Belajar Menulis Puisi
Wah, ini lain lagi. Ini puisi. Jelek-jelek begini, saya juga pernah mencoba mengambil jalan pena. Menjadi semacam penyair hehehe. Tapi begitulah, ternyata saya bukan orang yang pintar menyusun kata-kata dan akhirnya saya mengundurkan diri dari dunia itu. Tapi tentu saja semua orang bisa menjadi penyair, apalagi kalau sedang jatuh cinta, ditolak cinta, atau sedang merana. Percayalah, itulah momen-momen ketika kita bisa menggenggam dunia. Segala sesuatu menjadi begitu syahdu hingga kita tidak akan kuasa untuk tidak membaginya pada orang lain. Itulah saat ketika kita bisa tiba-tiba menjadi penyair. Penyair tiban, saya kira. Nah, dulu, duluuuu… sekali, ketika saya masih muda dan masih bolak-balik jatuh suka dan jatuh cinta, saya juga menulis puisi. Banyak sekali puisi yang saya tulis, tidak semua saya simpan saking banyaknya. Saya menulis puisi di mana saja ketika itu, bisa di kertas bekas undangan, kertas bungkus rokok, atau di dinding kamar kos-kosan hehe..
Tidak cuma menulis, saya juga membaca puisi-puisi orang. Baik dari penyair ternama maupun penyair wanna be yang sedang belajar menyusun bait. Saya suka membaca puis yang sederhana tapi mengetarkan. Sapardi Joko Damono adalah penulis favorit saya. Saya tidak bisa menjelaskan secara runtut dan “ilmiah” kenapa saya bisa mengatakan bahwa pusi dia itu “bagus”, saya hanya merasakannya. Membaca puisi-puisinya membuat ada yang bangkit dalam diri saya. Saya juga suka beberapa puisi Gunawan Muhammad, beberapa saja, tidak semua. Tapi saya juga menikmati puisi Wiji Thukul, tidak semua juga, tapi beberapa puisinya saya kira sangat menggugah. Beberapa diantaranya saya tidak suka karena terlalu bernada pamflet. Saya tidak suka puisi yang mengandung penuh muatan maksud, apalagi jika disampaikan dengan terang benderang dan penuh seruan pesan. Saya lebih suka menikmati puisi dengan tubuh, bukan dengan nalar. Taufik Islamil pernah saya sukai puisinya, kalau tidak salah judul bukunya Benteng dan Tirani. Tapi belakangan saya tidak suka puisi-puisi karena itu tadi: puisi-puisi barunya lebih terasa seperti khotbah ketimbang puisi. Ah, tapi itu saya yang awam di dunia puisi, Anda bolehlah punya penilaian lain….
Belakangan, saya tidak meneruskan kebiasaan menulis puisi. Setelah lewat masanya saya berhenti menulis puisi. Membaca puisi pun tidak seintensif dulu. Dulu saya suka membeli buku puisi, membacanya dengan hening, membicarakannnya dengan teman, dan seterusnya. Kini, saya tidak banyak membaca puisi lagi. Paling hanya satu –dua puisi saya baca jika ada mood dan ada perasaan tertarik. Terakhir saya membaca buku puisi adalah ketika mengemban tugas dari tempat saya beerja untuk menjadi copyeditor buku kumpulan puisi Afrizal Malna. Teman-temanku dari Atap Bahasa (Di buku puisi Afrizal itu ada beberapa yang membuat saya merasakan apa yang dulu pernah saya rasakan pada puisi). Tugas yang tampak sepele: cuma mengecek apakah ada salah ketik atau salah tata letak huruf. Tapi jangan dikira itu tidak penting, satu huruf saja meleset, sebuah puisi bisa berubah makna. Ah, saya pernah dengar tentang puisi yang salah cetak namun justru karena salah cetak itu ia menjadi puisi terkenal dan dipuja banyak orang. Saya lupa puisi yang mana itu. Nah, ketika saya membuka file-file lama, saya menemukan file kumpulan puisi saya itu. puisi yang saya tulis ketika sedang mengalami momen-momen syahdu tadi. Beberapa puisi membuat saya tersenyum sambil berpikir penuh kesombongan “wah, kok bisa ya saya menulis seperti ini” , puisi yang lain juga membuat saya tersenyum, senyum kecut, kali ini sambil berpikir “ah, ini terlalu mengada-ada”. Kemudian terlintas dalam benak saya untuk memajang puis-puisi lama saya itu di blog ini, daripada nasibnya menyedihkan tidak banyak yang baca. Siapa tahu ada yang suka atau barangkali saja bisa memperkaya khazanah puisi modern indonesia hehe…
Baiklah saudara-saudara, sedemikianlah puisi-puisi saya termaksud:
ADAKAH ENGKAU
mumpung masih di sini, maka akan kupandang lekat
matamu yang indah itu: biar kubaca seluruh
perjalananmu, yang berkelok, yang bersijingkat, yang
menyisir pelahan, atau yang berdegup, berkisaran, dan
bergetar-getar di tepi-tepi sunyi.
adakah engkau di situ? seperti matahari yang mengetuk
pintu, menyibak kelambu, mengintip-intip dari daun
jendela kamarmu.
