Heruyaheru

Januari 28, 2009

Memperpanjang SIM, Memperpendek urusan

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — heruyaheru @ 4:51 am
Tags: , , , , , ,

Beberapa hari lalu saya mendatangi Satpas (Satuan Penerbitan SIM) Sleman ntuk memperpanjang SIM C saya yang sudah mulai pendek, maksud saya: sudah habis masa berlakunya. Sebelumnya saya sempat dibuat bingung tentang bagaimana cara mengurus perpanjangan (yang sudah telat itu) sembari melakukan pindah alamat karena KTP saya sudah berganti alamat. Setelah googling sejenak dua jenak, saya menemukan sebuah blog yang sangat bermanfaat dalam konteks ini: http://pelayanmasyarakat.blogspot.com. Blog ini ditulis oleh seorang polisi baik hati yang memberi informasi cukup memadai tentang pelayanan kepolisian. Melalui blog tersebut saya kemudian tahu tentang bagaimaa cara mengatasi hal di atas. Termasuk informasi biaya yang ternyata cuma 60 ribu rupiah itu. Saya harus menyatakan terimakasih pada bapak polisi pembuat blog tersebut.

Satpas di sleman, secara sekilas, bisa saya katakan cukup bagus pelayanannya. Proses pembuatan SIMnya tidak lama, tidak lebih dari satu jam. Secara kasat mata saya tidak melihat ada calo di sana—saya tidak tahu persis adakah calo yang tak bisa dilihat alias sembunyi-sembunyi. Paling tidak, ada tanda kemajuan: orang tak lagi terang-terangan menjadi calo. Ini sangat jauh berbeda, misalnya, dengan situasi di satpas Kabupaten Magelang yang sebelumnya saya singgahi untuk mengurus surat pindah. Di sana, begitu roda motor saya menyentuh lantai parkiran, para calo tanpa tedeng aling-aling sudah menasarkan jasa. Jumlahnya banyak, dan sepertinya tanpa rasa malu atau takut ketahuan. Padahal tepat di atas atap, ada tulisan besar-besaran yang kira-kira berpesan:jangan gunakan calo!Kawan saya, yang hari itu mengurus perpanjangan SIM—sama seperti saya, harus mengeluarkan duit lebih dari 150 rbu untuk memperpanjang masa berlaku SIM. Ia dibantu calo, tentu saja. Ketidaktahuan selalu dimanfaatkan oleh orang-orang culas untuk mengeruk untung. (lagi…)

November 10, 2008

Tidak Semua Pahlawan Menjadi “Pahlawan”

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — heruyaheru @ 2:45 pm
Tags: , , , , , , , , , , ,

Pagi tadi saya lihat di tivi ada berita tentang pemberian gelar pahlawan pada Bung Tomo. Beberapa waktu lalu saya memang sempat heran, ternyata Bung Tomo bukan “pahlawan”, maksudnya tidak mendapatkan gelar pahlasan dari pemerintah. Padahal sepanjang sekolah dari SD sampai SMA, buku-buku PSPB selalu memuat fotonya, apalagi bila sedang bercerita tentang pertempuran surabaya. Dulu, ketika sekolah, saya mengira bung tomo ini adalah pahlawan yang sejajar dengan jendral sudirman dan lain-lain. Ternyata tidak. Ternyata pahlawan tanpa tanda jasa bukan hanya bapak dan ibu guru. Saya tidak tahu persis tentang kenapa gelar itu baru tersemat pada dirinya hari ini. Padahal peran Bung Tomo ini tak sepele. Apalagi jika dilihat dalam konteks yang sedikit agak luas. Kala itu dialah salah satu operator dari resolusi jihad yang dikeluarkan kiai-kiai NU.

Saya juga tak menemukan soal resolusi jihad ini di lembar-lembar buku sejarah resmi di sekolah. Saya tahu tentang ini justru dari sumber tak resmi. Padahal resolusi ini punya makna penting—teramat sangat penting, malah—dalam konteks membangun negara-bangsa indonesia. Terlebih pada hari-hari seperti sekarang ini ketika makna jihad telah direbut demi kepentingan mereka yang berpikiran cekak, sempit, dan tak punya visi kebangsaan. Termasuk mereka yang sangat hobi menebar kekerasan. Resolusi yang dikeluarkan para kiai itu berisi seruan pada segenap kaum muslim untuk berperang melawan tentara sekutu, sebuah jihad yang dilancarkan untuk membela sebuah negara baru: republik Indonesia yang bukan sebuah negara islam. Bagi mbah Hasyim Asyari dan kawan-kawan, mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang berdasar Pancasila dan bersandar pada kemajemukan itu adalah bagian dari perjuangan di jalan Allah. Jihad, bagi mereka, tak harus ada kaitannya dengan bendera islam, jubah, jenggot, dan simbol-simbol keislaman. Tak perlu anda bandingkan pengertian jihad ini dengan doktrin dari mereka yang memimpikan ide usang yang sudah karatan seperi khilafah, bandingkan saja resolusi ini dengan gagasan jihad yang sezaman seperti gerakan Darul Islam Kahar Muzakkar dan Kartosuwiryo yang terbit di sulawesi dan jawa barat. Anda akan bisa lihat betapa penting resolusi jihad ini dalam konteks kebangsaaan Indonesia. (lagi…)

