dipanggil dengan sebutan “den baguse..” atau bisa juga sebutan itu terbit karena sifat tikus yang dengan enak saja mengambil makanan kita tanpa permisi (mirip tuan-tuan dan den bagus itu…)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Di beberapa tempat di jawa, kata jangkrik populer menjadi makian (juangkkrik!!!), tapi saya jarang orang memaki dengan kata-kata “tuikuss!!!”. Meski begitu, kata tikus sudah bersemayam dengan sifat menjijikkan manusia: ia menjadi lambang untuk para koruptor dan maling. Barangkali karena tikus begitu pintar mencuri, barangkali pula karena menjijikkan. Sayangnya, kendati sudah dilekati kata dan sifat tikus, tetap saja tidak banyak yang jijik dengan koruptor. Mereka tetap bisa melenggang hidup terhormat di tengah masyarakat. Bahkan ada yang menjadi ketua umum organisasi olahraga, ada yang mau mencalonkan diri jadi ketua partai, dan seterusnya. Untuk jenis tikus yang satu ini, tidak mungkin diusir dengan suara jangkrik…</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/heruyaheru.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/heruyaheru.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/heruyaheru.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/heruyaheru.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/heruyaheru.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/heruyaheru.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/heruyaheru.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/heruyaheru.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/heruyaheru.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/heruyaheru.wordpress.com/152/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruyaheru.wordpress.com&blog=3982063&post=152&subd=heruyaheru&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/09/02/tikus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d746fc92035e09e7697d22151cf596c9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">heruyaheru</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penceramah dan Intelektual</title>
		<link>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/08/26/penceramah-dan-intelektual/</link>
		<comments>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/08/26/penceramah-dan-intelektual/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 08:45:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>heruyaheru</dc:creator>
				<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[Gramsci]]></category>
		<category><![CDATA[intelektual]]></category>
		<category><![CDATA[intelektual organik]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[penceramah agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://heruyaheru.wordpress.com/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[
Mumpung lagi jaman puasa saya mau cerita soal yang sedikit banyak ada kaitannya dengan puasa. Dua tahun lalu, ketika saya baru menempati rumah saya, saya adalah orang baru di lingkungan ini. Entah karena kesan apa, orang-orang (atau sebagian) di sekitar tempat tinggal saya mengira bahwa saya adalah orang yang pintar ilmu agama. Ini dibuktikan ketika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruyaheru.wordpress.com&blog=3982063&post=144&subd=heruyaheru&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Mumpung lagi jaman puasa saya mau cerita soal yang sedikit banyak ada kaitannya dengan puasa. Dua tahun lalu, ketika saya baru menempati rumah saya, saya adalah orang baru di lingkungan ini. Entah karena kesan apa, orang-orang (atau sebagian) di sekitar tempat tinggal saya mengira bahwa saya adalah orang yang pintar ilmu agama. Ini dibuktikan ketika ada undangan dari masjid untuk meminta saya menjadi penceramah. Saya tentu kaget bukan alang kepalang. Bukan apa-apa. Saya jelas bukan seorang ustadz apalagi kyai. Bahkan saya bukan santri. Tentu kalau dalam kategori Geertzian saya masih merasa cukup pede untuk menyebut diri sebagai kaum yang disebut santri itu. Minimal, saya pernah ngaji kitab kuning. Meski cuma sedikit dan tidak terlalu kuning sebenarya. Saya tidak kuasa menolak permintaan itu. Soal materi ceramah, bisa dicari. Toh, di mana-mana, yang namanya ceramah kan intinya soal mengajak orang berbuat baik dan tidak melakukan hal buruk. Tapi karena saya bukan penceramah profesional, ya akhirnya performance saya tidak memuaskan. Buktinya, tidak ada undangan ceramah lagi sesudah itu. lagipula, waktu itu, saya memang tidak berceramah. Lebih tepatnya, tidak mau. Ketika di podium, saya merasa aneh. Merasa salah tempat. Untunglah, begini-begini waktu di sekolah di SMA saya sekali dua kali menceramahi teman-teman saya saat ada sesi kultum pagi. Sampai kini saya juga tak sepenuhnya mengerti kenapa kawan-kawan saya itu mau saja saya ceramahi. Jadi, malam itu saya masih bisa menyampaikan satu atau dua hal yang pasti bisa diterima akal sehat, sambil mengutip satu atau dua ayat atau hadis—yang juga sama masuk akalnya.</p>