adakah engkau di situ? seperti suara yang nyaring,
memantul-mantul, menggema, di urat nadiku
—
HENING
angin membawa kabar pada daun-daun kemarau
yang melintas di sela-sela ranting pepohonan
kemudian
jatuh pelahan di atas sungai yang menggenang
hingga tak dibawa kemana-mana
kecuali berdiam
seumpama jelaga
—
KEPADA YANG MENJAGA MALAM
kepada yang menjaga malam, dengan ini
kami mengharapkan
kerelaan untuk menyapa hati
agar segera terbit
fajar matahari
—
SEHABIS HUJAN
hujan telah reda, asap rokok dan kata mengurai warna-warna
hujan telah reda, tanah basah dan bau daun menyepakati
semacam pengkhianatan diam-diam
semua telah terang, seperti tak ada yang tertinggal
kecuali nama dan alamat
yang mengajari kita
manulis surat-surat
—
UNTUK DIJAGA
Ada puisi di antara jari-jari tanganmu
Dibaca seperti gemuruh yang terjadi
Saat kita berdekapan
Telah dijaga dan diimani
Sesuatu yang pantas
Untuk dijaga dan diimani
—
SAJAK UNTUKMU
Ingin kutulis untukmu, sebuah sajak cinta
yang tidak akan pernah habis dibaca
yang tidak akan pernah selesai dicerna
yang tak akan putus oleh cuaca dan usia
—
CEMAS MALAM
Gerimis melekat pedih
pada lampu malam
mendadak terasa sunyi
Barangkali malam cemas
Kehilangan bintang-bintang
(atau karena tiba-tiba terasa
ada yang bersengit di hati)
—
CATATAN SEBELUM PULANG
Daun-daun melekat
pada gerimis
pada pagi tanpa matahari
menegaskan kasih sayang di ujung jari-jari tanganmu
dan pilar-pilar Balairung itu
seperti berembug tentang
kicau burung
yang telah lama hinggap di hati kita
—
DI UJUNG MALAM
Di ujung malam yang teduh, melintas sekelebat angin yang ramah, menyapa hujan mengelus daun dan menyanyikan sunyi.
Di tengah sekerat doa panjang segumpal darah yang tertatih membaca ayat-ayat Pertama. Tidak pernah lepas
duka di pelupuk mata, angin yang ramah tetap mencatat harapan.
—
SORE MATAHARI
Sore ini
matahari terlambat
pulang
hanya merendah
di dedaunan
mengkilap disapu
cahaya keemasan petang
—
CERITA
Di ujung malam
pagi mengintai
membawa embun yang menangis
di daun-daun
—
AIR MATA
Mengalir dari butir air matamu
pendaran cahaya, yang mengkilap
disapu senyum merahmu
mengalir pula rasa sakit yang
telah lama kau kenal, yang tak juga susut
meski di luar hujan selalu setia mengetuk
daun jendela
Beberapa puisi lain tidak ada judulnya karena kata-katanya saya tulis begitu saja tanpa saya tahu maunya. Jadi saya beri penomoran saja:
1.
malam jatuh di bahumu
menggigil di sela-sela jarimu
berteduh di kehangatan hatimu
2.
Biar aku yang mengantarkan suara itu,
sebab ia tak menunggu di luar dengan luka yang masih menganga
sebab aku tahu betapa ia
jika sedang menunggu
dengan luka yang menganga
3.
sebab itu aku datang
tanpa apa-apa
seperti dulu ketika kau melemparku
ke sana
4.
membungkus senja dengan rindu
seperti dulu waktu itu
kini mimpi seperti sepi


meski masih belajar, hasilnya bagus kok
ok banget, me at http://www.isfiya.wordpress.com
kang tuker link dong… aku firdaus, purwokerto.
bagus sekali bang , apalagi kalau yang bacanya rendra, bisa kalahtuh si burung gagak..heheh
saleum
dari aceh
Bagus kok puisinya, bang sebenarnya anda ini penyair coba aja kirim ke surat kabar atau majalah biar semakin terkenal
wah..nomer 1 keren tu broth…
tp kok dikit banget yah ? ditambah dunk!!!
salam kenal
lirik yang bagus dan eksotis, mas. potensi kepenyairannya luar biasa. diksinya cukup terjaga lewat permainan rima yang bagus dan terhindar dari kesan cengeng dan sentimentil. kenapa juga sekarang jarang menulis puisi? kalau saya memang ndak pernah bisa menulis puisi, tapi suka mengapresiasi. salam kreatif!
puisi bermakna bila ada yang mendengarnya..
puisi berharga bila ada yang merasakan keindahannya…
jadi inget pas dulu kesengsem sama puisi2nya Khalil Gibran yang penuh cinta dan bisa dipasangkan dengan event2 sosial di negara kita…
Salam,
aku baca dulu yah puisinya.
_dee_
wow…ga rugi saya mampir dsini…bagus puisi’na…!!seperti menjumpai sepotong mimpi ttg pemikiran filsafat…dan memang seperti itu yg dikatakan Francis Bacon: puisi ibarat sepotong mimpi ttg filsafat…(ketauan nyontek nih aQ…) kabuuuuuuurrr….
salam kenal………
saya bener-bener lagi cari orang2 yang kaya inspirasi…….
mohon bantuan……..
me at http://annity.wordpress.com
Bagus gitu bro
Kajian yang menarik mengenai puisi…Mudah-mudahan kita bisa kolaborasi membuat blog yang memuat puisi-puisi kita yah. Blog yang menarik.
sekarang pindah ke jalan teh ya Mas?
kalo kebetulan lewat di jalan sebelahnya (jalan kopi), mampir ya mas, rumah gw nomer 7, ciao…
Wong kok ra pede nan, mulane wit mbiyen elek terus!!! Ganti topeng ah!! Bosen je lihatnya.. he..he..
Puisinya bagus bo’!! Jelek-jelek bisa dijadiin guru nih.. mbok bikin novel to jeng.. ben terkenal koyo akyu.. ha..ha…
salam
http://mendadak-penulis.blogspot.com
di malam begini semut semut
merayap riap
mengusung lalat yang
terbunuh