November 5, 2008

Angkringan dengan teh yang menyedihkan…

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — heruyaheru @ 2:19 pm
Tags: , , , , ,

Sejak jaman kuliah dulu, saya suka sekali makan di angkringan. Favorit saya adalah teh manisnya yang kuenthel dan manis. The sejenis ini hampir bisa ditemukan di hampir semua angkringan yang saya singgahi. Dulu, nyaris setiap malam saya dinner di warung pinggir jalan beratap terpal ini. Berdesak-desakan di bangku kecil, makan sego kucing dua atau tiga bungkus ditambah sate usus dan tempe goreng dan krupuk. Sedap. Kenyang? Mungkin tidak. Tapi entah kenapa saya tidak merasa lapar setelah itu, paling tidak sampai esok paginya. Bukan semata soal makanannya yang membuat angkringan bisa menyeret saya malam-malam, tapi atmosfer “nongkrongnya” itu lho…Saya bahkan bisa menghabiskan berjam-jam hanya dengan satu gelas teh, tanpa rasa malu pula. Sampai larut malam bisa ngobrol kemana-mana. Topiknya bisa macam-macam, dari yang ringan sampai yang gagah-gagahan.

Namun sejak punya anak saya tidak terlalu sering lagi makan di angkringan. Meski begitu dalam beberapa kesempatan saya mampir ke sejumlah angkringan, baik yang baru maupun yang “klasik”. Saya merasa ada yang berubah. Terutama di angkringan-angkringan baru. Saya merasa angkringan sudah mengalami sesuatu yang membuatnya jauh berbeda degan angkringan seperti ketika saya kuliah. Barangkali ini adalah angkringan format baru. Angkringan yang mengalami komodifikasi. Maksud saya bukan komodifikasi dalam arti menjadikan sesuatu sebagai barang dagangan, lha angkringan kan memang dagangan. Tapi maksud saya begini: bahwa yang sesungguhnya sedang dijajakan bukanlah sego kucing, sate usus, dan teh manis, tapi citra tentang sego kucing dan saudara-saudaranya itu. Di sini yang dijadikan komoditas adalah kesan dan imajinasi tentang angkringan, bukan barang dagangannya. Itulah yang saya maksud dengan komodifikasi angkringan

Angkringan-angkringan baru ini berupaya sebisa mungkin untuk menjual suasana angkringan—dengan gerobak dan sego kucingnya—namun dipoles sedemikian rupa menjadi lebih bersih, lebih manusiawi, dan—tentu saja—lebih mahal. Di beberapa tempat bahkan dengan menyediakan koneksi internet (hot spot), tapi disertai kualitas teh yang mengharukan. (lagi…)

Juli 12, 2008

Belajar Menulis Cerpen

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — heruyaheru @ 3:24 am
Tags: , , , , ,

Nah ini dia. Dulu saya pernah pengen banget jadi penulis cerpen. Maka menulis cerpenlah saya. Tidak banyak yang jadi. Kebanyakan berhenti di tengah-tengah kehabisan energi. Mungkin bisa saja saya pajang di sini trus di bawahnya ditulisi: “bagian dari tulisan yang lebih panjang” atau yang sejenisnya. Tapi itu kan menipu wong saya tidak punya dan tidak hendak menulis lebih pajjang. Cerpen di bawah ini termasuk sedikit (sekali) yang bisa dikatakan selesai. Selesai, maksudnya saya sudah merasa cukup dan berani mengirtimkan ke media. Sayang, ternyata media massa menganggap saya bukan penulis cerpen yang baik. Daripada percuma cuma tersimpan di komputer, lebih baik saya pajang di blog ini. siapa tahu ada yang baca, siapa tahu bermanfaat. Tapi jangan tanya apa pesan dari cerpen ini, sebab kalau mau kirim pesan kan saya bisa tulis sms, bukan cerpen…

Para Senopati

Setelah melewati hari-hari melelahkan pengeran tengah baya itu kembali ke tetirahannya tak jauh dari tepi hutan. Pikirannya masih disibukkan dengan bayangan kekalahan dan dendam. Tak lekang dari ingatannya ketika ia dengan mata kepala sendiri melihat ayahnya dibantai saat sedang sembahyang di tepi sungai. Namun ia mulai diliputi keraguan, benarkah tindakannya selama ini adalah tuntutan balas dan demi keadilan? Ataukah karena ia begitu menginginkan kedudukan Sultan? Kali ini ia tak bisa menjawabnya dengan pasti. Yang jelas, ia tidak akan pernah mengakui Hadiwijaya sebagai Sultan dan ia akan selalu siap menghadapi siapapun senopati yang dikirimkan untuk menyerangnya.