<p><span id="more-144"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Terus terang saya kagum pada kemampuan sebagian penceramah. Tentu tidak semua penceramah. Kebanyakan penceramah agama malah lebih punya kemampuan menciptakaan rasa kantuk, kalau bukan sakit hati, daripada memberi pencerahan.<!--more--> Saya kagum juga bukan pada isi ceramahnya (hehe), tapi betapa mereka bisa dengan tenang bisa menyambungkan diri dengan khalayak. Semalam, misalnya, saya mendengarkan ceramah seorang anak muda yang dengan lancar menyambungkan diri dengan dunia pendengarnya. Saya kira tidak banyak yang mampu menyambungkan diri dengan khalayak serta memahami apa yang dirasakan masyarakat. Di negeri ini banyak intelektual, kaum cerdik pandai, yang seolah berada di  dunia sendiri. Saya hampir yakin, tak banyak yang bisa berkomunikasi dengan baik ketika berhadapan masyarakat bawah yang berpikiran sederhana. Bisa jadi ini karena kultur dunia intelektual kita yang sejak jaman Majapahit menempatkan elite intelektual di  menara gading, di dunia sendiri yang hampir tidak nyambung dengan masyarakat. Dulu, Gramsci pernah menyebut tentang intelektual organik. Sejenis intelektual yang hidup dan merasakan betul gerak hati masyarakat. Saya tentu tidak sedang menyebut para penceramah itu sebagai intelektual organik. Jelas bukan. Tapi saya hendak memaksudkan bahwa kemampuan yang dipunyai penceramah di desa-desa itu—yakni dalam hal memahami gerak hati dan problem masyarakat yang dihadapi—, adalah kemampuan yang semestinya dimiliki para intelektual –apalagi yangmenyebut dirinya intelektual organik.</p>
<p><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Oya, bicara soal penceramah, belakangan ini  saya dengar ada kabar tentang polisi yang hendak mengawasi para penceramah agama. Sepertinya ada cara pikir pemerintah yang belum juga berubah sejak jaman Eyang Gubernur Jenderal Mur Jangkung: mengawasi dan mengawasi….</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/heruyaheru.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/heruyaheru.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/heruyaheru.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/heruyaheru.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/heruyaheru.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/heruyaheru.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/heruyaheru.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/heruyaheru.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/heruyaheru.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/heruyaheru.wordpress.com/144/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruyaheru.wordpress.com&blog=3982063&post=144&subd=heruyaheru&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/08/26/penceramah-dan-intelektual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d746fc92035e09e7697d22151cf596c9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">heruyaheru</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memuseumkan NU</title>
		<link>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/07/26/memuseumkan-nu/</link>
		<comments>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/07/26/memuseumkan-nu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2009 11:17:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>heruyaheru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://heruyaheru.wordpress.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[
Saat  jalan-jalan  di Surabaya beberapa waktu lalu, saya bersama teman-teman menginap di markas kawan-kawan FLA. Pagi hari, kami  mencari warung kopi, kami berjalan di jalanan sekitar mesjid akbar surabaya. Saya melihat gedung yang di atasnya berjudul museum NU. Mulanya saya tidak percaya jika itui benar-benar sebuah museum. Bagi nalar saya, ini berdasar kebiasaan, museum selalu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruyaheru.wordpress.com&blog=3982063&post=118&subd=heruyaheru&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Saat  jalan-jalan  di Surabaya beberapa waktu lalu, saya bersama teman-teman menginap di markas kawan-kawan FLA. Pagi hari, kami  mencari warung kopi, kami berjalan di jalanan sekitar mesjid akbar surabaya. Saya melihat gedung yang di atasnya berjudul museum NU. Mulanya saya tidak percaya jika itui benar-benar sebuah museum. Bagi nalar saya, ini berdasar kebiasaan, museum selalu diperuntukkan untuk sesuatu yang sudah tiada. Sesuatu yang tidak bisa lagi ditemukan dalam hidup sehari-hari. Misalnya, mueseum hewan purba, museum diponegoro, museum pusaka, dan lain-lain.  