Saya dan Blog
Wah, sudah lama sekali saya tidak menulis di blog ini. Seperti kata teman saya, blog ini terasa seperti kuburan. Pernah ada teman yang tanya, mengapa saya tidak menulis blog lagi. Saya jawab: saya kehilangan pena. Tentu bukan dalam arti sesungguhnya, anda pasti tahu di antara kita tak ada lagi yang menulis dengan pena. Saya cuma mau memberi ungkapan seperti “kehilangan pukulan” bagi mereka yang sulit menemukan permainan terbaiknya di bulu tangkis atau golf.
Tapi alasan sesungguhnya, jika mau dicari, sebenarnya bukan itu. Saya jarang nge-blog bukan karena gairah yang hilang, tapi karena terjerembab dalam kesibukan yang menyenangkan di dunia socmed. Jika ada orang bilang bahwa microblogging dan dunia socmed membunuh penulisan blog, saya bisa bilang bahwa itu benar adanya. Sejak mengenal facebook dan apalagi twitter, saya nyaris tak pernah menyentuh laman blog ini ini. Jika sebelumnya saya menggerutu dan mengeluh dengan banyak kata melalui tulisan yang agak panjang, kini saya cukup menumpahkannya dengan 140 karakter atau menulis status atau komentar di dinding orang. Lebih singkat sekaligus cepat membangkitkan percakapan.
Namun lama-lama saya mulai bosan dengan dunia yang hiruk pikuk dan serba cepat itu. Di ruang itu nyaris tak ada tempat untuk menarik napas. Dalam sekali sapuan mata melihat TL, anda akan tertimbun kicau orang tentang berbagai macam hal, sekali sapu halaman FB muncul berbagai celoteh yang kadang tidak ingin saya lihat.
Saya jadi ingat kata teman saya yang lebih percaya bahwa blog—mungkin maksudnya menulis secara lebih reflektif—lebih bermanfaat ketimbang socmed semacam twitter. Saya mulai percaya itu. Bagaimana dengan Anda?




Belum ada trackback.