Huh, panglima ingusan itu! Ia tak bisa melupakan betapa anak kecil itu mengacung-acungkan tombak di seberang sungai menantang perang tanding “Hayo Aryo Penangsang!, jika kau laki-laki, majulah kemari. Kau bukan tandingan Kanjeng Sultan, lawanmu Aku!” Sudah berhari-hari kedua pasukan hanya saling berteriak saling memaki, saling mencaci. Tidak saling menyerang. Ia ingat betul pesan Kanjeng Sunan Kudus untuk tidak menyerang lebih dulu, untuk tetap sabar menunggu dipinggiran sungai. Sebab, begitu menyeberang, pasukannya akan mendapati banyak jebakan. Tapi hari ini ia tampak bimbang dengan strategi itu, ia bukan orang yang suka menunggu, ia ingin menyerang dan menang secepatnya. Segera ia ingin menekuk kepala Hadiwijaya, santri sesat itu, yang tidak pernah mengerti kitab-kitab Arab, yang hanya mengerti cara bertani dan cerita wayang. (lagi…)

Juni 30, 2008

Nonton Barongsai

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — heruyaheru @ 12:07 am
Tags: , , ,

Beberapa hari lalu saya mengajak kaka (anak saya, 2,5 tahun) menonton barongsai di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Sebenarnya cuma kebetulan. Kami saat itu sednag jalan-jalan di malioboro, melihat ada Liong lewat saya menduga itu pasti akan ke FKY. Benar, setelah saya ikuti mereka menuju pelataran pameran FKY di benteng Vredeburg. Saya nonton dengan kaka, sementara ibu kaka kami tinggal berbelanja di sekitaran Malioboro. Kaka pada awalnya agak ketakutan, ia minta gendong terus. Tapi begitu naga-naga itu mulai menari, dia langsung minta turun. Ikut menari tentu saja. Ketika orang-orang mulai membentuk kalangan, tiba-tiba ada tiga anak kecil menari riang di tengah kalangan bersama para penari barongsai itu. Satu diantara tiga bocah kecil itu adalah kaka. Setelah menari di pinggir jalan, para penari mulai masuk lagi ke benteng. Saat itu topeng-topeng mulai dilepas. Meski musik masih bertabuhan, saya menduga acara sudah selesai. Kaka saya biarkan berjalan di samping kanan saya berjalan menuju benteng. Tiba-tiba, dari belakang saya ada satu (dua orang di dalamnya) barong yang berlari kencang dan menabrak kaka. Bruk! Kaka tersungkur di lantai konblok. Dari mulutnya mengucur darah segar. Ia menjerit keras. Menangis, tentu saja. Belum pernah dalam hidupnya darah sebanyak itu mengalir karena luka dari tubuhnya. Ah kaka, maaafkan ayahmu yang ceroboh ini. Saya tidak sempat untuk panik. Ada kafe di sebelh kami. Saya minta air minum ke sana. Kaka masih menangis sampai ibunya datang sekitar lima menit kemudian. Untunglah lukanya tidak terlalu parah. Mungkin cuma sedikit robek di bibir bagian dalam. Malamnya dia tidak mau makan. Sepertinya masih kesakitan. Sayang sekali, sebab dia sebenarnya begitu menikmati kesenian itu. dia memang sangat suka dnegan hal-hal semacam barongsai itu. Janthilan, kuda lumping adalah tontonan favoritnya. Mungkin anak kecil memang suka dengan gegap gempita kesenian rakyat semcam itu.

Selain soal kaka yang ditabrak baronsai tadi, hal lain yang menyedot perhatian saya dalah bahwa para penari barong tersbeut kebanyakan bukan berasal dari etnis tionghoa. Ada satu dua orang senior yang beretnis tionghoa, selebihnya bukan. Kita tahu, barongsai adalah kesenian yang berasal dari Cina dan menjadi kekhasan etnis tionghoa di mana-mana. Sepanjang Orde brau kesenian ini bahkan dilarang tapil di depan umum karena identitik dengan budaya Cina. Bukan rahasia lagi jika pada masa otoriter itu, semua hal yang berbau Cina tidak boleh muncul ke permukaan. Kecuali film kung-fu barangkali, Fenomena orang jawa bermain barongsai ini tidak khas, banyak di tempat lain kelompok seni barongsai justru dihidupi oleh orang Jawa. Di Banyuurip, Teglarejo, Magelang, misalnya,ada kelompok barongsai yang dilestarikan oleh penduduk setempat yang bertnis Jawa.  (lagi…)

Blog pada WordPress.com.