Tapi NU? Setiap hari kita masih bisa merasakan kehadirannya. Maka nama museum NU itu dengan sendirinya menjadi tidak lazim. Tapi tak apalah. Barangkali para pembuat museum ini sedang berpikir tentang pusat dokumentasi NU tapi tidak menemukan istilah lain kecuali museum.<span id="more-118"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Pagi itu, saya dan kawan-kawan, dengan antusias masuk ke dalam museum. Barangkali, bagi saya, ini adalah satu-satunya museum yang secara “sukarela” saya masuki. Selebihnya saya selalu masuk museum jikalau ada tugas sekolah.Setelah membubuhkan tanda tangan, kami mulai masuk ke ruangan demi ruangan. Sebelumnya, kami sempat menanyakan apakah boleh memotret di ruangan museum itu. Ternyata tidak boleh, tanpa petugas itu tahu alasannya ketika kami tanya. Ia hanya menjawab itu semacam perintah dari atasannya. Kami sempat berpikir jangan-jangan atasannya melarang orang memotret karena demikianlah yang lazimnya sebuah museum.ah, tapi pikiran itu seperti menyepelekan orang NU yang sudah membangun tempat megah seperti ini. Tentu mereka tahu alasan kenapa kamera haram masuk museum. Barangkali saja karena di dalam museum ini sudah banyak potret. Terlalu banyak malah. Jumlahnya melebihi bentuk-bentuk koleksi yang lain. hampir di semua lorong dan ruang selalu ada potret diri dan lukisan. Apalagi kalau bukan potret dan lukisan diri para kyai dan nyai tempo dulu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Di antara foto-foto itu, yang paling sering menyergap mata kita adalah foto mbah Hasyim Asyari, kiai Wahid Hasyim, dan Gus Dur—tentu saja. Barangkali karena tiga orang inilah yang paling dikenal oleh orang di luar tentang kiai NU. Selain foto, ada jubah, sepeda, pakaian para kiai jaman dulu dan kitab-kitab kuning di fase awal islam di jawa. Ada pula kliping koran tentang sepak terjang NU di masa lampau. Selebihnya, ya itu tadi, kumpulan potret kiai dan peristiwa-peristiwa menyangkut NU di masa lalu. Kebanyakan tidak terlalu istimewa, hampir semua foto itu bahkan bisa dijumpai di tempat orang-orang yang berjualan foto saat mukatamar NU atau khaul kiai besar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Kendati demikian, ada sejumlah foto yang relatif baru yang menurut saya memang layak dimuseumkan. Foto itu terpampang di lantai dua. Foto ketika para elite NU seperti Hasyim  Muzadi, Gus Dur, Alwi Sihab, Matori, dan lain-lain salinng mengangkat tangan saat momen istigotsah akbar di Surabaya. Atau foto Matori Abdul Jalil yang menangis di pangkuan Gus Dur saat kampanye PKB di awal tahun 2000an. Peristiwa-peristiwa beberapa tahun lalu itu barangkali saja memang sudah layak dimuseumkan karena memang sudah terasa sangat lama dan nyaris tak akan pernah terulang lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Satu lagi yang menarik sekaligus mencekam adalah bekas pakaian banser bernama Riyanto yang teronggok di sudut ruangan. Di atasnya terpajang foto mengerikan saat kepalanya pecah terkena bom di Gereja Pantekosta &#8216;Eben Haezer&#8217; Jalan Kartini, Mojokerto pada peristiwa bom natal tahun 2000 . Di semua benda di museum ini, barangkali seragam banser inilah yang paling bisa menjadi ikon museum NU ini.  Apalagi, kini banyak orang mulai melupakannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Foto lain yang menarik adalah foto para peremuan NU berlatih perang. Salah satu foto bahkan menunjukkan ada satu perempuan berkerudung yang tengah menyiapkan senjata apai dengan mata tertutup. Tidak ada kesan kaku pada foto-foto itu. semua tampak gagah dan sigap.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Di lantai dua ini pula terdapat satu meja yang diklaim sebagai meja yang digunakan saat kongres sarbumusi. Sebuah organisasi buruh underbouw NU. tidak pernah jelas benar nasib organisasi ini dan perhatian Nu di masa kini pada isu  buruh. Padahal sebagian besar buruh—apalagi buruh migran—adalah orang-orang NU. barangkali karena NU adalah organisasai milik para kiai, bukan milik buruh atau petani.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Selain keempat benda di atas—foto Matori yang menangis di pangkuan Gusdur, baju seragam banser Riyanto, foto muslimat NU yang berlatih perang, dan meja sarbumisi—tidak banyak benda di museum ini yang bisa membuat kita merenungkan NU di masa lalu, kini, dan masa depan….</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/heruyaheru.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/heruyaheru.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/heruyaheru.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/heruyaheru.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/heruyaheru.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/heruyaheru.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/heruyaheru.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/heruyaheru.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/heruyaheru.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/heruyaheru.wordpress.com/118/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruyaheru.wordpress.com&blog=3982063&post=118&subd=heruyaheru&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/07/26/memuseumkan-nu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d746fc92035e09e7697d22151cf596c9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">heruyaheru</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Omar Khayyam dalam Nostalgia Masa SMA</title>
		<link>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/04/21/omar-khayyam-dalam-nostalgia-masa-sma/</link>
		<comments>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/04/21/omar-khayyam-dalam-nostalgia-masa-sma/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2009 02:47:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>heruyaheru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum]]></category>
		<category><![CDATA[omar khayyam]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[SMA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://heruyaheru.wordpress.com/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[
Semalam seorang kawan lama saya menelpon dan mengajak bertemu bersama kawan-kawan SMA lainnya di sebuah warung makan. Tentu bukan karena akan ada makanan—yang bisa jadi gratis itu—saya pergi menembus malam menemui mereka. Sudah lama saya tidak bertemu mereka  sehingga ada keinginan untuk memenuhi rasa kangen. Ketika akhirnya saya menjumpai mereka dan berbicara tentang berbagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruyaheru.wordpress.com&blog=3982063&post=112&subd=heruyaheru&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Semalam seorang kawan lama saya menelpon dan mengajak bertemu bersama kawan-kawan SMA lainnya di sebuah warung makan. Tentu bukan karena akan ada makanan—yang bisa jadi gratis itu—saya pergi menembus malam menemui mereka. Sudah lama saya tidak bertemu mereka <span> </span>sehingga ada keinginan untuk memenuhi rasa kangen. Ketika akhirnya saya menjumpai mereka dan berbicara tentang berbagai hal—yang topiknya tidak pernahkeluar dari kenangan masa sekolah—saya mendapati bahwa yang menyatukan kami tadi malam adalah kenangan. Yakni kenangan pada masa-masa sekolah yang oleh lagu Obbie Messah menjadi begitu syahdu itu (meski bagi saya tidak, karena lebih banyak berisi kenangan konyol hehe).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Kami mengenang kelakuan guru-guru kami yang semalam terasa menjadi begitu lucu dan ajaib. Tentang guru Kimia kami yang menjadikan pelajaran Kimia yang sudah sulit itu menjadi terkesan lebih rumit lagi, tentang guru Matematika yang membuat Matematika menjadi semakin mencemaskan, tentang guru olah raga yang secara kurang ajar kami juluki Osella karena kerap berdiri di pinggir lapangan basket sambil membawa payung, atau tentang guru Bahasa Indonesia kami yang justru membuat kesan bahwa berbahasa Indonesia itu kering kerontang. Sebagian tentu bukan salah guru-guru kami, tapi karena memang mereka <span> </span>harus mengajarkan hal-hal ajaib yang dibuat tidak menggairahkan itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Saya akan beri ilustrasi begini. <span> </span>Ketika kita sekolah di SMA, atau bahkan di jenjang sebelumnya, kita sudah dikenalkan dengan dunia Sastra. Tapi benarkan pelajaran Bahasa Indonesia mengajarkan Sastra? Seingat saya tidak. melalui ingatan saya yang pendek ini, pelajaran Sastra yang saya ingat hanyalah menghapalkan nama pengarang buku dan kapan buku itu diterbitkan tanpa pernah benar-benar memahami apa isi karya itu. Paling banter, kami hanya diminta membaca sinopsis dan menghapal jalan utama cerita. Tidak lebih. Kalaupun ada buku Sastra yang saya baca ketika SMA—yang juga tidak banyak—itu karena saya mendapatkan sendiri di tempat lain. Tidak pernah ada tugas membaca novel untuk direview seperti yang saya lihat di film-film remaja dari negeri seberang. Tentu ini sebagian bukan salah guru kami. Betapa tidak, kami—yang masih remaja dan baru mengerti hidup itu—harus dijejali dengan tuntutan kurikulum yang sangat mengancam. Apalagi ketika duduk di kelas tiga. Saat ini konon kondisinya lebih menyeramkan karena ada yang namanya Ujian Negara.<span id="more-112"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Begitulah, setiap mata pelajaran menjadi kehilangan daya magisnya. Pelajaran Bahasa Indonesia, misalnya, <span> </span>bagi kami—atau setidaknya saya saat itu—hanya menjadi lubang penting untuk meningkatkan nilai kumulatif karena saya lemah pada pelajaran Matematika. Sewaktu SMA saya tidak pernah mengerti bahwa ilmu Kimia bisa sedemikian mengasyikkan ketika dibaca melalui cerita tokoh-tokoh penemunya yang pada awalnya dianggap sebagai penyihir dan kaum bidaah itu—yang artinya kita sebenarnya juga sedang belajar sejarah peradaban dan Teologi. Matematika juga bisa sedemikian menggetarkan ketika misalnya kita diberitahu bahwa angka nol pernah begitu ditakuti karena dianggap sebagai angka iblis—dan, sekali lagi, ini artinya juga belajar sejarah Teologi—atau ketika Matematika dipelajari sambil membaca kisah Omar Khayyam yang pemabuk itu menemukan lambang X untuk bilangan atau unsur yang tidak diketahui dalam aljabar. Dan masih banyak lagi kisah-kisah menggetarkan yang bisa dijumpai <span> </span>dalam Sastra, Sejarah, dan Teologi yang bersaling sengkarut dengan Matematika, Kimia, Biologi, dan Fisika. Sayang sekali, saya—atau kebanyakan dari kita—melewatkannya karena diburu dan diteror oleh tuntutan kurikulum pendidikan yang selalu membawa rasa cemas itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Semalam saya tidak membicarakan ini semua pada kawan-kawan saya itu, tapi pertemuan dengan mereka membangkitkan ingatan saya tentang semua ini.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/heruyaheru.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/heruyaheru.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/heruyaheru.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/heruyaheru.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/heruyaheru.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/heruyaheru.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/heruyaheru.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/heruyaheru.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/heruyaheru.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/heruyaheru.wordpress.com/112/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruyaheru.wordpress.com&blog=3982063&post=112&subd=heruyaheru&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/04/21/omar-khayyam-dalam-nostalgia-masa-sma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d746fc92035e09e7697d22151cf596c9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">heruyaheru</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Caleg Jadi Dokar</title>
		<link>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/04/06/caleg-jadi-dokar/</link>
		<comments>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/04/06/caleg-jadi-dokar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2009 23:15:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>heruyaheru</dc:creator>
				<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[caleg]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[massa mengambang]]></category>
		<category><![CDATA[partai]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://heruyaheru.wordpress.com/2009/04/06/caleg-jadi-dokar/</guid>
		<description><![CDATA[ Salah satu partai besar yang di selalu menjadi pemenang pemilu di masa lalu, menggunakan nada lagu “happy birthday” dalam iklannnya di TV untuk mengajak orang-orang mencontreng partainya. Anak saya, Kaka, karena perbendaharaan kosakatanya yang masih terbatas sering menirukannya dengan berteriak-teriak, “caleg jadi dokar&#8230;caleg jadi dokar&#8230;” Saya tentu cuma tertawa geli dan tidak lantas memberitahunya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruyaheru.wordpress.com&blog=3982063&post=108&subd=heruyaheru&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--> Salah satu partai besar yang di selalu menjadi pemenang pemilu di masa lalu, menggunakan nada lagu “happy birthday” dalam iklannnya di TV untuk mengajak orang-orang mencontreng partainya. Anak saya, Kaka, karena perbendaharaan kosakatanya yang masih terbatas sering menirukannya dengan berteriak-teriak, “caleg jadi dokar&#8230;caleg jadi dokar&#8230;” Saya tentu cuma tertawa geli dan tidak lantas memberitahunya bahwa yang jadi dokar bukan caleg, tapi partai hehehe&#8230;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Partai jadi dokar? Barangkali demikian. Sebab kini partai hanya diperlakukan sebagai kendaraan agara para caleg untuk bisa meraih kursi. Dulu, ketika belajar ilmu politik, saya diberitahu bahwa partai politik adalah sebuah lembaga yang dibuat untuk menampung orag-orang dengan aspirasi serupa, dengan ideologi sama, agar kepentingannya bisa diwujudkan sebagai bagian dari kepentingan publik. Masing-masing partai politik, dengan demikian, punya ideologi dan karakter politik yang khas. Orang bisa memilih partai tertentu untuk mengekspresikan sikap politik tertentu pada isu tertentu, misalnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Kini, adakah yang berbeda dari sekian banyak partai yang berebut suara di pemilu 2009 ini? Sepertinya tidak. <span> </span>Kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana sikap partai pada isu tertentu. Partai-partai ini menawarkan caleg yang serupa. Caleg-caleg itu bisa masuk ke partai manapun. Persis seperti orang naik angkot. Angkot manapun yang lewat, bisa ia naiki untuk sampai ke tujuan. Sejumlah orang yang menjadi capres juga menunjukkan gejela serupa. Bahkan ada oang yang terang-terangan mengatakan bisa memakai partai apa saja dengan ideologi apa saja. Inilah calon mengambang dalam arti yang sebenarnya. <span id="more-108"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Di masa orde baru, kita pernah mendengar tentang massa mengambang. Kini, yang mengambang justru para caleg. Posisi mereka persis seperti foto-foto memuakkan yang tergantung di pohon-pohon di pinggir jalan itu (ah, betapa busuk mereka yang merusak pohon itu): tidak mengakar sekaligus juga bergantung pada sesuatu yang lebih besar, barangkali pada para pemodal yang menyokongnya. Lalu masihkan ada yang berani mengatakan bahwa caleg-caleg itu adalah tulang punggung demokrasi di negeri ini? Barangkali mereka memang tulang punggung yang sesungguhnya. Menjadi tulang punggung artinya tidak punya kepala—dengan demikian tidak punya otak—serta tak punya kaki untuk berpijak ke bumi&#8230;.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/heruyaheru.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/heruyaheru.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/heruyaheru.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/heruyaheru.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/heruyaheru.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/heruyaheru.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/heruyaheru.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/heruyaheru.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/heruyaheru.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/heruyaheru.wordpress.com/108/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruyaheru.wordpress.com&blog=3982063&post=108&subd=heruyaheru&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/04/06/caleg-jadi-dokar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d746fc92035e09e7697d22151cf596c9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">heruyaheru</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memilih Tidak Memilih</title>
		<link>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/04/04/memilih-tidak-memilih/</link>
		<comments>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/04/04/memilih-tidak-memilih/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2009 00:05:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>heruyaheru</dc:creator>
				<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[golput]]></category>
		<category><![CDATA[partai]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://heruyaheru.wordpress.com/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[ Seorang kawan saya pernah menulis “memilih tidak memilih” di statusnya di facebook. Saya tidak tahu persis apa maksudnya, tapi saya menduga itu berkaitan dengan pemilu. Di pemilu nanti saya juga sudah berketetapan hati untuk memilih tidak memilih. Biasanya, mereka yang masih percaya pada demokrasi prosedural, akan mengecam sikap ini sebagai apatis dan tidak memberi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruyaheru.wordpress.com&blog=3982063&post=103&subd=heruyaheru&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--> Seorang kawan saya pernah menulis “memilih tidak memilih” di statusnya di facebook. Saya tidak tahu persis apa maksudnya, tapi saya menduga itu berkaitan dengan pemilu. Di pemilu nanti saya juga sudah berketetapan hati untuk memilih tidak memilih. Biasanya, mereka yang masih percaya pada demokrasi prosedural, akan mengecam sikap ini sebagai apatis dan tidak memberi sumbangan pada perubahan. Tapi apa memilih lantas akan membuka jalan perubahan? Dengan pilihan yang ada sekarang, saya ragu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Saya akan memberi sedikit penalaran atas sikap saya dengan cara begini: Memberikan suara pada pemilu besok bagi saya hanya akan melanggengkan apa yang sekarang sudah ada serta melenggangkan orang-orang yang duduk di kursi empuk parlemen. Saya tidak pernah diyakinkan—termasuk melalui kampanye-bahwa orang-orang ini akan berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Oleh banyak kalangan golput dianggap sebagai perilaku apatis dan sia-sia. Benarkah golput adalah sikap apatis? Biasanya gejala golput ini muncul d kalangan orang yang melek informasi atau terdidik. Di kalangan pelosok dan pedesaan juga banyak golput, tapi biasanya lebih karena tidak terdaftar, sibuk bekerja sampai tidak sempat datang ke TPS, atau surat suaranya rusak. Sementara sebagai sikap politik, golput terjadi di kalangan kelas menengah terdidik. Mengapa? Barangkali salah satu penjelasannya adalah karena kalangan terdidik inilah yang banyak mendapat informasi tentang perlaku busuk anggota parlemen dan busuknya proses politik pemilu itu sendiri. Di kalangan ini, golput sejatinya adalah suara protes. Golput harus dilihat sebagai kritik terhadap sistem dan orang-orang yang berlaga berebut kekuasaan itu. Saya menduga, jika protes golput ini semakin besar orang akan mulai berpikir ulang tentang budaya politik yang ada. Minimal, ia akan mengubah bagaimana elit politik—misalnya—memandang massa. Besarnya suara golput akan memaksa para caleg untuk bekerja lebih keras meyakinkan masyarakat bahwa ia layak dipilih.<span id="more-103"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Sayangnya, gejala—saya kira golput belum menjadi gerakan—golput ini sekarang masih ditanggapi secara konyol oleh elit politik. Saya ingat beberapa waktu lalu tindakan dungu dilakukan oleh sebuah partai berbasis massa santri: mengumpulkan sejumlah kiai untuk mengeluarkan fatwa haram bagi golput. Alih-alih memperbaiki diri agar orang percaya dan mau memberi suara, mereka malah sibuk menakut-nakuti rakyat dengan ancaman dosa. Satu kotak dengan hal ini adalah fatwa haram golput oleh MUI. Sejak jaman Firaun, para pemuka agama yang dekat dengan kekuasaan memang selalu menakut-nakuti masyarakat agar kekuasaan tetap langgeng di tangan orang atau kelompok tertentu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Jika memang para caleg itu merasa dirinya layak dipilih, tentu mereka tak perlu takut dengan golput. Untuk layak dipilih, mereka harus bekerja lebih keras, menunjukkan pada masyarakat bahwa ia memang bekerja untuk rakyat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Golput adalah sikap rasional dari mereka yang melihat tidak ada pilihan layak. Pada pemilu 2004 silam saya pernah diceramahi habis-habisan oleh seorang kawan saya untuk memilih di pemilihan presiden. Sebab, katanya, dengan tidak memilih, saya telah “tidak berbuat apa-apa” untuk perubahan. Saya bergeming dengan sikap saya, karena memang saya tidak cocok dengan semua calon yang ada. Tidak ada “yang terbaik di antara yang buruk”. Namun di putaran kedua, kawan saya ini justru yang memilih golput karena calonnya sudah keok di putaran pertama. Entah lenyap kemana slogan “yang terbaik di antara yang buruk”, yang dulu dia hamburkan itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Sekali lagi, tidak memilih, jutsru menunjukkan sikap bertanggungjawab—di tengah tidak adanya pilihan yang pantas—untuk tidak menyerahkan kewenangan kepada mereka yang tidak layak. Golput harus ditempatkan sebagai perjuangan jangka panjang memperbaiki budaya demokrasi di negeri ini&#8230;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/heruyaheru.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/heruyaheru.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/heruyaheru.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/heruyaheru.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/heruyaheru.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/heruyaheru.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/heruyaheru.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/heruyaheru.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/heruyaheru.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/heruyaheru.wordpress.com/103/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruyaheru.wordpress.com&blog=3982063&post=103&subd=heruyaheru&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://heruyaheru.wordpress.com/2009/04/04/memilih-tidak-memilih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d746fc92035e09e7697d22151cf596c9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">heruyaheru</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>